Gol-gol dramatis di menit akhir, kontroversi wasit, kejutan besar, hingga dua adu penalti menegangkan menjadi warna Piala Dunia kemarin. Paraguay menjadi sorotan setelah menyingkirkan raksasa Eropa Jerman, sementara Brasil mematahkan harapan Jepang di saat-saat akhir dan Maroko menendang Belanda lewat drama adu penalti.
Jika pertandingan hari ini menghadirkan drama serupa, publik sepak bola akan kembali disuguhi tontonan luar biasa. Dua megabintang dunia akan tampil, yakni penyerang Prancis Kylian Mbappé dan striker Norwegia Erling Haaland. Selain itu, tuan rumah bersama Meksiko berusaha mengamankan tiket ke babak 16 besar saat menghadapi Ekuador di Stadion Azteca yang legendaris. Namun perhatian utama tertuju pada Les Bleus dan alasan mengapa mereka begitu difavoritkan menjuarai turnamen ini.
Hal Utama: Mengapa Prancis Sangat Difavoritkan?
Sejak sebelum turnamen dimulai, Prancis sudah disebut-sebut sebagai kandidat kuat juara Piala Dunia. Prediksi itu kini terlihat semakin masuk akal setelah Les Bleus tampil dominan sepanjang kompetisi.
Lalu apa yang membuat Prancis begitu kuat, dan adakah tim yang mampu menghentikan mereka?
Sulit membantah bahwa Prancis memiliki skuad paling mengesankan di antara 48 peserta Piala Dunia musim panas ini di Amerika Utara. Bahkan sebelum membahas para bintang lini depan mereka, skuad Prancis sudah memiliki kombinasi sempurna antara pemain muda dan senior di hampir setiap posisi.
Siapa pun susunan pemain yang dipilih saat menghadapi Swedia nanti, lini belakang dan lini tengah mereka dipenuhi pemain dengan pengalaman juara Liga Champions maupun liga domestik Eropa, bahkan banyak yang memiliki keduanya. Namun sektor serang menjadi pembeda utama tim ini.
Bintang Real Madrid, Kylian Mbappé, jelas menjadi permata utama. Penyerang berusia 27 tahun itu sudah diakui sebagai salah satu pemain terbaik dunia di level klub, tetapi gaya bermainnya justru terlihat lebih mematikan di panggung internasional.
Dalam dua edisi Piala Dunia sebelumnya, Mbappé membawa Prancis menjadi juara sekali dan runner-up sekali. Ia telah mencetak 16 gol dalam 17 penampilan dan diyakini suatu saat akan melampaui Lionel Messi sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.
Kecepatan dan naluri gol menjadi senjata utamanya, tetapi lawan juga tidak bisa hanya fokus menghentikan Mbappé. Ia ditemani Ousmane Dembélé di lini depan, pemegang Ballon d’Or saat ini, penghargaan tahunan bagi pemain terbaik dunia. Pemain berusia 29 tahun itu mencetak hattrick hanya dalam waktu lebih dari setengah jam pada laga terakhir Prancis dan membantu Paris Saint-Germain meraih dua gelar Liga Champions beruntun dalam dua musim terakhir.
Selain keduanya, Prancis juga diperkuat Désiré Doué, Rayan Cherki, Bradley Barcola, dan Michael Olise di lini serang. Para pemain tersebut nyaris pasti menjadi starter di sebagian besar tim nasional lainnya.
Kemewahan skuad itu ditangani dengan sangat baik oleh pelatih Didier Deschamps. Pria berusia 57 tahun tersebut membawa Prancis juara Piala Dunia 2018 dan juga pernah mengangkat trofi sebagai pemain pada 1998. Pengalaman besar itulah yang membuat Prancis menjadi kekuatan menakutkan dalam turnamen terakhir Deschamps bersama Les Bleus.
Jika ada titik lemah dalam skuad ini, mungkin berada di posisi penjaga gawang lewat Mike Maignan. Namun ketika “titik lemah” Anda adalah kiper utama AC Milan, situasinya tentu masih sangat baik.
