Seorang penyihir jahat mungkin bukan sosok yang diharapkan muncul di sebuah forum ekonomi.
Namun itulah yang terlihat di sana, mempertontonkan berbagai trik sulapnya.
Dengan kecepatan tangan yang memukau, tokoh antagonis cerita rakyat Rusia, “Koshchei the Deathless” atau lebih tepatnya seseorang yang mengenakan kostum karakter tersebut, mengeluarkan koin dari udara tipis, “mematahkan” lalu menyatukan kembali kacamata seseorang, serta mengejutkan para pengunjung dengan semburan asap yang sesekali keluar dari jari-jarinya.
“Orang Rusia adalah orang-orang yang tidak terduga,” katanya. “Kami melakukan hal-hal yang tidak pernah diperkirakan siapa pun.”
Mungkin saja.
Namun di St Petersburg pekan ini, kejutan terbesar justru datang dari Ukraina.
Drone Ukraina menyerang wilayah St Petersburg pada hari pembukaan dan penutupan Forum Ekonomi Internasional St Petersburg (SPIEF) 2026.
Gambaran yang paling membekas dari SPIEF tahun ini adalah kepulan asap hitam pekat raksasa yang mendominasi langit St Petersburg pada Rabu. Tanpa menjelaskan secara rinci apa yang menjadi sasaran, pejabat setempat mengakui bahwa serangan drone telah merusak “infrastruktur”. Seluruh delegasi yang datang ke pusat pameran di pinggiran kota dapat melihat asap tersebut saat tiba di lokasi.
Namun, hanya sedikit yang dapat memperkirakan apa yang terjadi setelahnya.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menerbitkan surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam surat itu, Zelensky menyindir usia Putin dan sejumlah kemunduran yang dialami Rusia dalam perang, tetapi pada saat yang sama mengusulkan agar kedua pemimpin bertemu di negara netral untuk membahas perdamaian.
Respons Putin?
Tidak ada yang mengejutkan.
Pemimpin Kremlin yang sebelumnya telah menolak berbagai seruan untuk melakukan pembicaraan langsung dengan Zelensky itu mengkritik nada surat tersebut yang dianggap “kasar” dan menolak tawaran tersebut.
“Bukan penulis surat itu yang perlu saya tanggapi,” kata Putin. “Melainkan para prajurit kita di garis depan… Saya katakan kepada mereka: teruslah berjuang, saudara-saudara!”
Vladimir Putin belum siap mengakhiri perang Rusia melawan Ukraina.
Setidaknya tidak kecuali jika hal itu terjadi sesuai dengan syarat yang ia tentukan sendiri.
Saya mendengarkan apa yang disampaikannya dalam sesi pleno forum tersebut. Hampir tidak ada kejutan.
Putin yang tampil adalah Putin yang sudah diperkirakan banyak orang: keras, tidak menunjukkan penyesalan, dan bertekad menampilkan citra kekuatan serta keyakinan yang tak tergoyahkan. Ia berusaha menunjukkan rasa percaya diri terhadap perang yang sedang berlangsung maupun kondisi ekonomi Rusia.
“Ada perang dan ada sanksi. Namun ekonomi terus berkembang,” klaim Putin. “Semuanya stabil.”
Di dalam aula kongres, di tengah tepuk tangan para pengusaha, pejabat, dan tamu asing yang bersahabat, presiden Rusia itu dapat dengan mudah menampilkan dirinya sebagai pemimpin yang sangat kuat.
Masalahnya adalah apa yang terjadi di luar gedung.
Kerugian besar yang dialami Rusia di medan perang Ukraina.
Serangan drone jarak jauh Ukraina yang kini mampu menembus jauh ke wilayah Rusia.
Ketika saya menanyakan soal perang kepada sejumlah pejabat senior di forum tersebut, jawaban mereka memiliki satu kesamaan: semuanya mengutip pernyataan Kremlin. Mungkin sebuah pengingat mengenai siapa pencetus apa yang oleh Rusia disebut sebagai “operasi militer khusus” itu.
“Perang ini sudah memasuki tahun kelima,” kata saya kepada Alexander Zhukov, wakil ketua Duma Negara atau majelis rendah parlemen Rusia. “Apakah menurut Anda perang ini akan segera berakhir?”
“Saya hanya bisa menjawab dengan kata-kata presiden kami. Beliau mengatakan bahwa situasi ini harus segera diselesaikan,” jawab anggota parlemen tersebut.
