Kelompok separatis Papua mengklaim telah menembak mati seorang pilot asal Amerika Serikat dan membakar pesawatnya di wilayah Papua, Indonesia.
Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) menyatakan mereka membunuh Nicholas F. Gosselin setelah pesawat yang dipilotinya mendarat di Provinsi Papua Pegunungan pada Kamis.
Kelompok separatis itu menuduh pilot-pilot sipil digunakan untuk mengangkut pasukan Indonesia ke wilayah tersebut, dan menyebut kematian Gosselin sebagai “sebuah pesan”.
Pemerintah Indonesia mengonfirmasi bahwa pesawat yang dipiloti Gosselin ditemukan dalam kondisi terbakar. Namun, otoritas menyatakan belum dapat memastikan apa yang terjadi terhadap pilot tersebut maupun tujuh penumpang yang berada di dalam pesawat.
Insiden itu terjadi setelah konflik berkepanjangan antara pemerintah Indonesia dan masyarakat adat Papua Barat terkait tuntutan kemerdekaan wilayah kaya sumber daya alam tersebut.
Pejabat Indonesia menyebut sebuah pesawat dengan pilot berkewarganegaraan Amerika Serikat yang membawa tujuh penumpang ditemukan terbakar di sebuah bandara di wilayah Yahukimo.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Indonesia menyatakan tidak ada indikasi gangguan keamanan ketika pesawat hendak mendarat. Namun komunikasi terputus tidak lama setelah pesawat menyentuh landasan.
“Laporan awal dari direktur bandara tempat pesawat lepas landas menyebut pilot telah meninggal dunia,” demikian pernyataan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.
“Penyebab dugaan insiden tersebut masih menunggu konfirmasi lebih lanjut dari otoritas terkait.”
Juru bicara operasi gabungan TNI-Polri, Yusuf Sutejo, belum dapat memastikan apakah pesawat tersebut diserang kelompok separatis maupun nasib para penumpang di dalamnya.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta dan Departemen Luar Negeri AS telah dimintai komentar terkait insiden tersebut.
Dalam pernyataannya, juru bicara TPNPB Sebby Sambom mengatakan kelompoknya melarang seluruh penerbangan melintasi wilayah sengketa itu karena pesawat sipil disebut digunakan untuk mendukung operasi militer Indonesia.
“Kami langsung menembaki dan membakar pesawat tersebut karena telah melanggar ultimatum TPNPB,” ujarnya.
“Kami siap menembaki setiap pesawat sipil di seluruh Tanah Papua yang membantu militer Indonesia dalam mengangkut pasukan atau logistik militer,” tambahnya.
Sambom mengatakan apabila pemerintah Indonesia ingin mengambil jenazah pilot tersebut, proses itu harus dilakukan tanpa membawa personel militer maupun polisi ke lokasi.
Ia juga mendesak pemerintah Indonesia membuka jalur negosiasi untuk menyelesaikan konflik yang telah berlangsung sejak Papua bergabung dengan Indonesia pada 1969. Kelompok separatis menuding konflik tersebut telah menyebabkan korban sipil dan pengungsian massal.
Pada 2024, seorang pilot asal Selandia Baru dibebaskan setelah disandera selama 19 bulan oleh kelompok yang sama, usai negosiasi panjang antara pemerintah di Jakarta dan Wellington.
Sebulan sebelumnya, kelompok bersenjata TPNPB juga menewaskan pilot helikopter asal Selandia Baru, Glen Malcolm Conning, yang ditembak sesaat setelah mendarat di sebuah desa terpencil.