Lalu bisakah ada tim yang menghentikan Les Bleus? Di atas kertas tampaknya sulit. Namun Piala Dunia telah berkali-kali membuktikan bahwa sepak bola tidak dimainkan di atas kertas, melainkan di lapangan yang sudah menghadirkan banyak kejutan musim panas ini.
Pantai Gading vs Norwegia
Pertandingan antara Pantai Gading dan Norwegia diprediksi berlangsung sengit setelah kedua tim tampil solid sejauh ini.
Pantai Gading memenangi dua dari tiga laga Grup E dan finis sebagai runner-up di bawah Jerman. Satu-satunya kekalahan mereka terjadi akibat gol menit ke-94 Deniz Undav untuk Jerman.
Norwegia memiliki catatan identik dan finis runner-up Grup I setelah kalah telak 1-4 dari Prancis pada laga terakhir grup. Namun pelatih Ståle Solbakken saat itu menurunkan tim lapis kedua dan melakukan 10 pergantian pemain dibanding skuad yang mengalahkan Senegal 3-2.
Artinya, kapten Martin Ødegaard dan striker utama Erling Haaland tampil lebih segar. Haaland sendiri sudah mencetak empat gol di turnamen ini, hanya kalah dari Lionel Messi.
Meski demikian, Les Éléphants dipastikan tidak akan mudah ditaklukkan, terutama setelah melihat sesama wakil Afrika, Maroko, berhasil menyingkirkan Belanda.
Pemenang laga ini akan menghadapi Brasil di babak berikutnya.
Prancis vs Swedia
Prancis jelas menjadi favorit mutlak dalam laga ini. Les Bleus menjadi satu dari hanya tiga tim yang memenangi seluruh pertandingan grup musim panas ini, bersama Meksiko dan Argentina. Terakhir kali mereka mencatatkan rekor tersebut adalah pada 1998, tahun ketika Prancis akhirnya menjadi juara dunia.
Sementara itu, Swedia menjalani fase grup yang kurang meyakinkan. Mereka sempat tampil impresif dengan menghancurkan Tunisia 5-1, tetapi kemudian dibantai Belanda 1-5 dan ditahan Jepang 1-1. Hasil itu membuat Swedia lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.
Masalah terbesar Swedia adalah kekuatan utama mereka justru berada di lini depan. Alexander Isak, Viktor Gyökeres, dan Anthony Elanga mampu merepotkan pertahanan mana pun, tetapi keberhasilan Swedia dalam laga ini sangat bergantung pada kemampuan bertahan mereka menghadapi gempuran Prancis.
Hampir tidak ada yang memprediksi Prancis akan kalah. Namun situasi itu bisa saja menjadi keuntungan tersendiri bagi Swedia. Pemenang laga ini akan menghadapi Paraguay.
Kutipan Hari Ini
“Dia banyak tersenyum. Dia mencoba tetap bersemangat, walaupun saya tahu dia sangat terpukul oleh rasa dukanya. Saya pikir dia berusaha untuk tidak menunjukkannya.”
Pernyataan itu disampaikan gelandang Prancis Adrien Rabiot mengenai pelatih Didier Deschamps.
Pelatih timnas Prancis tersebut sempat meninggalkan turnamen pekan lalu setelah menerima kabar ibunya meninggal dunia. Ia kembali bergabung dengan tim setelah pemakaman dan kini fokus mempersiapkan Prancis menghadapi Swedia.
Deschamps mengatakan dirinya kini memusatkan energi untuk membawa Les Bleus melangkah jauh di turnamen sambil mencoba pulih dari kehilangan besar tersebut.
Internet Jatuh Hati pada Erling Haaland
Penyerang Manchester City dan Norwegia, Erling Haaland, tidak hanya menarik perhatian lewat penampilannya di lapangan selama Piala Dunia. Kepribadiannya yang santai dan apa adanya di media sosial juga membuat banyak penggemar menyukainya.
Suporter Norwegia Meramaikan Turnamen Golf
Untuk pekan kedua berturut-turut, cerita terbesar di dunia golf justru datang dari tribun penonton.
