Polisi Taliban dilaporkan menggunakan tembakan langsung untuk membubarkan aksi protes langka yang menentang penahanan perempuan karena dianggap melanggar aturan ketat berpakaian Islami di kota Herat, Afghanistan barat, menurut keterangan saksi dan peserta aksi.
Petugas medis mengatakan bahwa dua orang meninggal dunia, meski mereka tidak menjelaskan penyebab pasti kematian tersebut. Sejumlah peserta aksi lainnya juga dilaporkan mengalami luka-luka.
Laki-laki dan perempuan turun ke jalan beberapa hari setelah pejabat pemerintahan Taliban setempat dilaporkan mulai menangkap perempuan yang dianggap “tidak mengenakan hijab dengan benar”.
Polisi Herat membantah adanya korban tewas, tetapi mengakui bahwa mereka merespons aksi tersebut. pihak kepolisian mengatakan petugas “mengambil tindakan untuk memastikan keamanan dan menjaga ketertiban umum”.
Belum jelas metode apa yang digunakan polisi untuk membubarkan demonstrasi itu.
Para saksi menyatakan bahwa polisi melepaskan tembakan, namun pihak kepolisian tidak mengonfirmasi tuduhan tersebut ketika ditanya langsung
Seorang peserta aksi mengatakan bahwa pasukan keamanan “menggunakan tongkat, cambuk, dan senjata api untuk membubarkan massa. Mereka bahkan melepaskan tembakan ke udara”.
Ia mengaku melihat sejumlah orang terluka.
“Masyarakat sangat ketakutan,” ujarnya.
AFP juga mengutip seorang fotografer yang mengatakan dirinya melihat aparat keamanan “memukul para demonstran dan menembakkan senjata ke arah kerumunan”.
“Berdasarkan apa yang saya saksikan sendiri, cukup banyak orang yang terluka,” katanya.
tidak dapat memverifikasi secara independen seluruh kesaksian tersebut.
Dalam sejumlah video yang beredar di media sosial, suara tembakan terdengar jelas. Sementara itu, suara perempuan yang berteriak “jangan pukul mereka” juga terdengar dalam rekaman tersebut.
Juru bicara Kepolisian Herat, Sayed Masoud Hosseini, mengatakan para demonstran “bertindak dengan cara yang mengganggu ketertiban umum”.
Ia menambahkan bahwa mereka berusaha “menciptakan ketegangan dengan dalih memprotes isu terkait kepatuhan terhadap hijab dan menentang hijab Islami, yang dianggap sebagai kewajiban ilahi”.
Dalam salah satu video, beberapa demonstran terdengar meneriakkan slogan “pendidikan, pekerjaan, kebebasan”, menurut laporan layanan Afghanistan
Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk situasi hak asasi manusia di Afghanistan, Richard Bennett, menyatakan di platform X bahwa dirinya “khawatir dengan penggunaan kekuatan berlebihan terhadap demonstran yang tampaknya melakukan aksi damai di Herat hari ini”.
Ia juga menyerukan agar pihak yang bertanggung jawab “dimintai pertanggungjawaban”.
Protes Perempuan Semakin Jarang Sejak Taliban Kembali Berkuasa
Aksi protes terhadap Taliban, khususnya yang dilakukan perempuan, menjadi peristiwa langka sejak kelompok itu kembali mengambil alih kekuasaan di Afghanistan pada Agustus 2021.
Pada awal pemerintahan Taliban, sejumlah perempuan sempat berupaya menentang berbagai aturan ketat yang mengatur hampir seluruh aspek kehidupan mereka, mulai dari pakaian hingga pendidikan.
Namun aksi-aksi tersebut perlahan mereda setelah banyak perempuan mengaku mengalami intimidasi dari aparat, termasuk pemukulan, pelecehan, penahanan, hingga ancaman hukuman rajam sampai mati.
Kewajiban mengenakan hijab merupakan salah satu dari banyak aturan yang diberlakukan Taliban dan secara resmi diwajibkan sejak Mei 2022.
Namun, tindakan penegakan terbaru di Herat dilaporkan baru diumumkan pada Jumat lalu.
Sejumlah saksi mata mengatakan bahwa sejak Sabtu mereka “melihat dengan mata kepala sendiri perempuan ditangkap karena tidak mengenakan hijab”.
Seorang perempuan mengatakan pasar-pasar di kota itu menjadi “sepi” setelah operasi tersebut dimulai.
Perempuan lainnya mengatakan bahwa petugas dari Kementerian Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kemungkaran, yang sering disebut sebagai polisi moralitas Taliban, memeriksa mobil dan becak motor untuk mencari perempuan yang dianggap mengenakan hijab secara tidak benar.
Pemerintah kota Herat sendiri memberikan keterangan yang berbeda-beda terkait laporan penahanan perempuan.
Departemen Informasi dan Kebudayaan Provinsi Herat menyatakan bahwa laporan mengenai puluhan perempuan yang ditangkap adalah informasi yang “tidak benar dan hanya rumor”.
