Sebuah pesawat Boeing 737 yang jatuh menghantam perbukitan di China pada 2022 hingga menewaskan seluruh 132 penumpang dan awak di dalamnya, diduga mengalami pemutusan suplai bahan bakar di tengah penerbangan, menurut data terbaru yang dirilis oleh National Transportation Safety Board (NTSB).

Temuan NTSB menyebutkan bahwa sakelar bahan bakar pada kedua mesin pesawat milik China Eastern Airlines tersebut dipindahkan ke posisi “cut-off” saat pesawat berada di ketinggian jelajah 8.839 meter—menguatkan teori bahwa kecelakaan ini terjadi secara disengaja.

Insiden ini merupakan bencana penerbangan paling mematikan di China dalam beberapa dekade terakhir, meskipun penyebab pastinya telah lama menjadi misteri.

Pemerintah China hingga kini belum merilis laporan akhir terkait kecelakaan tersebut dengan alasan keamanan nasional.

Laporan NTSB, yang dipublikasikan berdasarkan Undang-Undang Kebebasan Informasi, menyebutkan bahwa kecepatan mesin pesawat MU5735 “menurun setelah sakelar bahan bakar dipindahkan”.

Sakelar bahan bakar merupakan komponen yang mengatur aliran bahan bakar ke mesin pesawat, yang digunakan pilot untuk menyalakan atau mematikan mesin.

Data terbaru ini diambil dari salah satu “kotak hitam” pesawat, perangkat yang merekam seluruh informasi operasional penting. Kotak hitam tersebut ditemukan dari puing-puing kecelakaan dan dikirim ke laboratorium NTSB di Washington DC untuk dianalisis.

Pada Maret 2022, pesawat tersebut lepas landas dari Kunming, ibu kota Provinsi Yunnan, dan dijadwalkan mendarat di Guangzhou pada sore hari yang sama.

Pesawat telah mengudara selama lebih dari satu jam dan hampir mencapai tujuan ketika tiba-tiba menukik tajam dari ketinggian jelajah. Data pelacakan penerbangan menunjukkan pesawat kehilangan ribuan meter ketinggian dalam waktu kurang dari tiga menit.

Menurut situs pelacakan FlightRadar24, pesawat awalnya terbang pada ketinggian sekitar 29.100 kaki, namun dua menit 15 detik kemudian tercatat berada di ketinggian 9.075 kaki. Data terakhir menunjukkan penerbangan berakhir pada pukul 14.22 waktu setempat di ketinggian 3.225 kaki.

Karena insiden terjadi di China dan melibatkan maskapai China, penyelidikan dipimpin oleh Civil Aviation Administration of China (CAA). Namun, karena pesawat dirancang dan diproduksi di Amerika Serikat, NTSB turut menunjuk penyelidik keselamatan penerbangan senior untuk membantu.

Tim investigasi sebelumnya mempertimbangkan berbagai kemungkinan penyebab, termasuk tindakan disengaja, kesalahan pilot, hingga masalah teknis seperti kegagalan struktur atau tabrakan di udara.

Tak lama setelah kecelakaan, Direktur Kantor Keselamatan Penerbangan CAA, Zhu Tao, mengatakan pihaknya belum memiliki kesimpulan jelas mengenai penyebab insiden.

Ia juga mengungkapkan bahwa pengendali lalu lintas udara telah berulang kali mencoba menghubungi pesawat saat mulai menurun, namun tidak mendapat respons.

Meski demikian, CAA menegaskan bahwa kru memiliki lisensi yang valid, dalam kondisi istirahat cukup, serta telah lulus pemeriksaan kesehatan pada hari penerbangan.

Sejumlah media sebelumnya berspekulasi bahwa kecelakaan tersebut disengaja oleh seseorang di kokpit, namun hal ini belum pernah dikonfirmasi secara resmi.

CAA bahkan sempat membantah spekulasi bahwa insiden ini merupakan aksi bunuh diri pilot. “Rumor tersebut telah menyesatkan publik dan mengganggu proses investigasi,” ujar pejabat CAA, Wu Shijie, dalam konferensi pers pada April 2022.

China juga mendapat kritik karena belum merilis laporan akhir hingga saat ini. Pihak CAA beralasan bahwa pengungkapan detail insiden “dapat membahayakan keamanan nasional dan stabilitas sosial”.

Meski demikian, kecelakaan pesawat tergolong jarang terjadi di China, di mana standar keselamatan dan sistem penerbangan telah mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa dekade terakhir.

Share.
Leave A Reply