Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya berhasil mengungguli rival politik lamanya, Gubernur Georgia Brian Kemp, dalam satu pemilihan pendahuluan Partai Republik pada Selasa. Namun di kontestasi lain, para pemilih justru menolak pilihan yang didukung keduanya.
Dalam putaran kedua pemilihan pendahuluan Partai Republik untuk menentukan penantang senator Demokrat Jon Ossoff, anggota DPR AS Mike Collins yang didukung Trump berhasil mengalahkan pilihan Kemp, mantan pelatih sepak bola Derek Dooley.
Kemenangan Collins membuka jalan menuju salah satu pertarungan Senat yang paling banyak disorot dalam pemilu paruh waktu tahun ini. Hasil pemilu tersebut bahkan berpotensi memengaruhi peta politik menuju Pilpres 2028 apabila Ossoff berhasil mempertahankan kursinya, mengingat namanya semakin sering disebut sebagai calon presiden potensial dari Partai Demokrat.
Kemenangan Collins dan Trump terjadi di tengah hasil yang tidak sepenuhnya mulus bagi kandidat-kandidat yang mendapat dukungan presiden.
Pemilih Partai Republik di Georgia yang mendukung Collins justru menolak kandidat gubernur yang didukung bersama oleh Trump dan Kemp. Mereka memilih pengusaha kaya yang mendanai kampanyenya sendiri, Rick Jackson.
Di Alabama, anggota DPR AS Barry Moore yang didukung Trump memenangkan putaran kedua pemilihan pendahuluan Senat Partai Republik.
Namun di Oklahoma, kandidat pilihan Trump dalam pemilihan gubernur, Mike Mazzei, hanya berada di posisi kedua dengan sekitar seperempat suara dan harus melanjutkan pertarungan ke putaran kedua.
Trump Akhirnya Menang dalam Pertarungan Tidak Langsung Melawan Kemp
Empat tahun lalu, Kemp berhasil bertahan dari tantangan kandidat yang didukung Trump dalam pemilihan pendahuluan saat ia mencalonkan diri kembali sebagai gubernur.
Namun kali ini, ketika Partai Republik mencari pengganti Kemp yang telah menjabat dua periode, Trump berhasil memenangkan pertarungan tidak langsung antara dua tokoh besar partai tersebut.
Kemp merekrut Derek Dooley, mantan pelatih sepak bola Universitas Tennessee yang lebih moderat, untuk maju dalam pemilihan.
Trump kemudian turun tangan menjelang akhir kampanye dengan memberikan dukungan kepada Collins, seorang konservatif yang dikenal dekat dengan gerakan “Make America Great Again” (MAGA).
Dalam dukungannya kepada Collins, Trump secara terbuka menunjukkan bahwa ia masih kecewa terhadap penolakan Kemp mendukung klaimnya mengenai kecurangan pemilu Georgia pada 2020. Isu yang sama juga menjadi alasan Trump berupaya menggulingkan Kemp pada 2022.
Dalam kampanye melalui sambungan telepon untuk Collins pada Senin, Trump mengkritik Dooley karena mengakui bahwa Trump kalah di Georgia pada Pilpres 2020.
“Itu bukan hal yang tepat untuk dikatakan dan tentu bukan sesuatu yang kami perjuangkan dalam Make America Great Again,” kata Trump.
Namun mengalahkan Ossoff pada November mendatang akan menjadi tantangan yang jauh lebih berat bagi Collins.
Pertarungan itu juga bisa menjadi ujian akhir mengenai apakah naluri politik Trump atau Kemp yang lebih tepat dalam pemilihan pendahuluan Partai Republik.
Ossoff saat ini memiliki dana kampanye sebesar 32 juta dolar AS, unggul lebih dari 30 juta dolar dibandingkan Collins setelah Partai Republik menghabiskan dana besar dalam putaran kedua yang mahal tersebut.
Di kalangan Demokrat, Ossoff juga semakin sering dibicarakan sebagai kandidat potensial Pilpres 2028.
Sebelum siklus pemilu dimulai, Partai Republik sebenarnya berharap Kemp sendiri bersedia menantang Ossoff.
Gubernur yang populer itu dianggap sebagai peluang terbaik partai untuk mengalahkan senator petahana berusia 39 tahun tersebut dan sekaligus menghentikan kemungkinan langkah Ossoff menuju pencalonan presiden sebelum wacana itu berkembang lebih jauh.
Namun pada akhirnya, kandidat pilihan Kemp kalah dalam dua kontestasi besar Partai Republik di Georgia.
Ambisi 2028 Ossoff Bergantung pada Kemenangan Tahun Ini
Ossoff merupakan satu-satunya senator Demokrat yang menghadapi pemilihan ulang di negara bagian yang dimenangkan Trump pada Pemilu 2024.
Fakta itu saja sudah cukup untuk menjadikannya salah satu petahana Demokrat yang paling rentan dalam pemilu paruh waktu tahun ini.
Namun banyak pemimpin dan donor Partai Demokrat melihat Ossoff secara berbeda.
Sebagai senator milenial pertama yang terpilih ke Senat AS, ia semakin sering disebut sebagai sosok yang layak diperhatikan dalam persaingan panjang menuju pencalonan presiden Demokrat pada 2028.
Meski demikian, para penasihat Ossoff menyadari bahwa pembicaraan tersebut masih terlalu dini.
