Sebelum fajar menyingsing di Mumbai, Mansi Kadam mulai menyiapkan vada pav, camilan gurih khas kota di India bagian barat itu, untuk pelanggan yang datang sepanjang hari. Ada satu bahan yang tidak bisa ditawar dalam proses pembuatannya, yakni garam Tata.
Ketika ditanya apakah ia pernah mempertimbangkan untuk beralih ke merek lain, jawabannya mengingatkan pada jingle iklan berbahasa Hindi yang sudah lama dikenal: “Kalau garam, harus Tata.”
Mansi tidak banyak mengetahui perkembangan yang tengah berlangsung di ruang rapat Tata Group, salah satu kerajaan bisnis tertua dan paling berpengaruh di India yang memproduksi berbagai barang, mulai dari garam hingga perangkat lunak.
Namun, kesetiaan spontan Mansi terhadap merek tersebut mencerminkan pertanyaan besar yang kini dihadapi konglomerasi itu: mampukah salah satu merek paling tepercaya di India mempertahankan reputasinya di tengah pertarungan terbuka mengenai kekuasaan, tata kelola, dan kendali perusahaan?
Perselisihan terbuka baru-baru ini antara dewan direksi Tata Sons, perusahaan induk Tata Group, dan Tata Trusts sebagai pemegang saham utamanya telah menyoroti kondisi konglomerasi tersebut.
Perselisihan itu berpusat pada dua persoalan, yakni rencana pencatatan saham Tata Sons di bursa dan pengangkatan kembali N Chandrasekaran sebagai ketua perusahaan. Sebagian besar anggota dewan Tata Sons, termasuk SP Group yang merupakan pemegang saham minoritas terbesar, mendukung kedua keputusan tersebut.
Namun, Noel Tata, ketua Tata Trusts yang menjadi pemegang saham mayoritas, menentang kedua resolusi itu. Ia berpendapat bahwa pencatatan saham di bursa akan mengikis nilai-nilai filantropi yang menjadi landasan kelompok usaha tersebut. Noel diperkirakan akan berupaya membatalkan kedua keputusan itu dalam rapat umum tahunan perusahaan.
“Ketika kami menyebutnya krisis tata kelola, persoalannya adalah ketidakselarasan kepentingan antara dewan direksi [Tata Sons] dan pemegang saham [Tata Trusts],” kata Shriram Subramanian, pimpinan InGovern Research, perusahaan independen yang bergerak di bidang tata kelola perusahaan.
Subramanian tidak memperkirakan citra merek Tata akan langsung terdampak. Namun, ia menyoroti kekhawatiran mengenai kemampuan jajaran pimpinan dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut.
Ketegangan di dalam Tata Group mulai berkembang sejak meninggalnya mantan ketua perusahaan, Ratan Tata, pada 2024. Ratan merupakan saudara tiri Noel Tata dan telah menunjuk Noel sebagai penerusnya melalui surat wasiat.
Bagi banyak warga India, kepemimpinan dan kegiatan filantropi Ratan Tata telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas merek tersebut. Kematiannya memicu duka luas di seluruh negeri. Sejumlah pakar menilai kepergiannya juga meninggalkan kekosongan kepemimpinan dalam citra perusahaan di mata masyarakat.
Menurut situs resmi Tata Group, konglomerasi tersebut telah menempati posisi teratas dalam daftar merek paling bernilai di India versi konsultan valuasi merek Brand Finance sejak 2018.
Tata Sons, sebagai entitas bisnis, digambarkan oleh kelompok usaha itu sebagai “pengikat yang menyatukan berbagai elemen berbeda di dalam keseluruhan organisasi”.
Sementara itu, Tata Trusts mewakili tujuh yayasan filantropi yang memiliki saham mayoritas dalam kelompok usaha tersebut. Lembaga ini secara luas dipandang sebagai kompas moral Tata Group, yang mengarahkan bisnisnya agar memperhatikan dampak sosial dan kegiatan filantropi.
