Sebuah film drama keluarga penuh nostalgia berjudul Dear You menjadi fenomena box office di China musim panas ini. Namun di Singapura, film tersebut justru memicu perdebatan tak terduga mengenai identitas budaya dan bahasa.
Film yang mengangkat kisah keluarga, harapan, dan perjuangan hidup itu hampir seluruhnya menggunakan bahasa Teochew, bahasa dari wilayah Chaoshan di China yang hingga kini masih dituturkan oleh generasi tua keturunan Tionghoa di Asia Tenggara.
Namun ketika film tersebut tayang di bioskop Singapura bulan ini, banyak warga kecewa setelah mengetahui sebagian besar penayangan menggunakan sulih suara Mandarin, bahasa resmi China sekaligus salah satu dari empat bahasa resmi Singapura bersama bahasa Inggris.
“Sebagai orang Teochew, menontonnya dalam bahasa Teochew membuat pengalaman itu jauh lebih spesial,” kata Wu Silin, seorang pekerja gereja. Ia dan ibunya menonton Dear You pekan lalu setelah berhasil mendapatkan tiket untuk salah satu dari hanya delapan penayangan khusus berbahasa Teochew. Tiket tersebut dilaporkan habis terjual dalam waktu kurang dari dua jam.
Banyak warga mempertanyakan mengapa film tersebut diputar dalam bahasa aslinya di China, tetapi tidak di Singapura, negara yang masih memiliki banyak penutur Teochew dari kalangan generasi tua Tionghoa.
Film itu tanpa sengaja memicu kembali perdebatan mengenai kebijakan lama pemerintah Singapura yang mendorong warga keturunan Tionghoa menggunakan bahasa Mandarin dibanding bahasa daerah asal China lainnya, yang di Singapura sering disebut “dialek”.
Kebijakan yang awalnya bertujuan menyatukan komunitas Tionghoa di Singapura dinilai terlalu berhasil, hingga menurut sejumlah pihak menyebabkan bahasa seperti Teochew, Hokkien, Kanton, dan Hakka mengalami kemunduran yang sulit dipulihkan.
Pemerintah akhirnya merespons tuntutan publik agar film tersebut diputar dalam bahasa Teochew. Dalam pernyataan pada Senin, Kementerian Informasi Singapura mengatakan pihaknya “mendengar seruan agar film berbahasa dialek dapat diputar lebih bebas di bioskop” dan berjanji akan “mengambil pendekatan yang lebih fleksibel”.
Di media sosial, sebagian warga bahkan mengaku berencana pergi ke Malaysia untuk menonton Dear You dalam bahasa Teochew. Delapan penayangan tambahan, hampir 5.000 tiket, mulai dijual pada Senin dan kembali habis dalam waktu kurang dari dua jam, menurut media lokal. Pada Kamis, otoritas akhirnya menyetujui tambahan 50 penayangan dalam bahasa Teochew.
Bagi banyak warga Singapura, Dear You menjadi perjalanan emosional menuju masa lalu mereka sendiri, diceritakan dalam bahasa leluhur yang telah melintasi lautan dan bertahan hingga era modern.
Bahkan penonton yang tidak memahami bahasa Teochew tetap berusaha mencari versi asli film tersebut.
“Saya rasa kadang itu soal nuansanya,” kata Anna Zhang, perempuan 35 tahun asal Beijing yang pindah ke Singapura untuk bekerja.
Ia mengatakan menonton versi Teochew dengan teks terjemahan, sebagaimana saat menonton film asing lainnya.
“Saya bukan bilang versi terjemahannya buruk, tetapi saya merasa ada perbedaan. Rasanya tidak seperti datang langsung dari karakter aslinya,” ujarnya.
Dengan anggaran sederhana dan sebagian besar pemerannya merupakan aktor pendatang baru, Dear You berkisah tentang seorang pemuda dari desa di selatan China yang pergi ke Thailand untuk mencari kakeknya.
Sang kakek melarikan diri dari desanya pada 1948 untuk menghindari wajib militer di tengah perang saudara China yang saat itu mengubah kehidupan jutaan orang. Ia kemudian menjadi penarik becak di Thailand pada 1950-an, tinggal di asrama bersama para migran China lainnya, sambil mengirim surat penuh kerinduan kepada istri dan anak-anaknya di kampung halaman.
Dear You, terutama karena menggunakan bahasa Teochew, menyentuh akar identitas masyarakat Tionghoa Asia Tenggara. Film itu berlatar masa migrasi besar-besaran ketika jutaan warga China menempuh perjalanan laut berbahaya menuju Singapura dan wilayah Asia Tenggara lainnya antara abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20.
