Ekonomi besar dengan pertumbuhan tercepat di dunia ini semakin bergantung pada bantuan tunai untuk menjaga agar penduduk termiskinnya tidak jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem.
Dalam satu dekade terakhir, transfer tunai pemerintah, khususnya yang ditujukan kepada perempuan dan petani, telah menjadi instrumen kesejahteraan utama untuk pengentasan kemiskinan di India.
Alokasi anggaran federal dan negara bagian untuk skema tersebut meningkat lebih dari 20 kali lipat, dari di bawah 2 miliar dolar AS (1,51 miliar pound sterling) pada 2015 menjadi hampir 30 miliar dolar AS, menurut data ProjectDEEP, sebuah organisasi yang bekerja pada kebijakan berbasis transfer tunai di seluruh India.
Saat ini, nilainya mencapai hampir 1% dari PDB India dan lebih dari 10% dari belanja sektor sosial, dengan laju pertumbuhan yang melampaui peningkatan belanja pada program unggulan jaminan pangan dan lapangan kerja.
Tren ini juga meluas.
Sebanyak 17 dari 28 negara bagian India dan satu wilayah administratif federal, Delhi, kini memberikan transfer tunai bulanan, dibandingkan hanya empat pada 2019, menurut Crisil Intelligence.
Sering dikritik sebagai pemborosan atau alat politik menjelang pemilu, transfer tunai langsung ini justru dinilai mulai menjadi instrumen penting untuk mengatasi dua tantangan ekonomi utama, yaitu lemahnya konsumsi rumah tangga dan pengangguran kronis, menurut berbagai laporan.
Besaran transfer berkisar antara 1.000 rupee (10,5 dolar AS; 7,7 pound sterling) hingga 2.500 rupee per bulan, tergantung negara bagian. Namun, median transfer 1.500 rupee per bulan dapat menutupi hingga 74% pengeluaran bulanan rumah tangga di pedesaan dan 51% di perkotaan untuk kelompok 20% rumah tangga terbawah, sehingga menjadi “penyangga baru bagi konsumsi rumah tangga India”, kata Crisil Intelligence dalam laporan terbaru.
Dana tersebut dinilai sangat penting di tengah kondisi ekonomi yang menghadapi risiko inflasi akibat harga energi tinggi dan fenomena El Niño, menurut Crisil. Meski sebagian besar transfer ditujukan kepada perempuan dan petani, semakin banyak program juga menyasar anak muda yang menganggur.
Menurut ProjectDEEP, hampir 10 pemerintah negara bagian, termasuk Bihar yang merupakan negara bagian termiskin di India, telah mulai memberikan bantuan uang kepada laki-laki dan perempuan muda yang mencari pekerjaan.
Sebagian besar program tersebut diluncurkan dalam tiga tahun terakhir.
“Pengangguran menjadi isu besar di India, dengan munculnya AI dan guncangan iklim yang membuat aliran pendapatan semakin tidak pasti. Skema ini biasanya dirancang untuk menciptakan pendapatan jembatan,” kata Pankhuri Shah, salah satu pendiri ProjectDEEP
Namun meski berfungsi sebagai penyangga jangka pendek yang penting, kekhawatiran meningkat terkait biaya fiskalnya yang terus bertambah.
Survei Ekonomi India, dokumen tahunan pemerintah yang disampaikan sebelum anggaran, menyebut skema ini sebagai “pendorong utama” tekanan fiskal di tingkat negara bagian, dengan menyatakan bahwa separuh dari wilayah yang menerapkannya mengalami defisit pendapatan.
Menurut Crisil, pada tahun fiskal 2026, pinjaman pasar bruto negara bagian naik 15,2% secara tahunan, lebih cepat dibanding pemerintah federal. Dari negara bagian yang memberikan bantuan tunai, 12 di antaranya mencatat pertumbuhan pinjaman pasar dua digit.
Hal ini tidak hanya menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal, tetapi juga membawa biaya tersembunyi.
“Sebagian besar pembiayaan skema ini berasal dari pengalihan belanja, dan sebagian lainnya dari peningkatan defisit,” menurut studi Axis Research tahun 2025. Artinya, peningkatan belanja transfer tunai terjadi dengan mengorbankan pengeluaran di sektor lain.
Akibatnya, “ruang untuk memperluas belanja modal produktif (atau aset yang menghasilkan pendapatan) semakin terbatas, terutama dalam lingkungan dengan pendapatan terbatas dan defisit tinggi,” menurut Survei Ekonomi, yang menyerukan evaluasi ulang secara berkala.
