Austin — Setelah dua hari kesaksian emosional, para legislator Texas dan penyelidik pada Selasa menyampaikan penilaian suram terhadap peran pimpinan Camp Mystic dalam banjir dahsyat musim panas lalu yang menewaskan 27 orang: tidak adanya rencana evakuasi yang memadai dan respons yang terlambat saat air mulai naik.
Hal ini memicu keraguan yang semakin besar di kalangan pembuat kebijakan negara bagian terkait kelayakan kamp tersebut untuk dibuka kembali sesuai rencana, sementara komite legislatif Texas terus menyelidiki kegagalan dan peluang yang terlewatkan.
Penyelidikan komite menghadirkan gambaran paling jelas sejauh ini tentang apa yang terjadi di kampus Camp Mystic di tepi Sungai Guadalupe pada Juli lalu, dirangkai dari kesaksian memilukan dan laporan yang mencekam.
“Nasib anak-anak perempuan itu sudah ditentukan bahkan sebelum tetes hujan pertama jatuh,” kata Senator negara bagian Charles Perry dari Partai Republik.
Penyelidik yang ditunjuk komite khusus menyatakan keluarga Eastland gagal menyusun rencana evakuasi banjir bandang, tidak melakukan latihan, dan tidak memberikan pelatihan serius kepada para konselor untuk menghadapi cuaca ekstrem.
Meski memantau peringatan cuaca secara intens pada dini hari saat banjir terjadi, Dick Eastland—direktur kamp yang telah lama memimpin dan dihormati—terlalu lama menunda tindakan, kata penyelidik. Ia meninggal dalam banjir setelah berhasil mengevakuasi beberapa peserta dan mencoba menyelamatkan yang lain.
“Saya sepenuhnya memahami ketika orang menunjukkan hal-hal yang seharusnya bisa kami lakukan pagi itu,” kata Edward Eastland, salah satu direktur kamp sekaligus putra Dick Eastland. “Saya memikirkannya setiap hari.”
“Kami sangat menyesal. Setiap hari. Setiap menit dalam setiap hari, kami sangat menyesal,” tambah Mary Liz Eastland, istri Edward.
Berikut poin-poin utama dari sidang gabungan dua hari komite investigasi banjir DPR dan Senat Texas serta kronologi kejadian menurut penyelidik:
Kepemimpinan Ketat, Namun Tanpa Rencana Banjir yang Jelas
Penyelidikan ini berlangsung di tengah berbagai proses hukum lain terkait tragedi Camp Mystic, termasuk gugatan keluarga korban terhadap pengelola kamp. Upaya komite dipimpin oleh dua penyelidik yang sebelumnya ditunjuk pada 2022 untuk menyelidiki penembakan di Sekolah Dasar Robb, Uvalde.
Para penyelidik memaparkan kronologi kejadian yang menggambarkan sosok Dick Eastland sebagai pemimpin patriarkal yang “menguasai” kamp, memegang kendali penuh atas keputusan, serta menanamkan budaya kepatuhan ketat. Ia disebut sangat waspada terhadap cuaca, namun tidak memiliki rencana banjir yang solid.
Setiap kabin hanya memiliki satu lembar instruksi darurat yang ditempel di dinding, yang mengarahkan peserta untuk tetap berada di dalam kabin saat banjir, kecuali diperintahkan lain oleh kantor pusat.
“Tidak pernah ada pelatihan nyata. Tidak pernah ada simulasi, tidak ada latihan sama sekali,” kata penyelidik Casey Garrett. Para peserta juga tidak memiliki radio, peralatan darurat, tangga, jaket pelampung, atau perlengkapan penting lainnya.
Para legislator mempertanyakan kebijakan “berlindung di tempat” tersebut.
“Bagaimana itu bisa disebut rencana evakuasi? Tetap di tempat?” tanya anggota DPR dari Partai Republik, Morgan Meyer. “Itu justru bertentangan dengan konsep evakuasi.”
Keluarga Eastland menyatakan rencana tersebut telah disetujui oleh lembaga negara selama bertahun-tahun, dan ayah mereka meyakini itu adalah langkah terbaik.
Namun mereka membantah anggapan bahwa Dick Eastland meremehkan risiko banjir. Ia bahkan mendorong pemasangan sistem sirene di sepanjang Sungai Guadalupe dan terus memantau ancaman hingga saat terakhir.
Terlambat Mengambil Keputusan Evakuasi
Badan Cuaca Nasional mengeluarkan peringatan banjir pada pukul 01.14 dini hari, 4 Juli. Penyelidik menyebut Dick Eastland terus memantau aplikasi cuaca, tetapi baru mulai mengevakuasi peserta pada pukul 03.00.
Saat ditanya apakah keputusan itu tepat, seluruh anggota keluarga Eastland yang bersaksi sepakat—dengan melihat ke belakang—bahwa tindakan itu terlambat.
