Close Menu

    Subscribe to Updates

    Dapatkan informasi terbaru dari mayoritas.com

    Apa yang Viral?

    Netanyahu Tolak Rencana Gaza Trump, tetapi Penolakan Israel Belum Tentu Jadi Keputusan Akhir

    11/08/2026

    Trump Media Rugi US$238 Juta saat Nilai Kripto Anjlok

    11/08/2026

    Inggris di Jalur Terdepan untuk Membasmi Hepatitis C

    11/08/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • POLITIK
      • Politik Amerika
      • Politik Asia
      • Politik Dunia
      • Politik Eropa
      • Politik Nasional
      • Politik Timur Tengah
    • Nasional

      Netanyahu Tolak Rencana Gaza Trump, tetapi Penolakan Israel Belum Tentu Jadi Keputusan Akhir

      11/08/2026

      Inggris di Jalur Terdepan untuk Membasmi Hepatitis C

      11/08/2026

      Pria-Pria Kesepian China Terjerat Penipuan Pernikahan Kilat

      11/08/2026

      Gempa Terbesar Colombia dalam Bertahun-tahun Tewaskan Sedikitnya 132 Orang

      11/08/2026

      Sembilan Juta Perempuan Dicoret dari Program Bantuan Tunai Besar di India, Ini Penyebabnya

      10/08/2026
    • TEKNOLOGI

      Saya Menjalani Pemeriksaan Kesehatan Seluruh Tubuh, Hasilnya Bikin Terkejut

      08/08/2026

      Misi Berani di Tengah Musim Dingin Antarktika, Tim Penerbangan Australia Berhasil Evakuasi Pasien dalam Suhu Minus 43 Derajat

      07/08/2026

      Meta Didenda Hampir Rp15,4 Triliun, Hakim AS Sebut Platformnya Jadi Ancaman bagi Keselamatan Anak

      07/08/2026

      Meta Ungkap Model AI Sempat Terhubung ke Internet dan Meretas Sistem Perusahaan Lain saat Pengujian

      06/08/2026

      Uji Keamanan Inggris Temukan AI Gunakan Penipuan dan Bertindak Mandiri untuk Mengelabui Manusia

      05/08/2026
    • Hiburan
    • Belanja Sekarang
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Mayoritas.com
    Langganan Sekarang
    TOPIK PANAS
    • Olahraga
    • Ekonomi & Pasar
      • Bisnis
      • Ekonomi
      • Keuangan
    • Wisata & Kuliner
    • Belanja Sekarang
    Mayoritas.com
    Home»Nasional»Budaya»Film Mandarin China Picu Perdebatan Identitas dan Bahasa di Singapura
    Budaya

    Film Mandarin China Picu Perdebatan Identitas dan Bahasa di Singapura

    joveBy jove26/06/2026No Comments6 Mins Read1 Views
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Sebuah film drama keluarga penuh nostalgia berjudul Dear You menjadi fenomena box office di China musim panas ini. Namun di Singapura, film tersebut justru memicu perdebatan tak terduga mengenai identitas budaya dan bahasa.

    Film yang mengangkat kisah keluarga, harapan, dan perjuangan hidup itu hampir seluruhnya menggunakan bahasa Teochew, bahasa dari wilayah Chaoshan di China yang hingga kini masih dituturkan oleh generasi tua keturunan Tionghoa di Asia Tenggara.

    Namun ketika film tersebut tayang di bioskop Singapura bulan ini, banyak warga kecewa setelah mengetahui sebagian besar penayangan menggunakan sulih suara Mandarin, bahasa resmi China sekaligus salah satu dari empat bahasa resmi Singapura bersama bahasa Inggris.

    “Sebagai orang Teochew, menontonnya dalam bahasa Teochew membuat pengalaman itu jauh lebih spesial,” kata Wu Silin, seorang pekerja gereja. Ia dan ibunya menonton Dear You pekan lalu setelah berhasil mendapatkan tiket untuk salah satu dari hanya delapan penayangan khusus berbahasa Teochew. Tiket tersebut dilaporkan habis terjual dalam waktu kurang dari dua jam.

    Banyak warga mempertanyakan mengapa film tersebut diputar dalam bahasa aslinya di China, tetapi tidak di Singapura, negara yang masih memiliki banyak penutur Teochew dari kalangan generasi tua Tionghoa.

    Film itu tanpa sengaja memicu kembali perdebatan mengenai kebijakan lama pemerintah Singapura yang mendorong warga keturunan Tionghoa menggunakan bahasa Mandarin dibanding bahasa daerah asal China lainnya, yang di Singapura sering disebut “dialek”.

    Kebijakan yang awalnya bertujuan menyatukan komunitas Tionghoa di Singapura dinilai terlalu berhasil, hingga menurut sejumlah pihak menyebabkan bahasa seperti Teochew, Hokkien, Kanton, dan Hakka mengalami kemunduran yang sulit dipulihkan.

