Sebagian dari mereka telah menghabiskan puluhan tahun tinggal di Amerika Serikat, bekerja, membangun kehidupan, membesarkan keluarga, dan menjadi bagian dari komunitas setempat. Sebagian lainnya hanya dikenal melalui nama, usia, riwayat penangkapan, serta lokasi tempat mereka meninggal.
Meski memiliki latar belakang yang berbeda-beda, nasib mereka berakhir sama. Ketujuh belas imigran asal Meksiko tersebut meninggal dunia dalam rangkaian operasi penegakan imigrasi besar-besaran yang dilancarkan selama masa jabatan kedua Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menurut pemerintah Meksiko.
Kematian mereka memicu meningkatnya ketegangan antara Meksiko dan Amerika Serikat. Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengecam insiden tersebut dan mengatakan bahwa seluruh rakyat Meksiko turut merasakan duka yang dialami keluarga para korban.
Pada Senin waktu setempat, pemerintah Meksiko mulai mengajukan pengaduan kepada jaksa negara bagian maupun federal di Amerika Serikat untuk meminta penyelidikan pidana. Pemerintah juga mengirimkan surat peringatan hukum kepada perusahaan swasta yang mengelola pusat-pusat penahanan imigrasi di AS, tempat sejumlah warga Meksiko tersebut meninggal dunia.
Menurut otoritas Meksiko dan Amerika Serikat, 14 pria meninggal saat berada dalam tahanan otoritas imigrasi, baik di pusat detensi maupun di fasilitas kesehatan tempat mereka dirawat. Sementara itu, tiga korban lainnya meninggal dalam operasi penegakan hukum imigrasi.
Kasus terbaru menimpa Lorenzo Salgado Araujo, pekerja konstruksi berusia 52 tahun yang tewas ditembak seorang petugas Immigration and Customs Enforcement (ICE) dalam sebuah operasi di Houston pekan lalu.
Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat (DHS) membantah adanya peningkatan jumlah kematian di fasilitas maupun operasi yang mereka jalankan. DHS menegaskan bahwa setiap orang yang ditahan memperoleh proses hukum yang semestinya, makanan dan air yang layak, layanan medis, serta kesempatan untuk berkomunikasi dengan keluarga dan pengacara mereka. Lembaga itu juga membantah adanya tindakan penyalahgunaan wewenang oleh para petugasnya.
Berikut yang diketahui mengenai 17 warga negara Meksiko yang kasusnya mendorong pemerintah Meksiko memperkeras respons terhadap Amerika Serikat.
1. Abelardo Avellaneda Delgado
Abelardo Avellaneda Delgado, 68 tahun, meninggal dunia pada 5 Mei 2025 ketika sedang dipindahkan dari Penjara Lowndes County menuju Stewart Detention Center di negara bagian Georgia.
ICE menyatakan penyebab awal kematiannya diduga akibat komplikasi medis. Lembaga tersebut menyebut Avellaneda telah tinggal selama puluhan tahun di Amerika Serikat sebagai imigran tanpa dokumen dan beberapa kali ditahan sejak 1979. Pada 1990, seorang hakim memerintahkan deportasinya, namun ia kemudian kembali memasuki Amerika Serikat.
Menurut ICE, ia pernah didakwa dalam sejumlah perkara, mulai dari kepemilikan ganja, penyerangan ringan dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga, hingga kekerasan terhadap anak.
2. Jesús Molina Veya
Jesús Molina Veya, 45 tahun, meninggal pada 7 Juni 2025 di Stewart Detention Center, Georgia.
ICE melaporkan bahwa ia ditemukan tidak sadarkan diri di dalam sel dengan lilitan di lehernya. Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit, tetapi akhirnya meninggal dunia.
Menurut ICE, Molina beberapa kali memasuki Amerika Serikat tanpa dokumen dan telah dideportasi sebanyak empat kali. Lembaga itu menyatakan ia pernah didakwa atas penyerangan ringan, kekerasan terhadap anak, dan penahanan secara melawan hukum. Ia menjalani hukuman penjara selama 827 hari.
3. Lorenzo Antonio Batrez Vargas
Lorenzo Antonio Batrez Vargas, 32 tahun, meninggal pada 31 Agustus 2025 saat berada dalam tahanan imigrasi.
