Close Menu

    Subscribe to Updates

    Dapatkan informasi terbaru dari mayoritas.com

    Apa yang Viral?

    ‘Bola Kristal’ di Angkasa: Citra Baru Ungkap Keindahan Spektakuler Bintang yang Sedang Sekarat

    09/06/2026

    Kebiasaan Makan Larut Malam Saat Stres Bisa Kacaukan Kesehatan Usus, Ungkap Studi Baru

    09/06/2026

    Studi Baru: Alergi Telur pada Anak Menurun Seiring Pengenalan Telur Lebih Dini kepada Bayi

    09/06/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • POLITIK
      • Politik Amerika
      • Politik Asia
      • Politik Dunia
      • Politik Eropa
      • Politik Nasional
      • Politik Timur Tengah
    • Nasional

      ‘Bola Kristal’ di Angkasa: Citra Baru Ungkap Keindahan Spektakuler Bintang yang Sedang Sekarat

      09/06/2026

      OpenAI Resmi Ajukan IPO, Siap Gelar Debut Pasar yang Bisa Jadi Terbesar dalam Sejarah Industri AI

      09/06/2026

      Bukan Lagi Glass Skin, Kini Tren “Glass Hair” Jadi Obsesi Baru Dunia Kecantikan

      09/06/2026

      Dari Raja Industri Porno hingga Bos Sepak Bola: David Sullivan Kini Dihantam Tuduhan Predator Seksual

      09/06/2026

      Tak Ada Jalan Buntu: Pelajaran dari Belanda dalam Mengatasi Pengangguran Anak Muda

      09/06/2026
    • TEKNOLOGI

      ‘Bola Kristal’ di Angkasa: Citra Baru Ungkap Keindahan Spektakuler Bintang yang Sedang Sekarat

      09/06/2026

      OpenAI Resmi Ajukan IPO, Siap Gelar Debut Pasar yang Bisa Jadi Terbesar dalam Sejarah Industri AI

      09/06/2026

      Gerhana Matahari Total Langka Akan Hiasi Langit Musim Panas Ini, Ini Semua yang Perlu Anda Ketahui

      08/06/2026

      Terjebak Janji Jadi Orang Tua: Perempuan Rentan Diburu Donor Sperma Ilegal di Media Sosial

      08/06/2026

      Forum Ekonomi Rusia Dibayangi Serangan Drone Ukraina, Citra Ketangguhan Kremlin Diuji

      08/06/2026
    • Hiburan
    • Belanja Sekarang
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Mayoritas.com
    Langganan Sekarang
    TOPIK PANAS
    • Olahraga
    • Ekonomi & Pasar
      • Bisnis
      • Ekonomi
      • Keuangan
    • Wisata & Kuliner
    • Belanja Sekarang
    Mayoritas.com
    Home»Gaya Hidup»Kebiasaan Makan Larut Malam Saat Stres Bisa Kacaukan Kesehatan Usus, Ungkap Studi Baru
    Gaya Hidup

    Kebiasaan Makan Larut Malam Saat Stres Bisa Kacaukan Kesehatan Usus, Ungkap Studi Baru

    joveBy jove09/06/2026No Comments5 Mins Read0 Views
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jika stres sering membuat pencernaan Anda bermasalah, kebiasaan makan larut malam mungkin memperparah keadaan.

    Sebuah penelitian awal terbaru menemukan bahwa orang yang mengonsumsi lebih dari 25% total kalori hariannya setelah pukul 21.00 saat mengalami stres memiliki risiko hingga 2,5 kali lebih tinggi mengalami gangguan buang air besar, seperti sembelit atau diare.

    Penelitian tersebut dipresentasikan pada Mei lalu dalam ajang Digestive Disease Week, pertemuan tahunan bergengsi bagi para ahli gastroenterologi, hepatologi, dan bidang terkait. Namun, hasil penelitian ini masih berupa abstrak ilmiah, belum melalui proses peer review maupun dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.

    Selain itu, penelitian bersifat observasional karena seluruh data diukur pada satu titik waktu, sehingga tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung antara stres, makan larut malam, dan kesehatan usus.

    “Saya sendiri sering makan larut malam, jadi penelitian ini berawal dari rasa ingin tahu. Saya juga tidak menemukan banyak artikel yang membahas topik ini,” kata penulis utama penelitian, Dr. Harika Dadigiri.

    Selama ini, sebagian besar penelitian mengenai dampak makan larut malam lebih banyak berfokus pada gangguan tidur, diabetes, obesitas, serta penyakit refluks asam lambung atau GERD (gastroesophageal reflux disease).

    Menganalisis Ribuan Partisipan

    Dadigiri dan timnya menganalisis data kesehatan 11.149 peserta dari survei nasional kesehatan dan gizi milik Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang dikumpulkan antara 2005 hingga 2010.

    Peneliti juga memasukkan data lebih dari 4.100 peserta dari American Gut Project yang kini dikenal sebagai Microsetta Initiative, yang dikumpulkan antara 2013 hingga 2017.

