Seperti pengacara pada umumnya, para hakim Mahkamah Agung Amerika Serikat ternyata juga gemar berdebat — termasuk soal bagaimana cara terbaik melakukan perdebatan di ruang sidang.
Keluhan yang selama bertahun-tahun hanya terdengar samar mengenai mekanisme sidang argumen lisan Mahkamah Agung kini mulai muncul secara terbuka melalui berbagai penampilan publik para hakim.
“Terlalu lama,” keluh Ketua Mahkamah Agung John Roberts dalam sebuah konferensi hakim dan pengacara di Pennsylvania baru-baru ini, sambil berjanji akan “mengkaji ulang” persoalan itu selama musim panas.
“Terlalu banyak pidato panjang,” timpal Hakim Samuel Alito dalam sebuah acara di Texas beberapa hari kemudian, seperti dikutip SCOTUSblog. Ia menilai kini “terlalu sedikit pertanyaan yang benar-benar substantif”.
Sidang argumen lisan Mahkamah Agung — yang berlangsung setiap tahun mulai Oktober hingga April — sejak lama dipahami para pakar hukum hanya memiliki pengaruh terbatas terhadap hasil akhir sebuah perkara. Namun sesi itu tetap penting karena memungkinkan para hakim menguji teori hukum satu sama lain dan, dalam beberapa kasus, dapat memengaruhi cakupan putusan.
Bagi publik, sidang tersebut juga menjadi jendela untuk melihat cara berpikir sembilan tokoh paling berpengaruh di Washington terkait berbagai perkara yang berdampak nasional. Sidang Mahkamah Agung sendiri baru mulai disiarkan langsung sejak pandemi Covid-19.
“Ini sangat penting bagi legitimasi pengadilan,” kata profesor hukum Universitas Emory, Tonja Jacobi, yang banyak meneliti soal argumen di Mahkamah Agung.
“Setidaknya ini bisa meyakinkan publik bahwa sebagian dari proses ini benar-benar soal hukum.”
Pemangkasan durasi sidang kemungkinan paling berdampak terhadap kubu liberal di Mahkamah Agung, sebab dalam beberapa periode terakhir tiga hakim liberal tercatat paling banyak berbicara dibanding kolega mereka.
Saat pandemi, ketika sidang dilakukan secara virtual, para hakim mengajukan pertanyaan berdasarkan urutan senioritas, bukan sistem “hot bench” yang lebih bebas dan cepat seperti yang telah digunakan selama puluhan tahun.
Ketika sidang tatap muka kembali digelar pada 2021, sebagian hakim ingin mempertahankan sistem berdasarkan senioritas, sementara yang lain mendorong kembali ke format lama yang lebih dinamis.
Kompromi akhirnya diterapkan: sesi dimulai dengan debat bebas, lalu dilanjutkan putaran pertanyaan berurutan atau “seriatim”. Namun format baru itu justru membuat lebih sulit mengontrol waktu bicara hakim maupun pengacara.
Mahkamah Agung umumnya menjadwalkan sidang argumen selama 60 menit untuk sebagian besar perkara. Namun dalam beberapa tahun terakhir, durasi sidang sering jauh melampaui batas tersebut — berbeda dengan era mantan Ketua Mahkamah Agung William Rehnquist yang terkenal sangat ketat soal waktu hingga terkadang memotong pengacara di tengah kalimat.
Analisis menunjukkan rata-rata sidang pada periode saat ini berlangsung hampir 90 menit, naik hampir 10 menit dibanding periode 2020 ketika sidang dilakukan secara daring akibat pandemi.
Sidang terpanjang tahun ini berlangsung hampir tiga jam dalam perkara tarif global besar-besaran yang diberlakukan Presiden Donald Trump — kebijakan yang akhirnya dibatalkan Mahkamah Agung.
Padahal sidang perkara itu, yang secara teknis mencakup dua banding, awalnya hanya dijadwalkan selama 80 menit.
Clarence Thomas: “Saya Bisa Duduk di Sana Sepanjang Hari”
Meski demikian, tidak semua pihak mengkritik sistem saat ini.
Banyak pengacara Mahkamah Agung — yang diberi tanda waktu melalui lampu putih dan merah di podium mereka — justru mengapresiasi tambahan waktu serta kesempatan berbicara langsung dengan hakim dalam sesi “seriatim” tanpa dipotong hakim lain.
Hakim Clarence Thomas, yang selama bertahun-tahun terkenal nyaris tidak pernah berbicara saat sidang, juga tidak mempermasalahkannya.
“Format saat ini memang bisa berlangsung terlalu lama, tapi setidaknya Anda tidak bisa mengatakan bahwa Anda tidak diberi kesempatan menyampaikan pendapat,” kata hakim senior Mahkamah Agung itu dalam acara bersama hakim dan pengacara di luar Miami baru-baru ini.
