Kelompok Houthi di Yaman dilaporkan telah merebut kota pelabuhan strategis Mokha di Laut Merah dari pasukan pro-pemerintah yang didukung Arab Saudi, menurut sumber militer dan sejumlah warga.
Jatuhnya Mokha membuat kelompok yang didukung Iran tersebut hanya berjarak sekitar 75 kilometer dari Selat Bab al-Mandab, pintu masuk selatan menuju jalur perdagangan yang menghubungkan Asia dan Eropa.
Houthi mengatakan mereka tidak menimbulkan ancaman terhadap pelayaran internasional, tetapi kembali menegaskan ancaman untuk menargetkan kapal-kapal dari Arab Saudi, yang selama ini mengandalkan Laut Merah untuk ekspor minyak setelah perang antara Amerika Serikat dan Israel secara efektif menutup Selat Hormuz di kawasan Teluk.
Eskalasi konflik antara Houthi, pemerintah Yaman, dan Arab Saudi turut menyebabkan lonjakan harga minyak.
Ratusan orang dilaporkan tewas dan ribuan lainnya mengungsi sejak Houthi melancarkan serangan di wilayah barat daya Yaman sepekan lalu.
Koalisi pimpinan Arab Saudi juga melancarkan serangan udara terhadap wilayah yang dikuasai Houthi di Yaman bagian barat untuk mendukung pasukan pro-pemerintah. Sebagai balasan, Houthi meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah kota serta fasilitas minyak di wilayah selatan Arab Saudi.
Warga Mokha mengatakan para pejuang Houthi memasuki kota tersebut setelah pertempuran sengit dengan pasukan pro-pemerintah pada Rabu malam, yang menyebabkan banyak keluarga meninggalkan rumah mereka.
“Pengambilalihan itu terjadi tanpa peringatan. Kepanikan menyebar ke seluruh wilayah, memaksa orang-orang melarikan diri di tengah pemandangan yang menyedihkan, dengan orang-orang terluka tergeletak di jalan tanpa ada yang datang untuk membantu,” kata seorang pria
Pria lainnya mengatakan para pejuang Houthi berpatroli di jalan-jalan Mokha pada Kamis, sementara kantor-kantor pemerintah dan toko-toko tutup.
“Saat ini, kami tidak tahu apa yang akan dilakukan Ansar Allah,” katanya, menggunakan nama resmi kelompok tersebut. “Semua orang takut akan keselamatan mereka.”
Banyak keluarga yang mengungsi menuju ke timur, ke kota Aden, tempat Dewan Kepemimpinan Presiden dan pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional bermarkas.
“Kami melarikan diri bersama anak-anak dan terus berlari. Kami tidak memiliki alas tidur, rumah, tidak membawa apa pun. Semuanya hancur dalam waktu satu jam. Mereka bahkan tidak memberi kami kesempatan atau memperingatkan kami sebelumnya,” kata seorang perempuan
“Kami adalah perempuan yang tidak memiliki sarana untuk membela diri, dan kami membawa anak-anak yang tidak bersalah.”
Belum ada konfirmasi langsung dari Houthi mengenai perebutan Mokha.
Namun, Dewan Politik Tertinggi kelompok tersebut dalam sebuah pernyataan pada Kamis mengatakan bahwa pertempuran telah “berhenti di distrik-distrik pesisir barat setelah pengusiran mobilisasi musuh Saudi”, menurut stasiun televisi Al Masirah yang dikelola Houthi.
Tarek Salah, pemimpin pasukan pro-pemerintah National Resistance Forces, juga mengatakan bahwa dirinya telah memindahkan pusat komando pasukannya di pesisir barat ke “lokasi yang aman”.
Dia menambahkan bahwa pasukannya telah membayar “harga mahal dalam beberapa hari terakhir dalam menghadapi serangan Houthi yang direncanakan dan didukung Iran”.
Seorang sumber militer Yaman mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa pejuang Houthi juga telah merebut Pulau Zuqar di Laut Merah, sekitar 80 kilometer sebelah barat laut Mokha, setelah melancarkan rentetan serangan roket dan serangan darat menggunakan kapal.
Sementara itu, kepala Dewan Kepemimpinan Presiden, Rashad al-Alimi, mendesak negara-negara Arab dan negara lainnya membantu melindungi pesisir Yaman serta memulihkan kendali pemerintah atas wilayah tersebut.
Dewan Politik Tertinggi Houthi menegaskan “hak untuk membela kedaulatan dan perairan teritorial [Yaman], sekaligus meyakinkan masyarakat internasional bahwa pelayaran di Laut Merah tetap aman”.
Namun, pusat koordinasi operasi kemanusiaan yang dikelola Houthi juga menegaskan bahwa embargo terhadap kapal-kapal Saudi masih berlaku.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, mengatakan pesawat tempur Saudi melancarkan 64 serangan di provinsi-provinsi barat Taiz, Hudaydah, Marib, dan Jawf dalam 24 jam sebelumnya.
Belum ada komentar langsung dari militer Arab Saudi.
Namun, juru bicara koalisi negara-negara Arab pimpinan Saudi yang berperang di Yaman mengatakan pada Rabu malam bahwa pihaknya akan merespons serangkaian serangan rudal dan drone Houthi terhadap kota-kota Khamis Mushait, Abha, dan Jazan di wilayah barat daya Arab Saudi.
Pada Selasa, Houthi meluncurkan puluhan drone dan rudal ke wilayah selatan Arab Saudi, melukai 73 warga sipil dan menyebabkan kebakaran di sejumlah fasilitas minyak yang mengakibatkan penghentian sementara operasional, menurut otoritas Saudi.
Houthi mengatakan serangan tersebut merupakan aksi balasan atas puluhan serangan udara Saudi terhadap wilayah yang mereka kuasai dalam beberapa hari terakhir, termasuk serangan terhadap sebuah penjara di kota Hazm, Provinsi Jawf, pada Senin. Houthi menyebut serangan itu menewaskan sedikitnya 23 warga sipil.
Koalisi pimpinan Arab Saudi telah mendukung pemerintah Yaman dalam menghadapi Houthi selama lebih dari satu dekade dalam perang saudara yang menghancurkan negara tersebut.
Gencatan senjata informal yang telah berlangsung selama empat tahun mulai runtuh pada Juli, ketika Houthi mengumumkan “embargo maritim” terhadap Arab Saudi dan mulai melancarkan serangan rudal serta drone terhadap bandara, fasilitas minyak, dan kapal tanker Saudi di Laut Merah.
Houthi mengatakan serangan tersebut merupakan balasan atas blokade Saudi terhadap pelabuhan dan bandara di wilayah yang mereka kuasai, serta serangan udara terhadap Bandara Sanaa yang mereka tuduhkan dilakukan oleh kerajaan tersebut.