    Menurut Dadigiri, data yang lebih baru tidak memiliki rincian yang dibutuhkan untuk penelitian tersebut.

    Dr. Geoffrey Preidis, profesor madya pediatri bidang gastroenterologi, hepatologi, dan nutrisi di Baylor College of Medicine serta Texas Children’s Hospital, mengatakan penelitian mengenai waktu makan dan kombinasi antara stres dengan makan malam larut masih sangat terbatas.

    “Hal ini penting karena stres dan kebiasaan makan berlebihan pada malam hari sering kali terjadi bersamaan,” ujarnya.

    Kombinasi Stres dan Makan Malam Jadi Faktor Utama

    Dalam penelitian tersebut, stres fisiologis kronis diukur menggunakan skor allostatic load, yaitu indikator yang menggabungkan delapan biomarker terkait sistem kardiovaskular, metabolisme, dan peradangan, termasuk tekanan darah, kadar kolesterol, dan indeks massa tubuh.

    Menariknya, makan larut malam saja tidak ditemukan berdampak signifikan terhadap fungsi usus.

    Temuan ini mengindikasikan bahwa masalah utama mungkin terletak pada kombinasi antara stres tinggi dan kebiasaan makan malam yang terlambat.

    “Bahaya sebenarnya tampaknya muncul ketika kedua faktor itu terjadi bersamaan,” kata Dadigiri dalam presentasinya.

    Keanekaragaman Bakteri Usus Menurun

    Analisis terhadap peserta American Gut Project juga menunjukkan bahwa mereka yang mengalami stres tinggi dan sering makan larut malam memiliki keanekaragaman bakteri usus yang lebih rendah secara signifikan.

    Menurut Preidis, mikrobiota usus merupakan kumpulan seluruh organisme yang hidup di dalam saluran pencernaan, termasuk bakteri, virus, dan jamur.

    Mikrobioma usus yang lebih beragam umumnya lebih mampu pulih dari berbagai gangguan seperti penyakit, penggunaan obat-obatan, maupun stres.

    Berbagai mikroorganisme tersebut juga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tubuh, antara lain:

    • Membantu penyerapan nutrisi.
    • Mengatur sistem kekebalan tubuh.
    • Berkomunikasi dengan otak untuk memengaruhi tidur dan suasana hati.
    • Menjaga fungsi pencernaan tetap optimal.

    Namun karena penelitian ini bersifat observasional, para peneliti belum dapat memastikan apakah perubahan mikrobioma menyebabkan gangguan buang air besar atau justru gangguan tersebut yang mengubah komposisi mikrobioma.

    Masih Banyak Faktor yang Belum Terjawab

    Dr. William Chey, Presiden American College of Gastroenterology sekaligus kepala divisi gastroenterologi dan hepatologi di Michigan Medicine, menilai ada beberapa faktor penting yang belum dianalisis dalam penelitian ini.

    Misalnya, jenis makanan yang dikonsumsi pada malam hari.

    Orang yang makan lebih larut mungkin lebih sering mengonsumsi makanan ultra-proses, yang sebelumnya telah dikaitkan dengan berbagai gangguan pencernaan seperti sembelit.

    Penelitian ini juga tidak memiliki data mengenai kondisi medis tertentu maupun penggunaan obat-obatan yang dapat memengaruhi kesehatan usus.

    “Temuan ini sebaiknya dipandang sebagai dasar untuk menghasilkan hipotesis baru dan mendorong penelitian lebih lanjut guna memahami apakah waktu makan dapat menjadi faktor risiko yang dapat dimodifikasi pada pasien dengan sembelit atau diare,” ujar Chey.

    Gangguan Ritme Tubuh dan Usus

    Jika penelitian lanjutan nantinya membuktikan hubungan sebab-akibat, terdapat beberapa penjelasan biologis yang mungkin mendasarinya.

    Menurut Preidis, tubuh manusia dan mikrobioma usus sama-sama memiliki ritme sirkadian alami yang mengatur berbagai fungsi biologis sepanjang hari.

    Perubahan waktu makan dapat mengganggu ritme tersebut.

    Gangguan ini berpotensi memengaruhi:

    • Produksi hormon.
    • Aktivasi sistem imun.
    • Komunikasi antara usus dan otak.
    • Motilitas lambung dan usus.

    Motilitas sendiri adalah proses pergerakan makanan melalui saluran pencernaan.

    Dadigiri juga mengutip penelitian tahun 2024 yang menunjukkan bahwa membatasi waktu makan antara pukul 09.00 hingga 17.00 dapat membantu mengurangi peradangan pada usus.

    Peradangan tersebut diketahui dapat memicu gut dysbiosis, yaitu ketidakseimbangan mikroorganisme di dalam usus.

    Kadar hormon stres kortisol yang tinggi juga diketahui dapat menyebabkan kondisi serupa.

    Kapan Sebaiknya Berhenti Makan Sebelum Tidur?

