Hanya empat hari hujan ekstrem dan tanah longsor di Pulau Sumatra telah mendorong spesies kera besar paling langka dan paling terancam di dunia semakin dekat menuju kepunahan, menurut sebuah studi terbaru.
Penelitian tersebut memperkirakan 58 individu orangutan Tapanuli yang berstatus kritis terancam punah tewas akibat peristiwa cuaca ekstrem pada November tahun lalu. Jumlah itu setara dengan sekitar 7 persen dari total populasi spesies yang kini diperkirakan berjumlah kurang dari 800 ekor.
Para penulis studi yang dipublikasikan pada Rabu menegaskan bahwa angka tersebut merupakan estimasi konservatif dan belum memperhitungkan kerusakan kanopi hutan akibat hujan maupun berkurangnya ketersediaan sumber makanan.
Siklon Senyar menghantam Sumatra pada akhir November dan menewaskan lebih dari 1.000 orang, menjadikannya bencana alam paling mematikan di Asia Tenggara sepanjang 2025.
Menurut para peneliti, temuan ini menunjukkan bahwa peristiwa hujan ekstrem dapat secara langsung mengancam kelangsungan hidup populasi kera besar.
Namun, dampak terhadap satwa liar di pulau tersebut jauh lebih sulit diukur.
Sebelumnya, para ahli satwa liar dan pegiat konservasi mengamati bahwa kemunculan orangutan Tapanuli menurun drastis setelah badai berlalu. Kondisi itu memunculkan dugaan bahwa banyak individu tersapu banjir dan tanah longsor.
Profesor Erik Meijaard, Direktur Pelaksana Borneo Futures di Brunei sekaligus salah satu penulis studi, pernah mengatakan pada Desember lalu bahwa Siklon Senyar kemungkinan telah menewaskan sekitar 35 orangutan. Saat itu, ia menyebut kehilangan tersebut sebagai “pukulan besar bagi populasi”.
Estimasi terbaru yang mencapai 58 kematian menunjukkan peningkatan signifikan dibanding perkiraan sebelumnya.
Beberapa pekan setelah siklon terjadi, para pekerja kemanusiaan yang berada di lokasi melaporkan bahwa mereka menemukan bangkai satwa yang diyakini sebagai orangutan Tapanuli dalam kondisi setengah terkubur di antara lumpur dan batang kayu di Desa Pulo Pakkat, Kabupaten Tapanuli Tengah.
“Saya sudah melihat beberapa jenazah manusia dalam beberapa hari terakhir, tetapi ini satwa liar pertama yang saya temukan mati,” kata Deckey Chandra, yang saat itu bekerja bersama tim kemanusiaan di wilayah tersebut.
“Mereka biasanya datang ke tempat ini untuk memakan buah-buahan. Namun sekarang tempat ini tampaknya telah menjadi kuburan bagi mereka.”
Meijaard mengatakan dirinya telah melihat foto bangkai orangutan yang dibagikan oleh Chandra.
“Yang paling mengejutkan saya adalah seluruh daging di bagian wajahnya telah hilang,” ujarnya.
“Jika beberapa hektare hutan runtuh akibat longsor besar, bahkan orangutan yang kuat sekalipun tidak berdaya dan akan hancur tertimpa.”
“Itu pasti kondisi yang mengerikan di dalam hutan saat kejadian berlangsung.”
Ancaman Perubahan Iklim
Para peneliti mencatat bahwa Siklon Senyar merupakan peristiwa yang tidak biasa, tetapi perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia memainkan peran penting dalam terjadinya bencana tersebut.
Mereka juga menyoroti bahwa frekuensi dan intensitas hujan ekstrem di kawasan itu kemungkinan akan terus meningkat pada masa mendatang, sehingga memperbesar ancaman terhadap kelangsungan hidup orangutan Tapanuli dan habitatnya.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa spesies yang baru diidentifikasi secara resmi pada 2017 itu berpotensi punah apabila kehilangan lebih dari 1 persen populasinya setiap tahun.
Pemerintah Indonesia saat ini telah menghentikan sementara berbagai proyek pembangunan besar di kawasan Batang Toru, hutan lindung di Sumatra yang menjadi habitat utama orangutan Tapanuli. Penghentian itu mencakup proyek pertambangan, perkebunan kelapa sawit, dan pengembangan pembangkit listrik tenaga air.
Kebijakan tersebut memberikan kesempatan langka bagi para peneliti untuk melakukan penilaian lebih mendalam mengenai risiko ekologis yang dihadapi spesies tersebut.
Para penulis laporan menegaskan bahwa kehancuran yang ditimbulkan Siklon Senyar menjadi bukti nyata betapa rentannya orangutan Tapanuli terhadap berbagai ancaman.
“Krisis yang dihadapi orangutan Tapanuli menunjukkan pertemuan antara ketidakstabilan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan kerentanan ekologis, sehingga memerlukan respons terkoordinasi yang sebanding dengan besarnya ancaman yang ada,” tulis para peneliti dalam laporan tersebut.
Mereka menambahkan bahwa upaya melindungi populasi orangutan yang tersisa membutuhkan dukungan internasional yang berkelanjutan.
“Melalui penguatan perlindungan dalam negeri, perencanaan yang responsif terhadap perubahan iklim, serta bantuan finansial dan teknis dari komunitas global, kita masih memiliki peluang untuk mencegah kepunahan pertama spesies kera besar pada era modern.”