    Pemerintah akhirnya merespons tuntutan publik agar film tersebut diputar dalam bahasa Teochew. Dalam pernyataan pada Senin, Kementerian Informasi Singapura mengatakan pihaknya “mendengar seruan agar film berbahasa dialek dapat diputar lebih bebas di bioskop” dan berjanji akan “mengambil pendekatan yang lebih fleksibel”.

    Di media sosial, sebagian warga bahkan mengaku berencana pergi ke Malaysia untuk menonton Dear You dalam bahasa Teochew. Delapan penayangan tambahan, hampir 5.000 tiket, mulai dijual pada Senin dan kembali habis dalam waktu kurang dari dua jam, menurut media lokal. Pada Kamis, otoritas akhirnya menyetujui tambahan 50 penayangan dalam bahasa Teochew.

    Bagi banyak warga Singapura, Dear You menjadi perjalanan emosional menuju masa lalu mereka sendiri, diceritakan dalam bahasa leluhur yang telah melintasi lautan dan bertahan hingga era modern.

    Bahkan penonton yang tidak memahami bahasa Teochew tetap berusaha mencari versi asli film tersebut.

    “Saya rasa kadang itu soal nuansanya,” kata Anna Zhang, perempuan 35 tahun asal Beijing yang pindah ke Singapura untuk bekerja.

    Ia mengatakan menonton versi Teochew dengan teks terjemahan, sebagaimana saat menonton film asing lainnya.

    “Saya bukan bilang versi terjemahannya buruk, tetapi saya merasa ada perbedaan. Rasanya tidak seperti datang langsung dari karakter aslinya,” ujarnya.

    Dengan anggaran sederhana dan sebagian besar pemerannya merupakan aktor pendatang baru, Dear You berkisah tentang seorang pemuda dari desa di selatan China yang pergi ke Thailand untuk mencari kakeknya.

    Sang kakek melarikan diri dari desanya pada 1948 untuk menghindari wajib militer di tengah perang saudara China yang saat itu mengubah kehidupan jutaan orang. Ia kemudian menjadi penarik becak di Thailand pada 1950-an, tinggal di asrama bersama para migran China lainnya, sambil mengirim surat penuh kerinduan kepada istri dan anak-anaknya di kampung halaman.

    Dear You, terutama karena menggunakan bahasa Teochew, menyentuh akar identitas masyarakat Tionghoa Asia Tenggara. Film itu berlatar masa migrasi besar-besaran ketika jutaan warga China menempuh perjalanan laut berbahaya menuju Singapura dan wilayah Asia Tenggara lainnya antara abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20.

    “Dialek selalu menjadi akar asal-usul warga Tionghoa Singapura. Mandarin, menurut saya, lebih merupakan bahasa tambahan yang kami pelajari di sekolah,” kata Lee Cher Leng, profesor madya studi China di National University of Singapore.

    “Sangat menarik bahwa film kecil seperti itu bisa memunculkan sesuatu yang dampaknya begitu besar,” katanya.

    Bahasa-bahasa daerah China dulu digunakan secara luas di komunitas Tionghoa Singapura, yang kini mencakup lebih dari 70 persen populasi negara tersebut.

    Namun bahasa-bahasa itu perlahan hilang dari ruang publik pada 1980-an setelah pemerintah meluncurkan kampanye penggunaan Mandarin bagi warga Tionghoa.

    Sejak itu, berbagai dialek mulai disulihsuarakan di bioskop dan dihapus dari program radio maupun televisi.

    Kebijakan itu merupakan bagian dari strategi bilingual yang diterapkan sejak 1960-an. Pemerintah menetapkan bahasa Inggris sebagai bahasa umum seluruh warga Singapura, disertai “bahasa ibu” berdasarkan etnis masing-masing.

    Ketika Kampanye Berbahasa Mandarin dimulai, hampir 70 persen warga Singapura menggunakan salah satu dialek China di rumah.

    Pada 2020, angka tersebut anjlok menjadi hanya 8,7 persen.

    Banyak pembatasan terhadap penggunaan dialek masih berlaku hingga sekarang, meski bahasa Inggris kini disebut sebagai bahasa yang paling nyaman digunakan oleh hampir separuh warga Singapura.

    Sejak 1990-an, fokus Kampanye Berbahasa Mandarin beralih kepada warga keturunan Tionghoa yang berpendidikan bahasa Inggris, bukan lagi kepada penutur dialek.

    “Kampanye itu telah mencapai tujuannya. Mandarin kini menjadi bahasa umum warga Tionghoa Singapura dan lanskap dialek telah dibongkar,” tulis dua sineas dalam surat yang diterbitkan pekan lalu di surat kabar lokal The Straits Times.

    “Membiarkan film dialek diputar sekarang sebenarnya tidak berbeda dengan memutar film berbahasa Prancis atau Melayu,” tulis mereka.

    “Mungkinkah cara terbaik membuktikan keberhasilan Kampanye Berbahasa Mandarin justru dengan melonggarkan aturan ini sepenuhnya?” tambah mereka, sebagai tanda “kedewasaan” dalam menyikapi keragaman budaya warga Tionghoa Singapura.

