Pekan ini, CEO Meta Mark Zuckerberg menerbitkan surat terbuka sepanjang 6.500 kata berjudul “The Future is for Everyone”.
Bagi sebagian orang, tulisan tersebut merupakan ungkapan harapan terhadap potensi kecerdasan buatan (AI). Bagi yang lain, manifesto itu tidak lebih dari sekadar aksi hubungan masyarakat yang panjang lebar.
Manifesto Zuckerberg menjadi contoh terbaru ketika seorang bos perusahaan teknologi menyampaikan pandangannya mengenai alasan AI akan menjadi terobosan besar berikutnya.
Visinya menggemakan apa yang telah disampaikan para pemimpin di bidang AI dalam berbagai bentuk: teknologi yang sedang mereka kembangkan merupakan salah satu “teknologi terpenting dalam sejarah”.
Marc Andreessen, salah satu pendiri Netscape yang pernah menjadi raksasa internet pada masa awal perkembangan web, mungkin menjadi orang yang memulai tren ini pada 2023 melalui esai sepanjang 5.000 kata berjudul “The Techno-Optimist Manifesto”. Dalam tulisan itu, ia berpendapat bahwa inovasi merupakan cara untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan.
“Jadi sekarang mereka menulis manifesto?” begitu yang saya ingat terlintas dalam pikiran saat itu.
Tulisan Andreessen diawali dengan kisah mengenai kebohongan yang menurutnya disebarkan oleh orang-orang tertentu dan ajakan kepada pembaca untuk melawannya.
“Kami percaya pertumbuhan adalah kemajuan, yang mengarah pada vitalitas, perluasan kehidupan, peningkatan pengetahuan, dan kesejahteraan yang lebih tinggi,” tulisnya.
Esai terbaru Zuckerberg tidak menyebut nama siapa pun, tetapi bos Meta tersebut meniru pendekatan Andreessen dengan mempertanyakan pihak-pihak yang memperingatkan mengenai dampak negatif teknologi masa depan.
“Mengejutkan bahwa wacana dari banyak pihak yang mengembangkan AI dipenuhi begitu banyak pandangan suram,” tulisnya.
Ketika Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa AI dapat berdampak terhadap hampir 40 persen pekerjaan dan memperburuk ketimpangan finansial global, Zuckerberg mengatakan ia yakin akan tersedia banyak lapangan pekerjaan di masa depan.
“Saya tidak memahami mengapa siapa pun yang percaya bahwa AI akan menghapus sebagian besar pekerjaan dan menghilangkan sebagian besar relevansi manusia justru ingin terburu-buru membangun masa depan tersebut.”
Namun, Meta milik Zuckerberg telah memangkas 10 persen tenaga kerjanya secara global, sekitar 8.000 pekerjaan, ketika perusahaan tersebut melakukan reorganisasi untuk berfokus pada AI.
Manifesto Zuckerberg merupakan tulisan terbaru yang muncul di linimasa media sosial dalam upaya memberikan gambaran positif mengenai AI.
Pada 2024, CEO OpenAI, perusahaan pembuat ChatGPT, Sam Altman, menerbitkan manifesto berjudul “The Intelligence Age”, sebuah ungkapan optimisme luas mengenai potensi teknologi tersebut.
Ia menjanjikan bahwa kemajuan manusia akan mengalami percepatan dramatis.
“Kita perlu bertindak secara bijaksana, tetapi dengan keyakinan,” katanya.
Pada tahun yang sama, dalam manifesto berjudul “Machines of Loving Grace”, CEO Anthropic Dario Amodei mengemukakan potensi AI untuk mengubah berbagai bidang, mulai dari layanan kesehatan hingga politik.
Ia membingkainya sebagai upaya untuk berbagi potensi manfaat AI dan tidak ingin dipandang sebagai sosok yang terlalu pesimistis terhadap teknologi tersebut.
Zuckerberg bukan orang baru dalam format esai panjang. Pada masa pemerintahan pertama Presiden AS Donald Trump, ia bahkan menulis mengenai sejumlah persoalan pelik, seperti penyebaran misinformasi di platform miliknya.
Ia kemudian kembali menulis untuk menjelaskan pergeseran strategi perusahaan yang gagal menuju metaverse pada 2021.
Namun, taruhannya kini lebih besar di era AI, kata blogger ekonomi Noah Smith, dan komentar para eksekutif mencerminkan hal tersebut.
“Saya pikir mereka semua merasa bahwa ini adalah momen yang begitu penting sehingga mereka berkewajiban melakukan apa pun yang dapat mereka lakukan untuk membentuk arah perkembangan teknologi ini,” kata Smith.
Manifesto baru Zuckerberg mengumumkan rencana Meta untuk membagikan perangkat AI-nya secara lebih terbuka. Artinya, rancangan atau kode di balik teknologi tersebut akan dipublikasikan sehingga siapa pun dapat melihat, menggunakan, dan memodifikasinya.
Keputusan mengenai apakah perangkat-perangkat tersebut seharusnya dibuat sebagai teknologi sumber terbuka memiliki konsekuensi besar mengingat potensi bahayanya.
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah model AI yang sangat kuat berhasil meretas situs web, atau seperti yang dikatakan sebagian pihak, “menjadi tidak terkendali”.
Model-model tersebut merupakan model yang paling kuat, bukan model yang sedang dibuat sebagai sumber terbuka. Namun, perkembangan teknologi tersebut memunculkan pertanyaan serius bagi Smith.
“Haruskah kita membuka sumber teknologi yang memiliki kemampuan untuk memusnahkan umat manusia?” tanyanya.
“Jika Anda tidak menganggap serius hal itu, Anda hanyalah orang bodoh.”
Itulah sebabnya ia menilai manifesto-manifesto tersebut penting, meskipun sebagian pengguna internet menjadikannya bahan lelucon.
Manifesto tersebut juga semakin menarik perhatian ketika pasar AI sumber terbuka didominasi oleh model-model AI China seperti Qwen, DeepSeek, dan GLM.
Namun, frekuensi munculnya manifesto perusahaan juga menjadi cara bagi para eksekutif untuk memosisikan diri dan perusahaan mereka dalam pertarungan gagasan di pasar.
“Ini merupakan cara untuk menunjukkan seberapa cerdas diri Anda,” kata Rob Lalka, profesor bisnis di Universitas Tulane.
Para eksekutif telah lama menggunakan blog perusahaan “untuk menguraikan gagasan dengan cara yang membuat mereka seolah-olah menjadi pengusaha sekaligus filsuf”.
“Mereka berusaha menyuarakan optimisme sebagai cara memandang masa depan,” ujarnya.
Lalka mengatakan waktu penerbitan manifesto Zuckerberg bertepatan dengan meningkatnya kemarahan terhadap dampak AI, mulai dari lapangan pekerjaan hingga lingkungan.
Dan meskipun jurnalis teknologi serta akademisi mungkin mencermati manifesto-manifesto tersebut untuk menemukan berbagai makna penting, tulisan para eksekutif ini belum tentu mendapat perhatian luas dari masyarakat umum.
“Mereka berusaha meyakinkan bahwa dampak positifnya akan jauh lebih besar dibandingkan sejumlah dampak negatif yang disoroti oleh reaksi publik,” katanya.
“Namun, menurut saya, banyak alasan untuk bersikap optimistis masih harus dibuktikan.”
