Produsen chip terbesar di dunia mengakui bahwa inflasi telah meningkatkan biaya operasional perusahaan dan tidak menutup kemungkinan adanya kenaikan harga di masa mendatang.
Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), produsen chip paling canggih yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan seperti Nvidia, AMD, dan Apple, mengatakan bahwa kenaikan biaya produksi dapat berdampak luas terhadap industri teknologi. Jika harga chip meningkat, efeknya bisa merembet ke biaya infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dan dalam jangka panjang berpotensi memengaruhi harga perangkat elektronik yang dibeli konsumen.
Meski demikian, Chief Financial Officer (CFO) TSMC, Wendell Huang, menegaskan perusahaan tidak akan menerapkan kenaikan harga secara drastis.
“Kami tidak akan menaikkan harga empat atau lima kali lipat secara tiba-tiba,” katanya
Menurut Huang, harga yang diterapkan TSMC mencerminkan nilai yang diberikan perusahaan melalui “kepemimpinan teknologi” dan “keunggulan manufaktur”.
Dalam wawancara eksklusif yang membahas berbagai isu, Huang juga membantah anggapan bahwa ledakan investasi AI merupakan sebuah gelembung ekonomi yang akan pecah. Ia juga menolak pandangan bahwa ekspansi global TSMC didorong oleh tekanan geopolitik.
Industri chip global dan TSMC berada di pusat meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China. Washington terus mendorong para produsen chip terkemuka untuk memperluas produksi di AS guna mengamankan rantai pasok teknologi strategis.
Taiwan, sekutu AS sekaligus pulau yang memiliki pemerintahan sendiri namun diklaim oleh Beijing, memproduksi sebagian besar chip tercanggih di dunia. Komponen berukuran kecil ini menjadi otak bagi berbagai perangkat, mulai dari ponsel pintar dan laptop hingga pusat data AI.
Presiden China Xi Jinping baru-baru ini memperingatkan dalam pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump bahwa kesalahan dalam menangani isu Taiwan dapat membawa hubungan kedua negara adidaya tersebut ke dalam “situasi yang sangat berbahaya”.
mengunjungi Kawasan Sains Hsinchu, kompleks industri yang dipenuhi fasilitas fabrikasi chip atau “fab” di selatan Taipei, untuk menghadiri rapat pemegang saham tahunan TSMC sekaligus melakukan wawancara langka dengan Huang.
TSMC saat ini tengah memperluas kapasitas manufakturnya di Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang, selain terus berinvestasi di Taiwan. Namun Huang menolak anggapan bahwa langkah tersebut merupakan respons terhadap tekanan dari Washington maupun Beijing.
“Kami keluar dari Taiwan untuk membangun kapasitas produksi berdasarkan permintaan pelanggan. Pelanggan kami ingin kami hadir di sana. Ini bukan permintaan pemerintah,” ujarnya.
Namun ketika ditanya mengenai lokasi produksi chip paling canggih di dunia pada masa depan, Huang memberikan jawaban tegas.
Produksi teknologi paling mutakhir, katanya, akan tetap berada di Taiwan.
Menurut Huang, memindahkan seluruh ekosistem manufaktur semikonduktor ke Amerika Serikat membutuhkan waktu “lima hingga sepuluh tahun, atau bahkan lebih lama”.
Pernyataan itu secara tidak langsung menantang ambisi kebijakan industri AS yang telah mendorong TSMC berkomitmen menginvestasikan dana sebesar 165 miliar dolar AS untuk operasinya di Arizona.
Ledakan AI atau Gelembung yang Akan Pecah?
Meski tidak secara tegas mengonfirmasi kenaikan harga, Huang mengakui bahwa inflasi telah meningkatkan biaya perusahaan.
“Inflasi memang menyebabkan biaya kami meningkat,” katanya.
Sebelumnya pada hari yang sama, Chairman sekaligus Chief Executive Officer (CEO) TSMC, CC Wei, mengatakan kepada para pemegang saham bahwa ia “ingin” menaikkan harga, mengikuti langkah sejumlah pesaing perusahaan.
Saham TSMC melonjak tajam dalam setahun terakhir seiring meningkatnya permintaan terhadap chip AI. Huang menggambarkan situasi perusahaan yang terus berupaya mengejar kebutuhan pasar yang berkembang sangat cepat.
“Kami melakukan segala yang kami bisa, di mana pun kami bisa, dan dengan cara apa pun yang memungkinkan,” ujarnya.
“Pelanggan meminta kami tumbuh jauh lebih besar, tetapi yang bisa kami lakukan hanyalah mencoba berkembang secepat mungkin. Sampai sekarang kami masih terus berusaha.”
Tekanan juga datang dari pasar saham, ketika investor di seluruh dunia mulai mempertanyakan apakah gelombang belanja besar-besaran untuk infrastruktur AI dapat terus dipertahankan.
Saham-saham teknologi di Asia sempat merosot tajam pada awal pekan ini setelah aksi jual serupa terjadi di Amerika Serikat pada Jumat lalu, di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa valuasi perusahaan-perusahaan teknologi sudah terlalu tinggi.
Koreksi tersebut terjadi setelah periode kenaikan luar biasa pada saham-saham yang terkait dengan industri chip dan kecerdasan buatan di seluruh dunia.
Namun Huang tetap yakin bahwa lonjakan investasi AI bukanlah gelembung yang akan segera pecah.
“Keyakinan kami terhadap megatren AI ini sangat kuat. Kami berbicara dengan para pelanggan, dan juga pelanggan dari pelanggan kami, yang sebagian besar merupakan perusahaan hyperscaler,” katanya.
Perusahaan hyperscaler adalah raksasa teknologi yang mengoperasikan pusat data dan layanan komputasi awan dalam skala sangat besar.
“Perusahaan-perusahaan ini memiliki kondisi keuangan yang sangat kuat dan sumber daya finansial yang melimpah. Karena itu kami percaya mereka akan mampu terus melanjutkan investasi mereka,” ujar Huang.
