Dalam beberapa pekan terakhir, bunga, pesan duka, dan boneka-boneka kecil terus memenuhi pagar kawat di pintu masuk kamp Old Timers di Northern Territory, Australia.
Seorang gadis kecil turun dari mobil bersama ibu dan saudara laki-lakinya untuk menambahkan boneka berwarna merah muda ke tumpukan tersebut — penghormatan bagi Kumanjayi Little Baby, bocah perempuan berusia lima tahun yang hilang dari komunitas Aborigin itu pada April lalu dan ditemukan tewas lima hari kemudian.
Seorang pria Aborigin kemudian didakwa atas tuduhan pembunuhan terhadapnya.
“Seluruh komunitas seperti mati rasa,” kata salah satu pelayat. Perasaan itu dirasakan banyak warga kota kecil berpenduduk kurang dari 30 ribu orang tersebut, yang ikut membantu pencarian Kumanjayi Little Baby — nama yang kini digunakan karena alasan budaya — pada hari-hari setelah ia menghilang.
“Dalam beberapa hal, kita justru melihat sisi terbaik komunitas di tengah masa paling buruk,” kata Wali Kota Alice Springs, Asta Hill.
Selain menyatukan warga kota, kematian Kumanjayi Little Baby juga memicu duka dan kemarahan di seluruh Australia.
Parlemen menyampaikan mosi belasungkawa, sementara Perdana Menteri Anthony Albanese mengatakan tragedi itu “menghancurkan hati”.
“Untuk pertama kalinya, kisah ini memperlihatkan kepada publik betapa dalam cinta dan kepedulian masyarakat Aborigin dan Torres Strait Islander terhadap anak-anak mereka,” kata Catherine Liddle, CEO SNAICC, organisasi nasional yang mewakili anak-anak Aborigin dan Torres Strait Islander beserta keluarganya.
Namun keadaan di balik dugaan pembunuhan tersebut juga menyingkap ketimpangan mendalam yang masih ada di salah satu negara terkaya di dunia. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana tragedi ini bisa terjadi, hingga mendorong pemerintah menjanjikan peninjauan ulang terhadap sistem perlindungan anak di wilayah tersebut.
Di tengah sejarah panjang dan traumatis dari berbagai kebijakan yang menyasar generasi komunitas Aborigin dan anak-anak mereka, penanganan tragedi ini dipenuhi sensitivitas.
Gadis kecil yang dicintai banyak orang
Kumanjayi Little Baby adalah anak perempuan suku Warlpiri yang tanah adatnya berada di barat laut Alice Springs, di Gurun Tanami.
Ibunya menggambarkannya sebagai seorang “putri kecil” dalam pernyataan yang dibacakan saat acara doa bersama di Alice Springs.
Ia melukiskan sosok bocah yang sangat dicintai keluarganya — gambaran yang terasa dekat bagi banyak orang tua di mana pun. Anak lima tahun yang menyukai kartun dan permainan komputer. Adik perempuan yang senang bermain dengan kakaknya. Murid kecil yang antusias memulai sekolah.
“Hati saya hancur menjadi sejuta keping,” tulis sang ibu kepada para pelayat. “Saya tidak tahu bagaimana memperbaikinya dan bagaimana saya bisa hidup tanpa bayi kecil saya.”
Wilayah Australia ini tergolong terpencil — kota besar terdekat adalah Darwin yang berjarak 15 jam perjalanan ke utara. Di sekelilingnya terbentang gurun kering.
Penduduk Aborigin mencakup sekitar 3% populasi Australia. Namun di Alice Springs, jumlahnya mendekati 20%. Sejak masa kolonisasi, komunitas-komunitas tersebut hidup terpisah.
Kamp Old Timers atau Ilyperenye — tempat Kumanjayi Little Baby ditidurkan ibunya pada malam sebelum ia menghilang — berada beberapa kilometer di selatan Alice Springs dan merupakan satu dari 16 kamp di sekitar kota itu.
Permukiman tersebut pertama kali muncul pada 1880-an ketika masyarakat Aborigin terusir dari tanah adat mereka akibat kedatangan pemukim Eropa. Namun kamp-kamp itu baru diresmikan pada 1970-an setelah para penghuninya meminta rumah layak serta layanan dasar seperti listrik dan air bersih.
Selama beberapa dekade sebelum 1960, masyarakat Aborigin juga dilarang memasuki Alice Springs yang kala itu mayoritas dihuni warga kulit putih. Kamp-kamp kini tersebar di utara, selatan, timur, dan barat kota, masing-masing dihuni kelompok dengan bahasa dan hubungan komunitas berbeda.
