Penggunaan istilah “mogging” melonjak tajam selama setahun terakhir. Istilah slang yang populer di kalangan Generasi Z tersebut bahkan dinobatkan sebagai Word of the Year 2026 oleh Collins English Dictionary.
Berawal dari bahasa yang berkembang di komunitas manosphere, sebuah lingkungan daring yang berisi konten hiper-maskulin dan kerap bernuansa misoginis, istilah ini mulai menembus budaya populer pada tahun ini. Sejumlah selebritas dan media massa turut menggunakannya.
Collins mendefinisikan “mogging” sebagai istilah yang digunakan secara jenaka untuk menggambarkan tindakan mengungguli atau tampil lebih baik daripada seseorang atau sesuatu. Istilah ini kini banyak digunakan dalam percakapan daring mengenai budaya selebritas dan mulai merambah kosakata sehari-hari.
“Saya mendengar seseorang mengatakan beberapa hari lalu bahwa dirinya mengalami ‘walk-mogged’. Maksudnya, ada orang lain seusianya yang berjalan lebih cepat darinya di jalan,” kata Tony Thorne, konsultan bahasa di King’s College London.
Popularitas istilah tersebut meningkat melalui keterkaitannya dengan Clavicular, seorang influencer yang dikenal lewat konten “looksmaxxing”, yakni upaya memaksimalkan penampilan fisik. Ia baru-baru ini mengaku tidak bersalah atas sejumlah dakwaan, termasuk pemerkosaan.
Clavicular kerap mengunggah video dirinya mencoba “mogging” orang lain di tempat umum.
Istilah tersebut menjangkau khalayak yang lebih luas setelah sejumlah unggahan yang menyebut streamer kontroversial itu mengalami “brutally frame mogged” viral pada awal tahun ini. Ungkapan tersebut merujuk pada situasi ketika seseorang dianggap kalah telak dari orang lain dalam hal struktur atau proporsi wajah dan penampilan fisik.
Namun, sejarah istilah “mogging” kemungkinan jauh lebih panjang dibandingkan lonjakan popularitasnya belakangan ini.
Thorne menjelaskan bahwa istilah tersebut sering dikaitkan dengan akronim AMOG, singkatan dari Alpha Male of the Group atau pria alfa dalam sebuah kelompok. Pada awalnya, istilah ini digunakan pada 2010-an di forum daring binaraga dan komunitas incel, sebutan bagi orang yang mengalami selibat tanpa keinginan sendiri, sebelum kemudian diadopsi oleh kelompok pengguna yang lebih muda dan luas.
“Mereka mulai menyebarkan istilah tersebut,” ujarnya.
“Awalnya, ini merupakan istilah toksik yang menggambarkan persaingan ekstrem dan dorongan untuk mendominasi. Namun, orang-orang kemudian mulai menggunakannya secara ironis dan sebagai bahan candaan.”
Sebagai bentuk sindiran terhadap asal-usul istilah tersebut, ikon Hollywood sekaligus tujuh kali juara Mr Olympia, Arnold Schwarzenegger, mengunggah video dirinya saat berada di puncak karier binaraga pada awal tahun ini. Ia menyertakan keterangan bernada ironis: “Ada seseorang yang baru saja mencoba menjelaskan tren baru ‘frame mogging’ ini kepada saya…”
Fenomena istilah slang yang keluar dari komunitas asalnya dan kemudian digunakan secara luas bukanlah sesuatu yang baru.
“Fenomena ini mulai menyerupai bahasa slang komunitas drag queen yang hingga beberapa waktu lalu juga digunakan secara luas, seperti ‘it was lit’, ‘she slays’, ‘he’s a king’, dan ‘she’s a queen’. Istilah-istilah tersebut kini menjadi bagian dari candaan populer yang lebih ringan, terutama dalam konteks selebritas,” kata Thorne.
Ia menilai istilah “mogging” kini “sebagian besar telah kehilangan konotasi toksiknya” karena penggunaannya lebih banyak mempertahankan unsur ejekan ringan atau ironi.
“Saya tidak bisa berbicara untuk setiap penggunaannya. Namun, di kalangan anak muda yang saya kenal dan menggunakan istilah ini sekarang, tidak ada lagi sesuatu yang tidak sehat di baliknya.”
Perubahan makna yang lebih ringan dan populer tersebut terlihat dari cara British Vogue menggunakan istilah itu dalam sebuah keterangan foto aktor Heated Rivalry, Hudson Williams, ketika menghadiri Golden Globes 2026. Majalah tersebut menyebut Williams sedang “mogging at the Golden Globes”.
Dalam wawancara pada awal tahun ini, atlet seluncur indah Alysa Liu juga mengatakan bahwa “tujuan utama saya dalam kompetisi ini adalah melakukan mogging”.
Meski demikian, unsur persaingan tetap menjadi bagian penting dari penggunaan istilah tersebut untuk menggambarkan suatu situasi.
“Bahasa ini masih mempertahankan unsur budaya performa yang sangat individualistis dan kompetitif. Unsur tersebut tetap ada,” kata Thorne.
Sebuah perdebatan di dunia maya baru-baru ini muncul setelah para penggemar membandingkan pilihan majalah People untuk gelar pria terseksi 2026, Noah Wyle, aktor serial The Pitt, dengan pemenang tahun 2025, Jonathan Bailey, bintang film Wicked.
Tahun lalu, penggemar Zara Larsson dan Tate McRae juga mempertemukan kedua penyanyi tersebut dalam perdebatan setelah bintang pop asal Swedia itu tampil sebagai penyanyi pembuka dalam rangkaian tur Miss Possessive milik McRae di Amerika Utara.
Sebagian penggemar menilai penampilan Larsson justru telah “mogging” McRae, meskipun dirinya hanya bertugas sebagai penampil pembuka.
Larsson kemudian menolak perbandingan tersebut. Dalam wawancara di podcast Call Her Daddy, ia menyampaikan rasa hormatnya kepada McRae.
Nama besar lain yang ikut menjadi bahan perdebatan mengenai “mogging” adalah Cillian Murphy. Aktor asal Irlandia tersebut dinilai sejumlah pengguna internet memiliki penampilan yang lebih menonjol dibandingkan rekan-rekan pemerannya.
Namun, ada tanda-tanda bahwa penggunaan istilah ini mulai melampaui konteks persaingan antarmanusia. “Mogging” kini juga digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tampil begitu dominan atau memukau.
Saat tampil dalam acara Celebrity Traitors, sejumlah komentar di media sosial menyebut Maya Jama sedang melakukan “mogging”, bahkan ketika dirinya sedang bergelantungan di luar sebuah helikopter.
“Ketika digunakan dalam konteks pujian terhadap selebritas seperti ini, maknanya sedikit menyerupai penggunaan kata ‘slay’, seperti ‘she’s a queen, she slays’,” ujar Thorne.
Istilah “mogging” juga dapat diterapkan dalam berbagai konteks untuk menggambarkan seseorang yang unggul dalam aspek tertentu.
“Menurut saya, ada banyak kemungkinan penggunaannya, mulai dari style-mogging, height-mogging, hingga car-mogging,” kata Thorne. “Sekarang, istilah ‘mogging’ bisa diterapkan pada hampir semua hal.”
