Rover Curiosity telah menemukan beragam molekul organik paling kompleks yang pernah terdeteksi di Mars, termasuk tujuh senyawa yang sebelumnya belum pernah ditemukan di planet merah tersebut.
Senyawa berbasis karbon ini merupakan “bahan dasar” yang juga memungkinkan kehidupan muncul di Bumi.
Hasil penelitian yang dipublikasikan pada Selasa di jurnal Nature Communications itu berasal dari eksperimen pertama di Mars yang menggunakan metode kimia langsung: rover mengambil sampel batuan, kemudian melarutkannya dalam larutan kimia untuk mengungkap komposisinya.
Molekul Organik Diperkirakan Berusia 3,5 Miliar Tahun
Ketua peneliti, Dr. Amy Williams, mengatakan bahwa molekul organik dalam batuan tersebut diperkirakan telah bertahan di Mars selama sekitar 3,5 miliar tahun. Ia merupakan profesor ilmu geologi di University of Florida sekaligus ilmuwan dalam misi Curiosity.
“Temuan ini penting karena membuktikan bahwa material organik kompleks berukuran besar dapat bertahan di Mars selama waktu geologis yang sangat panjang, meskipun lingkungan radiasinya ekstrem,” ujar Williams.
Menurutnya, hal ini memperkuat upaya pencarian lingkungan layak huni di Mars—yakni kondisi yang secara teori memungkinkan kehidupan pernah ada.
Mars Pernah Lebih Layak Huni dari Dugaan Awal
Temuan ini melengkapi deteksi sebelumnya dari Curiosity terkait senyawa organik di Mars. Selain itu, hasil ini memperkuat dugaan bahwa Mars miliaran tahun lalu bukanlah planet beku seperti sekarang, melainkan pernah memiliki kondisi yang mendukung kehidupan.
“Hal yang paling mengejutkan dari misi ini bagi saya bukan hanya bahwa Mars pernah layak huni, tetapi betapa luar biasanya tingkat kelayakhuniannya,” kata Ashwin Vasavada, ilmuwan proyek Curiosity dari NASA Jet Propulsion Laboratory.
Eksperimen Kimia Pertama di Mars
Eksperimen ini tidak dirancang untuk memastikan apakah molekul tersebut berasal dari kehidupan purba, dibawa oleh meteorit, atau terbentuk melalui proses geologi alami.
Namun, hasilnya menjadi titik penting dalam komunitas ilmiah planet karena menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk memastikan adanya kehidupan masa lalu di Mars adalah dengan membawa sampel batuan ke Bumi.
Pencarian Lokasi Sampel yang Tepat
Curiosity mendarat di Kawah Gale pada 2012 dengan misi utama menilai apakah Mars pernah dapat dihuni.
Selama bertahun-tahun, rover ini mendaki Gunung Sharp di dalam kawah tersebut untuk mencapai lapisan tanah liat yang sebelumnya terdeteksi oleh satelit.
Lapisan tanah liat ini diyakini mampu menyimpan molekul organik, sekaligus menunjukkan bahwa air pernah hadir di Mars secara berulang di masa lalu.
Setelah sekitar enam hingga tujuh tahun perjalanan, Curiosity akhirnya mencapai wilayah Glen Torridon. Di sana ditemukan batu lumpur dari danau purba serta batu pasir yang menunjukkan adanya aliran air di masa lalu.
Sampel “Mary Anning” dan Eksperimen SAM
Tim ilmuwan memilih lokasi pengeboran bernama Mary Anning, diambil dari nama paleontolog Inggris abad ke-19.
Sampel batuan kemudian dihancurkan dan dimasukkan ke dalam instrumen SAM (Sample Analysis at Mars) yang berada di tubuh rover.
SAM bekerja dengan memanaskan sampel dan menganalisis gas yang dilepaskan dari mineral. Instrumen ini sebelumnya juga telah menghasilkan sejumlah penemuan penting terkait kimia organik di Mars.