“Saya tidak bermain golf. Saya tidak bermain kartu. Saya tidak nongkrong. Jadi saya bisa duduk di sana seharian,” candanya dalam konferensi yang digelar Pengadilan Banding Sirkuit ke-11 AS pada 14 Mei lalu.
“Saya memang tidak punya tempat lain untuk dituju.”
Tiga hakim liberal di Mahkamah Agung — yang berada di tengah dominasi enam hakim konservatif — memang kerap menjadi pihak yang paling aktif berbicara.
Hakim Sonia Sotomayor dan Ketanji Brown Jackson termasuk yang paling vokal.
Menurut analisis Adam Feldman dari Empirical SCOTUS dan profesor ilmu politik Universitas Florida Jake Truscott, Sotomayor rata-rata berbicara lebih dari enam menit dalam setiap sidang pada periode ini.
Sementara Jackson — sebagai hakim paling junior yang selalu mendapat giliran terakhir berbicara — rata-rata berbicara lebih dari delapan menit per sidang.
Sebaliknya, tidak ada hakim lain yang rata-rata berbicara lebih dari lima menit.
Baik Sotomayor maupun Jackson tidak menanggapi permintaan komentar.
Menurut Jacobi, format sidang yang lebih panjang justru bisa berdampak buruk terhadap transparansi.
“Sidang menjadi sedikit kurang mudah diakses,” katanya.
“Saya rasa sekarang disiplin waktunya jauh berkurang.”
Namun belum jelas apakah memperpendek sidang benar-benar akan mengubah hasil perkara. Sebelum memasuki sidang, para hakim biasanya sudah membaca ratusan halaman dokumen hukum dan sering kali pernah menangani isu serupa sebelumnya.
Beberapa hakim bahkan secara terbuka mengakui mereka sudah memiliki gambaran awal mengenai hasil perkara sebelum sidang dimulai.
“Hampir pasti,” kata Alito dalam konferensi peradilan Sirkuit ke-5 pada Mei lalu, ia sudah memiliki “gagasan sementara” mengenai arah putusan sebelum mendengar argumen lisan.
Hakim Elena Kagan juga pernah mengatakan dalam wawancara tahun 2010, beberapa bulan setelah bergabung dengan Mahkamah Agung, bahwa sidang argumen kadang “sangat membantu untuk benar-benar memahami persoalan”, tetapi dalam kasus lain “pengaruhnya mungkin tidak terlalu besar”.
Adu Argumen yang Kadang Berujung Canggung
Pidato panjang para hakim terkadang juga memicu situasi canggung bagi Roberts, yang bertugas mengontrol jalannya sidang dan menentukan siapa yang mendapat giliran bicara.
Pada akhir Maret lalu, saat Mahkamah Agung membahas kebijakan pelarangan pencari suaka masuk ke Amerika Serikat, Sotomayor terus menekan pengacara pemerintahan Trump selama hampir tiga menit penuh.
Sebagai mantan jaksa, Sotomayor memang dikenal sering memotong pengacara yang dianggap menghindari jawaban langsung.
“Sebagian besar orang itu akhirnya dipulangkan atau terpaksa kembali ke tempat asal mereka lalu dibunuh,” kata Sotomayor sambil mengingat keputusan pemerintah AS tahun 1939 yang menolak ratusan pengungsi Yahudi yang melarikan diri dari Nazi Jerman.
“Itulah yang sedang kita lakukan sekarang, bukan?”
Pengacara pemerintah, Vivek Suri, mencoba mengalihkan pembicaraan kembali ke “pertanyaan utama dalam perkara”.
Saat Sotomayor hendak memotong lagi, Roberts tampak sudah kehilangan kesabaran.
“Bisakah saya…” kata Roberts sambil mengalihkan perhatian kepada Suri.
“Bisakah Anda menyelesaikan jawaban Anda?”
Bukan hanya soal durasi, format sidang baru juga menuai kritik.
Sistem pertanyaan berurutan menciptakan dinamika yang tidak biasa. Clarence Thomas kini sering mendapat giliran pertama berbicara, sementara Jackson hampir selalu mendapat kesempatan terakhir — yang kerap digunakannya untuk memperkuat argumen kubu liberal yang sebelumnya telah disampaikan hakim lain.
Sementara itu, para hakim di posisi tengah justru dinilai kurang diuntungkan.
“Baiklah, izinkan saya memulai dengan tanggapan Hakim Sotomayor terhadap apa yang menurutnya saya tanyakan soal hak konstitusional,” kata Alito dalam sidang Maret lalu terkait hak banding terdakwa pidana dalam perjanjian pengakuan bersalah.
Karena Sotomayor lebih junior, Alito tahu rekannya itu akan mendapat kesempatan bicara terakhir dalam perdebatan tersebut — sesuatu yang langsung ia soroti.
“Sekarang dia akan mendapatkan hak untuk memberikan bantahan tambahan,” kata Alito tentang koleganya.
“Sedangkan saya tidak punya kesempatan menjawab di bawah sistem tanya jawab seperti sekarang.”