ICE menyatakan ia menderita diabetes, tertular Covid-19 selama masa penahanan, serta mengalami gangguan pernapasan sebelum ditemukan tidak sadarkan diri. Upaya penyelamatan nyawanya tidak berhasil.
Ia memasuki Amerika Serikat tanpa dokumen pada waktu yang tidak diketahui. Antara 2018 hingga 2025, ia beberapa kali ditahan terkait penggunaan dan kepemilikan narkoba serta mengemudi di bawah pengaruh alkohol (DUI). Pada 2024, ia dijatuhi hukuman kurungan selama 10 hari akibat pelanggaran DUI.
4. Óscar Rascón Duarte
Óscar Rascón Duarte, 58 tahun, meninggal pada 8 September 2025 di Banner Desert Medical Center, Arizona.
Menurut ICE, ia menderita penyakit Alzheimer stadium lanjut, kanker ginjal kanan, dan hepatitis C.
ICE menyebut Duarte memasuki Amerika Serikat tanpa dokumen pada 1976. Ia dideportasi pada 2004, namun kembali memasuki negara tersebut pada hari yang sama. Antara 1984 hingga 2000, ia didakwa dalam sejumlah kasus, termasuk pencurian dengan pembobolan, pencurian, dan kepemilikan narkoba.
Pada 2005, ia dijatuhi hukuman penjara 20 tahun atas percobaan melakukan kontak seksual terhadap anak di bawah umur dan kekerasan terhadap anak. Setelah menyelesaikan hukuman pada Januari 2025, proses imigrasinya kembali dilanjutkan.
5. Ismael Ayala Uribe
Ismael Ayala Uribe, 39 tahun, meninggal pada 22 September 2025 di sebuah rumah sakit di California setelah mengalami henti jantung.
ICE menyatakan warga negara Meksiko tersebut memiliki riwayat hipertensi dan mengalami takikardia abnormal. Pada siang hari, 21 September, ia dirujuk ke Victor Valley Global Medical Center untuk menjalani operasi akibat abses di bagian bokong.
Namun sekitar 12 jam kemudian, menurut ICE, petugas rumah sakit menemukannya dalam keadaan tidak sadarkan diri dan segera melakukan upaya penyelamatan. Ia dinyatakan meninggal pada dini hari 22 September setelah mengalami henti jantung.
Kasus Ayala menarik perhatian publik karena ia pernah menjadi penerima manfaat program Deferred Action for Childhood Arrivals (DACA), program yang diperkenalkan pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama untuk melindungi ribuan imigran muda yang datang atau menetap di Amerika Serikat sebelum usia 16 tahun dari ancaman deportasi. Perlindungan tersebut kemudian dicabut beberapa tahun setelahnya.
Keluarga Ayala mempertanyakan penyebab kematiannya serta kualitas penanganan medis yang diterimanya.
6. Miguel Ángel García Hernández
Miguel Ángel García Hernández, 31 tahun, meninggal pada 30 September 2025 akibat luka yang dideritanya dalam insiden penembakan di sebuah fasilitas imigrasi di Dallas.
Pengacara istrinya mengatakan García melindungi seorang tahanan lain dengan tubuhnya saat penembakan terjadi.
Menurut ICE, García ditahan pada 8 Agustus 2025 dan didakwa atas tuduhan mengemudi di bawah pengaruh alkohol (DUI), menghindari penangkapan menggunakan kendaraan, serta melarikan diri dari polisi.
ICE menyatakan penembakan tersebut terjadi pada 24 September, hari ketika ia dibawa ke dalam tahanan lembaga tersebut.
7. Leo Cruz Silva
Leo Cruz Silva, 34 tahun, meninggal dunia pada 4 Oktober 2025 di Penjara Ste. Genevieve County, Missouri, setelah ditemukan dengan selembar kain yang terlilit di lehernya.
Pihak berwenang melaporkan bahwa upaya penyelamatan tidak berhasil menyelamatkan nyawanya. ICE mengklasifikasikan kasus tersebut sebagai bunuh diri.
Menurut ICE, Cruz Silva memasuki Amerika Serikat tanpa dokumen pada waktu yang tidak diketahui. Antara 2010 hingga 2025, ia dua kali dideportasi dan beberapa kali ditangkap atas tuduhan mengganggu ketertiban umum, melanggar masa percobaan, serta mabuk di tempat umum.
