Paus Leo XIV memperingatkan bahwa kendali atas kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak boleh berada di tangan “segelintir pihak”, sembari menyoroti bagaimana teknologi tersebut kini turut memicu konflik global. Pernyataan itu disampaikan dalam dokumen teologis besar pertama masa kepemimpinannya.
Dalam ensiklik tersebut, Paus Leo menekankan pentingnya melindungi “keagungan khas manusia” di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat. Ia juga meminta penggunaan AI dalam peperangan tunduk pada “batasan etika yang paling ketat”.
Meski berfokus pada AI, dokumen itu meluas ke berbagai krisis kemanusiaan yang dihadapi dunia saat ini. Paus Leo menyatakan teori “perang yang adil” atau just war — doktrin Kristen yang menentukan syarat pembenaran perang — kini “sudah usang”. Menurutnya, kekuatan militer hanya dapat digunakan untuk “membela diri dalam arti yang paling ketat”.
Ia juga menyebut perlakuan terhadap migran dan pengungsi sebagai “ujian utama” keadilan sosial, sekaligus menyampaikan permintaan maaf atas peran Gereja yang pernah melegitimasi perbudakan dan terlambat mengecam praktik tersebut.
Paus yang menjadikan perdamaian sebagai salah satu fokus utama kepemimpinannya itu memperingatkan bahwa penggunaan “kekuatan, kekerasan, dan senjata” pada akhirnya akan membawa “konsekuensi bencana bagi warga sipil”.
“Membangun dunia dalam kondisi konflik tanpa akhir adalah sebuah kejahatan dan harus disebut sebagaimana adanya,” tulis Paus Leo.
Ia menambahkan bahwa umat manusia sebenarnya memiliki cara yang jauh lebih efektif untuk menyelesaikan konflik, seperti dialog, diplomasi, dan pengampunan.
Sikap Paus Leo terhadap teori perang yang adil muncul setelah Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance sebelumnya meminta sang paus “berhati-hati ketika berbicara soal teologi”. Pernyataan itu muncul setelah Paus Leo mengkritik keras serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta menegur para pemimpin dunia yang menggunakan bahasa agama untuk membenarkan perang.
Dalam presentasi ensiklik di Vatikan pada Senin, Paus Leo kembali menegaskan bahwa umat manusia harus menghadapi tantangan baru dengan “mendengarkan” berbagai sudut pandang dan menggunakan akal sehat.
“Artificial intelligence kini telah menyentuh banyak aspek kehidupan kita dan memengaruhi keputusan-keputusan yang membentuk kehidupan bersama manusia,” katanya.
“Saya merasa diberi tanggung jawab untuk menghadapi transformasi besar ini dengan mata iman, kejernihan akal, keterbukaan terhadap misteri, serta jeritan kaum miskin dan bumi yang bergema di hati saya.”
AI Disebut Berisiko Menjadi “Menara Babel” Baru
Dalam dokumen tersebut, Paus Leo juga menyerukan penerapan prinsip-prinsip khusus dalam pengembangan AI, termasuk distribusi sumber daya yang lebih adil, penghormatan terhadap martabat manusia, keadilan sosial, dan perlindungan lingkungan.
Mengacu pada kisah Alkitab, ia memperingatkan bahwa AI berisiko menciptakan “Menara Babel” baru — simbol ambisi manusia untuk membangun satu kekuatan dan satu bahasa demi mengagungkan diri sendiri.
Menurut Paus Leo, kisah itu menjadi peringatan terhadap proyek yang “mendominasi dan pada akhirnya menghilangkan sisi kemanusiaan”. Ia menegaskan bahwa berbagai kelompok dan pandangan harus dilibatkan dalam pengembangan AI.
Paus juga menekankan bahwa teknologi harus melindungi pekerjaan manusia dan wajib berada di bawah “kerangka hukum yang kuat, pengawasan independen, pengguna yang teredukasi, serta sistem politik yang tidak lepas tangan dari tanggung jawab”.
Ensiklik sendiri merupakan surat resmi paus yang secara tradisional ditujukan kepada para uskup dan Gereja Katolik Roma secara luas. Namun dalam beberapa tahun terakhir, dokumen tersebut berkembang menjadi pesan global, seperti yang dilakukan Paus Fransiskus melalui ensiklik lingkungan hidupnya.
Dokumen AI Paus Leo XIV yang berjudul Magnifica Humanitas atau “Kemanusiaan yang Agung” kini dipandang sebagai teks penting yang menentukan arah kepemimpinannya. Dokumen itu ditujukan tidak hanya bagi umat Katolik, tetapi juga “setiap orang yang memiliki niat baik”.
Paus Pertama yang Memperkenalkan Ensiklik Sendiri
Paus Leo telah menjadikan AI sebagai prioritas utama dan menjadi paus pertama yang secara langsung memperkenalkan ensiklik kepada dunia di Vatikan.
Biasanya tugas tersebut dilakukan oleh kardinal atau pejabat senior Gereja. Namun kali ini, Paus Leo memimpin langsung peluncuran buku setebal 235 halaman itu bersama Chris Olah, salah satu pendiri perusahaan AI Anthropic yang saat ini terlibat sengketa hukum dengan pemerintahan Donald Trump terkait penggunaan teknologi AI untuk operasi militer dan pertahanan.