Saya juga mengingatkan Gubernur Wilayah Smolensk, Vasily Anokhin, bahwa St Petersburg menjadi sasaran drone pekan ini dan wilayahnya sendiri pernah mengalami serangan serupa.
“Seperti yang dikatakan presiden kami,” jawab sang gubernur, “musuh-musuh kami, sayangnya, sedang berusaha menyakiti kami.”
Sementara itu, ekonomi Rusia juga menghadapi tekanan. Belum ada tanda-tanda keruntuhan dalam waktu dekat, tetapi perang dan sanksi telah menciptakan beban yang cukup besar. Pertumbuhan ekonomi terhenti di sebagian besar sektor. Para ekonom Rusia mulai berbicara mengenai “stagnasi” dan bahkan “penurunan” di sejumlah bidang. Konflik yang terus berlangsung menyedot sumber daya dalam jumlah besar, baik manusia maupun keuangan.
Dalam perjalanan saya baru-baru ini ke Wilayah Lipetsk, sejumlah pemilik usaha kecil mengaku kesulitan untuk tetap bertahan.
Namun, dengan stan-stan mewah dan presentasi beranggaran besar, forum di St Petersburg menampilkan gambaran ekonomi Rusia yang jauh lebih optimistis.
“Suku bunga memang sedikit terlalu tinggi,” kata Kirill Dmitriev, utusan khusus Putin untuk investasi asing, saat berbincang dengan saya di forum tersebut.
“Kami percaya suku bunga perlu lebih rendah untuk mendorong investasi. Namun ekonomi Rusia telah membuktikan ketangguhannya selama lima tahun terakhir, sesuatu yang menurut banyak analis Barat mustahil terjadi.”
Bahkan di tengah kondisi ekonomi yang menantang, sebagian pelaku usaha melihat adanya peluang.
“Beberapa tahun lalu, warga Rusia berbondong-bondong berlibur ke luar negeri,” kata pengusaha German Galperin kepada saya. “Namun situasi sekarang tidak selalu memungkinkan karena sanksi dan karena sikap terhadap warga Rusia di luar negeri telah berubah.
“Hal itu mendorong pembangunan pusat-pusat wisata modern di Rusia.”
Berbeda dengan penyihir “Koshchei the Deathless”, Kremlin tidak bisa begitu saja mengeluarkan koin dari udara tipis. Kemampuan semacam itu tentu akan sangat membantu mengurangi defisit anggaran.
Namun Kremlin tetap berhasil menghadirkan sejumlah tamu yang menarik perhatian dalam forum tersebut.
“Saya membawa salam hangat dari sahabat Anda, Presiden Trump,” kata Rodney Mims Cook Jr kepada Putin di St Petersburg. Sebagai Ketua Komisi Seni Rupa Amerika Serikat, Mims Cook Jr saat ini mengawasi proyek pembangunan ballroom baru Gedung Putih yang menuai kontroversi.
Rusia menyoroti kehadirannya dan mengklaim bahwa ia memimpin delegasi resmi pertama Amerika Serikat yang menghadiri forum St Petersburg dalam satu dekade terakhir.
Namun, tidak ada sambutan serupa dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.
“Saya tidak mengetahui delegasi yang berangkat ke sana,” kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pekan ini. “Saya mengetahui acara tersebut dan tahu mereka menyelenggarakannya, tetapi saya rasa itu bukan pejabat tingkat tinggi.”
Saat berkeliling area pameran SPIEF tahun ini, saya melihat campuran yang sangat beragam, mulai dari robot petinju hingga nenek-nenek yang bernyanyi dan menari.
Salah satu instalasi yang paling mencolok adalah boneka “nevalyashka” raksasa, mainan khas Rusia yang selalu kembali tegak meskipun didorong atau dijatuhkan. Generasi demi generasi anak Rusia tumbuh dengan mainan tersebut yang terus bergoyang tetapi tidak pernah benar-benar tumbang.
Sering kali saya berpikir bahwa itulah cara otoritas Rusia ingin dunia memandang negara mereka: seperti boneka tumbler raksasa yang tidak dapat dijatuhkan atau dikalahkan, sekeras apa pun dorongan yang diberikan. Setelah lebih dari empat tahun perang dan dihantam berbagai sanksi, Rusia masih tetap berdiri.
Sebuah citra yang penuh perlawanan? Tentu saja.
Namun mungkin bukan promosi terbaik untuk menarik investasi asing jangka panjang.
Karena untuk tujuan itu, semakin sedikit guncangan, semakin baik.
