Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menghadapi tenggat 1 Juli untuk menentukan masa depan perjanjian perdagangan bebas Amerika Utara yang telah berlangsung lama. Namun, berbagai tanda menunjukkan ketiga negara kemungkinan akan melewati batas waktu itu tanpa kesepakatan yang jelas.
Pada Rabu waktu setempat, perwakilan perdagangan dari ketiga negara dijadwalkan menggelar pertemuan formal pertama sejak proses peninjauan ulang perjanjian USMCA dimulai. Kanada dan Meksiko telah menyatakan ingin memperpanjang perjanjian tersebut, sementara Amerika Serikat belum mengungkapkan posisi resminya.
Presiden Donald Trump bahkan baru-baru ini mengatakan dirinya melihat perjanjian itu “akan segera berakhir”, dengan alasan Amerika Serikat akan lebih diuntungkan tanpa kesepakatan tersebut.
Lalu bagaimana nasib USMCA, perjanjian dagang yang mencakup sekitar 510 juta penduduk Amerika Utara? Dan apa yang terjadi jika tidak ada kesepakatan hingga tenggat waktu?
Berikut hal-hal yang diketahui sejauh ini.
Tenggat 1 Juli Diperkirakan Berlalu Tanpa Keputusan
Satu hal yang dianggap pasti adalah Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko sama-sama tidak memperkirakan keputusan final akan tercapai pada Rabu.
Peninjauan ulang USMCA memang sudah dijadwalkan berlangsung musim panas ini sebagai bagian dari kesepakatan awal. Namun, kebijakan tarif Trump dan respons Kanada membuat negosiasi menjadi lebih rumit.
Pejabat Kanada memperkirakan pembicaraan dengan Amerika Serikat akan berlanjut melewati 1 Juli, meski belum jelas sampai kapan. Meksiko dan AS bahkan telah mengumumkan putaran baru negosiasi bilateral resmi pada akhir bulan ini.
kantor Menteri Perdagangan Kanada-AS Dominic LeBlanc mengatakan pertemuan Rabu akan menjadi “kesempatan untuk melanjutkan pembicaraan bilateral yang positif dan konstruktif” dengan kedua negara dalam beberapa pekan terakhir.
“Ia menantikan untuk terus mendukung pekerja, petani, dan pelaku usaha Kanada, pada 1 Juli dan setelahnya,” demikian isi pernyataan tersebut.
Perjanjian USMCA saat ini dinegosiasikan pada masa jabatan pertama Trump dan menggantikan North American Free Trade Agreement (NAFTA) yang telah berlaku sejak 1990-an.
Perjanjian itu menopang perdagangan tahunan senilai hampir US$1,6 triliun atau sekitar Rp26 ribu triliun antara ketiga negara, membantu integrasi sektor penting seperti industri otomotif Amerika Utara, serta mendukung jutaan lapangan kerja di kawasan tersebut.
USMCA juga menjadi pelindung penting bagi Kanada dan Meksiko dari sebagian besar tarif AS karena pemerintahan Trump memberikan pengecualian tarif untuk banyak produk yang tercakup dalam perjanjian itu.
Perjanjian tersebut mendapat dukungan luas di Amerika Serikat. Survei Ipsos pada akhir 2025 untuk Chicago Council on Global Affairs menunjukkan 75% warga AS menilai USMCA bermanfaat bagi perekonomian.
Apa yang Menghambat Kesepakatan?
Sejak peninjauan ulang dimulai awal tahun ini, AS melakukan pembicaraan terpisah dengan Kanada dan Meksiko untuk menyelesaikan berbagai persoalan perdagangan.
Muncul anggapan bahwa Kanada tertinggal karena Meksiko dan AS telah beberapa kali mengumumkan putaran negosiasi resmi, sementara Kanada dan AS belum.
Namun, anggota komite penasihat perdagangan Kanada-AS yang dibentuk Perdana Menteri Mark Carney mengatakan daftar tuntutan AS kepada Kanada “jauh lebih sedikit” dibanding terhadap Meksiko dan bahwa negosiasi aktif tetap berlangsung.
