Ketika Kim Tae-nam naik ke panggung pada Sabtu lalu di Seoul, momen itu menjadi sesuatu yang telah lama ia nantikan—profesi yang dipilihnya akhirnya tidak lagi dianggap ilegal.
Senyumnya tak pernah lepas, sementara rasa lega begitu jelas terdengar dalam suaranya.
“Ini hanya bisa terjadi karena perjuangan kita, karena keringat dan air mata kalian semua. Mari katakan bersama: tato adalah seni!” serunya.
Kerumunan yang hadir langsung menyambut dengan sorak-sorai. Mereka berkumpul di sebuah atap gedung di kawasan Seongsu, salah satu lingkungan paling trendi di Seoul, untuk menghadiri Ink Bomb, acara yang mempertemukan lebih dari 90 seniman tato dan perupa lokal yang secara terbuka merayakan seni tubuh yang selama puluhan tahun berkembang di balik bayang-bayang hukum.
Hanya beberapa hari sebelumnya, Mahkamah Agung Korea Selatan membatalkan putusan tahun 1992 yang menyatakan praktik membuat tato sebagai tindakan medis. Keputusan tersebut mengakhiri perjuangan panjang para seniman tato Korea untuk memperoleh pengakuan hukum.
Pada September lalu, para legislator juga melegalkan praktik tato oleh tenaga nonmedis setelah kampanye panjang dari para seniman yang selama bertahun-tahun menghadapi ketakutan dan intimidasi akibat status hukum profesi mereka.
Selama 34 tahun, hanya dokter berlisensi yang diizinkan membuat tato di Korea Selatan. Pelanggaran terhadap aturan tersebut dapat berujung pada denda besar atau hukuman penjara.
Aturan itu awalnya dibuat untuk menjawab kekhawatiran terkait kebersihan dan keselamatan. Namun dalam praktiknya, regulasi tersebut juga memperkuat norma sosial di negara yang relatif konservatif, di mana seni tato masih sering dipandang negatif.
Pandangan publik juga diperburuk oleh stereotip lama yang mengaitkan tato dengan gangster dan kelompok kejahatan terorganisasi.
“Kami sudah menempuh perjalanan yang sangat panjang,” kata Kim.
Saat mulai menekuni profesi ini pada 2004, ia menggunakan nama samaran Sunrat Tattoo dan menjalankan studio pertamanya dari sebuah ruang bawah tanah. Tidak ada papan nama, dan hanya orang-orang tertentu yang diizinkan datang.
Ketika meluncurkan acara Ink Bomb pada 2008, hampir setiap penyelenggaraan dibubarkan oleh polisi.
“Kami harus berhenti karena mereka mengancam akan menangkap atau menuntut kami. Tahun ini kami kembali untuk pertama kalinya sejak 2014, dan rasanya luar biasa bisa berkumpul tanpa rasa takut,” ujarnya.
Acara tersebut dihadiri berbagai kalangan, mulai dari seniman tato, penggemar musik punk, hingga orang tua yang datang bersama anak remajanya.
Tidak ada layanan pembuatan tato di lokasi karena proses tersebut membutuhkan waktu dan ruang khusus. Namun para pengunjung bisa mendapatkan stiker karya para seniman secara gratis.
Bagi banyak orang yang hadir, acara itu merupakan perayaan yang sudah lama seharusnya terjadi.
“Tidak masuk akal jika membuat tato dianggap sebagai tindakan medis. Tidak ada orang yang masuk sekolah kedokteran untuk menjadi seniman tato,” kata Jay Hur, pria berusia 48 tahun yang memiliki beberapa tato, termasuk gambar kura-kura di lengan bawahnya.
“Para seniman tato Korea harus mengambil risiko besar hanya untuk mempertahankan budaya bawah tanah yang indah ini.”
Sulit mengetahui secara pasti berapa banyak seniman tato yang pernah dituntut secara hukum. Namun Serikat Tato Korea Selatan menyebut pihaknya memberikan bantuan hukum kepada sedikitnya 50 seniman setiap tahun, sementara banyak lainnya hanya dikenai denda.
Meski berada dalam tekanan hukum, profesi tersebut terus berkembang. Berdasarkan data pemerintah tahun 2021, jumlah seniman tato di Korea Selatan mencapai sekitar 350.000 orang.
Seorang seniman tato yang menggunakan nama Kali mengaku sangat gembira ketika mendengar putusan pengadilan pekan lalu.
