Sebuah studi terbaru di Australia menemukan bahwa angka alergi telur pada anak-anak menurun seiring semakin banyak orang tua yang memperkenalkan telur kepada bayi sejak usia dini.
Temuan ini menambah bukti ilmiah yang semakin kuat bahwa rekomendasi terbaru mengenai pemberian makanan pemicu alergi pada bayi tidak hanya aman, tetapi juga berkaitan dengan penurunan nyata kasus alergi telur pada anak.
Hasil penelitian tersebut dapat memberikan ketenangan bagi para orang tua yang masih ragu kapan waktu yang tepat untuk mulai mengenalkan makanan yang berpotensi memicu alergi kepada bayi mereka.
“Sepengetahuan kami, ini adalah studi pertama yang menunjukkan penurunan alergi telur pada tingkat populasi setelah diterapkannya pedoman pemberian makan bayi yang baru,” kata peneliti utama studi tersebut, Katie Koplin.
Perubahan Besar dalam Rekomendasi Medis
Di Amerika Serikat, rekomendasi mengenai pencegahan alergi makanan pada anak telah berubah secara drastis dalam beberapa dekade terakhir.
Pada tahun 2000, American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan agar bayi yang berisiko tinggi mengalami alergi, termasuk yang memiliki eksim atau riwayat alergi dalam keluarga, tidak diberikan telur hingga usia dua tahun.
Saat itu para ahli beranggapan bahwa menunda paparan terhadap makanan pemicu alergi dapat membantu mencegah munculnya reaksi alergi.
Namun seiring berkembangnya penelitian, pandangan tersebut berubah.
Pada 2008, AAP memperbarui rekomendasinya dan mendukung pemberian telur mulai usia enam bulan karena hanya terdapat sedikit bukti bahwa penundaan pemberian makanan alergen dapat mencegah alergi.
Penelitian-penelitian berikutnya semakin menguatkan perubahan tersebut. Semakin dini telur diperkenalkan kepada bayi, semakin rendah risiko mereka mengalami alergi telur di kemudian hari.
Perubahan serupa juga terjadi di berbagai negara.
Di Australia, pedoman pencegahan alergi makanan diperbarui pada 2016 dan merekomendasikan agar telur serta makanan alergen lainnya diperkenalkan selama tahun pertama kehidupan bayi guna mengurangi risiko alergi makanan.
Pelajaran dari Kesalahan Masa Lalu
Perubahan rekomendasi dalam dunia medis bukanlah hal yang tidak biasa.
Namun, menurut Dr. Aaron Carroll dari AcademyHealth dan Dr. Ron Keren dari Children’s Hospital of Philadelphia, kisah ini memberikan pelajaran penting.
Dalam editorial yang menyertai penelitian di jurnal JAMA Pediatrics, keduanya menulis bahwa masalahnya bukan hanya karena ilmu pengetahuan terus memperbaiki dirinya sendiri.
“Kesalahan awal sebenarnya dapat dihindari,” tulis mereka.
Menurut Carroll dan Keren, rekomendasi lama dikeluarkan lebih cepat daripada bukti ilmiah yang tersedia saat itu, sementara keluarga harus menanggung konsekuensinya.
Mereka menegaskan bahwa dunia medis harus lebih transparan mengenai tingkat kepastian suatu rekomendasi serta secara berkala meninjau kembali pedoman yang telah diterbitkan.
“Ketika kita tidak memiliki bukti yang cukup untuk mendukung suatu rekomendasi, kita harus mengatakannya dengan jelas, bukan mengisi kekosongan dengan saran yang terdengar meyakinkan tetapi ternyata keliru,” tulis mereka.
Pengenalan Telur Lebih Dini, Alergi Berkurang
Penelitian terbaru ini melibatkan lebih dari 7.000 bayi berusia antara 11 hingga 15 bulan yang menjalani kunjungan imunisasi di Melbourne, Australia.
Para peneliti membandingkan dua kelompok:
- Bayi yang diperiksa antara 2007–2011, sebelum pedoman baru diterapkan.
- Bayi yang diperiksa antara 2018–2019, setelah pedoman baru diterapkan.
Pada kedua kelompok tersebut, orang tua mengisi kuesioner dan bayi menjalani pemeriksaan alergi telur.
Para peneliti kemudian menganalisis usia saat telur pertama kali diperkenalkan serta jumlah bayi yang mengalami alergi telur.
“Kami memulai penelitian ini dengan harapan melihat penurunan alergi telur dan alergi makanan lainnya setelah pedoman 2016 diterapkan,” kata Koplin.
Namun, ia mengaku tidak yakin apakah para orang tua benar-benar akan mengikuti rekomendasi baru tersebut dan apakah perubahan itu cukup besar untuk menghasilkan dampak yang dapat diukur.
Hasilnya ternyata cukup menggembirakan.
Proporsi bayi yang diperkenalkan pada telur sebelum usia enam bulan meningkat lebih dari dua kali lipat, dari sekitar 25% pada kelompok 2007–2011 menjadi sekitar 57% pada kelompok 2018–2019.
Pada saat yang sama, prevalensi alergi telur turun dari 9,2% menjadi 7,6%.
