Ketika seorang pria muda jatuh hingga tewas dari sebuah benteng di kota Pune, India barat, pada 18 Juni lalu, insiden itu awalnya diyakini sebagai kecelakaan tragis.
Ketan Agarwal, 26 tahun, tengah mengunjungi Benteng Lohagad, lokasi wisata dan jalur pendakian populer, bersama tunangannya, Siya Goyal, saat ia terjatuh ke sebuah jurang.
Namun beberapa hari kemudian, polisi menangkap Siya, 20 tahun, dan temannya, Chetan Chaudhary, 22 tahun, dengan tuduhan membunuh Ketan dengan cara mendorongnya dari ketinggian. Polisi juga menuduh keduanya memiliki hubungan asmara.
Siya dan Chetan kini ditahan dan belum memberikan pernyataan apa pun. Namun pengacara keduanya membantah keras tuduhan tersebut.
Seperti sejumlah kasus kriminal besar lain di India dalam beberapa tahun terakhir, kasus ini memicu kehebohan besar di media.
Di tengah penyelidikan yang masih berlangsung, polisi secara bertahap membagikan teori dan detail investigasi yang belum terverifikasi kepada wartawan. Kasus ini pun mendominasi pemberitaan selama sepekan terakhir.
Di media sosial, foto dan video pribadi Ketan dan Siya tersebar luas.
Siya khususnya menjadi sasaran hujatan tanpa henti. Ia telah dicap sebagai pembunuh meskipun penyelidikan belum selesai, dan diejek karena video yang ia unggah sebelum ditangkap, saat ia berduka atas kematian tunangannya.
Dalam beberapa hari terakhir, banyak unggahan di media sosial yang menyarankan perempuan muda untuk “belajar berkata tidak, menolak pernikahan jika dipaksa, bukan membunuh”.
Apa yang diketahui sejauh ini?
Menurut keluarga masing-masing, Ketan dan Siya bertunangan pada Februari lalu dan dijadwalkan menikah akhir tahun ini.
Lokasi pernikahan telah dipesan dan persiapan disebut sudah berjalan penuh.
Kematian Ketan menjadi sorotan pekan lalu setelah pejabat senior kepolisian Pune, Sandeep Gill, mengumumkan penangkapan tersebut dalam konferensi pers.
Ia mengatakan pasangan itu pergi ke benteng ketika Siya melaporkan kematian Ketan.
“Namun selama penyelidikan, kami menemukan sejumlah informasi dan setelah berbicara dengan teman serta kerabat mereka, kami mulai curiga.”
“Ketan adalah pendaki berpengalaman dan sulit dipercaya ia tiba-tiba terpeleset dan meninggal seperti itu. Keluarganya juga menyampaikan keraguan dan membuat laporan,” katanya.
Gill mengatakan polisi kemudian menemukan bahwa “Siya memiliki hubungan dengan Chetan dan tidak ingin melanjutkan pernikahannya dengan Ketan”.
Ia menuduh Siya dan Chetan “bersekongkol membunuh Ketan dengan mendorongnya dari benteng agar kematiannya terlihat seperti kecelakaan”.
Inspektur senior polisi Dinesh Tayade kemudian mengatakan kepada media bahwa kasus itu terungkap setelah polisi melihat seorang pria mengenakan hoodie di rekaman CCTV benteng. Polisi menuduh pria itu adalah Chetan.
“Saat kami memeriksa suhu pada 18 Juni, pagi itu mencapai 33 derajat Celsius. Ketika meneliti rekaman CCTV dari area kaki bukit, kami melihat seseorang mengenakan hoodie dengan kepala tertutup serta memakai headphone.”
“Hal itu menimbulkan kecurigaan karena pakaian seperti itu tidak lazim digunakan dalam kondisi cuaca tersebut,” kata Tayade.
Pengacara Siya dan Chetan bantah tuduhan
Siya dan Chetan saat ini masih berada dalam tahanan polisi dan dijadwalkan kembali menjalani sidang pada Jumat waktu setempat. Namun pengacara mereka membantah seluruh tuduhan.
Pengacara Chetan bahkan menyatakan pria berhoodie dalam rekaman CCTV bukan kliennya.
