Manusia tampaknya memandang matahari terbit dan matahari terbenam layaknya “dua penanda di awal dan akhir sebuah buku”. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa menikmati momen golden hour bukan sekadar pengalaman yang indah, tetapi juga dapat meningkatkan daya ingat, kualitas tidur, suasana hati, bahkan mendorong seseorang menjadi lebih peduli terhadap orang lain.
Menjelang hari pernikahannya, penulis artikel ini menghabiskan waktu bersama kedua orang tua dan calon suaminya menikmati matahari terbenam dari teras sebuah rumah di Cape Cod, Massachusetts, Amerika Serikat.
Cape Cod terkenal dengan cahaya golden hour-nya. Semenanjung yang hampir seluruh sisinya dikelilingi laut itu menghasilkan pemandangan matahari terbenam yang memukau karena kelembapan udara menyebarkan cahaya matahari ketika mendekati cakrawala, menciptakan gradasi warna oranye, emas, dan merah muda yang seolah melebur ke permukaan laut.
Hari itu, badai yang datang dari arah barat membuat warna-warna langit tampak semakin dramatis. Sementara anggota keluarga lainnya sibuk mengambil foto, penulis dan ibunya hanya berdiri menikmati pemandangan meski udara September terasa dingin.
Ketika mereka kembali masuk ke dalam rumah, penulis memeluk ibunya. Seolah-olah seluruh kecemasan menjelang pernikahan ikut tenggelam bersama matahari.
Meski rasa lega karena hari yang panjang telah berakhir mungkin ikut berperan, menikmati matahari terbenam tampaknya juga memberikan efek tersendiri.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa matahari terbit maupun matahari terbenam dapat memberikan dampak positif bagi otak dan kesehatan mental, mulai dari mengurangi kecemasan dan depresi hingga meningkatkan daya ingat, kreativitas, kualitas tidur, bahkan sikap altruistis atau kepedulian terhadap sesama.
Efek Kekaguman terhadap Matahari Terbenam
Salah satu manfaat terbesar berasal dari rasa takjub (awe) yang muncul ketika seseorang menyaksikan matahari terbenam. Berbagai penelitian menunjukkan emosi tersebut memiliki dampak yang cukup besar terhadap kesehatan.
Awe adalah perasaan yang muncul ketika seseorang menyaksikan sesuatu yang sangat besar, indah, atau luar biasa hingga sulit dipahami sepenuhnya. Pengalaman itu bisa berasal dari karya seni, pencapaian manusia, seperti menyaksikan proses kelahiran, maupun fenomena alam.
Perasaan tersebut sering kali disertai respons fisik, seperti merinding atau menitikkan air mata, tetapi efeknya ternyata jauh lebih luas.
“Salah satu karakteristik paling konsisten dari rasa takjub adalah munculnya perasaan bahwa diri kita begitu kecil, sehingga persoalan, masalah, dan kehidupan pribadi terasa tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan keseluruhan kehidupan,” kata Michelle Shiota, profesor psikologi sosial di Arizona State University, Amerika Serikat, yang telah lama meneliti emosi awe.
“Hal ini sangat baik bagi kesehatan mental karena kita mulai menyadari bahwa mungkin sebagian persoalan yang selama ini membuat kita begitu tertekan sebenarnya tidak sepenting yang kita bayangkan.”
Menurut Shiota, terlalu berfokus pada diri sendiri dapat memicu kecenderungan berpikir berlebihan (overthinking) dan kecemasan. Sebaliknya, pengalaman yang membangkitkan rasa takjub mampu mengalihkan perhatian, memutus lingkaran pikiran negatif, dan membawa seseorang kembali menikmati momen saat ini.
Penelitian juga menunjukkan bahwa perubahan cara pandang tersebut mendorong perilaku yang lebih prososial, seperti lebih bersedia menjadi sukarelawan serta memiliki tujuan hidup yang lebih kuat.
Alam Menjadi Sumber Rasa Takjub Terbesar
Rasa awe memang dapat muncul melalui banyak hal, mulai dari pengalaman spiritual, keindahan moral, musik, hingga desain visual. Namun berbagai survei menunjukkan bahwa alam merupakan sumber rasa takjub yang paling sering dirasakan manusia.
