Dalam salah satu musim terbaru ajang musik India, seorang penyanyi muda dari negara bagian Bihar di India utara membawakan lagu rakyat berusia lebih dari seabad tentang perpisahan, kolonialisme, dan kerinduan.
Lagu itu berkisah tentang seorang perempuan yang menyaksikan suaminya pergi berperang di negeri jauh pada masa penjajahan Inggris. Ia meratapi kepergian sang suami, mengutuk kekaisaran yang merebutnya, dan pada satu bagian membayangkan dirinya sendiri mengangkat belati.
Lagu berjudul Kachaudi Gali yang dibawakan penyanyi folk Bihar Utpal Udit bersama vokalis ternama Rekha Bhardwaj kemudian meraih jutaan penonton dan menjadi salah satu penampilan paling sukses di Coke Studio Bharat, edisi India dari waralaba musik populer yang memperkenalkan tradisi musik daerah dan folk kepada audiens baru di Asia Selatan.
Kesuksesan itu membawa Udit ke sorotan nasional. Namun yang lebih tidak terduga, keberhasilan tersebut juga kembali mengangkat perhatian terhadap bahasa Bhojpuri, bahasa yang kerap dicap sebagai bahasa para buruh migran dan hiburan kelas bawah, meski memiliki sejarah sastra dan budaya yang kaya selama berabad-abad.
Bahasa Bhojpuri dituturkan oleh puluhan juta orang di India utara serta diaspora yang tersebar dari Karibia hingga Pasifik. Bahasa ini menjadi salah satu bahasa yang paling luas digunakan di Asia Selatan, dengan khazanah besar berupa lagu rakyat, puisi, cerita lisan, dan teater.
Namun, citra itu bukan yang paling sering ditemui masyarakat India saat ini.
Bagi banyak orang, Bhojpuri identik dengan industri musik populer yang dipenuhi lirik bernuansa seksual, misoginis, dan permainan kata berkonotasi ganda. Dalam film dan televisi, aksen serta karakter Bihar kerap direduksi menjadi tokoh komedi, pekerja migran, atau sosok desa yang dipandang rendah.
Para seniman daerah telah berupaya selama puluhan tahun menjaga tradisi folk Bhojpuri. Namun upaya itu sering tertutupi oleh citra bahasa tersebut yang lebih menonjol sekaligus penuh stereotip.
Kini, musisi seperti Udit berusaha memperluas cara pandang itu.
“Rasanya menyakitkan ketika Anda sangat terhubung dengan musik akar budaya sendiri, tetapi orang lain memandangnya buruk,” kata Udit “Saya benar-benar ingin mengubah itu.”
Lahir di distrik Saharsa, Bihar, Udit tumbuh berpindah-pindah ke berbagai wilayah di negara bagian tersebut mengikuti pekerjaan ayahnya sambil menyerap tradisi musik rakyat setempat.
Ia mengatakan pada awalnya melodi lagu-lagu itu lebih membekas dibanding maknanya. Namun rasa penasaran kemudian membawanya mendalami karya Bhikhari Thakur dan Mahendra Misir, dua tokoh yang membantu membentuk imajinasi budaya rakyat Bihar.
Banyak kisah dalam karya mereka berkisar pada migrasi, tema utama dalam musik rakyat Bhojpuri sekaligus bagian penting dari sejarah Bihar.
Sebagai salah satu negara bagian termiskin di India, Bihar sejak lama ditandai oleh arus perpindahan penduduk untuk mencari pekerjaan: mulai dari sistem kerja kolonial hingga menuju pabrik, proyek konstruksi, dan kota-kota besar India modern. Pengalaman itu bergema dalam musik mereka selama beberapa generasi.
Salah satu lagu yang sering dibawakan Udit, Jani Ja Bideswa Ke Or dari drama terkenal Bidesiya karya Bhikhari Thakur, menceritakan seorang perempuan yang memohon suaminya agar tidak meninggalkan rumah demi mencari pekerjaan. Rumah akan terasa kosong tanpa dirinya dan jiwanya akan menderita, demikian isi lagu tersebut.
Ditulis lebih dari seabad lalu, lagu itu lahir dari masa migrasi besar-besaran, namun temanya masih terasa relevan hingga sekarang.
Udit mengatakan menjaga hubungan antara masa lalu dan masa kini telah menjadi inti pekerjaannya.
“Saya ingin orang menyadari bahwa musik Bhojpuri dan Bihar memiliki kedalaman yang jauh lebih besar daripada stereotip yang ada,” ujarnya. “Saya ingin mereka mendengar cerita yang disampaikan musik ini.”
Di media sosial, Udit kerap melengkapi penampilannya dengan penjelasan rinci mengenai sejarah dan makna budaya lagu yang ia bawakan. Potongan singkat lagu rakyat bisa disertai refleksi tentang migrasi, kolonialisme, atau karya seorang dramawan.
