Grup musik indie Thailand Thotsakan sedang tampil di sebuah bar yang dipadati pengunjung di Bangkok pada Minggu ketika manajer band mereka, Ice Athipat Wijarn, yang duduk di luar area panggung, melihat asap mulai keluar dari belakang posisi pemain keyboard.
Sang pemain keyboard, Kwang, langsung berteriak meminta semua orang menyelamatkan diri. Hanya dalam hitungan detik, kobaran api besar melalap Rong Beer Na Lat Phrao, sebuah bar yang berada di kawasan ramai Chatuchak, Bangkok.
Ice mengenang bagaimana ia kesulitan membuka pintu saat berusaha melarikan diri dari ruangan yang telah dipenuhi asap.
“Semua orang berlari dan saling berdesakan,” katanya kepada acara bincang-bincang Thailand Hone-Krasae. Ia merangkak menuju pintu keluar, sebelum sebuah ledakan melemparkannya ke luar bangunan.
“Melihat jenazah pacar saya dievakuasi, melihat teman saya yang terbakar, dan semua yang terjadi masih terus terbayang di benak saya,” ujarnya, seperti dikutip Agence France-Presse.
Pihak berwenang pada Senin mengonfirmasi bahwa sedikitnya 28 orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat kebakaran tersebut.
Menurut unggahan Facebook anggota band lainnya, Patchara Songphatkaew, Kwang, bersama vokalis perempuan Thotsakan, Breeze, serta drummer Bew, meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan akibat luka yang mereka alami.
Seorang anggota band lainnya, Din, sempat dinyatakan hilang, tetapi berhasil ditemukan pada Senin malam. Kondisinya hingga kini belum diketahui, berdasarkan unggahan di media sosial.
Media Thailand melaporkan bahwa vokalis utama Thotsakan, Tik Chaichana, selamat tanpa mengalami luka karena beberapa saat sebelum kebakaran terjadi ia sedang berada di kamar kecil. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan Tik menangis histeris saat berlari keluar dari bar yang dilalap api.
“Saya selamat. Terima kasih atas perhatian semua orang. Tetapi ponsel dan semua barang saya hangus terbakar. Saat ini kondisi mental saya benar-benar tidak baik,” tulis Tik melalui akun Facebook-nya.
Saat kebakaran terjadi, Thotsakan tengah tampil di atas panggung ketika api dengan cepat menyelimuti seluruh bar.
Rong Beer Na Lat Phrao, seperti banyak bar dan pub lain di sepanjang jalan yang sama, merupakan tempat hiburan yang populer di kalangan warga setempat. Hingga berita ini ditulis, hanya satu warga negara asing yang teridentifikasi menjadi korban tewas, yakni seorang warga Laos.
Rekaman video yang diunggah ke media sosial memperlihatkan para pengunjung berteriak panik saat berusaha menyelamatkan diri. Sebagian di antaranya bahkan berlari keluar melalui pintu depan yang sudah dilalap api dengan pakaian yang ikut terbakar.
“Terdengar suara ledakan, ledakan yang sangat cepat. Sama sekali tidak ada jalan keluar,” kata Usa Tadsree, 41 tahun, kepada Reuters. Ia menambahkan bahwa dua temannya meninggal dunia dalam kebakaran tersebut.
Sejumlah saksi mata juga menceritakan upaya mereka yang sia-sia untuk masuk kembali ke dalam bar demi menyelamatkan teman-teman yang masih terjebak.
“Saya mendengar orang-orang berteriak. Saya ingin menolong saudara saya, tetapi saya tidak bisa masuk. Asapnya tebal, penuh debu, dan sangat panas,” ujar Kaewudon Pongpanee kepada Reuters.
Pihak berwenang Thailand menyatakan sedikitnya 71 orang mengalami luka-luka, dengan 25 korban di antaranya berada dalam kondisi kritis.
Beberapa warga yang tinggal di sekitar lokasi mengaku terkejut melihat besarnya kebakaran tersebut.
“Saya melihat petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api di hampir semua bagian bangunan. Ambulans dan kendaraan penyelamat ada di mana-mana. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya hanya duduk terpaku untuk beberapa saat,” kata Titi Liewcha, yang tinggal tepat di seberang bar.
Titi dan warga lainnya, Sirinya, mengatakan bahwa pada awalnya mereka khawatir api akan merambat hingga ke rumah mereka.
“Ini pertama kalinya saya melihat kebakaran sebesar ini,” ujar Sirinya.
Setelah tiba di lokasi, petugas pemadam kebakaran berhasil mengendalikan kobaran api dalam waktu sekitar 30 menit.
Sirinya khawatir tragedi serupa dapat kembali terjadi “karena ada begitu banyak pub seperti ini”.
Ia mengaku pernah mengunjungi bar tersebut dan mengingat bagian dalamnya “sangat gelap dengan langit-langit yang rendah”.
“Jalur evakuasi kebakaran juga tidak jelas,” tambahnya.
Phatsara Khamloet, yang sempat mengunjungi pub tersebut pada Mei lalu, juga terkesan dengan kondisi interior yang gelap dan menyerupai labirin.
“Dari luar, tempat itu bahkan terlihat seperti tidak buka karena tertutup kaca. Di dalam sangat gelap sehingga hampir tidak bisa melihat apa pun,” katanya.
Ia mengingat harus melewati jalur yang berliku untuk menuju kamar kecil dan menilai pintu-pintu keluar tidak diberi penanda yang jelas.
“Begitu saya masuk, hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah, ‘Kalau terjadi kebakaran, bagaimana kami bisa keluar dari sini?'”
Sebelumnya pada Senin, Gubernur Bangkok Chatchart Sittipunt mengatakan dekorasi mudah terbakar yang dipasang di langit-langit bar kemungkinan menjadi salah satu faktor yang membuat api menyebar dengan sangat cepat.
Ia juga mengungkapkan adanya laporan mengenai sejumlah korban yang ditemukan tidak sadarkan diri di dekat pintu darurat bangunan, yang mengindikasikan kemungkinan terdapat hambatan di jalur evakuasi. Namun, Chatchart menegaskan bahwa penyelidikan menyeluruh masih diperlukan untuk memastikan penyebab pastinya.
Tragedi tersebut kembali memicu desakan agar pemerintah memperketat standar keselamatan kebakaran serta meningkatkan pelatihan bagi para pekerja, khususnya di industri hiburan malam.
Seorang pengemudi yang bekerja di sekitar lokasi mengatakan para pemilik tempat hiburan seharusnya rutin mengadakan simulasi kebakaran agar seluruh karyawan memahami prosedur evakuasi.
“Selain itu, ketika merancang tempat seperti ini, pintunya harus dibuat lebih lebar agar pelanggan lebih mudah menyelamatkan diri,” ujarnya.
“Saya sangat prihatin terhadap orang-orang yang meninggal. Saya merasa kasihan kepada mereka karena kemungkinan besar mereka sama sekali tidak menyadari apa yang sedang terjadi.”