    Pandangan itu bergema luas di media sosial dan berbagai kolom opini selama sepekan terakhir, bahkan menarik perhatian para politisi. Dalam unggahan di Facebook, anggota parlemen oposisi Dennis Tan menyebut dialek sebagai “penyimpan hidup perjalanan, adat, dan identitas leluhur kami”.

    Perdebatan diperkirakan akan terus berlanjut setelah dua anggota parlemen mengatakan mereka telah meminta penjelasan pemerintah mengenai penayangan film dalam dialek aslinya.

    “Sebenarnya sekarang banyak orang sudah tidak bisa berbicara dalam dialek lagi,” kata Wu. “Saya pikir sudah waktunya kebijakan ini ditinjau ulang. Kalau mereka ingin mempertahankan budaya kami, maka ini penting.”

    Yang perlahan menghilang bukan hanya bahasanya, tetapi juga tradisi yang menyertainya.

    Salah satu hal yang paling menyentuh Wu dalam Dear You adalah ritual Teochew yang pernah ia jalani sendiri.

    Saat berusia 15 tahun, usia yang dianggap penting dalam budaya Teochew, orang tuanya memberinya hadiah sebagai penanda kedewasaan, sebuah tradisi yang dikenal sebagai “meninggalkan taman”.

    Namun ketika keponakannya berusia 15 tahun tahun lalu, Wu mengatakan tidak ada lagi perayaan semacam itu.

    Meski demikian, generasi muda Singapura mulai menunjukkan ketertarikan baru untuk terhubung dengan warisan budaya mereka, mulai dari mempelajari dialek kakek-nenek mereka yang mulai punah hingga mengikuti kursus dan perjalanan ke kampung halaman leluhur di China.

    Namun Tan Ying Ying, profesor madya di Nanyang Technological University yang meneliti dialek, pesimistis tren itu mampu membalikkan keadaan.

    “Anak muda yang mempelajarinya sekarang bisa saja belajar seperti mempelajari bahasa asing untuk kesenangan. Tetapi kalau tidak ada yang benar-benar menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, bahasa itu tidak akan bertahan,” katanya.

    Menurut Tan, kegaduhan terkait Dear You mungkin merupakan bentuk “duka atas sesuatu yang sedang hilang”.

    bahasa budaya china film negara singapura
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    jove
    • Website

    Related Posts

    Lain Lain

    Netanyahu Tolak Rencana Gaza Trump, tetapi Penolakan Israel Belum Tentu Jadi Keputusan Akhir

    11/08/2026
    Bisnis

    Trump Media Rugi US$238 Juta saat Nilai Kripto Anjlok

    11/08/2026
    Kesehatan

    Inggris di Jalur Terdepan untuk Membasmi Hepatitis C

    11/08/2026
    Kesehatan

    Trump Teken Perintah Batasi Vaksin Anak dan Anjurkan Vaksin MMR Dipisah

    11/08/2026
    Budaya

    Pria-Pria Kesepian China Terjerat Penipuan Pernikahan Kilat

    11/08/2026
    Bencana

    Gempa Terbesar Colombia dalam Bertahun-tahun Tewaskan Sedikitnya 132 Orang

    11/08/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Langganan Berita

    Dapatkan berita olahraga terkini dari NewsSite tentang dunia, olahraga, dan politik.

    Pilihan Editor

    Netanyahu Tolak Rencana Gaza Trump, tetapi Penolakan Israel Belum Tentu Jadi Keputusan Akhir

    11/08/2026

    Trump Media Rugi US$238 Juta saat Nilai Kripto Anjlok

    11/08/2026

    Inggris di Jalur Terdepan untuk Membasmi Hepatitis C

    11/08/2026

    Trump Teken Perintah Batasi Vaksin Anak dan Anjurkan Vaksin MMR Dipisah

    11/08/2026
    Info Terbaru

    Apa Itu Lifestyle Sedentary? Menimbulkan Banyak Penyakit Hingga Dapat Terkena Kanker

    20/01/2021

    Pebasket Zhang Ziyu Setinggi 220M Menarik Perhatian Usai Mengalahkan Tim U-18 Indonesia

    15/01/2021

    Kronologi Atlet Bulu Tangkis China Zhang Zhi Jie Meninggal Di Ajang AJC 2024

    15/01/2021
    Advertisement
    LOGO_FOOTER_MAYORITAS
    Facebook X (Twitter) Pinterest Vimeo WhatsApp TikTok Instagram

    News

    • Ekonomi & Pasar
    • Olahraga
    • Opini
    • Otomotif
    • Wisata Kuliner
    • Video Unggulan
    • Kesehatan

    Company

    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Hak Cipta
    • Disclaimer
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Panduan Kebijakan

    Layanan

    • Toko
    • Customer Support
    • Karir
    • Tentang kami
    • Hubungi Kami
    • Akses login

    Langganan Updates

    Dapatkan informasi terkinni seputar fakta informasi dunia, anda bisa berlangganan melalui email anda

    © 2026 Mayoritas.com
    • Privacy Policy
    • Term of Service
    • Contact us

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.