Olah, yang mengaku telah berbicara dengan 15 pemimpin agama berbeda soal AI, mengatakan dampak teknologi itu “jauh melampaui pertanyaan ilmiah” dan menyangkut “kemajuan hidup manusia” serta “seperti apa dunia yang baik”.
Menurutnya, keterlibatan berbagai komunitas dalam mengarahkan AI ke arah yang benar sangat penting untuk mencegah “perlombaan menuju kehancuran”.
“Salah satu kekuatan terbesar untuk mencegah hal itu adalah ketika banyak orang yang peduli terhadap masa depan AI benar-benar terlibat, memperhatikan, dan memahami situasinya,” kata Olah.
Ia mengaku merasa “sangat terhormat” bisa berdiri bersama paus dalam peluncuran ensiklik tersebut dan lega karena Gereja — serta dunia — mulai serius menghadapi perkembangan AI.
Olah juga menegaskan bahwa AI tidak bisa menggantikan agama.
“Saya tidak berpikir AI dapat menggantikan agama. Agama sangat penting karena suatu alasan,” ujarnya.
Kritik terhadap Transhumanisme dan AI yang Tidak Netral
Dalam teks ensikliknya, Paus Leo menegaskan pendekatan yang tidak menolak teknologi, tetapi juga tidak melihat AI sebagai jalan menuju masa depan utopis.
Dokumen itu menawarkan ajaran sosial Gereja Katolik sebagai landasan dalam diskusi soal AI, dengan fokus utama pada menjaga martabat dan posisi sentral manusia.
Paus asal Amerika Serikat itu juga mengkritik gagasan “transhumanisme” — keyakinan bahwa teknologi dapat membantu manusia melampaui batas biologis seperti penuaan — serta “posthumanisme”, yang mempertanyakan keunikan manusia dan mengaburkan batas antara manusia dan mesin.
“Kita tidak bisa menganggap AI sebagai sesuatu yang netral secara moral,” tulis Paus Leo.
“Setiap alat teknologi mencerminkan pilihan dan prioritas melalui apa yang diukur, diabaikan, dioptimalkan, serta bagaimana manusia dan situasi diklasifikasikan.”
Pada akhirnya, Paus Leo menyerukan “pelucutan senjata AI”, bukan untuk menolak teknologi, melainkan untuk mencegah teknologi mendominasi manusia.
Menurutnya, hal itu berarti membebaskan teknologi dari kendali monopoli dan membuka ruang diskusi serta perdebatan agar AI tetap bersahabat dengan manusia.
“Seruan Mendesak” untuk Dunia
Kehadiran Anthropic dalam peluncuran ensiklik dinilai mencerminkan ketegangan yang terus berlangsung antara Paus Leo dan Presiden Donald Trump, yang beberapa kali mengkritik paus terkait sikapnya terhadap perang Iran.
Pemerintahan Trump sendiri mengambil pendekatan longgar terhadap regulasi AI, termasuk menunda penandatanganan perintah eksekutif yang mewajibkan peninjauan pemerintah terhadap model-model AI baru.
Meski demikian, sumber Vatikan menegaskan bahwa kehadiran Anthropic bukan bentuk dukungan resmi atau legitimasi Gereja terhadap perusahaan tersebut.
Sejak awal masa kepemimpinannya, Paus Leo memang berulang kali menyinggung AI, mulai dari memperingatkan bahaya chatbot yang “terlalu emosional”, menyampaikan pesan kepada para eksekutif teknologi, hingga meminta para imam tidak menggunakan AI untuk menulis khotbah.
Beberapa hari sebelum ensiklik dirilis, Paus Leo juga membentuk komisi lintas departemen di Vatikan untuk mengkaji dampak AI.
Perkembangan AI yang begitu cepat diduga turut memengaruhi pemilihan nama Leo XIV. Tak lama setelah terpilih, ia mengingatkan bahwa Paus Leo XIII dikenang karena ajaran sosial Gereja pada era revolusi industri.
Leo XIII menulis ensiklik terkenal Rerum Novarum pada 1891 yang membahas hak pekerja, upah layak, dan hak kepemilikan pribadi.
Leo XIV mengatakan ia berharap dapat menawarkan ajaran sosial Gereja sebagai respons terhadap “revolusi industri baru dan perkembangan di bidang artificial intelligence”.
Ensiklik AI tersebut ditandatangani pada 15 Mei 2026 — tepat 135 tahun setelah Rerum Novarum diterbitkan.
Teolog Universitas Durham, Anna Rowlands, yang turut berbicara dalam peluncuran ensiklik itu, menyebut pembahasan soal AI kini menjadi sangat mendesak.
“Ensiklik ini membantu kita semua — baik yang beriman maupun tidak — untuk mengajukan pertanyaan mendasar yang sama: apa artinya menjadi manusia di era ketika kehidupan manusia menghadapi tantangan belum pernah terjadi sebelumnya akibat perkembangan teknologi,” katanya.
“Dokumen ini adalah seruan besar untuk membangun peradaban cinta kasih dan menolak budaya kekuasaan semata.”