Meski dirinya tidak pernah dilaporkan ke pihak berwenang, melihat banyak rekan sesama seniman harus menjalani proses hukum membuatnya selalu waspada.
“Saya terus bekerja dalam kecemasan. Sampai sekarang rasanya masih tidak nyata bahwa saya tidak perlu lagi mengkhawatirkan hal itu,” katanya.
Status ilegal juga membuat banyak seniman berada dalam posisi rentan. Mereka sering menjadi sasaran pemerasan, pelecehan seksual, hingga kekerasan dari pelanggan yang tidak puas dan mengancam akan melaporkan usaha mereka ke polisi.
Menurut Serikat Tato Korea Selatan, sebagian besar korban merupakan seniman tato perempuan muda yang enggan melapor karena khawatir justru akan menjerat diri mereka sendiri secara hukum.
Kim Do-yoon, pendiri Serikat Tato Korea Selatan yang dikenal dengan nama samaran Doy, mengatakan tekanan hukum yang berat tersebut bahkan membuat beberapa seniman perempuan mengakhiri hidup mereka.
“Guncangan akibat kehilangan mereka mendorong saya mendirikan serikat ini dan memperjuangkan hak kami untuk bekerja dengan aman dan legal di Korea,” ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, sikap masyarakat mulai berubah. Generasi muda Korea Selatan semakin menerima, bahkan aktif mengeksplorasi seni tato.
Sejak dekade 2010-an, semakin banyak studio tato beroperasi secara terbuka dengan jendela kaca dan papan nama yang terlihat jelas.
Meski dibatasi di dalam negeri, seni tato Korea justru berkembang pesat di panggung internasional.
Gaya tato Korea yang dikenal halus, lembut, detail, dan sering kali berwarna mulai menarik perhatian dunia pada pertengahan 2010-an ketika para seniman semakin aktif memamerkan karya mereka melalui media sosial.
Tato garis tipis atau fine-line tattoo kini dapat ditemukan di berbagai negara, tetapi seniman Korea masih dianggap sebagai salah satu pelopor dan ahli dalam gaya tersebut.
Para seniman percaya variasi desain tato yang berkembang dalam satu dekade terakhir turut membuat seni ini lebih mudah diterima masyarakat luas.
Perubahan juga didorong oleh para selebritas yang mulai menampilkan tato mereka secara terbuka, mulai dari anggota grup musik hingga atlet dan aktor terkenal.
Beberapa di antaranya adalah Taeyeon, Taeyang, Jay Park, HyunA, Woo Ha-ram, Han Ye-seul, serta Jungkook.
Meski demikian, stigma terhadap tato belum sepenuhnya hilang.
Memiliki tato masih dapat memengaruhi kesan seseorang saat wawancara kerja atau dalam acara formal. Sejumlah pusat kebugaran dan sauna juga masih menerapkan aturan larangan bagi pengunjung bertato dengan alasan beberapa desain dianggap terlalu mengintimidasi dan dapat membuat tamu lain tidak nyaman.
“Masyarakat Korea sangat konformis,” kata Kim.
“Ada tekanan yang sangat kuat untuk mengikuti standar tertentu. Ketika Anda terlihat berbeda atau menjalani hidup dengan cara berbeda, Anda akan terus menerima kritik. Namun generasi muda mulai mematahkan norma-norma itu.”
Meski kemenangan hukum telah diraih, masih ada sejumlah ketidakpastian.
Kementerian Kesehatan Korea Selatan menyatakan akan memperkenalkan sistem sertifikasi baru tahun depan untuk memberikan lisensi kepada seniman tato dan menstandarkan profesi tersebut.
Selain itu, beberapa kasus hukum lama masih menunggu penyelesaian.
Doy, misalnya, pernah didakwa melanggar Undang-Undang Medis setelah membuat tato untuk aktris Han Ye-seul pada 2019. Ia juga pernah membuat tato untuk Brad Pitt, Steven Yeun, dan seorang anggota grup EXO.
Dengan adanya putusan terbaru Mahkamah Agung, Doy dan puluhan seniman tato lainnya berharap seluruh dakwaan terhadap mereka akan dibatalkan.
“Segalanya akhirnya kembali ke tempat yang semestinya,” kata Doy.
“Namun saya tidak bisa berhenti memikirkan rekan-rekan seniman yang sudah tidak ada bersama kami untuk menyaksikan hari ini.”
