Kaum muda India mulai kehilangan kesabaran.
Setelah bertahun-tahun menghadapi skandal ujian, tingginya angka pengangguran, serta semakin sempitnya peluang untuk meraih masa depan yang lebih baik, frustrasi yang selama ini terpendam kini berubah menjadi kemarahan terbuka di media sosial maupun di jalanan.
Bagi Abhijeet Dipke, seorang lulusan Boston University, sekadar menyaksikan situasi itu dari kejauhan tidak lagi cukup.
Pria berusia 30 tahun yang mendirikan gerakan satiris Cockroach Janta Party tersebut tiba di New Delhi pada Sabtu pagi dengan tujuan mengubah kemarahan generasinya menjadi aksi nyata.
Ia berencana memimpin demonstrasi menuju Jantar Mantar pada akhir pekan ini untuk menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan India, Dharmendra Pradhan.
“Teman dan keluarga saya khawatir saya bisa ditangkap di bandara,” kata Dipke dalam unggahan Instagram awal pekan ini.
“Namun sampai kapan saya harus takut dipenjara? Negara ini bukan milik satu partai saja, melainkan milik kita semua. Ini menyangkut masa depan kita. Masa depan kita sedang dihancurkan.”
Saat Dipke tiba di bandara pada Sabtu pagi, aparat keamanan dalam jumlah besar terlihat berjaga. Ia sempat bertemu dengan pihak kepolisian dan akhirnya memperoleh izin untuk melaksanakan aksi protes tersebut.
Krisis Ujian Masuk Perguruan Tinggi Jadi Pemicu
Pemicu utama kemarahan generasi muda saat ini adalah sistem ujian masuk perguruan tinggi di India yang sangat kompetitif.
Setiap tahun, jutaan siswa mengikuti ujian yang menentukan masa depan mereka demi memperebutkan jumlah kursi yang terbatas di universitas-universitas terbaik.
Sistem tersebut telah lama diwarnai berbagai kontroversi, mulai dari kebocoran soal hingga gangguan teknis yang menambah tekanan besar bagi para siswa dan keluarga mereka.
Veronica Madan, 24 tahun, pernah dua kali mengikuti ujian masuk sekolah kedokteran yang terkenal sangat ketat di India.
Menurutnya, tekanan tidak hanya muncul saat hari ujian berlangsung.
“Tekanan itu datang dari perasaan bahwa kami harus berhasil dengan cara apa pun, ketakutan mengecewakan diri sendiri, dan ketakutan mengecewakan keluarga,” ujarnya.
Madan menghabiskan dua tahun untuk mempersiapkan diri, tetapi nilainya tetap tidak cukup untuk memperoleh kursi di salah satu fakultas kedokteran terbaik di negara tersebut.
“Itu sangat mengecewakan bagi saya,” katanya.
Kini ia melanjutkan pendidikan magister di bidang ilmu forensik.
“Namun penolakan itu justru mengarahkan saya ke jalan yang berbeda.”
Wartawan menyatakan telah menghubungi Kementerian Pendidikan India dan partai penguasa, Bharatiya Janata Party (BJP), untuk meminta tanggapan.
Pengangguran Tinggi Membayangi Generasi Muda
Sebagai negara dengan populasi terbesar di dunia, India memiliki sekitar 1,4 miliar penduduk.
Negara itu juga memiliki salah satu populasi muda terbesar di dunia. Menurut laporan terbaru dari Azim Premji University, terdapat lebih dari 360 juta penduduk berusia 15 hingga 29 tahun di India.
Generasi muda saat ini dikenal lebih terdidik, melek teknologi, terhubung secara digital, dan memiliki ambisi besar.
Sekolah, perusahaan rintisan, hingga platform digital menjadi sarana penting untuk meningkatkan taraf hidup mereka.
Namun optimisme tersebut dibayangi kenyataan yang tidak mudah.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di kalangan anak muda masih sangat tinggi.
Hampir 40 persen lulusan perguruan tinggi berusia 25 tahun ke bawah belum mendapatkan pekerjaan.
Sementara itu, sekitar 20 persen penduduk berusia 20 hingga 29 tahun juga masih menganggur.
Laporan itu menyebut transisi dari dunia pendidikan menuju dunia kerja sebagai salah satu tantangan terbesar yang dihadapi generasi muda India saat ini.
Di saat yang sama, inflasi terus menekan daya beli masyarakat dan semakin banyak anak muda merasa diabaikan oleh para pengambil kebijakan.
Partai “Kecoa” yang Mendadak Viral
Di tengah situasi tersebut, Cockroach Janta Party muncul sebagai fenomena baru.
Menggabungkan humor, meme, dan satire politik, gerakan ini berhasil mengumpulkan lebih dari 22 juta pengikut hanya dalam waktu satu minggu.
