Empat bulan menjelang pemilu sela Amerika Serikat, Partai Demokrat menghadapi tantangan baru yang terus menguat.
Israel, serta operasi militernya di Gaza dan Timur Tengah, kini berkembang menjadi salah satu isu paling menentukan di tubuh Partai Demokrat dan berpotensi membentuk ulang kepemimpinan partai itu pada pemilu mendatang.
Sejauh ini, hasil pemilihan pendahuluan Partai Demokrat 2026, proses yang menentukan kandidat partai untuk pemilu November nanti, menunjukkan isu Israel dapat menjadi titik perpecahan antara basis pemilih dan elite kepemimpinan partai.
Hasil pemilihan pendahuluan kongres New York City pekan lalu menjadi contoh paling jelas. Perbedaan itu terlihat mencolok dalam perebutan kursi distrik kongres ke-10 kota tersebut.
Meski sama-sama Yahudi, menentang agenda Presiden AS Donald Trump, dan mengidentifikasi diri sebagai Zionis liberal, kedua kandidat Demokrat memiliki sikap yang sangat berbeda terhadap Israel.
Kepala Pengawas Keuangan Kota New York, Brad Lander, menyebut operasi militer Israel di Gaza sebagai genosida. Ia berjanji akan menolak pendanaan militer AS untuk Israel dan menegaskan tidak akan menerima sumbangan kampanye dari kelompok lobi American Israel Public Affairs Committee (AIPAC).
Sementara itu, anggota Kongres Dan Goldman, yang juga mengkritik pemerintah Israel dan menolak perluasan permukiman Israel di Tepi Barat, tidak menggunakan istilah genosida untuk menggambarkan situasi di Gaza. Goldman sebelumnya juga menerima kontribusi dana dari AIPAC.
Goldman kerap berbicara mengenai antisemitisme dan mendapat dukungan dari sejumlah tokoh komunitas Yahudi Ortodoks yang menjadi basis pemilih penting.
Namun pekan lalu, pendekatan Lander menang telak. Ia mengalahkan Goldman dengan selisih suara besar.
Hasil di distrik ke-10 New York, serta dua pemilihan pendahuluan lain yang melibatkan kandidat progresif pendukung Wali Kota New York City Zohran Mamdani, menunjukkan kandidat yang menjadikan kritik terhadap Israel sebagai bagian utama platform politik mereka lebih unggul dibanding kandidat yang dianggap lebih moderat.
Situasi itu mengindikasikan adanya keretakan di tubuh Partai Demokrat yang dapat memengaruhi pemilu lain pada musim gugur mendatang, termasuk pemilihan pendahuluan Partai Demokrat untuk kursi Senat AS dari Michigan pada Agustus nanti.
Karena basis pemilih New York City didominasi Partai Demokrat, para pemenang pemilihan pendahuluan kemungkinan besar akan melaju ke Kongres tahun depan. Kehadiran mereka di Washington dapat memicu perdebatan yang lebih keras mengenai pendanaan militer AS untuk Israel sekaligus mengubah pesan politik Partai Demokrat terkait Israel dan Gaza.
Wakil Presiden Strategi Politik dan Digital organisasi J-Street, Tali DeGroot, mengatakan kritik terbuka terhadap Israel kini menjadi sinyal bahwa seorang kandidat tidak ingin mempertahankan status quo.
J-Street merupakan organisasi yang mendukung Israel tetapi juga mengkritik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan operasi militer Israel di Gaza.
Menurut DeGroot, pemilih Amerika, khususnya generasi muda yang dekat dengan Partai Demokrat, kini ingin melihat pejabat publik membahas isu Israel secara lebih bernuansa.
J-Street memang mendukung Goldman dalam pemilihan tersebut, tetapi secara tidak biasa juga memasukkan Lander sebagai kandidat yang layak dipertimbangkan pemilih.
Lander juga mendapat dukungan dari Jews for Racial and Economic Justice (JFREJ), kelompok keadilan sosial berhaluan kiri yang menyerukan gencatan senjata di Gaza dan menolak penjualan senjata AS kepada Israel.
Di sejumlah tempat pemungutan suara di Brooklyn pada Selasa lalu, para pemilih Lander menyebut sikap kritisnya terhadap Israel dan dukungan dari Mamdani sebagai faktor utama dalam menentukan pilihan mereka.
Mamdani sendiri dikenal sebagai pengkritik vokal Israel.
Para pendukung Lander menilai kepemimpinan Partai Demokrat saat ini tidak lagi sejalan dengan basis pemilih mereka dalam isu Israel.
“Saya belajar banyak melihat seorang pemimpin Yahudi menjalani proses memahami hubungan dirinya dengan Zionisme, Israel, dan penolakan terhadap genosida di Gaza,” kata Perrin Roosevelt Ireland, pemilih Lander di kawasan Park Slope, Brooklyn.