“Ketika kami meminta orang-orang di Amerika Serikat menceritakan pengalaman yang paling membuat mereka merasa takjub, jawaban yang paling sering muncul adalah fenomena alam, biasanya berupa pemandangan yang sangat luas,” kata Shiota.
Matahari terbit dan matahari terbenam menjadi contoh paling jelas dari pengalaman tersebut.
Hal itu diperkuat oleh sebuah penelitian pada 2023 yang melibatkan lebih dari 2.500 peserta untuk mengukur respons mereka terhadap berbagai gambar lingkungan alam.
“Matahari terbenam memiliki keindahan yang luar biasa, dan keindahan memang cenderung memunculkan rasa takjub,” ujar Jennifer Stellar, peneliti psikologi dari University of Toronto, Kanada.
“Keindahannya begitu menyeluruh, berskala besar, dan tidak biasa jika dibandingkan dengan tampilan langit pada umumnya.”
Membantu Otak Mengingat Lebih Baik
Selain membuat seseorang merasa lebih baik secara emosional, matahari terbenam yang memukau juga diduga mampu meningkatkan kemampuan otak dalam menyimpan informasi.
Dalam sebuah eksperimen, Michelle Shiota meminta peserta menonton tiga film, salah satunya merupakan film sains yang dirancang untuk membangkitkan rasa takjub.
Setelah itu mereka mendengarkan sebuah cerita dan diminta mengingat kembali detailnya.
Hasilnya, peserta yang lebih dahulu menyaksikan film yang membangkitkan rasa awe memiliki kemampuan mengingat yang paling baik.
Menurut Stellar, para ilmuwan masih belum mengetahui secara pasti mekanisme di balik fenomena tersebut. Namun diduga rasa takjub membuat seseorang lebih fokus terhadap apa yang sedang terjadi di hadapannya sehingga informasi lebih mudah tersimpan dalam ingatan.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa mengalami rasa takjub secara rutin dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan mental.
Salah satu studi menemukan bahwa orang yang sering mengalami rasa awe selama pandemi Covid-19 mengalami tingkat stres akut maupun kronis yang lebih rendah.
Dalam penelitian lain, sekelompok lansia diminta secara sengaja mencari momen yang membangkitkan rasa takjub saat berjalan kaki setiap minggu, mulai dari melihat dedaunan musim gugur hingga ekspresi kagum seorang anak kecil.
Setelah delapan minggu, mereka lebih banyak menggambarkan lingkungan sekitar dibandingkan diri mereka sendiri.
Para peserta juga diminta mengambil swafoto (selfie). Menariknya, senyum kelompok yang mencari pengalaman awe terlihat semakin lebar dari minggu ke minggu, sementara posisi tubuh mereka dalam foto tampak semakin kecil karena lebih banyak menampilkan pemandangan alam di sekitarnya.
Menurut Stellar, menikmati matahari terbenam sambil berjalan di alam terbuka kemungkinan memberikan manfaat yang lebih besar lagi.
“Alam sendiri sudah memiliki manfaat kesehatan, sementara matahari terbenam merupakan salah satu peristiwa alam yang paling mampu membangkitkan rasa takjub. Jadi dugaan saya, matahari terbenam memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan pengalaman yang tidak melibatkan alam.”
Manfaat Harian bagi Tubuh
Karena matahari terbenam dapat dinikmati hampir setiap hari, fenomena ini berpotensi menjadi sumber rutin berbagai manfaat kesehatan yang ditimbulkan oleh rasa awe.
Dalam penelitian terhadap sekitar 200 orang, Jennifer Stellar menemukan bahwa mereka yang lebih sering merasakan emosi positif seperti kegembiraan dan rasa takjub memiliki kadar sitokin paling rendah.
Sitokin merupakan penanda peradangan di dalam tubuh. Kadar sitokin yang tinggi dalam jangka panjang diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes, penyakit jantung, serta depresi.
Hingga kini para ilmuwan belum mengetahui secara pasti mengapa rasa awe dapat menurunkan kadar sitokin.
“Hal itu mungkin berkaitan dengan meningkatnya rasa keterhubungan dengan orang lain karena dukungan sosial diketahui dapat mengurangi sitokin yang memicu peradangan,” kata Stellar.