“Siya mengatakan dirinya tidak bersalah dan kooperatif dalam proses penyelidikan. Ia secara tegas membantah semua tuduhan terhadap dirinya,” kata pengacara Siya, Vipul Dushing
“Ia ditangkap hanya berdasarkan tuduhan dari orang tua Ketan. Penangkapan ini tidak perlu dan dilakukan secara serampangan tanpa alasan hukum yang jelas. Tidak ada bukti dan polisi hanya membuat asumsi,” ujarnya.
Pengacara Chetan, Ram Shahane, mengatakan kepada media bahwa “tidak ada tuduhan langsung” terhadap kliennya dan ia dimasukkan dalam kasus hanya karena berteman dengan Siya.
“Polisi tidak memiliki bukti konkret bahwa Chetan berada atau berkeliaran di wilayah Lohagad, dan tidak ada dokumen terkait yang diajukan ke pengadilan,” katanya.
Pada Rabu, polisi membawa Chetan ke benteng untuk melakukan “rekonstruksi lokasi kejadian” dan apa yang mereka sebut sebagai “analisis gaya berjalan”, guna memastikan apakah ia adalah pria berhoodie yang tertangkap CCTV pada hari kematian Ketan.
Saluran televisi menayangkan rekaman seorang pria berhoodie yang digiring polisi memasuki benteng.
Namun pengacara Siya meragukan metode tersebut dan menyebutnya bukan ilmu yang pasti.
“Pemeriksaan itu hanya dapat menunjukkan apakah ada kemiripan dengan pria dalam rekaman, tetapi tidak bisa memberikan bukti konklusif bahwa mereka adalah orang yang sama,” kata Dushing.
Keluarga Ketan tuntut hukuman mati
Sejak kematian tragis Ketan, dua keluarga yang berduka ikut terseret dalam hiruk-pikuk pemberitaan media.
Orang tua Ketan mengatakan mereka marah atas kematian putra mereka dan menyalahkan Siya serta Chetan.
Ayah Ketan, Vishal Agarwal, mengatakan, “Ketan dan Siya bertunangan pada Februari. Jika Siya tidak ingin menikah, ia bisa menolak. Kami pasti langsung membatalkan pernikahan.”
Ibu Ketan, Pakhi Agarwal, mengatakan, “Saya menganggap Siya sebagai calon menantu perempuan saya. Ia datang ke rumah kami untuk pesta ulang tahun dan makan malam. Saya sering bertemu dengannya, kami bahkan pernah berbelanja bersama.”
Beberapa hari lalu, keluarga Agarwal bertemu Ketua Menteri Maharashtra, Devendra Fadnavis, untuk menuntut keadilan bagi putra mereka. Vishal mengatakan ia meminta “hukuman mati” dalam kasus tersebut.
Pemerintah negara bagian kemudian menunjuk anggota parlemen sekaligus pengacara ternama, Ujjwal Nikam, sebagai jaksa penuntut umum kasus itu. Nikam dikenal luas setelah berhasil menuntut hukuman mati bagi Mohammad Qasab dalam kasus serangan Mumbai 2008.
Apa kata orang tua Siya?
Orang tua Siya mengaku terkejut dan terpukul dengan perkembangan kasus tersebut.
Beberapa jam setelah penangkapan Siya, ayahnya, pebisnis Praveen Goyal, sempat dilarikan ke rumah sakit setelah pingsan.
“Ini sangat menyedihkan, kami masih tidak percaya semua ini bisa terjadi,” katanya kepada media.
“Keluarga Agarwal kehilangan putra mereka. Kami juga sangat menyayangi Ketan, saya sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Saya sangat sedih atas kematiannya,” ujarnya.
Ibu Siya, Pooja Agarwal, mengatakan tragedi itu telah “menghancurkan” dua keluarga.
“Kami sangat terpukul. Ketan adalah pria yang sangat baik. Siapa pun yang terbukti bersalah harus menerima hukuman seberat-beratnya,” katanya.
Ia juga membantah anggapan bahwa Siya tidak ingin menikahi Ketan tetapi dipaksa keluarganya.
“Kami berkali-kali bertanya kepada Siya apakah ia menyukai dan ingin menikah dengan Ketan, dan ia mengatakan bahwa ia mencintainya. Mereka sangat bahagia bersama.”
“Jika Siya memiliki masalah dan membicarakannya kepada kami, kami pasti akan membatalkan pernikahan. Tetapi tidak ada masalah. Siya sangat mencintainya,” ujarnya.
