Jantar Mantar di Delhi, observatorium astronomi abad ke-18 yang juga dikenal sebagai lokasi demonstrasi paling terkenal di ibu kota India, dipenuhi ratusan mahasiswa, profesional muda, dan aktivis yang telah berkemah siang dan malam selama 10 hari terakhir.
Matahari terik menyengat dengan suhu mencapai lebih dari 40 derajat Celsius. Sejumlah pemuda terlihat berdiri berkelompok, sebagian duduk, bahkan tidur di atas aspal panas yang dikelilingi barikade logam kuning milik kepolisian Delhi untuk membatasi kerumunan.
Saat para pemimpin aksi bergantian berbicara melalui pengeras suara, massa meneriakkan slogan dan menyanyikan lagu-lagu perlawanan Bollywood di bawah pengawasan polisi dan personel paramiliter.
Para demonstran, yang menyebut diri mereka “kecoak”, berasal dari gerakan satir daring bernama Cockroach Janta Party (CJP).
Mereka menuntut Menteri Pendidikan India, Dharmendra Pradhan, mengundurkan diri setelah ujian masuk utama bagi calon mahasiswa kedokteran, National Eligibility cum Entrance Test Undergraduate (NEET-UG), dibatalkan pada awal Mei akibat kebocoran soal. Para demonstran menilai Pradhan harus bertanggung jawab secara moral atas insiden tersebut.
Aksi protes semakin memanas pada Minggu waktu setempat setelah aktivis iklim ternama dari wilayah Himalaya, Sonam Wangchuk, bergabung dan memulai mogok makan tanpa batas waktu.
CJP muncul pada pertengahan Mei setelah Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, memicu kemarahan publik dengan menyamakan sebagian anak muda pengangguran yang beralih ke dunia jurnalisme dan aktivisme dengan “kecoak” dan “parasit”.
Hakim tersebut kemudian menjelaskan bahwa komentarnya ditujukan kepada orang-orang dengan “gelar palsu dan tidak sah”, bukan kepada generasi muda secara umum. Namun, gelombang kritik telanjur menyebar luas.
Tokoh utama di balik gerakan ini adalah pendiri CJP, Abhijeet Dipke, mahasiswa pascasarjana kebijakan publik berusia 30 tahun di Boston University, Amerika Serikat.
“Saya baru pulang dari gym dan sedang bermain FIFA di PS5 ketika melihat komentar ketua mahkamah agung,” kata Dipke di lokasi demonstrasi.
Ia mengaku kecewa dan bingung dengan komentar tersebut. Dalam sebuah unggahan singkat di X, ia menulis: “Bagaimana jika semua kecoak bersatu?”
Unggahan itu menarik ratusan ribu tayangan dan respons, terutama dari generasi Z.
“Banyak meme, lelucon, dan komentar bermunculan. Banyak yang bilang kami harus membuat platform sendiri, mungkin partai sendiri. Saya pikir, kenapa tidak, mari lakukan sesuatu yang gila,” ujarnya.
Melalui bantuan kecerdasan buatan atau AI, Dipke kemudian membuat logo dan maskot berupa kecoak mengenakan jas. Lahirlah Cockroach Janta Party, nama yang menyindir Bharatiya Janata Party (BJP) milik Perdana Menteri India, Narendra Modi.
Dalam hitungan hari, CJP berubah dari sekadar ruang meme dan satire menjadi forum bagi anak muda untuk menyuarakan keresahan terkait minimnya lapangan kerja dan berulangnya kebocoran soal ujian, sekaligus menuntut pertanggungjawaban pemerintah.
“Semua ini sebenarnya tidak direncanakan. Awalnya hanya satire. Namun ketika jutaan orang mulai bergabung, mereka mengatakan ingin menjadikannya gerakan serius karena tidak ada partai politik lain yang membahas kebutuhan, harapan, dan aspirasi kami,” kata Dipke.
“Karena kami adalah gerakan anak muda, kami memutuskan mengangkat isu yang paling dekat dengan kaum muda. Selama bertahun-tahun, begitu banyak ujian dibatalkan dan tidak ada yang benar-benar memperbaiki sistem atau bertanggung jawab.”
CJP bukan partai politik dan para pemimpinnya belum menunjukkan keinginan untuk mengubahnya menjadi partai resmi. Belum jelas pula apakah basis pengikut daring mereka yang mencapai 22 juta akun di Instagram dapat diterjemahkan menjadi dukungan nyata di lapangan.
Aksi protes pertama CJP yang menuntut pengunduran diri Pradhan digelar di Jantar Mantar pada 6 Juni, tak lama setelah Dipke kembali dari Boston. Kepulangannya dan rencana demonstrasi telah dipublikasikan luas sehingga banyak pihak menduga polisi tidak akan mengizinkannya hadir.
“Bahkan saya sendiri tidak menyangka bisa keluar dari bandara. Saya pikir akan ditangkap,” katanya.
