Pihak berwenang Thailand tengah menyelidiki kemungkinan adanya kelalaian yang menyebabkan kebakaran maut di sebuah bar di Bangkok pada Minggu malam waktu setempat. Sejumlah korban selamat mengaku menemukan pintu dalam keadaan terkunci dan minimnya penunjuk jalur evakuasi menuju pintu darurat.
Polisi juga menduga penggunaan material yang mudah terbakar sebagai dekorasi mempercepat penyebaran api, yang pertama kali muncul di dekat panggung.
“Kondisi ini menunjukkan kurangnya kehati-hatian serta pengabaian terhadap keselamatan para pengunjung,” kata Kepala Kepolisian Thailand Jenderal Polisi Kittiratt Phanphet pada Senin.
Kebakaran tersebut menewaskan sedikitnya 28 orang dan menyebabkan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Tim penyelamat menemukan banyak korban di area toilet yang berada di bagian belakang bar, lokasi yang diyakini menjadi tujuan mereka saat berusaha menyelamatkan diri, tetapi akhirnya terjebak.
Hasil penyelidikan sementara menunjukkan kebakaran dipicu oleh korsleting pada unit pendingin ruangan (air conditioner) yang dengan cepat memutus aliran listrik di seluruh bangunan.
Namun, sejumlah orang yang pernah mengunjungi bar itu sebelumnya mengatakan kondisi di dalam ruangan memang sudah sangat gelap bahkan sebelum insiden terjadi.
Phatsara Khamloet, yang berkunjung ke bar tersebut pada Mei lalu, mengatakan bahwa ia harus melewati jalur yang berliku untuk mencapai toilet. Ia juga menilai pintu-pintu keluar tidak diberi penanda yang jelas.
Busakorn Saensuk, pakar keselamatan kebakaran dari Engineering Institute of Thailand yang melakukan inspeksi di Rong Beer Na Lat Phrao setelah kebakaran, mengatakan pintu di dekat area toilet ditemukan dalam keadaan terkunci. Sementara itu, dua pintu di bagian depan bangunan sebagian tertutup oleh furnitur dan berbagai benda lainnya.
Menurut Busakorn, secara naluriah para pengunjung akan berlari menjauhi kobaran api menuju bagian belakang bangunan, tempat toilet berada.
“Namun setelah mereka sampai di bagian belakang, mereka tidak bisa keluar.”
“Seandainya lampu penunjuk jalur darurat menyala, orang-orang mungkin dapat melihat bahwa pintu itu terkunci dan berusaha membukanya,” ujarnya
Busakorn juga menemukan bahwa area panggung dihiasi material yang sangat mudah terbakar, seperti bunga plastik, sementara langit-langit bangunan dilapisi busa yang juga mudah terbakar.
Sejumlah korban selamat sebelumnya mengungkapkan bahwa panggung langsung dilalap api hanya dalam hitungan detik. Grup musik indie Thailand Thotsakan, yang sedang tampil ketika kebakaran terjadi, kehilangan dua anggotanya dalam tragedi tersebut.
Profesor Worsak Kanok Nukulchai, pakar teknik struktur, memperkirakan banyak korban meninggal akibat menghirup asap beracun bahkan sebelum sempat tersentuh kobaran api.
Ia menjelaskan, api yang pertama kali muncul bereaksi dengan material mudah terbakar sehingga menghasilkan karbon monoksida dan hidrogen sianida, dua gas beracun yang kerap dijuluki sebagai “si kembar beracun” dalam asap kebakaran.
Pemerintah Bangkok mengonfirmasi bahwa bar tersebut terdaftar sebagai “restoran dengan pertunjukan musik langsung”, bukan sebagai “tempat hiburan”. Karena itu, bangunan tersebut tidak diwajibkan menggunakan material tahan api.
Pemerintah Metropolitan Bangkok kini sedang meninjau kembali regulasi mengenai jenis material yang diizinkan untuk digunakan dalam pembangunan maupun dekorasi tempat hiburan dan restoran.
Menurut laporan PBS Thai, pemilik Rong Beer Na Lat Phrao sebelumnya juga pernah memiliki sebuah pub di Provinsi Yasothon yang hangus terbakar pada Desember 2019.
Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran sebelumnya karena insiden tersebut terjadi pada siang hari, demikian laporan itu.
