Apa yang terjadi jika berpura-pura menjadi orang lain akhirnya berubah menjadi seluruh hidup Anda?
Pertanyaan itu menjadi inti dari banyak drama mata-mata populer, mulai dari Slow Horses hingga Black Doves. Namun serial thriller The Agency disebut menggali tema tersebut lebih dalam dibanding kebanyakan tayangan sejenis.
Serial Paramount+ itu kini kembali untuk musim kedua dan mengikuti kehidupan agen CIA yang hidup menggunakan identitas samaran tingkat tinggi.
Serial tersebut tidak hanya menyoroti bahaya dunia spionase, tetapi juga dampak psikologis dari mempertahankan kebohongan selama bertahun-tahun.
Dibintangi Michael Fassbender, Richard Gere, dan Katherine Waterston, The Agency merupakan adaptasi dari drama Prancis terkenal The Bureau.
Para pemerannya menilai daya tarik serial ini bukan terletak pada ledakan atau teknologi canggih, melainkan pada eksplorasi kompromi moral yang muncul dari kehidupan yang dibangun di atas kebohongan.
“Yang membuat serial ini berbeda adalah pendekatannya yang lebih dekat dengan gaya John le Carré, tentang keterasingan, kesepian, dan realitas dunia tersebut,” kata Fassbender
Ia memerankan Martian, agen veteran CIA yang mengalami dampak mendalam setelah bertahun-tahun hidup menyamar.
Pendekatan yang lebih fokus pada karakter dibanding aksi sempat memecah pendapat kritikus ketika musim pertama tayang. Sebagian memuji “kecerdasan dan realismenya”, sementara yang lain menganggap ritmenya terlalu lambat.
Serial itu memberikan “gambaran nyata tentang rasanya mencintai seorang pembohong”, karena penonton “tidak pernah benar-benar tahu apa motif Martian dan seberapa banyak momen rentannya hanyalah bagian dari permainan”.
Namun, The Guardian menggambarkannya sebagai “serial yang lambat dan mengambang” yang “bergerak tanpa urgensi”.
Fassbender menilai ritme lambat itu justru menjadi pembeda karena serial tersebut “sangat berakar pada realitas dunia mata-mata”.
“Menonton musim pertama seperti api yang perlahan menyala. Segala sesuatu terungkap sedikit demi sedikit dan Anda diperkenalkan pada berbagai karakter sebelum akhirnya semuanya saling terhubung.
“Itulah realitasnya. Bukan tentang ledakan besar atau adegan spektakuler, meski musim kedua punya sedikit lebih banyak aksi. Serial ini lebih banyak membahas kecemasan dan ketegangan yang tenang karena taruhannya sangat besar.”
Aktor berdarah Jerman-Irlandia itu mengatakan publik tetap tertarik pada cerita mata-mata karena serial seperti ini memperlihatkan perubahan manusia yang terlibat di dalamnya.
“Orang-orang tertarik pada tipe orang yang masuk ke dunia pekerjaan seperti ini dan seperti apa mereka ketika keluar dari sana.”
“Dalam serial ini, Anda melihat seperti apa Martian setelah 20 tahun dibanding seseorang yang baru memulai,” katanya. “Martian dulu idealistis dan penuh harapan, tetapi kompas moralnya perlahan terkikis oleh hal-hal yang harus ia lakukan dan pengorbanan yang harus dijalani.”
Katherine Waterston, yang memerankan Naomi, perwira operasi CIA sekaligus mantan pengendali Martian, mengatakan The Agency juga mencerminkan pertanyaan lebih luas soal kepercayaan dan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita hidup di situasi yang kacau. Bahkan ketika sesuatu terasa nyata, Anda tetap harus curiga,” katanya.
Menurut Waterston, pertanyaan-pertanyaan itu menjadi semakin penting seiring kecerdasan buatan atau AI makin melekat dalam kehidupan manusia.
“Ini masa yang aneh untuk hidup karena semua orang sedang mencoba memahami semuanya,” ujarnya. “Saya tidak yakin AI akan membawa dampak baik bagi masyarakat, dan saya rasa hal terburuknya bahkan belum datang.”
Ia juga menilai perlu ada pengawasan lebih ketat terhadap teknologi tersebut.
“Semua hal lain yang kita konsumsi diatur. Jadi mengapa AI justru seperti wilayah liar tanpa aturan?” katanya.
“Teknologi itu tidak harus berada di tangan semua orang untuk bisa menghasilkan hal-hal luar biasa.”
Fassbender sepakat dan menilai AI bisa berdampak menghancurkan jika jatuh ke tangan yang salah.
“Orang-orang yang mengembangkannya saja belum sepenuhnya memahami potensinya, dan itu menakutkan,” katanya.
Ia juga percaya maraknya disinformasi dan AI membuat tema The Agency terasa semakin relevan.
“Sifat kepercayaan sudah berubah. Ada begitu banyak cerita dan teori di hadapan orang-orang, dan sulit membedakan satu hal dengan yang lain,” ujarnya.
Aktor tersebut mengaku pernah tertipu informasi palsu di internet, sebelum akhirnya disadari oleh istrinya, aktris pemenang Oscar Alicia Vikander.
“Saya kadang bilang kepada istri saya, ‘Kamu lihat kejadian ini tidak?’ lalu Alicia biasanya langsung bertanya, ‘Itu dari mana?’ dan akhirnya saya harus melakukan pengecekan fakta,” katanya sambil tertawa.
Meski memerankan mata-mata, keduanya mengaku kehidupan mereka jauh lebih mudah dibanding agen sungguhan, walau tetap memiliki tantangan tersendiri.
Fassbender mengatakan tantangan terbesarnya adalah menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan keluarga.
“Jam kerjanya panjang. Saya merasa beruntung bisa melakukan pekerjaan yang saya cintai, tetapi bagaimana caranya menyediakan cukup waktu untuk keluarga?”
Waterston menambahkan bahwa “tidak bekerja justru lebih sulit daripada bekerja sebagai aktor”. Ia juga mengaku terganggu dengan anggapan bahwa seorang aktor terlihat lebih layak mendapat penghargaan jika mengatakan perannya sangat sulit dilepaskan dari kehidupan pribadi.
Lalu, apakah mereka akan menjadi mata-mata yang baik di dunia nyata?
“Buruk sekali,” kata Waterston sambil tertawa. “Seluruh pemeran sudah sepakat soal itu.”
Fassbender juga setuju karena menurutnya pengorbanan pribadi yang harus dilakukan terlalu besar.
“Hampir mustahil memiliki hubungan yang nyata dan seimbang.”
Pandangan itu muncul setelah ia mempelajari kehidupan agen penyamaran yang dikenal sebagai “legends”, sosok yang menjadi inspirasi beberapa elemen dalam The Agency.
“Yang paling mengejutkan bagi saya adalah betapa besar dampaknya terhadap seseorang,” katanya.
“Begitu Anda menciptakan identitas samaran itu, Anda tidak akan pernah benar-benar bisa melepaskannya. Anda bisa kehilangan kepribadian asli Anda sendiri.”