Menurut Dipke, polisi mendatanginya langsung di kursi pesawat, tetapi akhirnya membiarkannya pergi. Beberapa jam kemudian, ia sudah berada di Jantar Mantar memimpin demonstrasi.
Sejak itu, CJP menggelar aksi di setengah lusin kota sebelum kembali ke Jantar Mantar pekan lalu untuk memperbarui tuntutan pengunduran diri menteri pendidikan. Kali ini, kata panitia, mereka tidak akan pergi sampai Pradhan mundur.
Namun Pradhan menolak mundur dan menyebut CJP beserta pendukungnya sebagai “tim B unsur pengacau” yang “tidak percaya pada kemajuan negara”.
Presiden BJP, Nitin Nabin, juga menyerang kelompok tersebut. Ia memperingatkan munculnya “virus baru dan partai seperti kecoak” yang ingin “menghancurkan” dan “memecah belah negara”.
Pada 21 Juni, pemerintah menggelar ujian ulang NEET-UG, tetapi langkah itu belum mampu meredakan kemarahan para demonstran di Jantar Mantar.
Di lokasi aksi, teriakan “Pradhan go back” terdengar setiap beberapa menit. Di bawah terpal kuning berdiri sebuah dinding memorial bagi para siswa yang menurut keluarga mereka meninggal bunuh diri setelah ujian NEET-UG pertama kali dibatalkan.
Seorang relawan mengangkat terpal menggunakan tongkat logam, memperlihatkan nama dan foto 14 siswa dari berbagai wilayah India. Jumlah korban kini mendekati 20 orang, menurut juru bicara utama CJP, Saurav Das.
Ratusan pesan dukungan tertulis di bawah foto-foto tersebut. Salah satunya berbunyi: “Jika bukan kita yang melawan, siapa lagi? Jika bukan kita yang berbicara, siapa lagi?”
Sambil menunjuk foto-foto itu, guru sekolah Sheetal Choudhary mengatakan para siswa tersebut mengambil pinjaman untuk belajar menghadapi ujian.
“Mereka bukan berasal dari keluarga berada. Mereka berasal dari keluarga sangat miskin dan terpinggirkan. Mereka adalah tipe murid yang saya ajar di kelas,” katanya.
Mahasiswi Tamannah Kumari, yang berharap dapat bergabung dengan kepolisian, mengatakan ia datang setiap hari ke lokasi demonstrasi karena “untuk pertama kalinya ada yang berbicara untuk kami”.
“Saya sedang mempersiapkan ujian rekrutmen polisi, tetapi saya khawatir soal kebocoran ujian yang bisa merusak masa depan saya,” ujarnya.
Sambil memegang bendera CJP di satu tangan dan bendera nasional India di tangan lainnya, Tamannah menyampaikan tuntutannya dengan tegas: “Menteri pendidikan harus mundur.”
Menjelang malam, jumlah massa di Jantar Mantar terus bertambah.
“Gerakan ini tumbuh setiap hari dan momentumnya sangat kuat,” kata Das.
Menurutnya, serikat mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil mulai memberikan dukungan. Banyak orang juga mengirim makanan dan air untuk para demonstran.
“Setiap pagi saya menerima pesan dari orang yang saya kenal maupun orang asing yang bertanya bagaimana mereka bisa membantu,” katanya.
Pada Minggu, ribuan orang berkumpul menyambut Sonam Wangchuk, pendidik dan aktivis lingkungan asal Ladakh yang menginspirasi film Bollywood populer, ketika ia memulai mogok makan tanpa batas waktu.
“Sistem pendidikan memiliki banyak masalah, bahkan sistem ujiannya pun gagal. Saya datang untuk mendukung anak-anak muda ini dalam perjuangan mereka menuntut akuntabilitas pendidikan dari menteri pendidikan,” kata Wangchuk
Namun, menurutnya, pemerintah “tidak responsif dan tidak peka”.
Ketika ditanya berapa lama ia mampu bertahan mogok makan di tengah suhu di atas 40 derajat Celsius, Wangchuk menjawab: “Ini baru hari-hari awal jadi belum ada masalah. Saya tidak terlalu memikirkan kesehatan. Pilihannya hanya dua: kematian atau rangkaian mogok makan tanpa batas ini, mana yang datang lebih dulu.”
Sementara itu, para demonstran menegaskan mereka tidak akan meninggalkan lokasi sampai Pradhan mengundurkan diri.
Namun, menurut Das, pengunduran diri Pradhan “hanyalah satu pertempuran dan sebuah pertempuran bisa dimenangkan dalam hitungan hari, minggu, atau bulan”.
“Tetapi semua orang di sini, baik yang berada di lapangan maupun yang mendukung kami secara daring, tahu bahwa ini adalah perang. Dan perang tidak bisa dimenangkan dalam waktu singkat.”
Ia mengatakan tujuan utama gerakan itu adalah menciptakan sistem yang transparan, akuntabel, dan dapat dimintai pertanggungjawaban.
“Itu adalah perjuangan jangka panjang,” ujarnya.