Lebih dari satu jam setelah peringatan dikeluarkan, dua konselor dari kabin terdekat dengan sungai melaporkan banjir mulai masuk. Eastland saat itu hanya meminta mereka meletakkan handuk untuk menahan air.
Sekitar setengah jam kemudian, setelah kehilangan kontak dengan salah satu staf, barulah ia memutuskan evakuasi kabin terdekat sungai.
Para penyelidik mempertanyakan mengapa tidak ada perintah evakuasi massal melalui sistem pengeras suara atau instruksi langsung dari kabin ke kabin.
Meski ada setidaknya sembilan pekerja lapangan dewasa yang sebelumnya ditugaskan memindahkan kano dan perlengkapan tepi sungai, mereka tidak dilibatkan dalam evakuasi.
“Mereka tidak diberi tugas jelas, tidak tahu harus ke mana, dan tidak mengambil tindakan,” kata Garrett. “Ini menjadi misteri.”
Pada akhirnya, hanya tiga orang dewasa—Dick Eastland, Edward Eastland, dan penjaga malam Glenn Juenke—yang memimpin evakuasi, yang kemudian berubah menjadi kekacauan.
“Itu terjadi sangat cepat… dan hal-hal yang bisa membantu—saya terus memikirkannya berulang kali,” kata Edward Eastland. “Saya berharap saya melakukan hal-hal itu.”
Keluarga menegaskan bahwa saat evakuasi dimulai, mereka mengira situasi masih bersifat pencegahan.
“Tidak ada yang tahu pada pukul 03.00 apa yang akan terjadi dengan sungai dalam hitungan menit,” kata Britt Eastland.
Penolakan terhadap Rencana Pembukaan Kembali
Keluarga Eastland berencana membuka kembali sebagian kamp musim panas ini, meski tidak di area dekat Sungai Guadalupe. Departemen Layanan Kesehatan Negara Bagian Texas telah mengeluarkan sejumlah catatan kekurangan yang harus diperbaiki sebelum izin diperpanjang.
Namun banyak legislator meminta rencana tersebut ditinjau ulang.
“Apakah Anda benar-benar siap menangani lebih dari 500 anak?” tanya Senator Lois Kolkhorst.
Ia juga menyoroti bahwa kamp belum melaporkan 27 kematian kepada lembaga pengawas, sebagaimana diwajibkan hukum.
Keluarga Eastland menyatakan berharap dapat berdamai dengan keluarga korban seiring waktu dan percaya pembukaan kembali kamp suatu hari akan diterima.
Namun Senator Perry menilai keinginan sebagian orang tua untuk kembali belum cukup sebagai dasar pembukaan kembali.
“Anda tidak siap menangani anak-anak,” tegasnya, seraya berjanji akan menggunakan jalur hukum untuk mencegah keluarga Eastland kembali mengelola kamp.
Mary Liz Eastland menyatakan keluarga siap mundur jika diperlukan.
“Kami bersedia mengambil langkah mundur. Jika kamp tetap berjalan tanpa kami, itu tidak masalah,” katanya.
Kesaksian Orang Tua: Luka yang Tak Terobati
Kesaksian para orang tua menjadi bagian paling memilukan dalam sidang.
Malorie Lytal, mantan peserta Camp Mystic pada 1995, mengirim putrinya, Kellyanne, ke kabin yang sama yang dulu ia tempati.
“Tolong jaga anak saya,” katanya kepada Dick Eastland saat itu.
“Kalimat itu akan menghantui saya seumur hidup,” kata Lytal. “Camp Mystic tidak menjaganya.”
Ia menceritakan putrinya harus berjuang sendiri saat kabin terendam, hingga akhirnya hanyut dan meninggal.
CiCi Steward, ibu lain, mengatakan kepada keluarga Eastland: “Kalian merampas kebahagiaan kami.”
Putrinya yang berusia 8 tahun, Cile, masih dinyatakan hilang.
“Jangan menghina saya dengan berpura-pura bahwa pembukaan kembali ini bukan demi kepentingan keluarga Anda sendiri,” ujarnya.
Sementara Julie Sprunt-Marshall menceritakan bagaimana putrinya yang berusia 9 tahun selamat setelah terseret arus dan ditemukan beberapa jam kemudian di tumpukan puing lebih dari satu mil dari lokasi.
“Anak-anak perempuan menangis memanggil ibu mereka… akhirnya mereka sadar tidak ada orang dewasa yang akan datang menyelamatkan,” katanya.
Ia juga mengatakan putrinya melihat Edward Eastland menangis meminta hujan berhenti pada malam itu.
“Doa keluarga Eastland tidak menyelamatkan anak-anak malam itu,” katanya. “Saya khawatir doa mereka ke depan bukanlah rencana keselamatan yang layak.”
