Pasukan Rusia dilaporkan telah menyusup ke kota strategis Kostyantynivka di Ukraina timur dan kini berupaya mengepung wilayah tersebut.
Para tentara Ukraina menyebut bahwa seluruh kota kini pada dasarnya telah menjadi “zona abu-abu”, yaitu wilayah yang tidak lagi sepenuhnya dikuasai oleh pihak mana pun.
“Mereka masuk ke area di belakang kami dan dalam kondisi perkotaan sangat sulit untuk mengusir mereka,” kata seorang operator drone Ukraina yang bertugas di wilayah tersebut dan meminta identitasnya dirahasiakan.
Kostyantynivka merupakan gerbang menuju wilayah Donbas lainnya.
Jika kota ini jatuh, pasukan Rusia akan dapat bergerak menuju benteng pertahanan terakhir Ukraina di timur, yakni kota Kramatorsk dan Sloviansk, sekaligus mendekati tujuan utama Kremlin untuk menguasai Donbas sepenuhnya.
Selama beberapa bulan terakhir, perang skala penuh Rusia di Ukraina mengalami stagnasi di sepanjang garis depan. Namun komandan Ukraina mengatakan mereka berhasil merebut kembali lebih banyak wilayah tahun ini dibandingkan yang hilang, sekaligus mengganggu jalur suplai penting Moskow antara perbatasan Rusia dan Krimea yang diduduki. Pada Minggu, otoritas yang ditunjuk Rusia di Krimea bahkan menangguhkan penjualan bahan bakar kepada publik akibat kelangkaan.
Serangan berulang Kyiv terhadap kilang minyak di Moskow, St Petersburg, dan kota-kota lain juga disebut bertujuan membawa dampak perang lebih dekat ke warga Rusia yang jauh dari garis depan.
Namun di Kostyantynivka, tentara Rusia dilaporkan telah maju dari arah selatan dan bahkan terlihat di ujung utara kota.
Moskow mengklaim pasukannya bergerak cepat di bagian barat daya Kostyantynivka dan telah mengepung unit militer Ukraina.
Klaim tersebut dibantah Kyiv. Brigjen Oleksandr Bakulin, komandan Korps ke-19 Ukraina yang bertanggung jawab atas pertahanan kota dan sekitarnya, menegaskan bahwa “situasi masih terkendali” dan “musuh tidak mencapai keberhasilan”.
Namun ia mengakui terdapat sekitar 130 tentara Rusia yang masih berada di dalam kota.
Seorang perwira Ukraina dari unit yang beroperasi di Kostyantynivka mengatakan bahwa situasi di lapangan mungkin tidak separah klaim Moskow, tetapi lebih serius daripada yang diakui secara terbuka oleh pejabat Ukraina.
Ia juga meminta identitasnya dirahasiakan dan mengatakan: “Kami masih memiliki kelompok pembersihan dan penyerangan di dalam kota, tetapi Rusia berhasil mengumpulkan semakin banyak tentara di sana.”
Setiap bangunan di Kostyantynivka menjadi potensi tempat perlindungan bagi tentara, sementara pada musim panas pepohonan memberikan tambahan perlindungan.
Dengan demikian, pasukan Rusia menemukan cara untuk bergerak di dalam “kill zone”, wilayah yang dapat dideteksi drone Ukraina dan diserang secara langsung.
Unit drone Rusia juga dilaporkan berfokus menghancurkan lokasi peluncuran drone Ukraina.
Untuk memberi ruang gerak bagi infanteri yang menyerang posisi Ukraina, operator drone Rusia menjadikan kru Ukraina sebagai target prioritas.
Operator drone Ukraina tersebut mengatakan bahwa sementara rekan-rekannya menargetkan infanteri Rusia, unit lawan tidak melakukan hal yang sama: “Untuk tugas seperti itu, mereka menggunakan artileri, peluncur roket ganda, dan pesawat militer.”
Ia juga mengatakan bahwa keterbatasan jumlah dan sumber daya membuat pasukan Ukraina sering kelelahan dan kesulitan memperluas operasi.
“Karena kami hanya sedikit waktu untuk mencari dan menargetkan operator musuh, mereka bisa beroperasi dengan bebas, mendeteksi posisi kami, dan kami terpaksa mundur. Begitulah garis depan bergerak,” jelasnya.
Perwira Ukraina lainnya yang bertugas di kota tersebut menyatakan bahwa laju kemajuan Rusia sebenarnya sangat lambat: “Kadang mereka hanya bergerak 100 meter per hari. Kadang mereka bahkan merangkak untuk mencapai gedung berikutnya.”
Pasukan Rusia di Kostyantynivka disebut menerapkan strategi serupa seperti saat merebut Pokrovsk dan kota-kota besar lain di Ukraina timur, yaitu bergerak dari sisi sayap untuk mengepung kota dan memutus jalur suplai.
Dalam beberapa hari terakhir, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah merebut desa-desa di sebelah barat kota.
Laporan tersebut dinilai membantu mengalihkan perhatian dari serangan Ukraina terhadap kilang minyak jauh di dalam wilayah Rusia serta jalur suplai ke Krimea, yang menyebabkan kelangkaan bahan bakar besar.
Hal itu disebut menjadi alasan Kremlin berupaya mengepung dan merebut Kostyantynivka secepat mungkin.
Seorang operator drone Ukraina memperingatkan bahwa situasi telah menjadi “krisis besar”.
Unit drone Rusia bahkan tidak perlu menggunakan sistem canggih karena mereka kini sudah cukup dekat untuk memakai drone murah buatan Tiongkok yang tidak mampu terbang jauh untuk pengintaian dan identifikasi posisi peluncuran drone Ukraina.
Pengiriman logistik menjadi sangat sulit, dengan jalur darat terus-menerus menjadi sasaran serangan dan drone logistik besar sering dicegat.
Kejatuhan Kostyantynivka “hanya masalah waktu”, menurut proyek pemantauan garis depan Ukraina DeepState.
Jika itu terjadi, operasi logistik di wilayah tersebut akan menjadi lebih rumit dan bahkan bertahan di Kramatorsk akan menjadi “sangat berbahaya”, lapor mereka.
Seorang tentara Ukraina lainnya mengatakan unitnya tidak menerima tambahan pasukan yang diperlukan untuk mengganti kerugian, sementara komandan enggan melaporkan kehilangan posisi.
Jika dilaporkan, mereka justru akan diperintahkan untuk merebutnya kembali: “Kami tidak memiliki cukup orang untuk mempertahankan apa yang masih kami kuasai, apalagi untuk melakukan serangan.”
“Kami masih bertempur di dalam kota,” kata operator drone itu, “tetapi jika kami tidak mengubah pendekatan dan mulai menghancurkan logistik mereka serta menargetkan operator mereka, mereka akan terus maju.”
