Seleksi juri telah dimulai untuk gugatan Elon Musk terhadap Sam Altman, menandai puncak perseteruan panjang dan sengit antara keduanya—serta berpotensi menentukan masa depan OpenAI.
Musk menuduh Altman telah mengkhianati misi awal OpenAI, yang didirikan bersama pada 2015 sebagai organisasi nirlaba dengan tujuan mengembangkan kecerdasan buatan demi kepentingan umat manusia.
Sengketa Inti
Sejak itu, OpenAI telah bertransformasi menjadi perusahaan berorientasi profit—langkah yang menurut Musk melanggar kepercayaan amal terkait donasinya sekitar US$38 juta pada masa awal. Ia juga menuduh Altman dan Presiden OpenAI, Greg Brockman, memperoleh keuntungan secara tidak sah. (Bulan ini, Musk mencabut tuduhan ketiga bahwa dirinya telah disesatkan secara curang terkait rencana perubahan OpenAI menjadi perusahaan profit.)
Pihak OpenAI membantah gugatan tersebut, menyebutnya tidak berdasar dan didorong oleh kepentingan kompetitif untuk menghambat posisi mereka dalam perlombaan AI. Musk sendiri memimpin pesaing OpenAI, xAI, yang baru-baru ini diintegrasikan ke dalam perusahaan roketnya, SpaceX.
Saksi Kunci dan Fakta Baru
Persidangan yang diperkirakan berlangsung hingga akhir Mei—jika tidak ada penyelesaian mendadak—akan menghadirkan kesaksian dari tokoh-tokoh besar di dunia AI. Selain Musk dan Altman, nama-nama seperti Satya Nadella, Ilya Sutskever, dan Mira Murati dijadwalkan memberikan keterangan.
Proses pengumpulan bukti telah menghasilkan ribuan halaman dokumen, termasuk catatan harian dan email dari masa awal OpenAI, serta detail baru terkait pencopotan sementara Altman sebagai CEO pada 2023.
Taruhan Besar
Hasil gugatan ini berpotensi mengubah arah OpenAI. Musk menuntut ganti rugi hingga US$150 miliar, yang ia katakan akan dikembalikan ke organisasi nirlaba OpenAI. Ia juga ingin memaksa OpenAI membatalkan status perusahaan profit—langkah yang bisa menyulitkan perusahaan dalam menghimpun dana besar untuk bersaing di garis depan teknologi AI.
Selain itu, Musk menuntut agar Altman dan Brockman dicopot dari posisi kepemimpinan.
Konflik Personal di Balik Layar
Perseteruan ini juga bersifat sangat personal. Musk keluar dari OpenAI pada 2018 setelah mencoba mengambil alih kendali dan menggabungkannya dengan Tesla, menyusul perbedaan arah dengan Altman dan Brockman.
Sejak saat itu, Musk secara terbuka mengkritik OpenAI—bahkan menyebutnya “ClosedAI” karena dianggap meninggalkan komitmen awal untuk membuka sumber teknologinya. Ia juga mempromosikan chatbot miliknya, Grok, sebagai alternatif yang mengedepankan kebebasan berbicara.
Meski demikian, perusahaan-perusahaan Musk masih tertinggal dari OpenAI, baik dalam pengembangan teknologi AI mutakhir maupun komersialisasinya. Kini, OpenAI dan SpaceX sama-sama berlomba menjadi perusahaan pertama yang melantai di bursa dengan valuasi di atas US$1 triliun, kemungkinan dalam waktu dekat.
Jika Musk menang, dampaknya mungkin tidak hanya menguntungkan perusahaannya sendiri. Pesaing OpenAI seperti Anthropic dan Google justru bisa menjadi pihak yang paling diuntungkan.
Seorang juru bicara OpenAI menyatakan bahwa Musk “didorong oleh kecemburuan, penyesalan karena meninggalkan OpenAI, dan keinginan untuk menghambat perusahaan AI pesaing.” Pihak SpaceX tidak memberikan tanggapan.
Langkah Strategis: Akuisisi Cursor
Di tengah upaya mengejar OpenAI, SpaceX dikabarkan mencapai kesepakatan untuk mengakuisisi startup AI pemrograman Cursor senilai US$60 miliar, atau membayar US$10 miliar jika transaksi batal.
Nilai fantastis ini mencerminkan betapa pentingnya kemampuan coding dalam perlombaan AI. Akuisisi ini akan memungkinkan SpaceX mengintegrasikan teknologi Cursor ke dalam model Grok, sekaligus memanfaatkan data penggunaan dari para pengembang.
Di sisi lain, Cursor juga diuntungkan dengan akses ke sumber daya komputasi besar milik Musk, yang dapat mempercepat pengembangan model AI kelas atas mereka sendiri.
Namun, langkah ini juga membawa risiko. Pada Januari, Anthropic menghentikan akses Claude ke xAI karena pelanggaran aturan. Jika Cursor diakuisisi SpaceX, ada kemungkinan akses tersebut juga dihentikan, yang bisa berdampak pada pengguna Cursor yang bergantung pada teknologi tersebut.
AI dan Kesenjangan Ekonomi
Sementara itu, survei terbaru menunjukkan pekerja dengan penghasilan tinggi jauh lebih sering menggunakan AI dalam pekerjaan mereka dibandingkan kelompok berpenghasilan rendah. Lebih dari 60% pekerja berpenghasilan tinggi di AS dan Inggris menggunakan AI hampir setiap hari, sementara di kelompok terbawah angkanya kurang dari 10%.
Hal ini tidak hanya mencerminkan perbedaan jenis pekerjaan, tetapi juga mengindikasikan potensi kesenjangan ekonomi yang semakin melebar di era kecerdasan buatan.