    Meski penelitian ini belum cukup kuat untuk menghasilkan rekomendasi medis yang pasti, para ahli tetap memiliki sejumlah saran yang dinilai baik untuk kesehatan usus maupun kesehatan secara umum.

    Dr. Kyle Staller, Direktur Laboratorium Motilitas Gastrointestinal di Massachusetts General Hospital dan profesor madya di Harvard Medical School, menyarankan agar seseorang tidak makan dalam tiga hingga empat jam sebelum tidur.

    Menurutnya, jeda tersebut memberikan waktu yang cukup bagi lambung untuk mengosongkan isinya sebelum tubuh memasuki fase istirahat.

    Jika seseorang makan terlalu dekat dengan waktu tidur, tubuh harus mengalihkan energi yang seharusnya digunakan untuk proses pemulihan saat tidur menjadi energi untuk mencerna makanan.

    Selain itu, membatasi makan malam larut juga dapat membantu mencegah refluks asam lambung.

    Bagi mereka yang tetap harus makan pada malam hari, para ahli menyarankan:

    • Menghindari makanan berat.
    • Menghindari makanan berminyak dan berlemak tinggi.
    • Mengonsumsi porsi kecil.
    • Memilih makanan yang lebih mudah dicerna.

    Contoh makanan yang relatif lebih cepat dicerna antara lain:

    • Buah-buahan.
    • Sayuran.
    • Karbohidrat kompleks.
    • Sumber protein tertentu dengan kandungan lemak rendah.

    Meskipun masih memerlukan penelitian lebih lanjut, temuan ini memperkuat dugaan bahwa kombinasi stres dan kebiasaan makan larut malam dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan usus serta keseimbangan mikrobioma dalam tubuh.

    kesehatan makanan stress
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    jove
    • Website

    Related Posts

    Hiburan

    ‘Bola Kristal’ di Angkasa: Citra Baru Ungkap Keindahan Spektakuler Bintang yang Sedang Sekarat

    09/06/2026
    Gaya Hidup

    Studi Baru: Alergi Telur pada Anak Menurun Seiring Pengenalan Telur Lebih Dini kepada Bayi

    09/06/2026
    Bisnis

    Sam Bankman-Fried Ajukan Pengampunan ke Trump, Pendiri FTX Berupaya Pulihkan Hak Sipil Setelah Vonis Penjara 25 Tahun

    09/06/2026
    Lain Lain

    Ambisi Pertahanan Eropa Runtuh: Jerman dan Prancis Batalkan Proyek Jet Tempur Senilai Rp2.000 Triliun

    09/06/2026
    Bisnis

    OpenAI Resmi Ajukan IPO, Siap Gelar Debut Pasar yang Bisa Jadi Terbesar dalam Sejarah Industri AI

    09/06/2026
    Gaya Hidup

    Bukan Lagi Glass Skin, Kini Tren “Glass Hair” Jadi Obsesi Baru Dunia Kecantikan

    09/06/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Langganan Berita

    Dapatkan berita olahraga terkini dari NewsSite tentang dunia, olahraga, dan politik.

    Pilihan Editor

    ‘Bola Kristal’ di Angkasa: Citra Baru Ungkap Keindahan Spektakuler Bintang yang Sedang Sekarat

    09/06/2026

    Kebiasaan Makan Larut Malam Saat Stres Bisa Kacaukan Kesehatan Usus, Ungkap Studi Baru

    09/06/2026

    Studi Baru: Alergi Telur pada Anak Menurun Seiring Pengenalan Telur Lebih Dini kepada Bayi

    09/06/2026

    Sam Bankman-Fried Ajukan Pengampunan ke Trump, Pendiri FTX Berupaya Pulihkan Hak Sipil Setelah Vonis Penjara 25 Tahun

    09/06/2026
    Info Terbaru

    Apa Itu Lifestyle Sedentary? Menimbulkan Banyak Penyakit Hingga Dapat Terkena Kanker

    20/01/2021

    Pebasket Zhang Ziyu Setinggi 220M Menarik Perhatian Usai Mengalahkan Tim U-18 Indonesia

    15/01/2021

    Kronologi Atlet Bulu Tangkis China Zhang Zhi Jie Meninggal Di Ajang AJC 2024

    15/01/2021
    Advertisement
    LOGO_FOOTER_MAYORITAS
    Facebook X (Twitter) Pinterest Vimeo WhatsApp TikTok Instagram

    News

    • Ekonomi & Pasar
    • Olahraga
    • Opini
    • Otomotif
    • Wisata Kuliner
    • Video Unggulan
    • Kesehatan

    Company

    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Hak Cipta
    • Disclaimer
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Panduan Kebijakan

    Layanan

    • Toko
    • Customer Support
    • Karir
    • Tentang kami
    • Hubungi Kami
    • Akses login

    Langganan Updates

    Dapatkan informasi terkinni seputar fakta informasi dunia, anda bisa berlangganan melalui email anda

    © 2026 Mayoritas.com
    • Privacy Policy
    • Term of Service
    • Contact us

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.