Natalie Malouf sering memikirkan pria yang ditemuinya di dalam pesawat menuju London.
Bukan hubungan romantis secara langsung. Namun sejak percakapan pertama dimulai, ada rasa nyaman yang sulit dijelaskan.
“Waktu berbicara dengannya, semuanya terasa sangat natural,” kata Natalie
“Rasanya seperti berbicara dengan seseorang yang sudah saya kenal sejak lama. Itu mungkin alasan kenapa percakapannya terus mengalir tanpa henti.”
Pada awal penerbangan tahun 2016 itu, Natalie yang saat itu masih berusia pertengahan 20-an sempat mencoba menggoda pria di kursi sebelahnya. Namun ketika usahanya tidak mendapat respons, ia memilih bersikap lebih santai.
Meski begitu, percakapan mereka tetap mengalir.
“Rasanya seperti ada yang menepuk pundak saya dan berkata, ‘Perhatikan pria ini.’ Ada perasaan yang lebih dari sekadar ‘senang bertemu orang baru’. Hampir seperti dorongan yang sulit dijelaskan.”
Saat pesawat mendarat di London, Natalie memberanikan diri bertanya apakah pria itu ingin tetap berhubungan. Mereka pun bertukar alamat email. Natalie berharap setidaknya mereka bisa menjadi teman jarak jauh.
Untuk sementara waktu, memang begitu.
Mereka sempat saling berkirim email dan bertukar nomor telepon jika suatu hari berada di kota yang sama. Namun lama-kelamaan komunikasi itu memudar.
Natalie tidak terlalu terkejut. Mereka tinggal di tempat berbeda dan menjalani hidup masing-masing. Meski ia percaya pria dan perempuan bisa berteman, intensitas hubungan yang terbangun di pesawat terasa tidak sepenuhnya platonis. Sementara pria itu juga tidak terlihat tertarik secara romantis. Natalie menduga mungkin saja ia sudah memiliki pasangan dan tidak ingin melewati batas.
Akhirnya, Natalie kembali sibuk dengan kehidupannya di Dallas, Texas — bekerja, berkencan, bepergian, dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya.
Lalu pada suatu hari di tahun 2017, hampir setahun setelah pertemuan mereka, Natalie menerima pesan tak terduga dari pria di pesawat itu.
Ia terkejut melihat namanya muncul di layar ponsel. Ketika membuka pesan tersebut, isinya hanya satu emoji: bunga mawar.
Pria dari Pesawat Itu
Pria tersebut bernama Juan Prieto. Ia berasal dari Kolombia dan saat itu berusia awal 30-an. Juan bekerja sebagai profesor peneliti di University of North Carolina at Chapel Hill dan sebelumnya sempat tinggal lima tahun di Prancis untuk menyelesaikan studi doktoralnya.
“Menjelang akhir masa tinggal saya di Prancis, saya mulai merasa cukup kesepian,” kata Juan.
Saat itu ia sedang menjalin hubungan dengan seseorang dan dalam perjalanan menuju Prancis untuk menemui pasangannya. Namun ia merasa hubungan tersebut perlahan mulai runtuh.
Pada Desember 2016, Juan menaiki penerbangan dari Raleigh-Durham, North Carolina menuju London Heathrow sebelum melanjutkan perjalanan ke Prancis.
Ia hampir tertinggal pesawat karena terlalu fokus mengerjakan makalah penelitian di laptopnya hingga mendengar panggilan terakhir keberangkatan.
“Saya buru-buru mencari kursi,” kenangnya.
Ketika menemukan baris kursinya, Juan melihat seorang perempuan tersenyum sedang duduk sendirian.
“Saya berpikir, ‘Oh, sepertinya orang yang duduk di sebelah saya menyenangkan.’”
Tak lama kemudian, pintu pesawat ditutup dan kursi di antara mereka ternyata kosong.
Itulah yang membuat Natalie dan Juan mulai berbicara untuk pertama kalinya.
Natalie membuka percakapan sambil menunjuk kursi kosong itu.