Bagi banyak warga India, kedua entitas tersebut secara bersama-sama membangun sesuatu yang tidak bisa begitu saja dibeli oleh perusahaan lain, yaitu kepercayaan.
Namun, ketika kedua entitas itu kini berada di kubu yang berseberangan, kepercayaan tersebut mulai mendapat tekanan.
“Dahulu, masyarakat memiliki pandangan yang sama bahwa keluarga Tata adalah orang-orang baik dengan tata kelola yang baik. Sekarang, pendapat masyarakat terbelah,” kata Harish Bijoor, konsultan strategi bisnis dan merek.
Sebagian besar konsumen tampaknya belum terpengaruh oleh perselisihan tersebut. Namun, konflik ini telah memecah pandangan pemangku kepentingan lainnya, termasuk mitra bisnis, investor, dan karyawan. Sebagian menganggapnya sebagai perebutan kekuasaan korporasi, sementara yang lain melihatnya sebagai perdebatan serius mengenai tata kelola perusahaan. Meski demikian, hanya sedikit yang sepakat mengenai pihak mana yang benar, menurut Bijoor.
“Konflik ini membuat nama Tata menjadi bahan pembicaraan di mana-mana. Itu bukan hal yang baik bagi mereka karena selama ini Tata selalu memilih untuk tidak menjadi pusat perhatian,” ujarnya.
Secara tradisional, Tata Group cenderung menjaga profil rendah, baik dalam kegiatan filantropi maupun penyelesaian konflik.
Tata Group tidak menanggapi surat elektronik yang berisi sejumlah pertanyaan terperinci mengenai persoalan tersebut.
Didirikan oleh Jamsetji Tata pada 1868, Tata Group berkembang di bawah kepemimpinan JRD Tata, yang mengubahnya menjadi konglomerasi dengan pengelolaan profesional. Ratan Tata kemudian mendorong ambisi global kelompok usaha itu melalui serangkaian akuisisi.
Tata Group memiliki nilai pasar gabungan lebih dari US$260 miliar atau sekitar Rp4,3 kuadriliun, dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS. Konglomerasi tersebut mempekerjakan ratusan ribu orang di lebih dari 100 negara. Meski memiliki reputasi besar, Tata Group bukanlah pemain bisnis yang asing dengan kontroversi.
Konglomerasi itu pernah menghadapi protes terkait proyek industri, pengawasan terhadap bisnis telekomunikasinya di India selama kontroversi alokasi spektrum, perselisihan besar dengan perusahaan Jepang Docomo, serta pertanyaan mengenai kinerja Air India dalam beberapa waktu terakhir.
Sejumlah keputusan bisnisnya juga menuai sorotan, terutama akuisisi Corus oleh Tata Steel yang kemudian menghadapi berbagai kesulitan. Namun, investasi luar negeri lainnya, seperti Tetley dan Jaguar Land Rover, berhasil dan membantu memperluas jangkauan bisnis Tata Group secara global.
Kontroversi terbesar terjadi pada 2016, ketika dewan Tata Sons secara mendadak memberhentikan Cyrus Mistry dari jabatan ketua perusahaan dan kembali menunjuk Ratan Tata sebagai pemimpin sementara.
Mistry, pewaris SP Group, sebelumnya dipilih melalui proses yang dipimpin langsung oleh Ratan Tata. Pemberhentian tersebut memicu pertarungan hukum berkepanjangan yang berakhir pada 2021, ketika Mahkamah Agung India memutuskan perkara itu untuk memenangkan pihak Tata.
Bulan lalu, jurnalis Sucheta Dalal menulis dalam kolomnya di majalah Moneylife bahwa Tata Group telah “melewati badai tata kelola yang serius” dan menikmati “hak istimewa yang tidak tersedia bagi kelompok bisnis lain”. Pernyataan tersebut merujuk pada pembebasan pajak yang diberikan kepada Tata Trusts atas kepemilikan sahamnya di Tata Sons. Menurut Dalal, keistimewaan itu berkaitan dengan reputasi yang dibangun kelompok usaha tersebut selama puluhan tahun.