“Kemungkinan lain adalah karena rasa takjub mampu menurunkan tingkat stres.”
Rasa awe juga diyakini dapat membuat seseorang menjadi lebih baik kepada sesama.
Dalam sebuah penelitian, mahasiswa diminta melihat pohon eucalyptus raksasa atau sebuah bangunan.
Ketika seorang peneliti dengan sengaja menjatuhkan sejumlah pena, mahasiswa yang sebelumnya melihat pepohonan dan merasakan rasa takjub membantu mengambil jauh lebih banyak pena dibandingkan kelompok yang hanya melihat bangunan.
Pengalaman serupa juga dirasakan penulis artikel. Setelah menikmati matahari terbenam sehari sebelum menikah, ia merasa lebih terdorong membantu berbagai persiapan dibandingkan hari sebelumnya, sehingga merasa jauh lebih tenang saat menjalani prosesi pernikahan.
Matahari Terbenam Membantu Tidur Lebih Nyenyak
Selain memengaruhi suasana hati, siklus alami matahari juga membantu mengatur ritme sirkadian, yaitu jam biologis tubuh yang mengendalikan siklus tidur dan bangun selama sekitar 24 jam.
Paparan cahaya matahari sejak terbit hingga terbenam membantu otak mengetahui kapan harus memproduksi hormon melatonin yang mempersiapkan tubuh untuk tidur.
Sebaliknya, matahari terbit memicu peningkatan hormon kortisol yang membantu tubuh menjadi lebih waspada pada pagi hari sekaligus menghentikan produksi melatonin.
Cahaya matahari pagi juga meningkatkan produksi serotonin, zat kimia otak yang berperan memperbaiki suasana hati. Proses tersebut terjadi melalui peningkatan vitamin D, rangsangan pada retina mata, serta paparan sinar ultraviolet terhadap kulit.
Walaupun matahari terbit dianggap sebagai penanda utama ritme sirkadian, cahaya lembut saat senja tetap memiliki peran penting sebagai sinyal alami bagi tubuh untuk mulai beristirahat.
Warna merah dan keemasan saat matahari terbenam membantu mengaktifkan sistem saraf parasimpatis sehingga kadar kortisol menurun dan tubuh lebih siap untuk tidur.
Sebaliknya, paparan cahaya buatan pada malam hari, terutama cahaya biru dari layar elektronik, dapat mengganggu proses tersebut dan menurunkan kualitas tidur.
“Gangguan ritme sirkadian telah dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi dan kecemasan,” kata Mariana Figueiro, profesor riset cahaya dan kesehatan di Icahn School of Medicine at Mount Sinai, New York.
Menurutnya, ritme sirkadian juga mengatur siklus hormon kortisol.
Dalam kondisi normal, kadar kortisol meningkat sekitar 30 menit setelah seseorang bangun tidur untuk memberikan energi, kemudian menurun secara bertahap menjelang malam.
Namun paparan cahaya buatan setelah matahari terbenam dapat mengelabui sistem tubuh sehingga kortisol tetap diproduksi ketika sebenarnya tidak lagi dibutuhkan.
Kadar kortisol yang terus tinggi dalam jangka panjang diketahui berkaitan dengan depresi, kecemasan, penurunan fungsi kognitif, hingga meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular.
Figueiro mengatakan bahwa mengatur paparan cahaya alami dan kegelapan dapat membantu mencegah kondisi tersebut.
“Tidak mengherankan jika para ilmuwan berhipotesis bahwa manusia memang dirancang untuk menyaksikan matahari terbit dan matahari terbenam, hampir seperti dua penanda di awal dan akhir sebuah buku,” ujarnya.
Bagi orang yang tidak memiliki waktu untuk menikmati keduanya, penelitian pada 2024 menemukan bahwa lampu LED yang meniru gradasi warna matahari terbit dan matahari terbenam juga mampu membantu mengatur ritme sirkadian.
Hampir sepuluh tahun setelah matahari terbenam yang dinikmatinya menjelang hari pernikahan, penulis mengaku kini selalu berusaha menyaksikan setiap matahari terbenam bersama suaminya.
Berdasarkan berbagai temuan ilmiah, momen sederhana itu mungkin memberikan manfaat yang jauh lebih besar bagi tubuh dan pikiran daripada yang selama ini disadari.
