Seorang seniman China yang dikenal melalui patung-patung satir tentang Mao Zedong dijatuhi hukuman penjara maksimal tiga tahun karena dianggap “memfitnah pahlawan China”, menurut sejumlah kelompok hak asasi manusia.
Pengadilan di Provinsi Hebei pada Selasa memutuskan bahwa karya Gao Zhen “melanggar reputasi pahlawan dan merugikan kepentingan publik”.
Salah satu karya paling terkenal seniman berusia 70 tahun itu, yang dibuat bersama saudaranya, Gao Qiang, adalah patung yang menampilkan sekelompok figur menyerupai Mao dengan senjata diarahkan kepada Yesus Kristus.
Gao telah ditahan selama dua tahun terakhir. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai kelompok hak asasi manusia telah menyerukan agar dirinya dibebaskan. Amnesty International menyebut vonis tersebut sebagai “serangan” terhadap kebebasan berekspresi artistik.
Gao pindah ke Amerika Serikat pada 2022, tetapi ditangkap di studionya di pinggiran Beijing ketika berkunjung ke China pada Agustus 2024.
Pihak berwenang menyita karya-karyanya dan melarang istri serta putranya yang berusia tujuh tahun meninggalkan China.
Para pengamat China mengatakan penangkapan Gao Zhen menunjukkan Partai Komunis China semakin memperluas jangkauan kekuasaannya, termasuk dengan mengawasi warganya secara lintas negara dan menerapkan tindakan hukum secara retrospektif.
Gao didakwa berdasarkan undang-undang yang mulai berlaku pada Maret 2018 dan melarang pencemaran nama baik terhadap tokoh-tokoh sejarah yang terkait dengan Partai Komunis China.
Patung Execution of Christ karya Gao bersaudara dipamerkan pada 2009, demikian pula dua patung lain yang disebut dalam perkara tersebut.
Kedua karya itu adalah Mao’s Guilt, replika seukuran manusia yang menampilkan sang pemimpin berlutut dalam pose penuh penyesalan, serta Miss Mao, yang menggambarkan Mao dengan payudara besar dan hidung panjang menyerupai tokoh Pinokio.
Perkara Gao disidangkan dalam persidangan tertutup selama satu hari pada awal tahun ini dan hanya mendapat sedikit pemberitaan di China.
Amnesty International mengatakan pada Selasa bahwa Gao berencana mengajukan banding atas vonis tersebut.
Jika putusan itu tetap berlaku, Gao akan menyelesaikan masa hukumannya pada Agustus 2027 karena dua tahun yang telah ia habiskan dalam tahanan akan diperhitungkan sebagai bagian dari hukuman.
“Tidak ada seniman yang seharusnya menghadapi hukuman pidana karena menciptakan karya yang menantang narasi resmi atau mendorong refleksi kritis terhadap sejarah,” kata Direktur Amnesty International untuk China, Sarah Brooks, pada Selasa.
“Persidangan ini menunjukkan bagaimana undang-undang yang dirumuskan secara luas dan bermotif politik digunakan, dan yang lebih buruk dalam kasus ini diterapkan secara retrospektif, untuk membungkam seniman, aktivis, dan orang-orang lain yang berani menyampaikan pandangan berbeda dari pemerintah China,” katanya.
“Kasus terhadap Gao Zhen menimbulkan kekhawatiran khusus terkait penerapan hukum pidana secara retrospektif, penggunaan sanksi pidana untuk menghukum ekspresi artistik, serta dampaknya terhadap keluarganya,” kata Kantor Hak Asasi Manusia PBB kepada kantor berita AFP.
Awal tahun ini, saudara Gao Zhen, Gao Qiang, mengatakan bahwa “pesan dari persidangan ini sudah jelas”.
“Bahkan jika sebuah karya dibuat 15 tahun lalu, karya tersebut tetap dapat dianggap sebagai kejahatan jika iklim politik saat ini berubah,” katanya.