Untuk mewujudkan ambisi politik masa depan, ia terlebih dahulu harus memenangkan pertarungan pada November di salah satu negara bagian medan tempur politik paling kompetitif di Amerika Serikat.
Singkatnya, fokus utama Ossoff saat ini adalah pemilu 2026.
Kekalahan pada musim gugur nanti akan mengakhiri seluruh spekulasi mengenai 2028, sesuatu yang juga dipahami oleh Partai Republik.
Tak lama setelah kemenangan Collins dipastikan pada Selasa malam, Ossoff langsung melancarkan serangan keras terhadap lawannya.
Ia menyebut Collins sebagai “tokoh yang terkenal karena sikap fanatik, antisemit, dan ekstremis”.
Namun selama empat setengah bulan ke depan, Collins bukan sekadar lawan politik. Ia juga bisa menjadi penghalang utama masa depan politik Ossoff.
Kepada para pendukungnya, Collins menegaskan tujuan utamanya.
“Kalian semua tahu apa misinya.”
“Misinya adalah menempatkan seorang Republikan di kursi itu dan menyingkirkan Jon Ossoff pada November nanti. Mengembalikan kursi ini kepada rakyat Georgia.”
Kejutan Besar dalam Perebutan Kursi Gubernur Georgia
Dalam pemilihan gubernur, baik Trump maupun Kemp mengalami kekalahan yang memalukan.
Rick Jackson, pengusaha yang membiayai kampanyenya sendiri, berhasil mengalahkan Letnan Gubernur Georgia, Jones, yang mendapat dukungan dari Trump maupun Kemp.
Jackson meraih kemenangan berkat dukungan kuat dari wilayah perkotaan dan pinggiran kota, meskipun Jones unggul di daerah pedesaan.
Mantan eksekutif sektor kesehatan itu menghabiskan lebih dari 91 juta dolar AS untuk iklan televisi sepanjang tahun ini.
Jackson sering menanggapi pertanyaan mengenai kekayaannya dengan menceritakan kisah hidupnya yang penuh perjuangan. Ia berasal dari keluarga yang berantakan dan sempat berpindah-pindah rumah asuh ketika ibunya berjuang melawan kecanduan alkohol.
Iklan kampanyenya menggambarkan Jones sebagai politisi yang tunduk pada kepentingan kelompok tertentu, sementara dirinya diposisikan sebagai sosok luar yang melawan sistem politik yang dianggap telah rusak.
Meski tidak memperoleh dukungan resmi Trump, Jackson tetap mendapatkan pujian dari lingkaran dekat presiden.
Putra sulung Trump, Donald Trump Jr., menulis di media sosial:
“Ini adalah persaingan yang keras dan penuh serangan negatif, tetapi saya mengenal Rick Jackson sebagai orang yang baik, dan itu sangat berarti.”
Menariknya, Jones sama sekali tidak menyebut nama Trump dalam pidato kekalahannya.
Jackson kini akan menghadapi kandidat Demokrat Keisha Lance Bottoms, mantan Wali Kota Atlanta dan penasihat senior pemerintahan Presiden Joe Biden.
Hasil pertarungan tersebut bisa sangat dipengaruhi oleh pemilih yang memilih kandidat dari partai berbeda untuk jabatan gubernur dan senator.
Kelompok pemilih seperti inilah yang akan menjadi sasaran utama kedua partai menjelang Pilpres 2028.
Dukungan Trump Masih Kuat, tetapi Tidak Lagi Tak Terkalahkan
Dukungan politik Trump masih sangat berpengaruh, tetapi tidak lagi terlihat sebagai jaminan kemenangan mutlak.
Dengan kekalahan Jones dalam pemilihan gubernur Georgia, ia menjadi kandidat gubernur kedua yang didukung Trump namun gagal bulan ini, setelah anggota DPR Iowa Randy Feenstra.
Jones juga menjadi kandidat tingkat negara bagian ketiga yang didukung Trump tetapi kalah tahun ini, setelah Komisaris Pertanian Texas Sid Miller kalah dalam pemilihan pendahuluan pada Maret.
Sementara itu, Letnan Gubernur Carolina Selatan Pamela Evette yang juga didukung Trump bahkan gagal mencapai 30 persen suara dalam pemilihan pendahuluan gubernur yang ramai dan harus melanjutkan persaingan ke putaran kedua melawan Jaksa Agung Alan Wilson.
Menurut analisis data Ballotpedia, tiga kekalahan kandidat tingkat negara bagian yang didukung Trump pada 2026 sudah melampaui total kekalahan serupa sepanjang musim pemilihan 2018, 2020, dan 2024.
Jika tren ini berlanjut, tahun 2026 berpotensi mendekati catatan terburuk dukungan Trump yang terjadi pada 2022, ketika tiga kandidat gubernur dan empat kandidat jabatan eksekutif tingkat negara bagian yang didukungnya gagal memenangkan nominasi partai.
Meski demikian, pengaruh Trump masih jauh dari hilang.
Hal itu dapat dilihat dari kekalahan sejumlah tokoh Partai Republik yang berseberangan dengannya, termasuk Senator Bill Cassidy, Senator John Cornyn, serta anggota DPR AS Thomas Massie yang semuanya tersingkir bulan lalu setelah Trump mendukung penantang mereka dalam pemilihan pendahuluan.
Hasil pemilu terbaru ini menunjukkan bahwa dukungan Trump masih menjadi faktor penting dalam politik Partai Republik, tetapi tidak lagi cukup kuat untuk menjamin kemenangan dalam setiap pertarungan.
