Suresh telah menghabiskan sekitar 15 tahun hidupnya di laut, bekerja sebagai insinyur kelautan dan berlayar ke berbagai penjuru dunia.
Sebagai kepala insinyur kapal, ia berhak mendapatkan cuti selama enam bulan setiap tahun. Namun menurut ayahnya, Ramakrishna, ia jarang mengambil cuti selama itu.
“Ia mencintai pekerjaannya dan lebih suka menghabiskan sebagian besar waktunya di laut,” katanya
Keluarganya sudah lama terbiasa dengan bulan-bulan yang harus ia habiskan jauh dari rumah.
Biasanya, Suresh dan istrinya, Bhargavi, melakukan panggilan video setiap beberapa hari sekali. Terkadang anggota kru lain juga ikut menyapa. Namun sejak 5 Juni, komunikasi mereka semakin sulit. Pada 9 Juni, panggilan itu berhenti sama sekali.
“Saya pikir itu hanya masalah jaringan karena mereka sedang berada di laut,” kata Bhargavi.
Selama dua hari ia menunggu kabar, sebelum akhirnya mengetahui bahwa suaminya tewas dalam serangan tersebut.
Awalnya, keluarga masih berharap telah terjadi kesalahan dan Suresh akan ditemukan dalam keadaan hidup. Namun harapan itu segera sirna.
Pada Kamis, Bhargavi mengatakan pihak manajemen kapal memberi tahu keluarga bahwa tidak ada kesempatan untuk menyelamatkan diri ketika serangan terjadi. Saat itu, Suresh sedang memeriksa kerusakan pada salah satu generator kapal, ujarnya.
Kini keluarga menuntut agar jenazahnya dipulangkan ke India dan meminta bantuan keuangan dari pemerintah karena Suresh merupakan satu-satunya pencari nafkah keluarga.
Suresh meninggalkan dua putra serta dua keponakan perempuan yang ikut dibesarkannya setelah kakak perempuan dan kakak ipar Bhargavi meninggal dunia.
“Seluruh keluarga bergantung pada penghasilannya. Sekarang saya tidak tahu bagaimana saya akan membiayai pendidikan dan membesarkan anak-anak,” kata Bhargavi.
Sebelum tragedi itu terjadi, Suresh sempat meyakinkan istrinya bahwa ia akan baik-baik saja dan pulang dengan selamat meskipun menyadari risiko bekerja di wilayah konflik. Ia dijadwalkan kembali ke rumah setelah berbulan-bulan berada di laut dan berharap dapat merayakan ulang tahun pernikahan ke-15 bersama keluarganya pada 24 Juni.
Keluarga Korban Lain Menuntut Jawaban
Pertanyaan serupa juga menghantui keluarga dua pelaut lain yang tewas dalam serangan tersebut.
Di Distrik Hamirpur, negara bagian Himachal Pradesh di India utara, keluarga Aditya Sharma yang berusia 23 tahun tengah berduka atas kehilangan putra tunggal mereka.
“Saya ingin jenazah anak saya dipulangkan kepada kami. Kami juga harus diberi tahu apa yang terjadi pada saat-saat terakhir hidupnya,” kata ayahnya, Rajesh Sharma
Rajesh Sharma juga mempertanyakan apakah upaya penyelamatan terhadap para kru sudah dilakukan secara maksimal.
“Yang lain berhasil diselamatkan, jadi mengapa ketiga orang ini tidak bisa diselamatkan?” tanyanya.
Lebih dari 1.000 kilometer dari sana, di Distrik Deoria, negara bagian Uttar Pradesh, keluarga Shivanand Chaurasia yang berusia 35 tahun menghadapi kesedihan yang sama.
Bekerja sebagai teknisi pemasangan (fitter), Chaurasia meninggalkan rumah sekitar delapan bulan lalu untuk bekerja di perusahaan pelayaran asing.
“Kami berbicara dengannya malam sebelumnya. Dia mengatakan semuanya baik-baik saja,” kata ayahnya, Ramji Chaurasia, kepada kantor berita ANI.
“Sekarang kami diberi tahu bahwa dia sudah tiada.”
Seperti Bhargavi di Visakhapatnam, kedua keluarga itu masih menunggu kepulangan jenazah orang yang mereka cintai.
Bagi mereka, ketegangan geopolitik yang membuat kapal tanker tersebut menjadi sorotan terasa sangat jauh.
Yang terpenting saat ini, kata mereka, adalah kesempatan untuk melihat putra dan suami mereka untuk terakhir kalinya.