Sebagian besar pengamat Tata Group sependapat dengan penilaian bahwa reputasi tersebut telah terbentuk melalui hubungan panjang dengan masyarakat.
Dalam wawancara melalui surat elektronik, Morgen Witzel, peneliti di Exeter Centre of Leadership yang menulis buku mengenai merek Tata pada 2010, memberikan sejumlah contoh hubungan kelompok usaha tersebut dengan masyarakat.
Di Jamshedpur, negara bagian Jharkhand, tempat Tata mendirikan pabrik baja terpadu pertama di India sekaligus membangun kota industri, kelompok usaha itu menyediakan layanan kesehatan dan pendidikan bagi masyarakat di ratusan desa.
Perusahaan pembuat jam Titan juga mendukung karyawan yang ingin mengundurkan diri untuk memulai usaha sendiri. Sementara itu, Tata Motors di Pune telah mendukung ribuan perempuan pengusaha, kata Witzel.
“Gabungan dari semua hal inilah yang membangun kepercayaan. Masyarakat melihat bahwa secara umum Tata hadir untuk memenuhi kebutuhan mereka, bukan sekadar mengambil uang mereka,” ujar Witzel.
Namun, jika sebelumnya Tata Group berhasil melewati berbagai krisis, kali ini perpecahan justru terjadi di dalam tubuh organisasi itu sendiri.
Perseteruan di ruang rapat semakin terbuka ke ranah publik. Tata Sons dan Tata Trusts saling berhadapan melalui surat-surat hukum dan pernyataan yang bertentangan.
Venu Srinivasan, wakil ketua Tata Trusts sekaligus direktur perwakilan lembaga tersebut di dewan Tata Sons, telah meminta penyelidikan atas dugaan pelanggaran tata kelola di sejumlah yayasan. Pihak yayasan membantah adanya pelanggaran tersebut.
Noel Tata mengajukan dua usulan untuk menghindari pencatatan saham Tata Sons di bursa.
Pertama, ia mengusulkan agar dewan Tata Sons membeli kembali sebagian saham minoritas milik SP Group. Langkah tersebut dinilai sebagai “solusi yang adil dan setara” untuk memenuhi tuntutan SP Group yang ingin merealisasikan nilai investasinya.
Kedua, Noel mengusulkan restrukturisasi Tata Sons melalui penggabungan dua unit bisnis ke dalam perusahaan itu sendiri. Perubahan struktur tersebut akan memengaruhi klasifikasi Tata Sons menurut bank sentral India, sehingga berpotensi memungkinkan kelompok usaha itu menghindari kewajiban pencatatan saham di bursa.
Belum jelas apakah Noel mampu merealisasikan kedua usulan tersebut. Berbeda dengan Ratan Tata, ia belum sepenuhnya mengonsolidasikan kekuasaan di dalam kelompok usaha itu.
“Citra Ratan Tata yang begitu besar dan berpengaruh sampai batas tertentu menjadi salah satu alasan di balik konflik saat ini. Semua orang menghormatinya, sementara sosok penerusnya baru diketahui setelah ia meninggal dunia melalui surat wasiat,” kata Subramanian.
Menurutnya, proses peralihan kepemimpinan kemungkinan akan berjalan lebih mulus apabila Ratan Tata sendiri mengawasi penentuan penerusnya semasa hidup.
Sementara itu, pakar merek Bijoor mendesak Tata Group menerbitkan sebuah laporan resmi yang menjelaskan perkembangan konflik tersebut hingga penyelesaiannya.
“Mereka selama ini menjunjung tinggi transparansi dan tidak boleh meninggalkan prinsip itu,” ujarnya.
Cara konglomerasi berpengaruh tersebut mengelola ketegangan internalnya dapat memberikan gambaran mengenai arah masa depannya. Perkembangan dan hasil perselisihan ini akan diawasi secara saksama oleh kalangan korporasi India, mengingat tata kelola dan praktik bisnis Tata selama ini telah lama dipandang sebagai tolok ukur bagi perusahaan lain.