Gambar-gambar kecoa virtual yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan membanjiri media sosial, bahkan muncul di saluran televisi dan surat kabar nasional.
Kini gerakan tersebut berusaha membawa kemarahan yang sebelumnya hanya terjadi di dunia maya ke ruang publik.
Kemunculan Cockroach Janta Party dipicu oleh komentar yang dilontarkan Surya Kant.
Banyak pihak menafsirkan pernyataan Ketua Mahkamah Agung India itu sebagai penyebutan kaum muda pengangguran sebagai “kecoa”.
Belakangan ia mengklarifikasi bahwa yang dimaksud adalah orang-orang yang memasuki profesi tertentu menggunakan ijazah palsu.
Namun kemarahan publik telanjur meluas.
Salah satu pendukung gerakan tersebut, Amrita Singh, mengatakan kaum muda merupakan kelompok yang berkontribusi langsung terhadap pembangunan negara.
“Saya sangat bangga dan senang gerakan politik seperti ini terbentuk di India,” ujarnya.
“Mereka mengangkat persoalan-persoalan bangsa yang memang harus diperbaiki.”
Kebocoran Soal Memperburuk Situasi
Komentar Surya Kant muncul hanya beberapa hari setelah lebih dari dua juta peserta ujian masuk kedokteran terbesar di India diberitahu bahwa hasil ujian mereka akan dibatalkan.
Keputusan itu diambil setelah muncul tuduhan bahwa soal ujian telah bocor.
Masalah kebocoran soal sebenarnya telah berlangsung selama bertahun-tahun dan tidak hanya terjadi pada masa pemerintahan saat ini.
Namun semakin banyak mahasiswa yang merasa frustrasi karena persoalan tersebut terus berulang.
“Kebocoran seperti ini sangat mengecewakan,” kata Madan.
“Kami tidak meminta persaingan yang lebih mudah. Kami hanya menginginkan persaingan yang adil.”
Tantangan Baru bagi Pemerintahan Modi
Dalam beberapa tahun terakhir, Asia Selatan menyaksikan munculnya berbagai gerakan anak muda yang menentang korupsi dan patronase politik.
Pada 2024, gelombang protes mahasiswa di Bangladesh berkembang menjadi gerakan massa yang akhirnya menggulingkan pemerintahan Sheikh Hasina.
Setahun kemudian, gerakan yang dipimpin anak muda di Nepal juga turut mengubah peta politik negara tersebut dan membuka jalan bagi Balendra Shah untuk meraih kekuasaan yang lebih besar.
Sementara itu, pemerintahan India yang dipimpin oleh Narendra Modi dan BJP telah melewati berbagai ujian politik selama satu dekade terakhir.
Mulai dari kebijakan demonetisasi, aksi protes petani yang berlangsung selama setahun, hingga gelombang kedua pandemi Covid-19 yang menghantam India, pemerintahan Modi terus menghadapi kritik publik.
Meski demikian, popularitas Modi tetap bertahan dan BJP terus mencatat kemenangan elektoral serta memperluas pengaruhnya ke berbagai wilayah.
Dipke mengatakan bahwa lima tahun lalu hampir tidak ada yang berani secara terbuka mengkritik Modi atau pemerintah.
Namun menurutnya, situasi kini mulai berubah.
Ia telah menunjuk tiga juru bicara resmi, yakni seorang jurnalis investigasi, seorang pembuat film, dan mantan karyawan McKinsey & Company.
“Kami adalah gerakan politik anak muda dan tuntutan kami sederhana: harus ada akuntabilitas dalam sistem,” kata juru bicara sekaligus jurnalis investigasi Sourav Das dalam konferensi pers pada Rabu.
“Sistem telah membiarkan terlalu banyak kebusukan menumpuk. Masyarakat sudah sangat vokal.”
Das juga menyinggung menurunnya posisi India dalam indeks kebebasan pers dunia dan fakta bahwa Modi belum pernah mengadakan konferensi pers solo selama masa jabatannya.
“Anda pasti menyadari bahwa selama bertahun-tahun kita tidak banyak melihat konferensi pers di negara ini,” ujarnya.
“Kami akan menerima pertanyaan.”
Menuju Aksi Damai di Jantar Mantar
Kedatangan Dipke pada Sabtu menandai dimulainya demonstrasi yang telah direncanakannya selama berminggu-minggu.
Setelah memperoleh izin, ia bersama para pendukungnya akan bergerak menuju Jantar Mantar, lokasi yang sejak lama menjadi pusat berbagai aksi politik di ibu kota India.
“Protes kami akan tetap damai. Semua akan dilakukan secara demokratis,” kata Dipke.
“Sekarang saatnya mengembalikan akuntabilitas.”