“Dialek selalu menjadi akar asal-usul warga Tionghoa Singapura. Mandarin, menurut saya, lebih merupakan bahasa tambahan yang kami pelajari di sekolah,” kata Lee Cher Leng, profesor madya studi China di National University of Singapore.
“Sangat menarik bahwa film kecil seperti itu bisa memunculkan sesuatu yang dampaknya begitu besar,” katanya.
Bahasa-bahasa daerah China dulu digunakan secara luas di komunitas Tionghoa Singapura, yang kini mencakup lebih dari 70 persen populasi negara tersebut.
Namun bahasa-bahasa itu perlahan hilang dari ruang publik pada 1980-an setelah pemerintah meluncurkan kampanye penggunaan Mandarin bagi warga Tionghoa.
Sejak itu, berbagai dialek mulai disulihsuarakan di bioskop dan dihapus dari program radio maupun televisi.
Kebijakan itu merupakan bagian dari strategi bilingual yang diterapkan sejak 1960-an. Pemerintah menetapkan bahasa Inggris sebagai bahasa umum seluruh warga Singapura, disertai “bahasa ibu” berdasarkan etnis masing-masing.
Ketika Kampanye Berbahasa Mandarin dimulai, hampir 70 persen warga Singapura menggunakan salah satu dialek China di rumah.
Pada 2020, angka tersebut anjlok menjadi hanya 8,7 persen.
Banyak pembatasan terhadap penggunaan dialek masih berlaku hingga sekarang, meski bahasa Inggris kini disebut sebagai bahasa yang paling nyaman digunakan oleh hampir separuh warga Singapura.
Sejak 1990-an, fokus Kampanye Berbahasa Mandarin beralih kepada warga keturunan Tionghoa yang berpendidikan bahasa Inggris, bukan lagi kepada penutur dialek.
“Kampanye itu telah mencapai tujuannya. Mandarin kini menjadi bahasa umum warga Tionghoa Singapura dan lanskap dialek telah dibongkar,” tulis dua sineas dalam surat yang diterbitkan pekan lalu di surat kabar lokal The Straits Times.
“Membiarkan film dialek diputar sekarang sebenarnya tidak berbeda dengan memutar film berbahasa Prancis atau Melayu,” tulis mereka.
“Mungkinkah cara terbaik membuktikan keberhasilan Kampanye Berbahasa Mandarin justru dengan melonggarkan aturan ini sepenuhnya?” tambah mereka, sebagai tanda “kedewasaan” dalam menyikapi keragaman budaya warga Tionghoa Singapura.
Pandangan itu bergema luas di media sosial dan berbagai kolom opini selama sepekan terakhir, bahkan menarik perhatian para politisi. Dalam unggahan di Facebook, anggota parlemen oposisi Dennis Tan menyebut dialek sebagai “penyimpan hidup perjalanan, adat, dan identitas leluhur kami”.
Perdebatan diperkirakan akan terus berlanjut setelah dua anggota parlemen mengatakan mereka telah meminta penjelasan pemerintah mengenai penayangan film dalam dialek aslinya.
“Sebenarnya sekarang banyak orang sudah tidak bisa berbicara dalam dialek lagi,” kata Wu. “Saya pikir sudah waktunya kebijakan ini ditinjau ulang. Kalau mereka ingin mempertahankan budaya kami, maka ini penting.”
Yang perlahan menghilang bukan hanya bahasanya, tetapi juga tradisi yang menyertainya.
Salah satu hal yang paling menyentuh Wu dalam Dear You adalah ritual Teochew yang pernah ia jalani sendiri.
Saat berusia 15 tahun, usia yang dianggap penting dalam budaya Teochew, orang tuanya memberinya hadiah sebagai penanda kedewasaan, sebuah tradisi yang dikenal sebagai “meninggalkan taman”.
Namun ketika keponakannya berusia 15 tahun tahun lalu, Wu mengatakan tidak ada lagi perayaan semacam itu.
Meski demikian, generasi muda Singapura mulai menunjukkan ketertarikan baru untuk terhubung dengan warisan budaya mereka, mulai dari mempelajari dialek kakek-nenek mereka yang mulai punah hingga mengikuti kursus dan perjalanan ke kampung halaman leluhur di China.
Namun Tan Ying Ying, profesor madya di Nanyang Technological University yang meneliti dialek, pesimistis tren itu mampu membalikkan keadaan.
“Anak muda yang mempelajarinya sekarang bisa saja belajar seperti mempelajari bahasa asing untuk kesenangan. Tetapi kalau tidak ada yang benar-benar menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, bahasa itu tidak akan bertahan,” katanya.
Menurut Tan, kegaduhan terkait Dear You mungkin merupakan bentuk “duka atas sesuatu yang sedang hilang”.
