Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tiba-tiba membatalkan rencana keberangkatan utusan AS ke Pakistan untuk melakukan perundingan damai dengan Iran pada Sabtu, sehingga putaran terbaru negosiasi untuk mengakhiri perang kembali berada dalam ketidakpastian.

Utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, yang juga menantu Trump, sebelumnya dijadwalkan terbang ke Islamabad untuk bertemu para pemimpin Iran pada hari yang sama. Namun, Trump membatalkan perjalanan tersebut di menit terakhir dengan alasan adanya “perpecahan internal” di dalam kepemimpinan Iran.

“Terlalu banyak waktu terbuang untuk perjalanan, terlalu banyak pekerjaan!” tulisnya di Truth Social. “Selain itu, ada pertikaian besar dan kebingungan dalam ‘kepemimpinan’ mereka. Tidak ada yang tahu siapa yang benar-benar memimpin, termasuk mereka sendiri.”

“Selain itu, kami punya semua kartu,” tambahnya.

Pernyataan tersebut ia ulangi saat berbicara kepada wartawan di West Palm Beach sebelum menaiki pesawat Air Force One.

“Kami punya semua kartu. Kami tidak akan menghabiskan 15 jam di pesawat terus-menerus hanya untuk bepergian bolak-balik demi menerima dokumen yang tidak cukup baik,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa Iran seharusnya bisa “menghubungi” Amerika Serikat.

Negosiasi yang Kembali Terhenti

Pembatalan ini terjadi sehari setelah juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa presiden telah memerintahkan Witkoff dan Kushner untuk melakukan perjalanan langsung ke Pakistan guna melakukan pembicaraan tatap muka, di tengah konflik yang telah berlangsung hampir dua bulan. Gencatan senjata sementara juga baru saja diperpanjang oleh Trump pekan ini.

Leavitt menyebut telah ada kemajuan dalam beberapa hari terakhir dan pemerintah berharap adanya perkembangan lebih lanjut setelah pertemuan Witkoff dan Kushner dengan pihak terkait.

Namun hanya beberapa jam sebelum keberangkatan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi meninggalkan Islamabad menuju Oman setelah melakukan perundingan hampir sepanjang hari dengan pejabat Pakistan, yang kini berperan sebagai mediator tak terduga dalam konflik tersebut.

Dalam unggahannya di platform X setelah meninggalkan Pakistan, ia menyatakan bahwa Iran “masih perlu melihat apakah Amerika Serikat benar-benar serius terhadap diplomasi.”

Pembatalan Kedua dalam Sepekan

Keputusan Trump ini menjadi pembatalan kedua dalam satu minggu terkait perjalanan pejabat AS. Wakil Presiden J.D. Vance sebelumnya juga dijadwalkan berkunjung ke Islamabad pekan ini, namun perjalanan tersebut turut dibatalkan pada menit terakhir.

Israel Lanjutkan Serangan di Lebanon

Sementara itu, Israel terus melanjutkan serangan di wilayah selatan Lebanon, yang pada Sabtu meningkat dengan dua serangan di distrik Nabatieh yang menewaskan empat orang.

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa ia telah memerintahkan militer untuk melakukan “serangan kuat” terhadap target Hezbollah di Lebanon, meskipun gencatan senjata masih berlaku.

Selat Hormuz Masih Tertutup

Kontrol Iran atas Selat Hormuz tetap menjadi isu sentral dalam perundingan damai. Iran secara efektif telah menutup jalur tersebut yang sebelum konflik dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan hanya mengizinkan sekutunya melintas, atau pihak lain dengan pembayaran tertentu. Amerika Serikat kemudian memberlakukan pembatasan sendiri terhadap seluruh lalu lintas di wilayah itu untuk menekan Iran agar membuka kembali jalur tersebut.

Data pelayaran pada Jumat menunjukkan hanya lima kapal yang melintasi Selat Hormuz, jauh menurun dibanding lebih dari 130 kapal sebelum perang dimulai pada 28 Februari. Penutupan ini memicu krisis energi global serta gelombang pembatasan bahan bakar di berbagai negara.

Harga minyak pun naik lebih dari 11 persen dalam sepekan terakhir seiring kegagalan diplomasi meredakan konflik, dengan harga minyak Brent sempat menembus lebih dari 105 dolar AS per barel pada perdagangan awal Jumat.

Share.
Leave A Reply