Ketika Harmanpreet Kaur mencetak century yang tak terlupakan melawan Australia pada semifinal Piala Dunia 2017, ia bukan hanya mengubah jalannya pertandingan, tetapi juga mengubah arah perkembangan kriket putri di India.
India kemudian kalah dari Inggris di final pada tahun tersebut. Namun, sejak saat itu kriket putri tidak lagi sekadar menjadi tontonan sesaat bagi rata-rata penggemar olahraga di India.
Semangat pantang menyerah untuk meraih kemenangan yang ia tanamkan dalam tim membantu India merebut gelar Piala Dunia putri pertama mereka delapan tahun kemudian, sebuah pencapaian yang gagal mereka raih pada 2017. Kali ini, India melakukannya dengan meyakinkan.
Kurang dari setahun setelah pencapaian tersebut, dan hanya beberapa pekan setelah kemenangan di Piala Asia serta Asian Games, Harmanpreet melepaskan jabatan kapten. Keputusan itu mengakhiri sebuah era ketika ia menjadi pemimpin paling berpengaruh di tim sekaligus salah satu sosok paling dikenal dalam olahraga tersebut.
Smriti Mandhana, pemain pembuka sekaligus wakil kapten Harmanpreet selama bertahun-tahun, ditunjuk sebagai kapten India di semua format.
Sekretaris Board of Control for Cricket in India (BCCI), Devajit Saikia, pelatih Amol Muzumdar, Harmanpreet, dan Mandhana menghadiri rapat evaluasi yang mengesahkan perubahan kepemimpinan tersebut. Namun, proses pergantian itu tidak sepenuhnya berlangsung mulus.
Laporan menyebut Harmanpreet, 37 tahun, bersedia segera melepaskan jabatan kapten tim T20, tetapi ingin tetap memimpin tim dalam format One-Day International (ODI) dan Test agar para pemain muda dapat memperoleh manfaat dari pengalamannya.
Namun, BCCI menginginkan sosok yang lebih muda sebagai pemimpin dan memilih Mandhana yang berusia 30 tahun.
Dalam beberapa hal, keputusan tersebut mencerminkan langkah BCCI mengganti Suryakumar Yadav sebagai kapten tim T20 putra tak lama setelah India menjuarai Piala Dunia awal tahun ini, dengan jabatan kapten kemudian diberikan kepada Shreyas Iyer.
Masa depan Harmanpreet sebagai kapten telah menjadi perdebatan sengit di kalangan komunitas kriket setelah penampilan India yang di bawah standar pada Piala Dunia T20 di Inggris beberapa bulan lalu.
Performa buruk Harmanpreet dengan bat juga memperbesar kekhawatiran dan mendorong BCCI mempertimbangkan perubahan yang dapat membantu tim menghadapi tantangan yang semakin besar dalam kriket putri, yang terus berkembang pesat di seluruh dunia.
Menjelang ulang tahunnya yang ke-38 dan setelah hampir satu dekade memimpin tim, Harmanpreet menghadapi sorotan yang semakin besar seiring menurunnya performanya. Pandangan mengenai apakah ia masih layak mempertahankan jabatan kapten terbelah tajam di antara para mantan pemain dan kapten tim putri.
Mantan pemain kriket Diana Edulji, salah satu nama paling dihormati dalam olahraga tersebut, menilai Harmanpreet telah melakukan segala hal yang secara wajar dapat diharapkan darinya dan sudah waktunya kapten yang lebih muda mengambil alih. Sementara itu, mantan kapten Anjum Chopra berpendapat pengalaman Harmanpreet masih sangat berharga dan ia seharusnya tetap memimpin tim.
Menyadari bahwa BCCI sangat condong untuk melakukan perubahan, Harmanpreet memilih mundur dalam rapat evaluasi tersebut. Ia kemudian mengumumkan keputusannya melalui unggahan Instagram yang emosional.
“Saya merasa telah menjalankan tugas saya. Saya memberikan segalanya yang saya miliki untuk tim ini,” tulisnya.
“Sekarang waktunya bagi saya untuk membuka lembaran baru… Darah. Keringat. Pengorbanan. Kebanggaan. Saya memberikan semuanya. Kini saya siap kembali bermain karena kecintaan terhadap permainan ini.
