Peringatan: Artikel ini memuat deskripsi kekerasan yang mungkin mengganggu sebagian pembaca.
Belasan warga Afghanistan yang mencoba mencapai Eropa pada Januari lalu mengatakan bahwa mereka termasuk dalam kelompok sekitar 50 migran yang dipukuli dan dilucuti pakaiannya oleh penjaga perbatasan Turki sebelum ditinggalkan di tengah salju.
Mereka mengaku dipaksa keluar dari kota Van di Turki timur menuju perbatasan Iran, saat suhu berada di bawah titik beku. Kelompok itu juga mengatakan sedikitnya 20 orang meninggal akibat kedinginan ekstrem.
Sebelas dari 12 pria dan anak laki-laki yang berbicara , termasuk seorang anak berusia 13 tahun, akhirnya kehilangan anggota tubuh akibat radang dingin atau frostbite.
Kelompok tersebut akhirnya dipulangkan ke Afghanistan.
Salah satu migran bernama Shahsawar mengatakan ia sadar kembali di sebuah rumah sakit di Kabul dan mendapati kedua tangan serta kedua kakinya telah diamputasi.
“Saya mengangkat tangan saya, terasa ringan. Keduanya sudah dipotong,” katanya
“Tenggorokan saya terasa tercekat dan saya tidak bisa bicara.”
Ketika dimintai komentar, otoritas Turki tidak secara khusus menanggapi tuduhan para migran tersebut.
Namun Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan pasukan penjaga perbatasan menjalankan tugas sesuai hukum nasional dan internasional serta memberikan bantuan yang diperlukan kepada migran tak berdokumen yang ditahan, termasuk makanan, air, dan layanan medis.
Pada pertengahan Januari, sekitar 50 migran Afghanistan tanpa dokumen ditangkap setelah penyelundup manusia membantu mereka melintasi perbatasan Iran menuju kota Van, ketika suhu mencapai minus 15 derajat Celsius.
Shahsawar, 21 tahun, mengatakan dirinya langsung ditahan begitu memasuki kota tersebut.
Menurutnya, para penjaga perbatasan Turki kemudian menyuruh para migran berbaris dan memukuli mereka.
“Mereka menahan kami selama beberapa malam di gudang, saat salju terus turun menimpa kami. Mereka hanya memberi kami air dan roti kering sekali sehari,” katanya.
“Mereka memaksa kami melakukan kerja berat,” tambah Alwaldin, 23 tahun.
“Kami harus mengangkut kayu dan membersihkan salju.”
Alwaldin mengatakan ia tidak bisa menghubungi keluarganya maupun penyelundup yang menjanjikan akan membawanya ke Eropa.
Para migran yang berbicara menggambarkan sebuah insiden kekerasan yang disebut terjadi pada 25 Januari. Mereka mengaku kembali dibariskan oleh penjaga perbatasan, namun kali ini dipukuli menggunakan batang besi.
Menurut Alwaldin, setelah dilucuti pakaiannya dan tangan mereka diikat, para migran dipaksa merangkak dengan posisi tengkurap menuju sebuah bukit.
“Kepala beberapa orang pecah dan darah mengalir di bahu mereka,” katanya.
Shahsawar mengatakan sebagian migran dipukuli begitu parah hingga tidak bisa lagi menggunakan tangan mereka.
Dengan pakaian, sepatu, dan kaus kaki yang dilepas, hanya menyisakan celana panjang, para migran Afghanistan itu kemudian dilepas dalam kelompok berisi delapan orang dan didorong melewati kawat berduri menuju wilayah Iran, katanya.
Malam itu dilaporkan disertai badai salju dengan jarak pandang nyaris nol.
“Semua jalur tertutup salju. Kami tidak tahu harus ke arah mana atau apakah kami akan selamat.”
Salah satu anggota kelompok bernama Danial, seorang anak laki-laki, disebut langsung tersesat tak lama setelah mereka dipaksa berjalan. Para migran kemudian mengetahui jasadnya ditemukan di tengah salju.
Sementara itu, Shahsawar yang kelelahan dan kelaparan mengaku berlindung di dekat batu besar. Tak lama kemudian ia ditemani Asim, 13 tahun, dan seorang migran lain bernama Ahmed yang tangannya telah membeku.
