Raja Charles III bergabung dengan dunia seni dalam memberikan penghormatan kepada David Hockney, salah satu seniman paling penting dan paling populer yang pernah dimiliki Inggris, yang meninggal dunia pada usia 88 tahun.
Dalam pesan pribadinya, Raja Charles mengatakan bahwa dirinya dan Ratu Camilla “sangat berduka” atas wafatnya “seorang raksasa dunia seni dan lukis, putra sejati Yorkshire, serta sahabat dan sumber inspirasi bagi begitu banyak orang”.
Seniman Dame Tracey Emin mengatakan dirinya merasa beruntung pernah mengenal Hockney.
“Seorang seniman hebat dan pria luar biasa yang, melalui kekuatan seni, mengubah cara pandang terhadap identitas Inggris. Seorang homoseksual yang bangga dan perokok berat yang mengibarkan bendera lebih tinggi daripada seniman Inggris mana pun lainnya,” ujarnya.
Sepanjang kariernya yang berlangsung selama tujuh dekade, Hockney dikenal melalui karya-karya yang penuh warna dan inovatif, mulai dari lanskap kampung halamannya di Yorkshire, lukisan kolam renang Los Angeles yang bermandikan sinar matahari, hingga potret keluarga dan sahabat yang dibuat menggunakan iPad.
Raja Charles Kenang Sosok yang Tak Tergantikan
Dalam pernyataannya, Raja Charles mengenang berbagai pertemuannya dengan Hockney, termasuk saat jamuan makan Order of Merit pada 2022 ketika sang seniman hadir dengan alas kaki yang tidak biasa.
“David adalah salah satu pribadi paling orisinal yang pernah ada. Ia mengenakan kejeniusannya seringan sepatu Crocs kuning kesayangannya yang selalu membawa keceriaan dalam berbagai acara di istana.”
“Saya berharap sepatu itu menuntunnya melangkah dengan aman menuju kehidupan berikutnya saat kita berduka atas kehilangan seorang pria dengan pesona yang tak pernah padam, bakat luar biasa, dan semangat inovasi yang akan sangat dirindukan. Namun kreativitasnya yang memukau akan terus hidup di galeri dan museum di seluruh dunia.”
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengatakan dirinya sedih mendengar kabar wafatnya “salah satu seniman paling termasyhur yang pernah dimiliki Inggris”.
Juru bicara Downing Street menambahkan bahwa karya Hockney yang hidup dan mudah dikenali telah memengaruhi generasi demi generasi seniman, sementara pikiran perdana menteri saat ini tertuju kepada keluarga dan sahabat yang ditinggalkan.
Warisan Besar bagi Dunia Seni
Direktur galeri Tate Britain, Alex Farquharson, menggambarkan Hockney sebagai sosok yang “sangat penting” dan “seniman yang tak pernah berhenti berinovasi dengan visi unik terhadap dunia”.
Ia mengenang Hockney sebagai pribadi yang selalu berani menjadi dirinya sendiri, baik dalam karya maupun kehidupannya.
“Ia mengajarkan kita kegembiraan dalam melihat, memperhatikan hal-hal yang luput dari perhatian orang lain. Pengamatan tajam dan penuh humor selalu hadir dalam karya-karyanya maupun dalam dirinya secara pribadi,” katanya.
Menurut Farquharson, kepergian Hockney merupakan kehilangan besar bagi dunia seni.
“Wafatnya David menutup perjalanan sebuah karya luar biasa yang terus ditandai oleh pembaruan dan penemuan kembali.”
Ia juga memuji bakat luar biasa Hockney, kecintaannya pada seni dan kehidupan, serta pandangan-pandangannya yang mendalam dan tidak konvensional.
“Pengaruh karyanya terhadap budaya akan terus terasa, jauh melampaui dunia seni.”
Di tingkat internasional, Hockney juga diakui sebagai tokoh besar seni kontemporer.
