Kelompok Hezbollah pada Minggu menyatakan akan membalas apa yang mereka sebut sebagai “pelanggaran” gencatan senjata oleh Israel di Lebanon, sekaligus menolak tudingan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menilai kelompok pro-Iran tersebut mengancam kesepakatan damai.
Di tengah ketegangan itu, Menteri Luar Negeri Iran melanjutkan perjalanan diplomatiknya dari Pakistan menuju Moskow untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin, saat para mediator berupaya menjaga agar dialog antara Teheran dan Amerika Serikat tetap berlangsung.
Ringkasan Perkembangan Utama
- Rusia mengonfirmasi kunjungan Menlu Iran ke Moskow untuk bertemu Putin
- Donald Trump menyebut Iran bisa menghubungi AS jika ingin bernegosiasi
- Hezbollah menuduh Israel melanggar gencatan senjata, bantah klaim Netanyahu
- Menlu Iran berpindah dari Muscat ke Islamabad dalam rangka diplomasi
Diplomasi Iran dan Upaya Menjaga Negosiasi
Iran, melalui mediator Pakistan, dilaporkan telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian perang, dengan pembahasan nuklir ditunda ke tahap berikutnya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bergerak intens dari satu ibu kota ke ibu kota lain dari Muscat ke Islamabad, lalu menuju Moskow dalam upaya mempertahankan jalur diplomasi. Ia dijadwalkan bertemu Vladimir Putin untuk membahas perkembangan terbaru terkait negosiasi, gencatan senjata, serta dinamika kawasan.
Rusia dan Iran, yang sama-sama berada di bawah sanksi Barat, dalam beberapa tahun terakhir mempererat hubungan strategis mereka.
Harga Minyak Naik, Pasokan Global Tertekan
Harga minyak dunia melonjak lebih dari 2 persen setelah pembicaraan damai antara AS dan Iran mengalami kebuntuan, sementara arus pengiriman melalui Selat Hormuz masih terbatas. Kondisi ini membuat pasokan global tetap ketat.
Serangan Berlanjut Meski Gencatan Senjata
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan Israel di wilayah selatan negara itu pada Minggu menewaskan 14 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, serta melukai puluhan lainnya, meskipun gencatan senjata masih berlaku.
Media pemerintah Lebanon juga menyebut Israel melancarkan serangan udara setelah mengeluarkan peringatan evakuasi untuk sejumlah wilayah. Sejak gencatan senjata diberlakukan pada pertengahan April, militer Israel terus melakukan serangan yang diklaim menargetkan posisi Hezbollah.
Di sisi lain, militer Israel melaporkan seorang tentaranya tewas dalam pertempuran di Lebanon selatan, bersama sejumlah personel lain yang mengalami luka berat hingga ringan.
Saling Tuduh Pelanggaran Gencatan Senjata
Hezbollah menegaskan bahwa serangan mereka terhadap pasukan Israel di wilayah Lebanon merupakan “respons yang sah” atas pelanggaran gencatan senjata oleh Israel.
Sebaliknya, Benjamin Netanyahu menuduh tindakan Hezbollah justru merusak kesepakatan tersebut. Ia menegaskan bahwa Israel akan terus bertindak tegas terhadap kelompok yang didukung Iran itu.
Menurut Netanyahu, Israel memiliki kebebasan bertindak bukan hanya untuk membalas serangan, tetapi juga untuk mencegah ancaman yang dianggap akan segera terjadi.
Korban Tewas dan Eskalasi Konflik
Jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Lebanon sejak awal Maret dilaporkan telah melampaui 2.500 orang. Ketegangan yang terus meningkat ini memicu kekhawatiran bahwa gencatan senjata yang telah diperpanjang bisa runtuh sewaktu-waktu
Tekanan Global dan Risiko Ekonomi
Pemimpin Inggris dan Amerika Serikat juga menyoroti pentingnya memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, mengingat dampaknya yang besar terhadap ekonomi global dan biaya hidup masyarakat dunia.
Sementara itu, Iran dalam pembicaraan dengan Oman menekankan perlunya kerangka keamanan kawasan tanpa campur tangan pihak luar, serta menilai kehadiran militer AS di Timur Tengah sebagai sumber ketidakstabilan.
Konflik yang terus memanas, saling tuding pelanggaran, serta meningkatnya korban jiwa menunjukkan bahwa situasi di Lebanon dan kawasan Timur Tengah masih jauh dari stabil, meski kesepakatan gencatan senjata secara formal masih berlaku.
