Prancis meluncurkan penyelidikan terhadap kemunculan kembali sebuah situs web yang sebelumnya memungkinkan Dominique Pelicot merekrut puluhan orang asing untuk memperkosa istrinya, Gisèle, yang dibius berat. Hal ini disampaikan oleh jaksa pada Selasa.

Pihak berwenang menyebut platform berbahasa Prancis bernama Coco tersebut telah dikaitkan dengan berbagai kejahatan, termasuk pelecehan seksual anak, pemerkosaan, hingga pembunuhan. Situs yang terdaftar di luar negeri itu sebelumnya ditutup pada Juni 2024.

“Kantor jaksa penuntut umum Paris telah membuka penyelidikan terkait dibukanya kembali situs tersebut,” demikian pernyataan resmi yang disampaikan kepada media.

Situs itu kini beroperasi dengan nama baru dan masih dapat diakses pada Selasa.

Komisioner anak Prancis, Sarah el Hairy, telah lebih dulu memperingatkan soal kemunculan kembali situs tersebut pada pertengahan April.

“Dibukanya kembali situs Coco merupakan tamparan keras terhadap janji perlindungan yang telah kami buat,” ujarnya kepada penyiar RMC saat itu.

“Kami akan melacak mereka, memburu mereka, dan tidak memberi mereka ruang untuk bernapas.”

Sebelum situs tersebut kembali aktif, penyelidikan terhadap platform Coco disebut sudah berada pada tahap “cukup maju”, menurut sumber yang mengetahui perkara ini.

Isaac Steidl, pendiri sekaligus pengelola situs Coco, pada Januari 2025 didakwa atas keterlibatan dalam perdagangan narkoba, kepemilikan dan distribusi pornografi anak, perusakan moral anak melalui internet, serta konspirasi kriminal. Ia membantah seluruh tuduhan tersebut.

Pengacaranya, Julien Zanatta, menyatakan bahwa Steidl “tidak ada kaitannya” dengan situs baru tersebut.

Platform ini telah menjadi pusat sejumlah kasus kriminal, termasuk persidangan besar Pelicot yang menyita perhatian publik.

Dominique Pelicot dijatuhi hukuman 20 tahun penjara pada 2024 atas pemerkosaan dengan pemberatan, setelah terbukti merekrut puluhan orang asing untuk memperkosa istrinya saat ia dibius di rumah mereka dalam periode 2011 hingga 2020.

Ia berkomunikasi dengan para pelaku melalui ruang obrolan situs tersebut yang bernama “A son insu” atau “Tanpa sepengetahuannya”.

Dua organisasi hak perempuan di Prancis pada Selasa mendesak pihak berwenang untuk memperluas penyelidikan terhadap situs dan platform serupa lainnya.

Seruan itu muncul setelah laporan jaringan berita AS, pada Maret lalu mengenai platform yang disebut “Rape Academy”, di mana pria dari berbagai negara saling berbagi tips membius dan memperkosa pasangan mereka sambil merekam aksinya.

“Mengingat kasus terbaru seperti yang dialami Gisèle Pelicot, sangat mungkin pengguna dari Prancis ikut terlibat [di situs semacam ini] dan ada korban di Prancis,” ujar Women’s Foundation dan kelompok M’endors pas (Jangan Bius Saya) dalam pernyataan bersama.

Kelompok terakhir tersebut turut didirikan oleh putri Gisèle Pelicot, Caroline Darian.

“Ini bukan insiden terpisah, melainkan kejahatan terorganisir oleh komunitas yang secara aktif mendorong dan menyusun kekerasan semacam ini,” demikian pernyataan kedua organisasi tersebut.

Share.
Leave A Reply