“Pagi harinya, Asim melanjutkan perjalanan,” kata Shahsawar.
“Tapi kami sudah sangat membeku hingga tidak bisa bicara.”
“Ahmed terbaring di pelukan saya. Setelah beberapa saat saya sadar ia sudah berhenti bernapas.”
Sebuah video yang diunggah di media sosial pada bulan berikutnya disebut memperlihatkan Asim ditemukan di tengah salju oleh para migran lain yang sedang mencari rekan-rekan mereka. Remaja itu terlihat basah, mengalami frostbite, dan berpakaian minim.
Ketika para penyelamat bertanya apakah ia sendirian, Asim yang tampak terlalu kedinginan untuk berbicara hanya menunjuk ke arah batu tempat Shahsawar berlindung.
Shahsawar mengatakan gerakan sederhana itu menyelamatkan nyawanya.
Namun penderitaan mereka belum berakhir. Setelah memasuki Iran, para migran mengaku ditolak saat mencari perawatan rumah sakit.
Pada 29 Januari, Kedutaan Besar Afghanistan di Teheran mengatakan pihaknya telah mengambil langkah darurat untuk mengidentifikasi dan membantu sejumlah migran Afghanistan yang terjebak di perbatasan Iran-Turki.
Empat hari kemudian, para pria dan anak-anak itu dipindahkan melalui jalur darat oleh organisasi Bulan Sabit Merah menuju Provinsi Herat di Afghanistan, sebelum akhirnya dibawa ke Kabul untuk menjalani perawatan lebih lanjut.
Saat itu, frostbite yang dialami Shahsawar dan 10 migran lainnya telah membuat sebagian tubuh mereka berubah menjadi hitam.
Shahsawar mengatakan ia melihat tangan dan kakinya perlahan menghitam, sementara seluruh tubuhnya terasa gatal.
Setibanya di rumah sakit Kabul, ayah dan kakaknya menandatangani dokumen persetujuan operasi sebelum ia dibawa ke ruang bedah dan kedua tangan serta kedua kakinya diamputasi.
Frostbite sebenarnya dapat ditangani jika pasien segera mendapat perawatan medis. Namun bagi para pria dan anak-anak ini, semuanya sudah terlambat.
Ketua Komisi Migrasi dan Suaka Pusat Hak Asasi Manusia Asosiasi Pengacara Van, Şafak Bozkurt, mengatakan ia mengetahui praktik pengusiran paksa semacam itu di kawasan tersebut dan memahami adanya sejumlah kasus hipotermia.
Menurut aktivis berbasis di Turki, Zakira Hikmat, para migran Afghanistan telah melaporkan banyak insiden serupa sejak Taliban mengambil alih kekuasaan di Kabul pada 2021.
Ia mengatakan peningkatan pengawasan perbatasan di Turki memaksa para migran menggunakan jalur yang lebih berbahaya.
Aktivis hak migran lain yang berbasis di Van, Mahmout Keçen, mengatakan kondisi pegunungan yang “paling sering digunakan warga Afghanistan untuk masuk secara ilegal ke Turki” membuat penyeberangan harus dilakukan dalam cuaca ekstrem dan berisiko tinggi.
Ia mengaku telah menangani banyak kasus yang melibatkan migran Afghanistan dan negara lain yang menuduh adanya “perlakuan buruk, pengusiran paksa, penolakan akses terhadap prosedur suaka, dan deportasi” di kawasan perbatasan Iran-Turki.
Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan tuduhan tersebut tidak berdasar dan “secara tidak adil mencoreng upaya sukses Turki dalam memerangi migrasi ilegal”.
“Karena posisi geopolitiknya di jalur migrasi dan besarnya populasi migran serta pengungsi yang ditampung, Turki berupaya menerapkan sistem pengelolaan migrasi yang berpusat pada manusia dan berkelanjutan, sejalan dengan nilai-nilai peradaban, serta menyeimbangkan keamanan dan kebebasan,” kata kementerian tersebut.
Menurut Turki, langkah-langkah efektif yang mereka terapkan telah membuat arus migrasi ilegal menuju Uni Eropa hampir sepenuhnya terhenti.
Pemerintah Iran juga telah dimintai komentar terkait tuduhan tersebut.