“Wah, kita bisa selonjoran,” katanya.
Sebenarnya, karena Juan datang terlambat, Natalie sempat berharap bisa menikmati satu baris kursi sendirian. Ia sedang menjalani program magister dan tengah menuju Berlin untuk mengunjungi saudara perempuannya yang belajar di sana. Karena beban kuliah, Natalie sangat kurang tidur.
“Saya ingin istirahat,” kenangnya.
Namun rasa kecewa itu cepat hilang.
“Ada sesuatu tentang dirinya yang menarik perhatian saya. Saya langsung berpikir, ‘Saya benar-benar ingin berbicara dengan orang ini.’”
Bukan cinta pada pandangan pertama, melainkan seperti ada sorotan lampu yang menyuruh Natalie memperhatikan pria asing itu.
Awalnya, percakapan mereka hanyalah obrolan khas penumpang pesawat. Tidak terlalu dalam atau personal.
“Tapi kemudian kami mulai membicarakan pekerjaan Juan, lalu setelah itu kami berbicara sepanjang penerbangan,” kata Natalie.
“Kami sadar punya banyak kesamaan,” tambah Juan.
Natalie pernah tinggal setahun di Bordeaux, Prancis, sementara Juan juga memiliki pengalaman hidup di negara tersebut. Mereka pun berbicara soal pengalaman masing-masing di sana.
Juan tidak menyebut dirinya sedang memiliki pasangan. Ia sengaja menghindari topik yang terlalu romantis.
Sementara Natalie merasa hubungan itu bisa menjadi sesuatu yang penting, meski ia belum tahu dalam bentuk apa.
“Rasanya seperti ada yang berkata, ‘Perhatikan pria ini.’”
Seiring percakapan berlangsung, Natalie melupakan niatnya untuk tidur. Juan juga melupakan pekerjaannya.
Mereka berbicara tentang perjalanan, keluarga, pengalaman hidup, hingga cara memandang dunia.
“Kami punya pandangan hidup yang mirip,” kata Natalie.
Kenyamanan itu membuat Natalie merasa bebas menjadi dirinya sendiri.
Karena itulah, ketika pesawat mulai mendarat di London, Natalie mengajak Juan bertukar kontak.
“Saya merasa hubungan kami sangat natural dan berbeda dari kebanyakan orang yang pernah saya temui.”
Mereka berjalan bersama melewati Bandara Heathrow sebelum akhirnya berpisah menuju penerbangan lanjutan masing-masing.
Mereka bahkan tidak berpelukan saat berpisah.
“Itu cuma perpisahan yang sopan,” kata Natalie.
Namun ia masih ingat jelas melihat Juan berjalan menjauh di tengah keramaian bandara. Ada rasa manis sekaligus sedih.
Satu Emoji Mawar yang Mengubah Segalanya
Setelah beberapa kali bertukar pesan, hubungan mereka kembali meredup.
Sementara itu, hubungan asmara Juan benar-benar berakhir. Ia fokus membangun kembali hidupnya, pekerjaannya di universitas, dan pertemanannya di North Carolina.
Lalu suatu hari, Natalie tiba-tiba kembali muncul di pikirannya.
Juan mulai mengenang percakapan mereka di pesawat — koneksi yang terasa mudah dan alami.
Mereka sudah hampir setahun tidak berbicara. Juan sempat ragu apakah aneh jika tiba-tiba menghubungi Natalie lagi.
Kini, setelah lajang, Juan bisa mengakui bahwa chemistry di pesawat itu memang punya potensi romantis. Ia ingin menyampaikan hal tersebut, tetapi setiap pesan yang ia pikirkan terasa terlalu serius.
Akhirnya, ia memilih mengirim emoji mawar.
Balasan Natalie datang cepat.
“Kenapa kamu mengirim ini?”
Juan langsung panik.
“Saya berpikir, ‘Waduh, apa ini terlalu agresif?’”
Di sisi lain, Natalie menatap ponselnya sambil mencoba memahami maksud pesan itu.