Setelah US Open di Shinnecock Hills menuai kritik terkait perlakuan terhadap juara Wyndham Clark, Travelers Championship menghadirkan suasana berbeda. Turnamen di TPC River Highlands terasa lebih seperti festival dibanding arena penuh tekanan.
Bahkan setelah cuaca buruk menghentikan pertandingan selama satu jam pada Minggu waktu setempat, para penonton tetap bertahan. Atmosfer yang tercipta memperlihatkan sisi terbaik olahraga golf, antusias, energik, dan penuh emosi.
Kelompok penonton paling mencuri perhatian adalah suporter Norwegia yang mengikuti Viktor Hovland. Banyak di antara mereka sebelumnya berada di Boston untuk mendukung Norwegia melawan Prancis di fase grup Piala Dunia. Pada malam harinya, mereka menempuh perjalanan sekitar dua jam menuju Cromwell, Connecticut, mengubah turnamen PGA Tour menjadi pesta global.
Topi Viking, jersey Norwegia, dan lautan warna merah memenuhi arena sepanjang Hovland bermain.
Kesabaran mereka akhirnya terbayar pada Senin pagi waktu setempat.
Hovland memenangkan playoff di hole pertama dengan birdie setelah memasukkan putt sejauh sekitar dua meter. Pegolf nomor satu dunia Scottie Scheffler gagal memanfaatkan peluang untuk memperpanjang playoff.
Norwegia pun kembali merayakan kemenangan pada bulan Juni ini. Hovland mungkin memenangkan playoff, tetapi para suporter Norwegia memenangkan perhatian sepanjang pekan.
Meksiko vs Ekuador
Meksiko tampil sempurna sejauh ini dengan memenangi seluruh pertandingan dan menjadi juara Grup A tanpa kebobolan satu gol pun.
Perjalanan Ekuador jauh lebih berat. Mereka lolos ke fase gugur sebagai salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik setelah bangkit mengalahkan Jerman 2-1 pada laga terakhir grup.
Kemenangan atas juara dunia empat kali itu jelas meningkatkan kepercayaan diri La Tri, yang baru kedua kalinya tampil di fase gugur Piala Dunia. Mereka juga datang tanpa tekanan besar karena Meksiko bermain di kandang sendiri.
Tuan rumah bersama itu memburu kemenangan pertama di fase gugur sejak terakhir menjadi tuan rumah pada 1986. Lebih dari 87 ribu penonton di Stadion Azteca dan sekitar 133 juta warga Meksiko diperkirakan berharap tim mereka melaju.
Pemenang laga ini akan kembali bermain di Azteca menghadapi Inggris atau Republik Demokratik Kongo.
Peluit Akhir: Ancaman Cuaca Ekstrem Mulai Menghantui Piala Dunia
Kondisi cuaca ekstrem sempat menjadi perhatian besar menjelang turnamen musim panas ini, tetapi sejauh ini kompetisi relatif tidak terdampak.
Situasi itu tampaknya akan berubah karena jutaan warga Amerika Utara menghadapi gelombang panas berkepanjangan yang berpotensi memecahkan rekor.
Tim cuaca memperkirakan tiga pertandingan babak 32 besar akan terdampak.
Laga Kroasia melawan Portugal di Toronto pada Kamis malam waktu setempat diprediksi berlangsung dalam kondisi panas dan lembap dengan suhu terasa mendekati 31 derajat Celsius, disertai potensi badai petir.
Pertandingan Argentina melawan Tanjung Verde di Miami pada Jumat sore waktu setempat juga diperkirakan menjadi laga terpanas di stadion tersebut sejauh ini. Suhu diprediksi mencapai sekitar 32 derajat Celsius dengan indeks panas melampaui 37 derajat Celsius.
Sementara laga Kolombia kontra Ghana di Kansas City pada Jumat malam waktu setempat memang terhindar dari puncak panas siang hari, tetapi indeks panas masih diperkirakan berada di kisaran 35 derajat Celsius.
Di titik inilah jeda minum yang selama ini dianggap mengganggu akhirnya terasa masuk akal.
