Mantan Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman meninggalkan Gedung Putih tanpa sumber pendapatan selain pensiun militernya sebesar US$113 per bulan, atau sekitar Rp1,8 juta dengan kurs saat ini.
Truman pernah menulis bahwa memanfaatkan “prestise dan martabat jabatan presiden” untuk kepentingan komersial adalah sesuatu yang keliru.
Puluhan tahun kemudian, Presiden AS ke-43 George W. Bush menempatkan investasinya dalam blind trust sebelum maju sebagai presiden, dan bahkan mengaku tidak mengetahui dampak krisis ekonomi 2008 terhadap kekayaan pribadinya saat meninggalkan jabatan.
Namun situasi berbeda terjadi pada Presiden AS saat ini, Donald Trump.
Menurut laporan pengungkapan keuangan terbaru, Trump memperoleh sedikitnya US$2,2 miliar atau sekitar Rp35,7 triliun pada tahun pertama masa jabatan keduanya di Gedung Putih.
Sejarawan menilai angka tersebut belum pernah terjadi sebelumnya dan mematahkan tradisi panjang presiden AS yang berusaha menghindari konflik kepentingan finansial saat menjabat.
“Tidak ada presedennya,” kata Barbara Perry, sejarawan kepresidenan dari Miller Center, University of Virginia.
“Ini melampaui apa pun yang pernah kita lihat dalam sejarah kepresidenan Amerika.”
Laporan pendapatan Trump pada 2025 memperlihatkan besarnya keuntungan yang diperolehnya sejak kembali berkuasa, melalui berbagai bisnis yang kerap mengaburkan batas antara kebijakan pemerintahan dan kepentingan bisnis pribadi presiden, keluarganya, serta para penasihat dekatnya.
Lebih dari US$1 miliar dari kripto
Menurut dokumen pengungkapan keuangan wajib yang dipublikasikan Selasa waktu AS, Trump memperoleh sekitar US$1,4 miliar atau sekitar Rp22,7 triliun hanya dari industri cryptocurrency.
Trump melaporkan pendapatan royalti sebesar US$635 juta atau sekitar Rp10,3 triliun dari Celebration Coins, entitas yang diyakini berada di balik koin meme $TRUMP yang diluncurkannya menjelang masa jabatan kedua dimulai.
Presiden AS itu juga melaporkan pemasukan lebih dari US$500 juta atau sekitar Rp8,1 triliun dari perusahaan cryptocurrency World Liberty Financial.
Perusahaan tersebut didirikan oleh putra-putra Trump, Donald Trump Jr. dan Eric Trump, bersama anak-anak Steve Witkoff, utusan khusus Trump untuk Timur Tengah dan Ukraina.
Pendapatan Trump pada 2025 hampir empat kali lebih besar dibandingkan US$622 juta yang ia laporkan pada 2024, setahun sebelum kembali menjabat sebagai presiden.
Gedung Putih membantah bahwa Trump dan keluarganya mengambil keuntungan dari jabatan presiden.
Wakil sekretaris pers Gedung Putih, Anna Kelly, mengatakan dalam pernyataannya bahwa “baik Presiden maupun keluarganya tidak pernah dan tidak akan pernah terlibat dalam konflik kepentingan”.
Ia menambahkan bahwa seluruh tindakan Trump dan pemerintahannya dilakukan demi kepentingan rakyat Amerika.
Skandal lama versus era Trump
Dalam sejarah AS, sejumlah presiden memang pernah dikaitkan dengan skandal finansial.
Para sejarawan menunjuk periode setelah Perang Saudara Amerika, ketika pejabat Departemen Keuangan di era Presiden Ulysses S. Grant terlibat skandal penjualan emas dan pungutan bea cukai.
Pada era Presiden Warren G. Harding di 1920-an, Menteri Dalam Negeri AS menerima suap terkait pemberian konsesi minyak dalam kasus yang dikenal sebagai skandal Teapot Dome.
Namun dalam kasus-kasus tersebut, presiden tidak dituduh memperkaya diri secara langsung saat menjabat.