Sejumlah tuntutan AS meliputi akses lebih besar bagi produsen Amerika ke pasar susu Kanada, penghapusan pajak Kanada terhadap perusahaan layanan streaming besar asal AS, serta pencabutan boikot minuman beralkohol Amerika di sejumlah provinsi Kanada yang diberlakukan sebagai respons terhadap tarif Trump.
AS juga sedang membahas aturan asal produk yang lebih ketat untuk kendaraan buatan Amerika Utara bersama Meksiko. Hal ini memicu spekulasi bahwa tuntutan serupa dapat diajukan kepada Kanada mengingat industri otomotif kawasan tersebut sangat terintegrasi.
LeBlanc dan kepala negosiator Kanada Janice Charette mengatakan awal bulan ini bahwa Kanada telah mengajukan “sejumlah proposal spesifik” untuk menjawab keberatan AS.
Bagi Kanada, salah satu hambatan terbesar adalah tarif AS terhadap sejumlah sektor penting seperti baja, aluminium, dan otomotif.
Carney menegaskan Kanada tidak bersedia menandatangani kesepakatan yang buruk. Para pelaku bisnis juga menekankan bahwa hasil paling mereka inginkan adalah tarif yang lebih rendah dan kepastian mengenai masa depan perdagangan Kanada-AS, meski negosiasi harus melewati tenggat waktu.
“Mayoritas bersedia menunggu demi kesepakatan yang baik meskipun kondisi saat ini jelas sangat menyakitkan bagi bisnis,” kata Dennis Darby, anggota komite sekaligus Presiden Canadian Manufacturers and Exporters.
Kedua negara sebenarnya disebut hampir mencapai kesepakatan pada Oktober lalu. Namun, kemajuan negosiasi terganggu setelah Provinsi Ontario menayangkan iklan anti-tarif di jaringan televisi Amerika yang membuat Trump marah, kata Duta Besar AS untuk Kanada Pete Hoekstra.
“Mereka sangat, sangat dekat mencapai kesepakatan, lalu tiba-tiba semuanya hilang,” kata Hoekstra dalam wawancara dengan stasiun televisi Kanada CTV pekan lalu.
Apa yang Terjadi Jika Tenggat 1 Juli Terlewat?
Selama negosiasi berlanjut, USMCA tetap berlaku hingga tanggal kedaluwarsanya pada 2036.
Sementara itu, ketiga negara memiliki tiga pilihan:
Ketiganya sepakat memperpanjang perjanjian selama 16 tahun lagi hingga 2042.
Jika gagal mencapai kesepakatan bersama, proses peninjauan tahunan seperti yang berlangsung saat ini akan terus dilakukan hingga perjanjian berakhir.
Salah satu pihak dapat secara resmi menyatakan niat keluar dari perjanjian dengan pemberitahuan enam bulan kepada negara lainnya.
Meski Trump berulang kali menyampaikan ketidaksukaannya terhadap USMCA, para pelaku usaha Kanada menilai kemungkinan AS benar-benar keluar dari perjanjian masih kecil.
“Semua berharap itu tidak terjadi,” kata Darby. Ia menambahkan bahwa negosiator perdagangan AS memahami perjanjian tersebut menguntungkan ketiga negara.
Namun, ia mengakui proses peninjauan tahunan yang berkepanjangan bukan situasi ideal karena menciptakan ketidakpastian yang merugikan pelaku bisnis Kanada.
Menurutnya, keputusan akhir kemungkinan besar tetap berada di tangan presiden AS.
Hoekstra menyampaikan pandangan serupa kepada CTV dengan mengatakan masa depan perdagangan bebas Amerika Utara kini berada di tangan Trump dan Carney.
Pernyataan Trump mengenai USMCA juga dinilai bertolak belakang. Ia pernah mengatakan “tidak ingin memperpanjangnya”, tetapi di kesempatan lain menyebut dirinya “terbuka” untuk mempertahankan perjanjian tersebut.
Carney sendiri mengatakan bukan rahasia lagi bahwa Trump tidak menyukai USMCA. Namun, ia menilai para negosiator perdagangan AS tetap mengakui bahwa “struktur dasar” perjanjian itu masih kuat.
“Apa yang saya lihat dari presiden adalah, Anda tampak belum dekat dengan kesepakatan, lalu tiba-tiba kesepakatan tercapai,” kata Carney kepada wartawan baru-baru ini.