Shah mengakui bahwa ini merupakan kekurangan besar yang masih ada.
Sebagian besar skema tidak memiliki batas waktu dan umumnya hanya meningkatkan stabilitas jangka pendek, bukan mendorong keluar secara berkelanjutan dari kemiskinan.
“Penilaian dampak hampir tidak ada, dan itu menciptakan kesenjangan besar dalam desain,” ujarnya.
“Misalnya, jika tujuan Anda adalah dukungan konsumsi untuk lansia dan nilai transfer pensiun hanya 200 rupee, itu tidak cukup dari sisi dampak, dan ini perlu ditinjau ulang,” tambahnya.
Pemerintah juga perlu menilai apakah bantuan tunai bisa menggantikan bantuan barang, seperti unggas atau paket bayi, serta subsidi lain seperti energi atau traktor, kata Shah.
Hal ini akan mengurangi “biaya administrasi sekaligus tumpang tindih manfaat untuk orang yang sama” dan membuat sistem lebih berkelanjutan.
Sudah ada preseden yang baik.
Gas minyak cair (LPG), yang sebelumnya diberikan dalam bentuk subsidi fisik, telah dialihkan menjadi transfer tunai langsung. Kebijakan ini menghemat 7–8 miliar dolar AS bagi negara tersebut, menurut analisis ProjectDEEP.
Eksperimen oleh organisasi seperti ProjectDEEP menawarkan gambaran tentang bagaimana transfer negara dapat dibuat lebih produktif.
Pada Juni 2022, Shah dan rekannya Muzamil Baig menyalurkan 65.000 rupee kepada sekitar 50 rumah tangga di Krishanpur, wilayah rawan kekeringan di negara bagian Maharashtra, India barat, melalui organisasi tersebut.
Ini menjadi awal studi unik untuk melihat dampak transfer tunai sekaligus dalam jumlah besar dibandingkan transfer bulanan tanpa syarat kepada komunitas paling miskin di negara itu.
Selama tiga tahun terakhir, mereka memperluas eksperimen ke enam desa lain, dengan menyalurkan lebih dari setengah juta dolar AS yang dihimpun dari berbagai donatur korporasi kepada sekitar 3.500 keluarga di seluruh India.
Hasilnya cukup mencolok.
Hampir 90% dana yang disalurkan digunakan rumah tangga untuk meningkatkan mata pencaharian, melunasi utang, dan menciptakan aset penghasil pendapatan.
Shobha, seorang perempuan dari desa terpencil Shelkui di Maharashtra, menggunakan dana dari ProjectDEEP untuk membeli mesin penggiling tepung kecil.
Mesin itu menghemat waktu dan biaya yang sebelumnya ia keluarkan untuk menggiling gandum di kota terdekat, sekaligus menjadi sumber pendapatan tambahan.
Dana sekaligus tersebut berfungsi seperti “modal awal”, memicu siklus investasi, bukan sekadar menutup konsumsi dasar.
Studi komparatif di Kenya juga menunjukkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi per dolar yang dibelanjakan untuk transfer sekaligus dibandingkan transfer bulanan bertahap.
Seiring transfer tunai yang semakin mengakar secara politik dan biayanya meningkat, para pembuat kebijakan dinilai perlu berpikir lebih kreatif dalam merancang skema tersebut, kata Shah. Tujuannya adalah mendorong investasi dan wirausaha, bukan sekadar meningkatkan konsumsi.
Namun penerapan pendekatan ini dalam skala besar dinilai tidak mudah.
“Transfer sekaligus tidak dapat dibatalkan, sehingga penargetan harus hampir sempurna. Jumlah besar meningkatkan risiko penyalahgunaan. Selain itu, biayanya harus ditanggung pemerintah dalam satu tahun anggaran,” kata Profesor Ekonomi Vidya Mahambare dari Great Lakes Institute di Chennai
Pada akhirnya, menurutnya, fokus negara harus tetap pada pertumbuhan yang menciptakan cukup lapangan kerja.
“Uang tunai dapat menjadi bantalan konsumsi, tetapi tidak dapat menggantikan pekerjaan. Dan ketika keluarga sudah bergantung pada transfer, akan sangat sulit untuk menguranginya,” tambah Mahambare.
Tantangan ini sudah sangat dipahami oleh negara bagian di India, yang banyak di antaranya kini terikat dalam janji kesejahteraan yang mahal.