Memasuki era modern sejak kepemimpinan Franklin D. Roosevelt pada 1933, sejumlah presiden memiliki anggota keluarga yang mencoba memanfaatkan hubungan mereka dengan Gedung Putih.
Saudara Presiden Jimmy Carter pernah mempromosikan merek bir, sementara putra Joe Biden, yakni Hunter Biden, memperoleh penghasilan dari perusahaan energi Ukraina ketika Biden masih menjabat wakil presiden.
Namun para sejarawan menilai kasus-kasus itu tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh Trump dan bisnis keluarganya sejak kembali berkuasa.
“Inilah perbedaan besar antara Trump dan presiden-presiden sebelumnya,” kata Perry.
“Menghasilkan uang dalam jumlah sangat besar saat menjabat mungkin tidak ilegal, tetapi secara etika bermasalah. Kebanyakan presiden sebelumnya tidak ingin melakukannya.”
Bisnis keluarga dan kebijakan Gedung Putih
Sebelum memulai masa jabatan pertamanya pada 2017, Trump menyerahkan kendali bisnis keluarganya, Trump Organization, kepada kedua putranya yang telah dewasa.
Namun langkah itu berbeda dengan tradisi presiden-presiden sebelumnya karena Trump tidak menempatkan aset bisnisnya dalam blind trust tradisional maupun melepas kepemilikan properti dan investasinya.
Langkah serupa kembali dilakukan menjelang masa jabatan keduanya.
Trump Organization menyatakan Trump tidak akan terlibat dalam operasional harian perusahaan selama menjabat presiden.
Saat itu, Eric Trump mengatakan Trump Organization akan menjalankan “standar etika yang kuat” selama masa jabatan kedua ayahnya.
Meski demikian, Trump disebut mengambil sejumlah keputusan di Gedung Putih yang turut menguntungkan bisnis pribadinya maupun perusahaan yang terkait pejabat senior pemerintahannya.
Pada Juli tahun lalu, Trump menandatangani undang-undang yang mendukung stablecoin, jenis mata uang kripto, hanya empat bulan setelah World Liberty Financial meluncurkan bisnis mata uang digitalnya sendiri.
Menurut laporan keuangan tersebut, perusahaan itu menghasilkan sedikitnya US$500 juta bagi Trump sepanjang 2025.
Pada Oktober lalu, Trump juga memberikan pengampunan kepada miliarder pendiri Binance, Changpeng Zhao.
Langkah itu terjadi ketika Trump secara terbuka memuji industri kripto dalam beberapa bulan awal masa jabatan keduanya, meski sebelumnya pernah menyebut industri tersebut sebagai “bencana yang menunggu terjadi”.
Bisnis keluarga Trump dan sejumlah rekan dekatnya juga memperoleh keuntungan di sektor lain di luar cryptocurrency.
tahun lalu Trump mencapai kesepakatan dengan Presiden Kazakhstan yang memberi perusahaan Amerika akses ke proyek mineral penting di negara tersebut.
Setelah itu, Eric Trump dan Donald Trump Jr. mengambil saham minoritas di perusahaan yang terlibat dalam proyek pertambangan tersebut.
Perusahaan investasi Cantor Fitzgerald, yang dijalankan anak-anak Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick, juga ikut terlibat dalam kesepakatan itu.
Pada Rabu, Donald Trump mengatakan keuntungan yang diperolehnya berasal dari kenaikan pasar saham dan mengklaim dirinya tidak terlibat langsung dalam bisnis keluarganya.
“Saya tidak terlibat dalam urusan keuangan pribadi saya. Ada pihak yang mengelola dana saya,” kata Trump kepada wartawan.
“Saya sudah menghasilkan banyak uang sebelum menjadi presiden, dan mereka yang menginvestasikan uang saya. Saya tidak membicarakannya dengan mereka.”
Namun para pengawas etika pemerintahan menilai keuntungan Trump, khususnya dari cryptocurrency, tetap menimbulkan persoalan serius.
“Tentu saja ini konflik kepentingan,” kata Richard Painter, mantan pengacara etika utama Gedung Putih di era George W. Bush
“Ini situasi yang sangat mengkhawatirkan bagi rakyat Amerika ketika melihat presidennya menghasilkan begitu banyak uang.”