Setelah menjalani penahanan selama satu hari karena mabuk, ia kembali ditangkap oleh ICE untuk menjalani proses deportasi baru.
8. Gabriel García Avilés
Gabriel García Avilés, 56 tahun, meninggal dunia pada 23 Oktober 2025 di sebuah rumah sakit di California.
ICE menyatakan pihak Victor Valley Global Medical Center menyebut Avilés meninggal akibat henti jantung yang dipicu gejala putus alkohol (alcohol withdrawal). Menurut lembaga tersebut, keluarga korban meminta tim medis menghentikan upaya resusitasi.
ICE menyebut Avilés memasuki Amerika Serikat tanpa dokumen pada waktu yang tidak diketahui. Ia beberapa kali ditangkap otoritas imigrasi dan pernah ditawari untuk kembali secara sukarela ke Meksiko, namun kembali lagi ke Amerika Serikat.
Antara 2007 hingga 2024, ia beberapa kali ditahan atas tuduhan mengganggu ketertiban umum, memberikan keterangan palsu kepada polisi, membuang sampah sembarangan di tempat umum, serta melanggar peraturan daerah.
9. Heber Sanchaz Domínguez
Heber Sanchaz Domínguez, 34 tahun, meninggal dunia pada 14 Januari 2026 setelah ditemukan tergantung dan tidak sadarkan diri di Robert A. Deyton Detention Center, Georgia.
ICE menyatakan Domínguez sempat dilarikan ke rumah sakit sebelum akhirnya meninggal dunia. Lembaga tersebut mengklasifikasikan kasus itu sebagai bunuh diri.
Menurut ICE, ia memasuki Amerika Serikat tanpa dokumen pada Desember 2023 dan pernah ditahan karena mengemudi tanpa memiliki surat izin mengemudi yang sah.
10. Alberto Gutiérrez Reyes
Alberto Gutiérrez Reyes, 48 tahun, meninggal dunia pada 27 Februari 2026 setelah dipindahkan dari pusat detensi ke sebuah rumah sakit di California.
ICE menyatakan Reyes mengalami nyeri dada dan kesulitan bernapas sebelum akhirnya meninggal meski telah mendapatkan penanganan medis.
Menurut lembaga tersebut, Reyes memasuki Amerika Serikat tanpa dokumen pada waktu yang tidak diketahui. Pada 2010, ia ditangkap karena melakukan penyerangan terhadap pasangan hidupnya dan mengikuti program pengalihan perkara sebagai pengganti hukuman penjara.
Pada Januari 2026, ia ditahan oleh Patroli Perbatasan dalam operasi penegakan imigrasi sebelum diserahkan kepada ICE.
11. Royer Pérez Jiménez
Royer Pérez Jiménez, 19 tahun, meninggal dunia pada 16 Maret 2026 di Glades County Detention Center, Florida.
ICE melaporkan bahwa Pérez ditemukan tidak sadarkan diri di asrama tempat ia ditahan. Upaya penyelamatan tidak berhasil, dan kasus tersebut diklasifikasikan sebagai bunuh diri.
Menurut ICE, ia memasuki Amerika Serikat pada 2022 dan sempat ditahan oleh Patroli Perbatasan. Namun, ia kembali memasuki negara tersebut pada waktu yang tidak diketahui.
Pada Januari 2026, ia ditangkap di Florida atas dugaan pemalsuan identitas dan melawan petugas. Sebulan kemudian, ia resmi ditahan oleh ICE.
12. José Guadalupe Ramos Solano
José Guadalupe Ramos Solano, 36 tahun, meninggal dunia pada 25 Maret 2026 setelah ditemukan tidak sadarkan diri di Adelanto Detention Center, California.
Ia segera dilarikan ke Victor Valley Global Medical Center, namun dinyatakan meninggal dunia. ICE menyebut penyebab kematiannya hingga kini belum dapat dipastikan.
Menurut ICE, Ramos Solano ditangkap pada Mei 2025 di Redondo Beach atas tuduhan memiliki zat terlarang dan mencuri barang milik orang lain. Ia dijatuhi hukuman pada Agustus 2025, meski rincian hukumannya tidak disebutkan.
Pada Februari 2026, ICE kembali menangkapnya dalam operasi penegakan imigrasi di Torrance sebelum memindahkannya ke Adelanto dalam status tahanan.