Sampel tersebut juga diberi larutan tetramethylammonium hydroxide (TMAH), yang mampu memecah molekul besar sehingga struktur kimia yang sebelumnya tersembunyi dapat terdeteksi.
Ditemukan 21 Molekul Organik
Para peneliti mengidentifikasi 21 molekul berbasis karbon, termasuk jenis nitrogen heterosiklik yang baru pertama kali terdeteksi di Mars.
Struktur ini berupa cincin atom karbon yang mengandung nitrogen, yang dikenal sebagai prekursor RNA dan DNA molekul penyimpan informasi genetik.
“Deteksi ini sangat penting karena struktur tersebut bisa menjadi prekursor kimia untuk molekul nitrogen yang lebih kompleks,” ujar Williams.
Ia menambahkan bahwa nitrogen heterosiklik belum pernah ditemukan di permukaan Mars maupun dikonfirmasi dalam meteorit Mars sebelumnya.
Selain itu, ditemukan juga benzothiophene, molekul karbon dan sulfur yang umum ditemukan dalam meteorit.
Keterkaitan dengan Meteorit dan Bumi
Penelitian juga membandingkan hasil Curiosity dengan meteorit Murchison yang ditemukan di Australia pada 1969 dan berusia lebih dari 4 miliar tahun.
Ketika meteorit tersebut diuji dengan TMAH, struktur molekulnya terurai menjadi senyawa yang sama seperti yang ditemukan di Mars, termasuk benzothiophene.
“Material yang jatuh ke Mars melalui meteorit kemungkinan sama dengan yang jatuh ke Bumi, dan mungkin menjadi bahan dasar kehidupan di planet kita,” kata Williams.
Mars yang Dulu Sangat Layak Huni
Dalam satu tahun terakhir, Curiosity juga menemukan molekul organik terbesar yang pernah terdeteksi di Mars, sementara rover Perseverance menemukan pola menyerupai “bintik macan tutul” pada batuan yang diduga berkaitan dengan kehidupan purba.
Menurut Vasavada, berbagai temuan ini menunjukkan gambaran bahwa Mars kuno sangat berbeda dari sekarang.
“Melihat keberagaman molekul organik ini seperti melihat puncak gunung es dari sesuatu yang jauh lebih besar di masa lalu,” ujarnya.
Menuju Misi Pengembalian Sampel ke Bumi
Penemuan ini juga menjadi dasar bagi misi masa depan yang akan membawa eksperimen kimia serupa ke luar angkasa.
Rover ExoMars Rosalind Franklin milik ESA dan misi Dragonfly NASA ke bulan Saturnus, Titan, akan membawa eksperimen kimia basah untuk mencari molekul organik.
Menurut Charles Malespin dari NASA Goddard Space Flight Center, eksperimen ini menjadi tonggak penting.
“Sekarang kami sudah belajar cara melakukan kimia seperti ini di Mars. Kami siap untuk eksperimen serupa di misi berikutnya,” ujarnya.
Apakah Ini Bukti Kehidupan? Belum
Briony Horgan dari Purdue University menegaskan bahwa temuan ini belum bisa membuktikan adanya kehidupan di Mars.
Namun, data yang terkumpul semakin memperkuat kemungkinan tersebut.
“Kami belum bisa mengatakan bahwa molekul ini berasal dari kehidupan, tetapi kami semakin dekat untuk menjawabnya,” katanya.
Ia menekankan bahwa satu-satunya cara untuk memastikan adalah dengan membawa sampel Mars ke Bumi.
Debat Pengembalian Sampel Mars
Rencana besar NASA dan ESA untuk membawa sampel Mars ke Bumi sempat dibatalkan oleh Kongres AS pada Januari karena biaya yang tinggi. Namun para ilmuwan terus mendorong agar misi tersebut dilanjutkan.
“Ini adalah satu-satunya cara untuk menjawab pertanyaan terbesar umat manusia: apakah kehidupan pernah ada di luar Bumi?” ujar Vasavada.
Ia menegaskan bahwa pengembalian sampel adalah bagian akhir dari proyek puluhan tahun ini.
“Saya ingin kisah ini selesai,” katanya.