Centre Pompidou di Paris, yang pernah menggelar dua pameran besar karyanya, menyebut Hockney sebagai “salah satu figur utama seni kontemporer yang tidak diragukan lagi”.
Lembaga tersebut menambahkan bahwa karya-karya yang ditinggalkannya akan tetap “memukau, hidup, dan abadi”.
Ikon Seni Inggris dan Pelopor Representasi LGBTQ+
Seniman Inggris Grayson Perry mengatakan karya-karya awal Hockney memiliki nuansa khas Inggris yang muram, namun setelah kembali dari Amerika Serikat, ia berubah menjadi “semacam penyair musim semi”.
Menurut Perry, Hockney merupakan sosok pelopor bukan hanya karena karya-karyanya, tetapi juga karena siapa dirinya dan nilai-nilai yang ia perjuangkan.
“Ia adalah figur publik dalam banyak hal. Bukan hanya karya seninya yang menjadi pernyataan, tetapi dirinya sendiri juga merupakan sebuah pernyataan,” ujarnya
Kabar kematian Hockney diumumkan pada Jumat oleh perwakilannya.
“Seniman Inggris ternama David Hockney, salah satu tokoh paling penting dalam seni kontemporer abad ke-20 dan ke-21, meninggal dengan tenang di rumahnya pada 11 Juni 2026, satu bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-89,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Pernyataan itu menambahkan bahwa warisan yang ditinggalkannya mencerminkan kecintaannya pada kehidupan, selera humornya yang luar biasa, kemurahan hatinya, serta rasa ingin tahunya yang besar, yang terangkum dalam ungkapan khasnya: “Love Life”.
Pengaruhnya Akan Terus Hidup
Tate menyatakan akan tetap melanjutkan dua proyek besar yang telah direncanakan bersama tim Hockney untuk tahun depan.
Salah satunya adalah pameran besar di Tate Britain yang menampilkan perjalanan tujuh dekade karyanya. Proyek lainnya berupa instalasi multimedia di Turbine Hall Tate Modern yang akan menghidupkan kembali desain panggung opera ciptaannya.
Menurut Tate, pameran Hockney pada 2017 menjadi pameran dengan jumlah pengunjung terbanyak dalam sejarah Tate Britain.
Hockney juga meninggalkan jejak penting di dunia digital.
CEO Apple yang akan segera mengakhiri masa jabatannya, Tim Cook, menulis di X bahwa Hockney telah menunjukkan bahwa kreativitas tidak memiliki batas.
“Ia mengubah iPad menjadi kanvas bagi sebagian karya seni paling hidup di era kita. Warisannya akan menginspirasi kita semua untuk melihat dunia dengan cara yang lebih indah,” tulis Cook.
“Revolusioner Seni Inggris”
Wali Kota West Yorkshire, Tracy Brabin, menyebut Hockney sebagai salah satu putra terbaik Yorkshire.
“Seorang anak Bradford yang mengubah dunia seni untuk selamanya. Karya-karya perintisnya yang penuh warna mengubah arah seni modern dan akan terus menginspirasi generasi mendatang,” tulisnya di media sosial X.
Sementara itu, Wali Kota London, Sadiq Khan, menyebut Hockney sebagai “ikon sejati dan revolusioner seni Inggris yang tidak pernah berhenti menemukan kembali karyanya”.
Menurut Khan, lukisan-lukisan Hockney yang menggambarkan perubahan musim membuatnya semakin menyadari keindahan sekaligus kerapuhan alam yang harus dijaga.
Dominic James Bilton, salah satu pemimpin Queer British Art Network, mengatakan bahwa dunia telah kehilangan seseorang yang memperjuangkan perubahan sosial jauh sebelum menjadi gay diterima secara sosial dan budaya.
“Ia memelopori seni queer Inggris sebelum hal itu menjadi sesuatu yang populer dan sebelum masyarakat modern membangunnya lebih jauh,” katanya.
Bilton menyebut Hockney sebagai “raksasa seni queer Inggris” yang sangat menginspirasi.