Hal itulah yang menarik perhatian produser Kachaudi Gali, Khwab, terhadap karya-karya Udit.
Sekitar setahun lalu, ia menemukan video Udit menyanyikan lagu tersebut di desanya melalui Instagram. Video itu menarik perhatiannya, tetapi keterangan yang menyertainya membuatnya semakin terpikat.
“Utpal jelas seorang penyanyi hebat,” kata Khwab. “Namun ketika saya membaca penjelasannya tentang sejarah lagu itu, saya benar-benar langsung duduk tegak di tempat tidur. Saat itu saya tahu sesuatu yang penting harus lahir dari sini.”
Yang juga mengejutkannya adalah kesadaran bahwa arsip budaya yang begitu besar tertutup oleh stereotip.
Karena itu, ia dan Udit memutuskan menghidupkan kembali Kachaudi Gali untuk audiens baru.
Untuk versi Coke Studio, Khwab ingin produksi musiknya terasa modern namun tetap setia pada akar tradisinya. Instrumen tradisional seperti shehnai, tabla, dholak, harmonium, dan dotara direkam secara langsung, sementara aransemennya memanfaatkan skala dan kualitas produksi musik populer.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar menjaga musik folk tetap hidup, tetapi menerjemahkannya bagi pendengar yang belum akrab dengan tradisi tersebut.
“Ini tentang menjaga sesuatu yang mungkin hilang sambil menciptakan hal baru. Saya ingin orang lain menyadari bahwa musik folk juga bisa terasa keren.”
Namun tidak semua seniman yang ingin mengubah persepsi tentang Bhojpuri memilih menoleh ke masa lalu.
Beberapa ratus kilometer dari sana, rapper Sanket Shikriwal justru mendekati persoalan yang sama dari arah yang hampir berlawanan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Shikriwal muncul sebagai salah satu suara paling khas di skena musik independen India dan dikenal sebagai rapper yang menantang asumsi tentang seperti apa musik Bhojpuri seharusnya terdengar.
Jika karya Udit berakar pada upaya pemulihan tradisi, musik Shikriwal tumbuh dari benturan berbagai pengaruh.
Dalam musiknya, Bhojpuri berdampingan dengan jazz, spoken word, dan hip-hop. Kenangan desa hidup bersama referensi kepada Franz Kafka dan John Coltrane. Bihar hadir berdampingan dengan Mumbai; migrasi bertemu budaya internet. Lagu-lagunya terdengar bukan seperti kebangkitan musik folk, melainkan percakapan terus-menerus antara masa lalu dan masa kini, desa dan kota, rasa memiliki dan keinginan untuk pergi.
Musiknya juga terkadang terdengar keras. Liriknya memuat bahasa jalanan dan umpatan, sehingga sulit menjadikannya sebagai alternatif “bersih” dari musik komersial Bhojpuri yang sering dianggap berlebihan.
Namun Shikriwal menolak anggapan bahwa kata-kata kasar adalah masalah utamanya.
“Saya tidak menggunakan umpatan demi membangun citra lelaki tangguh,” katanya. “Itu cara saya mengekspresikan kegelisahan.”
Menurutnya, perbedaan itu penting karena Bhojpuri sering dihakimi dengan standar yang tidak diterapkan pada genre lain.
Hip-hop sejak lama menggunakan bahasa kasar sebagai sarana kemarahan, kritik sosial, dan ekspresi diri. Di India sendiri, musik Punjabi, meski kerap menuai kontroversi karena kekerasan dan maskulinitas berlebihan, berkembang menjadi salah satu ekspor budaya paling sukses. Musisi seperti Diljit Dosanjh dan mendiang Sidhu Moosewala berhasil mengubah identitas daerah menjadi sumber kebanggaan dan aspirasi.
Menurut Shikriwal, Bhojpuri jarang mendapat perlakuan serupa.
“Pertanyaannya bukan apakah Bhojpuri bisa dibuat terhormat,” katanya. “Pertanyaannya adalah mengapa penutur Bhojpuri selalu dituntut membuktikan bahwa mereka layak dihormati.”
Yang ia harapkan bukan versi budaya Bhojpuri yang disterilkan, melainkan budaya yang lebih percaya diri dan mampu mendefinisikan dirinya sendiri.
“Saya ingin orang kembali melihat Bihar sebagai tanah para filsuf,” ujarnya.
“Kita menyebutnya Tanah Buddha, tetapi kita memperlakukan masyarakatnya dengan begitu tidak hormat.”
Udit percaya perubahan itu mungkin sudah mulai terjadi.
Menurutnya, respons terhadap Kachaudi Gali memberikan gambaran tentang seperti apa masa depan tersebut.
“Itu menjadi pengingat,” katanya, “bahwa salah satu bahasa yang paling banyak digunakan di India masih menunggu untuk didengar dengan caranya sendiri.”