Ia memang menyukai Juan, tetapi bingung mengapa pesan itu baru datang setahun kemudian.
Yang membuatnya semakin merasa aneh, nama tengah Natalie sendiri adalah “Rose”.
“Semuanya terasa seperti kebetulan yang aneh,” katanya.
Namun setelah itu mereka kembali berbicara — dan percakapan terasa seperti tidak pernah terputus.
Juan menjelaskan bahwa saat pertama bertemu ia masih menjalin hubungan dengan orang lain, tetapi kini sudah sendiri. Natalie lalu mengajaknya berbicara lewat telepon.
Begitu mendengar suara satu sama lain, kenyamanan yang sama langsung kembali muncul.
Saat itu Natalie sedang merasa kehilangan arah dalam hidup dan kariernya. Berbicara dengan Juan terasa menenangkan.
“Saya merasa tidak tahu apa yang sedang saya lakukan dalam hidup,” katanya.
Mereka berbicara selama dua hingga tiga jam pada panggilan pertama itu.
“Rasanya sama seperti saat kami berbicara di pesawat,” kata Natalie.
Sejak saat itu, mereka rutin berbicara lewat telepon hampir setiap malam.
“Percakapannya mulai berubah menjadi lebih romantis,” kata Juan.
“Karena kami sama-sama tersedia untuk membuka kemungkinan itu.”
Bertemu Lagi di Bandara, Kali Ini dengan Ciuman
Beberapa minggu kemudian, Juan mengundang Natalie datang ke Raleigh.
Mereka kembali bertemu di tempat yang sama seperti terakhir kali berpisah: bandara.
Saat saling melihat di terminal kedatangan, keduanya langsung tersenyum lebar sebelum akhirnya berpelukan dan berciuman.
“Kami langsung tahu ini memang romantis,” kata Juan.
Akhir pekan itu dipenuhi berbagai kegiatan yang dirancang Juan — termasuk yoga bersama kambing di sebuah peternakan.
“Kami menghabiskan akhir pekan dengan berkencan, menonton film, bersantai, dan saling mengenal,” kata Natalie sambil tertawa.
Mereka merasa lega karena chemistry yang terbangun di pesawat ternyata benar-benar nyata.
“Semua terasa sangat natural,” kata Natalie.
Hubungan Jarak Jauh yang Berakhir di Pelaminan
Setelah beberapa kali saling mengunjungi, Natalie dan Juan menjalani hubungan jarak jauh selama lebih dari tiga tahun.
Pada 2021, setelah pandemi, Natalie akhirnya pindah ke North Carolina untuk bersama Juan.
“Hubungan ini adalah salah satu hal yang paling saya yakini,” katanya.
Di tahun yang sama, mereka memutuskan menikah secara sederhana di sebuah kantor pengadilan di North Carolina dengan hanya dihadiri beberapa orang terdekat.
Kemudian pada 2022, mereka menggelar perayaan pernikahan kedua yang lebih besar dengan 170 tamu, termasuk keluarga Juan dari Kolombia.
Kini Natalie dan Juan masih tinggal di North Carolina bersama putra mereka yang berusia 10 bulan.
Mereka membesarkan anaknya dalam dua bahasa — Inggris dan Spanyol — sambil tetap mempertahankan kecintaan terhadap perjalanan dan budaya internasional.
Hampir satu dekade setelah pertemuan di pesawat itu, keduanya masih sering mengenang bagaimana semuanya bermula.
“Kadang saat kami sedang berada di pesawat bersama, saya menggenggam tangannya dan berkata, ‘Ingat kita bertemu seperti ini?’ lalu dia tertawa,” kata Natalie.
Bagi Juan, kisah mereka menjadi pengingat tentang pentingnya membuka diri terhadap orang asing.
“Cobalah berbicara dengan seseorang yang tidak Anda kenal,” katanya.
“Anda tidak pernah tahu ke mana sebuah koneksi bisa membawa Anda. Bisa jadi sesuatu yang sangat indah, seperti yang terjadi pada kami.”