Anggota House of Lords dari Partai Buruh, Michael Cashman, juga memberikan penghormatan dengan mengatakan bahwa Hockney selalu menyampaikan kebenaran kepada dunia, baik dunia siap menerimanya maupun tidak.
Ia mengungkapkan bahwa ketika organisasi hak-hak LGBTQ+ Stonewall didirikan, Hockney menyumbangkan sebuah karya seni senilai US$250.000 untuk membantu membiayai tahun-tahun awal organisasi tersebut.
Dari Jalanan Bradford ke Panggung Dunia
Pakar seni dari program Antiques Roadshow, Frances Christie, mengatakan daya tarik Hockney terletak pada kemampuannya mengangkat subjek sehari-hari menjadi karya luar biasa.
“Ia melukis manusia, lanskap di sekelilingnya, baik di Yorkshire, Grand Canyon, California, Normandy, maupun wilayah lain di Prancis,” katanya.
Menurut Christie, Hockney adalah seorang maestro warna.
“Ia tidak pernah takut menggunakan kombinasi warna yang berani dan dinamis. Yang paling penting, ada energi dalam lukisan-lukisannya. Karya-karyanya sering kali menghadirkan kegembiraan. Anda bisa merasakan kehangatan dan energinya, tetapi pada saat yang sama juga berbagai emosi lainnya.”
Sejarawan seni Richard Morris menambahkan bahwa pencapaian terbesar Hockney adalah membuat seni lukis serius terlihat begitu mudah.
“Ia melanjutkan salah satu eksplorasi paling mendalam mengenai penglihatan, ruang, dan representasi yang pernah dilakukan seniman pasca-Perang Dunia II. Seni Inggris kehilangan seorang raksasa,” tulisnya di X.
Hockney mempelajari seni dengan cara sederhana, mendorong kereta bayi berisi perlengkapan melukis sambil berkarya di jalan-jalan kota kelahirannya.
Setelah menempuh pendidikan di Bradford School of Art, ia melanjutkan studi ke Royal College of Art dan lulus dengan predikat medali emas.
Presiden sekaligus Wakil Rektor Royal College of Art, Profesor Christoph Lindner, mengatakan rasa ingin tahu Hockney yang tak terbatas, penguasaan warna yang luar biasa, serta keberaniannya merangkul teknologi baru telah mengubah arah seni modern.
“Warisannya akan terus menginspirasi dan menantang generasi seniman di masa depan.”
Setelah pindah ke Los Angeles pada 1964, gaya khas Hockney mulai dikenal luas melalui seri lukisan kolam renangnya yang menggambarkan kehidupan California.
Karya terkenalnya yang lain termasuk Mr and Mrs Clark and Percy (1971), potret desainer mode Ossie Clark, desainer tekstil Celia Birtwell, dan kucing mereka.
Tahun lalu, saat berbicara kepada editor budaya Katie Razzall, mengenai pameran terbesar dalam hidupnya di Fondation Louis Vuitton, Paris, Hockney mengaku pernah ragu akan hidup cukup lama untuk menyaksikannya.
“Saya pikir mungkin saya tidak akan berada di sini lagi,” katanya saat itu. “Saya masih seorang perokok, perokok yang bahagia, dan lelah dengan orang-orang yang selalu mengatur apa yang harus Anda lakukan.”
Pameran tersebut menampilkan galeri khusus yang merayakan kecintaannya pada musim semi. Ketika tinggal di Normandy selama pandemi pada 2020, Hockney menggunakan iPad untuk melukis pepohonan dan bunga-bunga yang bermekaran saat musim semi tiba.
Hockney meninggalkan pasangan sekaligus pendamping hidupnya selama bertahun-tahun, Jean-Pierre Gonçalves de Lima, keponakan buyutnya Richard yang menjadi asisten studio pada tahun-tahun terakhir kehidupannya, dua saudara laki-lakinya Philip dan John, serta para keponakan dan keluarga besarnya.