Penurunan tersebut setara dengan pengurangan risiko relatif sebesar 17,7%.
Dampak Lebih Besar pada Bayi dengan Eksim
Eksim diketahui merupakan salah satu faktor risiko utama alergi makanan.
Ketika para peneliti secara khusus menganalisis bayi yang mengalami eksim sejak dini, hasilnya bahkan lebih mencolok.
Pada kelompok ini, prevalensi alergi telur turun dari 34,6% menjadi 21,9%.
Sung Poblete, CEO organisasi nirlaba Food Allergy Research & Education (FARE), yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, menyebut temuan ini sangat menggembirakan.
“Sangat menarik melihat bukti nyata pada tingkat populasi yang mendukung pengenalan alergen sejak dini,” katanya.
Menurutnya, rekomendasi untuk memperkenalkan makanan pemicu alergi lebih awal kini telah diadopsi secara luas dan penelitian ini menunjukkan bahwa praktik tersebut benar-benar memberikan manfaat nyata dalam pencegahan alergi telur.
Apa Artinya bagi Amerika Serikat?
Meskipun penelitian dilakukan di Australia, hasilnya dinilai relevan bagi Amerika Serikat.
Koplin mengatakan organisasi profesi seperti American College of Allergy, Asthma and Immunology dan American Academy of Allergy, Asthma & Immunology juga merekomendasikan pemberian telur mulai sekitar usia enam bulan.
Karena itu, penurunan serupa diperkirakan juga dapat terjadi di AS.
Namun terdapat satu perbedaan penting.
Tingkat pengenalan telur secara dini di Amerika masih jauh lebih rendah dibandingkan Australia.
Pada 2021, hanya sekitar 15,5% bayi di AS yang diperkenalkan pada telur sebelum usia tujuh bulan, jauh di bawah angka 57% yang ditemukan pada kelompok Australia setelah pedoman baru diterapkan.
Saat ini, alergi telur diperkirakan memengaruhi sekitar 1,3% anak-anak Amerika yang berusia di bawah lima tahun.
Kabar baiknya, sebagian besar anak akan mengatasi alergi telur seiring bertambahnya usia dan banyak yang tidak lagi mengalami alergi tersebut ketika dewasa.
Mengapa Pengenalan Dini Bisa Mencegah Alergi?
Menurut Dr. Scott Sicherer dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai, sistem kekebalan tubuh merupakan kunci utama dalam proses terjadinya alergi.
Ketika makanan masuk melalui saluran pencernaan sejak dini, sistem imun belajar mengenali dan menerima makanan tersebut sebagai sesuatu yang aman.
Namun jika makanan tidak pernah masuk ke usus, sistem imun tidak memiliki kesempatan untuk belajar.
Pada saat yang sama, protein makanan yang ada di lingkungan sekitar dapat mengenai kulit atau terhirup oleh bayi.
Paparan melalui kulit atau saluran pernapasan dapat membuat sistem imun salah mengenali makanan sebagai ancaman.
Risiko ini lebih besar pada bayi yang mengalami eksim karena lapisan pelindung kulit mereka lebih lemah dan mengalami peradangan.
Cara Aman Memperkenalkan Telur kepada Bayi
Para ahli menekankan bahwa telur memang perlu diperkenalkan lebih dini, tetapi bayi harus terlebih dahulu siap secara perkembangan untuk menerima makanan padat.
Tanda-tanda bayi siap menerima makanan selain ASI atau susu formula meliputi:
- Dapat duduk sendiri atau dengan bantuan.
- Mampu mengontrol kepala dan leher.
- Membuka mulut ketika ditawari makanan.
- Menelan makanan, bukan mendorongnya keluar kembali.
- Membawa benda ke mulut.
- Mulai mencoba mengambil benda kecil seperti makanan atau mainan.
- Mampu memindahkan makanan dari bagian depan lidah ke belakang untuk ditelan.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pemberian makanan padat sebelum usia empat bulan tidak dianjurkan.
Dr. Elizabeth Lippner dari Ann & Robert H. Lurie Children’s Hospital of Chicago mengatakan bahwa temuan penelitian ini menunjukkan bagaimana perubahan pedoman medis benar-benar dapat memengaruhi kesehatan masyarakat.
Para orang tua juga disarankan memantau kemungkinan munculnya gejala alergi setelah memperkenalkan telur atau makanan alergen lainnya serta berkonsultasi dengan dokter anak mengenai waktu dan cara terbaik memulai makanan padat.
Untuk alasan keamanan, telur harus dimasak hingga matang sempurna, kemudian dihaluskan dan dicampurkan ke makanan bayi seperti bubur sereal atau saus apel agar tidak menimbulkan risiko tersedak.
Demikian pula dengan selai kacang, yang sebaiknya tidak diberikan dalam bentuk kental karena dapat menyebabkan tersedak. Selai kacang dapat dicampurkan ke bubur atau makanan lembut lainnya sebelum diberikan kepada bayi.
Temuan terbaru ini semakin memperkuat pesan para ahli bahwa memperkenalkan telur dan makanan pemicu alergi lainnya pada waktu yang tepat bukan hanya aman, tetapi juga dapat membantu menurunkan risiko alergi pada anak di masa depan.