Kamp-kamp tersebut diklasifikasikan sebagai perumahan sosial, tetapi pada praktiknya berupa dusun-dusun kecil yang terdiri dari sejumlah rumah. Kawasan ini mengalami kepadatan tinggi dan kekurangan pendanaan, yang menyebabkan fasilitas buruk dan infrastruktur minim. Tidak ada toko, listrik kadang padam saat cuaca panas, transportasi umum terbatas, akses internet minim, serta kondisi jalan dan penerangan sangat buruk.
Para ahli menilai kemiskinan di kamp-kamp tersebut menjadi salah satu faktor yang memperburuk kasus alkoholisme dan kekerasan dalam rumah tangga yang dilaporkan terjadi di sana.
“Banyak hal berat terjadi di kota ini, dan sebagai warga Australia non-pribumi, saya pikir kisah kolonisasi masih sangat terasa,” kata Nina Lansbury yang menghadiri acara doa bersama di ANZAC Oval, Alice Springs.
Lansbury, profesor madya di University of Queensland yang meneliti kesehatan publik dan perumahan di Tennant Creek, mengatakan sangat jelas bahwa Kumanjayi Little Baby tidak tinggal di rumah yang mendukung kesehatan dan keselamatan keluarganya.
“Saya memiliki laporan dari 1978 yang saya gunakan dalam penelitian dan semua masalahnya sama — hampir 50 tahun berlalu,” ujarnya. “Ini masalah besar. Sekarang tahun 2026 dan hal seperti ini masih terjadi. Semoga ini menjadi titik balik.”
“Sorry business” dan luka sejarah
Sejak jasad Kumanjayi Little Baby ditemukan, banyak warga komunitas menjalani apa yang disebut “sorry business”, yakni masa berkabung dalam budaya Aborigin dan Torres Strait Islander yang melibatkan ritual dan upacara adat, dan dapat berlangsung berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.
Keluarga korban meminta agar kematiannya dihormati selama masa berkabung dan tidak dipolitisasi.
Namun para politisi mulai mempertanyakan bagaimana seorang anak kecil yang rentan dan keluarganya tidak mendapat perlindungan yang memadai.
Senator Partai Liberal Jacinta Nampijinpa Price mengatakan Kumanjayi Little Baby masih kerabatnya. Ia menangis di parlemen sambil meminta adanya “percakapan jujur” mengenai kegagalan sistem perlindungan anak.
Namun pemimpin lainnya menyoroti kegagalan kebijakan berulang — baik di tingkat federal maupun Northern Territory — dalam menangani persoalan sistemik yang dihadapi komunitas Aborigin.
Warga pribumi Australia tiga kali lebih mungkin menganggur dibanding warga non-pribumi, memiliki harapan hidup lebih rendah, mencakup 37% populasi penjara, dan lebih rentan mengalami atau melakukan kekerasan dalam keluarga.
“Kenyataannya, semua pemerintahan dari berbagai generasi belum berbuat cukup untuk mengatasi persoalan lintas generasi ini,” kata Albanese di parlemen pekan ini.
Bayang-bayang “Stolen Generation”
Salah satu contoh paling terkenal dari kegagalan kebijakan adalah Stolen Generation — bab kelam Australia yang berlangsung hingga 1970-an ketika puluhan ribu anak pribumi dipisahkan secara paksa dari keluarga mereka sebagai bagian dari kebijakan asimilasi.
Laporan bersejarah “Bringing Them Home” pada 1997 memperkirakan satu dari tiga anak pribumi diambil dan ditempatkan di institusi atau keluarga asuh, tempat banyak dari mereka mengalami kekerasan dan penelantaran.
Satu dekade kemudian, pemerintah federal meluncurkan kebijakan Northern Territory Intervention untuk menangani pelecehan seksual terhadap anak-anak Aborigin di komunitas-komunitas terpencil. Namun setelah berjalan 15 tahun, kebijakan itu dihentikan dan dianggap gagal secara luas.
Menurut Liddle, dampak paling merusak dari kebijakan tersebut adalah trauma yang dialami pria-pria Aborigin.
“Para pria berhenti memandikan bayi dan berhenti membantu karena mereka merasa jika melakukan itu mereka akan dicap pedofil, dipenjara, dan anak-anak mereka akan diambil,” katanya.
“Ada ketakutan bahkan untuk mendatangi pihak berwenang karena takut dianggap melakukan kesalahan.”