“Jabatan kapten berakhir, tetapi perjalanan terus berlanjut.”
Keinginan Harmanpreet untuk tetap bermain kini membuat BCCI harus mengambil keputusan lain terkait masa depannya.
Dalam kasus Suryakumar Yadav, ia tidak hanya kehilangan jabatan kapten, tetapi juga tempatnya di tim T20 India. Dengan kedalaman talenta yang tersedia dalam kriket putra, Ajit Agarkar dan para anggota tim seleksi lebih mudah mengambil keputusan yang sejak awal kemungkinan besar akan menuai perdebatan.
Situasinya berbeda dalam kriket putri. Terlepas dari performanya yang relatif kurang baik belakangan ini, menggantikan pemain dengan pengalaman dan status seperti Harmanpreet bukan perkara mudah karena regenerasi pemain belum sedalam yang dimiliki kriket putra.
Apa pun yang terjadi pada masa depan, Harmanpreet telah menorehkan salah satu karier paling berkesan dalam sejarah kriket putri. Karier yang berlangsung lebih dari dua dekade itu dipenuhi pencapaian dan tonggak penting.
Lahir dari keluarga sederhana di kota Moga, Punjab, Harmanpreet mengembangkan kecintaan terhadap kriket sejak usia dini.
Dukungan keluarganya sangat penting pada tahun-tahun awal. Namun, jalan menuju pengakuan di tingkat nasional terbuka setelah ia bergabung dengan Railways, sebuah kepindahan yang difasilitasi Diana Edulji, dan kemudian pindah ke Mumbai.
Fasilitas yang lebih baik serta profesionalisme yang lebih tinggi dalam budaya olahraga Mumbai membantu mempercepat perkembangannya sebagai pemain.
Harmanpreet menjalani debut bersama India pada 2009 saat berusia 20 tahun dan sejak itu terus menjadi bagian penting tim nasional di berbagai format.
Sebagai pemain serba bisa selama sebagian besar dekade pertamanya di dunia kriket, ia menjadi sosok tak tergantikan berkat kemampuan memukul eksplosif di urutan tengah, bowling off-spin yang cerdik, serta kemampuan fielding yang tajam.
Century spektakulernya melawan Australia pada semifinal Piala Dunia ODI putri 2017 tetap menjadi salah satu penampilan paling ikonik dalam sejarah kriket putri. India kemudian kalah dari Inggris di final, tetapi kemenangan atas Australia merupakan pencapaian monumental.
Century tersebut juga membantu memicu minat yang lebih luas terhadap kriket putri di India dan mengubah Harmanpreet menjadi sosok yang dikenal luas oleh masyarakat.
Dekade kedua kariernya menunjukkan kemampuannya sebagai batter sekaligus kapten. Setelah menggantikan Mithali Raj sebagai kapten T20 pada 2016, Harmanpreet mengambil alih kepemimpinan di semua format pada 2022 dan kemudian membawa India meraih sejumlah kesuksesan terbesar dalam sejarah mereka.
Kepemimpinannya ditandai dengan dorongan agresif untuk meraih kemenangan. Pendekatan berani tersebut menanamkan kepercayaan diri dan ambisi kepada rekan-rekan setimnya, membantu India mengalahkan Australia yang sebelumnya kerap dianggap sulit ditaklukkan, terutama pada semifinal Piala Dunia ODI 2025.
Berbeda dengan 2017, Harmanpreet tidak mampu mencetak century dalam pertandingan tersebut. Namun, 89 run yang ia bukukan sebagai kapten merupakan penampilan luar biasa. Bersama century Jemimah Rodrigues, kontribusinya membantu India meraih kemenangan bersejarah atas rival utama mereka.
India kemudian mengalahkan Afrika Selatan di final untuk mencapai apa yang dianggap banyak pihak sebagai puncak pencapaian dalam sejarah kriket putri India.
Dengan berbagai gelar dan trofi yang diraih di bawah kepemimpinannya, Harmanpreet meninggalkan warisan besar bagi penerusnya, Smriti Mandhana, untuk diteruskan.