“Melihat proses perubahannya sangat berkesan bagi saya, dan saya menyukai pemimpin yang belajar secara terbuka,” ujarnya.
Ia menilai Pemimpin Mayoritas Senat AS Chuck Schumer dan Pemimpin Minoritas DPR AS Hakeem Jeffries, dua tokoh Demokrat paling senior dari New York, mulai tidak sejalan dengan banyak konstituen mereka karena tetap mendukung Israel secara luas.
“Mereka kehilangan sesuatu yang penting,” katanya.
Militer Israel melancarkan operasi di Gaza sebagai respons terhadap serangan Hamas ke wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya.
Sejak itu, sedikitnya 73.058 orang tewas akibat serangan Israel di Gaza, termasuk lebih dari 21.280 anak-anak, menurut kementerian kesehatan Gaza yang dikelola Hamas. Data tersebut dinilai kredibel oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Israel membantah keras tuduhan genosida yang diajukan sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional dan Israel, pakar independen PBB, serta para akademisi.
Pekan lalu, sebuah laporan komisi penyelidikan PBB menyebut otoritas dan aparat keamanan Israel secara sengaja menargetkan anak-anak Palestina di Gaza sehingga memicu genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang. Namun panel beranggotakan tiga ahli tersebut tidak secara resmi mewakili PBB.
Sebagai tanggapan, kementerian luar negeri Israel menyatakan “sepenuhnya menolak” laporan tersebut dan menyebutnya sebagai propaganda fitnah.
Survei Pew Research Center pada April menunjukkan 60 persen warga dewasa AS memiliki pandangan negatif terhadap Israel, naik dari 53 persen tahun lalu.
Sebanyak 80 persen pemilih Demokrat dan simpatisannya memiliki pandangan serupa, meningkat 11 poin dibanding tahun sebelumnya.
Perubahan sikap publik Amerika juga mulai terasa di Partai Republik. Menurut Pew, lebih dari separuh pemilih Republik berusia di bawah 50 tahun kini memiliki pandangan negatif terhadap Israel.
Trump sendiri beberapa kali menunjukkan kekesalan terhadap Netanyahu, sementara kubu isolasionis “America First” di Partai Republik semakin vokal mengkritik hubungan dekat AS dengan Israel.
Direktur Pelaksana Opini Publik dan Kebijakan Luar Negeri Chicago Council on Global Affairs, Dina Smeltz, mengatakan publik Amerika pada awalnya sangat bersimpati terhadap Israel.
“Namun ketika Israel membalas serangan tersebut dan melakukan operasi militer besar di Gaza yang memicu krisis kemanusiaan, dukungan terhadap Israel mulai turun cukup tajam,” katanya.
Di tengah perubahan opini publik di basis Partai Demokrat, sejumlah pemilih dan kelompok Yahudi juga mulai merasa khawatir dengan implikasinya.
Direktur Eksekutif Democratic Jewish Council of America, Haile Soifer, menyatakan penyesalannya karena isu Israel menjadi faktor yang memecah belah dalam pemilihan di distrik New York ke-10.
Warga Brooklyn bernama Rob Geaillig mengatakan ia memilih Goldman karena menganggap Lander “terlalu liberal” untuk wilayah tersebut.
Meski terdaftar sebagai pemilih Demokrat, Geaillig mengaku memilih Trump pada pemilu 2024 karena merasa Partai Demokrat terlalu “kiri” dalam isu seperti Israel.
Di sisi lain, sejumlah petahana New York yang mendukung Israel tetap berhasil memenangkan pemilihan mereka.
Tokoh Demokrat arus utama, termasuk Schumer dan Jeffries, selama ini mengambil posisi hati-hati dengan mengkritik operasi militer Israel di Gaza dan kepemimpinan Netanyahu, tetapi tetap mendukung Israel secara umum dan kebijakan yang menguntungkan negara tersebut.
Meski demikian, ada tanda-tanda fraksi Demokrat di Kongres mulai bersikap lebih keras terhadap Israel.
Pada April, 40 senator Demokrat memilih mendukung pernyataan “penolakan Kongres” terhadap rencana penjualan senjata ke Israel. Hanya tujuh senator Demokrat, termasuk Schumer, yang bergabung dengan Partai Republik untuk menggagalkan langkah tersebut.
Meski pemungutan suara itu lebih bersifat simbolis, hasilnya menunjukkan meningkatnya frustrasi anggota parlemen terhadap operasi militer Israel yang terus berlangsung.
Sam Geisler, pemilih Lander berusia 37 tahun, mengatakan para politisi Demokrat yang terus mendukung bantuan militer untuk Israel bisa menghadapi tantangan serius dalam pemilu mendatang.
“Kita lihat apakah partai nasional mau belajar. Saya tidak terlalu yakin,” katanya.
“Mereka akan belajar ketika terus kalah dalam pemilu.”
