Apple menaikkan harga sejumlah produk MacBook dan iPad di berbagai negara akibat melonjaknya biaya chip memori dan penyimpanan.
Perusahaan pembuat iPhone itu menaikkan harga beberapa laptop dan tablet hingga hampir 20 persen. Apple menyebut industri elektronik saat ini menghadapi “tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya” akibat lonjakan luar biasa permintaan chip untuk pusat data kecerdasan buatan atau AI.
“Kami belum pernah melihat kenaikan harga komponen sebesar ini dan secepat ini,” kata Apple dalam pernyataannya, seraya menambahkan bahwa perusahaan sedang mencari solusi untuk mengatasi situasi tersebut.
Tak lama setelah pengumuman Apple, Xbox juga mengumumkan kenaikan harga besar-besaran untuk konsol gim populernya. Ini menjadi kenaikan harga kedua dalam kurun kurang dari satu tahun akibat krisis komponen elektronik.
Perusahaan milik Microsoft itu mengatakan pada Kamis bahwa harga konsol dasar Xbox akan naik US$100 atau sekitar Rp1,6 juta menjadi US$499 atau sekitar Rp8,1 juta.
Sementara itu, versi konsol dengan kapasitas memori lebih besar akan naik US$150 atau sekitar Rp2,4 juta menjadi US$749 atau sekitar Rp12,2 juta. Harga baru mulai berlaku pada Agustus.
Xbox sebelumnya sudah menaikkan harga konsol pada Oktober lalu sebesar US$20 hingga US$70. Artinya, harga konsol baru kini menjadi sekitar 30 hingga 40 persen lebih mahal dibanding periode yang sama tahun lalu.
Perusahaan mengatakan sebelumnya berharap tidak perlu menaikkan harga lagi, tetapi kenaikan biaya memori dan penyimpanan membuat beban tersebut akhirnya dialihkan ke konsumen.
“Seluruh industri elektronik konsumen sedang berjuang menghadapi krisis komponen saat ini, tetapi dampaknya terasa lebih berat bagi konsol gim,” kata Xbox.
Perusahaan juga memperingatkan biaya memori dan penyimpanan yang sudah meningkat lebih dari dua kali lipat diperkirakan akan kembali berlipat ganda pada 2027.
Pernyataan itu memunculkan kemungkinan kenaikan harga tambahan di masa mendatang.
Kenaikan harga Apple dan Xbox mengikuti langkah sejumlah perusahaan teknologi lain yang menaikkan harga perangkat demi menutup lonjakan biaya perangkat keras.
Analis teknologi Paolo Pescatore mengatakan kenaikan harga Apple menunjukkan bahwa ledakan AI kini mulai berdampak langsung pada pasar elektronik konsumen.
Sebagian besar kenaikan harga komponen memori dan penyimpanan, khususnya RAM, dikaitkan dengan menjamurnya pusat data yang dibutuhkan untuk mendukung perkembangan AI.
Menurut para ahli, kondisi itu menciptakan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan sehingga harga komponen melonjak untuk seluruh industri.
Perusahaan pembuat chip terbesar dunia, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), juga menyebut inflasi telah meningkatkan biaya operasional bisnisnya.
Dalam wawancara dengan BBC pada Juni lalu, Wendell Huang dari TSMC, yang memproduksi chip untuk perusahaan seperti Nvidia, AMD, dan Apple, tidak menutup kemungkinan adanya kenaikan harga dari pihaknya di tengah lonjakan biaya.
Pescatore mengatakan langkah Apple menunjukkan besarnya tekanan yang kini dihadapi bahkan oleh perusahaan teknologi terbesar dunia.
“Ini momen penting karena bahkan Apple, dengan skala dan kekuatan pembeliannya, tidak lagi kebal terhadap kenaikan biaya komponen utama,” katanya kepada BBC.
Salah satu produk yang terdampak adalah MacBook Pro dengan penyimpanan 1 terabyte yang naik harga di toko resmi AS dari US$1.699 atau sekitar Rp27,6 juta menjadi US$1.999 atau sekitar Rp32,5 juta.
Di Inggris, Neo, laptop termurah Apple, juga mengalami kenaikan harga dari £599 atau sekitar Rp13,1 juta menjadi £699 atau sekitar Rp15,3 juta hanya beberapa bulan setelah peluncurannya.
“Kami sejauh ini telah melindungi pelanggan dari kenaikan biaya ini, tetapi kini kami telah mencapai titik di mana kami harus mulai menaikkan harga sejumlah produk, termasuk kenaikan harga iPad dan Mac hari ini,” kata Apple.
David Naranjo dari perusahaan riset pasar Counterpoint memperkirakan merek PC dan tablet lain akan mengikuti langkah Apple menaikkan harga.
“Mereka mungkin menaikkan harga untuk produk tertentu, mengurangi diskon pada model entry-level, atau menyesuaikan lini produk untuk lebih fokus pada perangkat premium,” katanya.
Wakil presiden sekaligus analis utama Forrester, Dipanjan Chatterjee, menilai basis pelanggan Apple yang loyal kemungkinan akan menerima kenaikan harga tanpa protes besar.
“Kalau ada perusahaan yang bisa bertahan dari kenaikan harga dengan reaksi minimal, itu adalah Apple,” ujarnya.
CEO Apple yang akan segera mundur, Tim Cook, sebelumnya juga telah memberi sinyal soal kenaikan harga tersebut.
Dalam wawancara dengan Wall Street Journal pada Juni lalu, Cook mengatakan kenaikan harga “tidak dapat dihindari” akibat situasi chip memori yang menurutnya sudah “tidak berkelanjutan”.
“Kami benar-benar membutuhkan harga dan pasokan memori kembali ke tingkat yang wajar untuk produk konsumen. Itu inti masalahnya,” katanya.
Lonjakan biaya komponen kini berdampak luas pada berbagai perusahaan dan produk teknologi, termasuk komputer pribadi dan konsol gim.
Pada Senin, perusahaan gim Valve mengatakan target harga awal untuk komputer gim Steam Machine “tidak lagi realistis”. Produk itu akhirnya diluncurkan dengan harga £879 atau sekitar Rp19,2 juta di Inggris dan US$1.049 atau sekitar Rp17 juta di Amerika Serikat.