Pekan lalu, Menteri Perlindungan Anak Northern Territory Robyn Cahill mengumumkan peninjauan ulang sistem perlindungan anak serta reformasi kebijakan.
“Saya tidak akan menjadi menteri yang meninggalkan satu generasi anak Territory lagi,” kata Cahill. “Kenyataannya, kita memiliki anak-anak dalam situasi sangat sulit dan selama ini banyak orang lumpuh oleh ketakutan dituduh menciptakan Stolen Generation baru. Anak-anak berhak merasa aman.”
Namun organisasi-organisasi Aborigin mengkritik langkah tersebut. Dalam pernyataan bersama Aboriginal Peak Organisations Northern Territory (APONT) dan SNAICC, mereka menyebut reformasi itu berpotensi “memperdalam krisis yang sudah menghancurkan, dengan dampak lintas generasi bagi warga Aborigin di Territory”.
Mereka khawatir pemerintah akan melemahkan Aboriginal Child Placement Principle — kerangka kerja yang dirancang agar anak-anak pribumi tetap terhubung dengan keluarganya. Jika itu terjadi, mereka menilai langkah tersebut sama saja dengan “upaya berbasis ras untuk menyalahkan keluarga Aborigin atas kondisi yang sebenarnya diciptakan oleh kegagalan pemerintah”.
Ketimpangan yang belum selesai
Para pemimpin Aborigin menilai diperlukan pendekatan menyeluruh untuk mengatasi ketimpangan sosial mendalam di Northern Territory.
“Jika melihat sistem penjara di Northern Territory, hampir semuanya diisi anak-anak Aborigin, dan hampir semuanya berasal dari sistem perlindungan anak,” kata Liddle.
Anak-anak berusia 10 tahun kini dapat dipenjara di Northern Territory setelah pemerintah daerah menurunkan usia tanggung jawab pidana pada 2024. Pemerintah beralasan langkah itu akan melindungi anak-anak, meski ditentang dokter, organisasi HAM, dan kelompok pribumi.
“Ini seperti membangun jalan bagi mereka lalu berkata: inilah perjalanan hidupmu, dan saat ada masalah kami akan memenjarakanmu di usia 10 tahun.”
Liddle mengakui percakapan sulit memang perlu dilakukan, tetapi harus mencakup kegagalan kebijakan sosial, perumahan, sistem penjara, dan sistem peradilan.
“Percakapan itu harus dipimpin komunitas karena jawabannya ada di komunitas, bukan di parlemen,” katanya. “Kita harus benar-benar memahami apa yang terjadi dan itu berbeda di setiap komunitas dan setiap wilayah. Kita juga harus memastikan investasi diberikan untuk layanan yang memang kami butuhkan dan dirancang oleh kami untuk kami.”
Tidak dapat disangkal bahwa persoalan sosial di wilayah tersebut sangat kompleks.
Puluhan tahun keterpinggiran — termasuk fakta bahwa masyarakat Aborigin baru memperoleh hak pilih penuh pada 1984 — turut berkontribusi terhadap lingkaran kemiskinan, kriminalitas, dan buruknya kondisi sosial. Di Alice Springs, banyak lapangan olahraga dan rumah dipasangi pagar untuk mencegah kejahatan remaja seperti pencurian, penyerangan, dan perilaku antisosial akibat alkohol.
Menurut Liddle, kenakalan memang terjadi dan tidak bisa dibenarkan, tetapi pendanaan sering kali tidak diarahkan pada kebutuhan utama masyarakat.
“Terlalu banyak pagar dibangun dibanding investasi yang benar-benar dibutuhkan agar masyarakat aman,” katanya.
Bagi sebagian warga Alice Springs, cara pandang terhadap komunitas Aborigin juga perlu diubah.
“Orang-orang jatuh ke celah sistem, dan gadis kecil ini sangat dicintai keluarga serta komunitasnya, tetapi jelas hidup dalam kemiskinan dan kerentanan,” kata Jonathan Hermawan, salah satu peserta doa bersama.
Namun ia juga mengingatkan adanya bahaya ketika tragedi Kumanjayi Little Baby digunakan untuk menggambarkan seluruh komunitas Aborigin secara seragam.
“Setiap sistem memiliki kegagalan ketika Anda menyamaratakan kelompok yang sangat beragam,” ujarnya.
“Konsep ‘Aboriginalitas’ itu seperti mengatakan semua orang kulit putih mengalami hal yang sama. Padahal kami jauh lebih beragam dan kompleks dari itu.”
