Miten Patel masih mengingat hari ketika petugas rumah sakit di Ahmedabad mengambil dua tabung darahnya untuk membantu mengidentifikasi jenazah kedua orang tuanya.
Ia dan saudaranya baru beberapa jam tiba di kota tersebut, membawa rekam medis gigi milik Ashok Patel dan Shobhana Patel.
“Kami harus terbang dengan Air India untuk sampai ke sana karena tidak ada penerbangan lain,” kenangnya.
Miten tidak mengenal siapa pun di India. Namun ia bersyukur karena kedua orang tuanya mengajarinya bahasa Gujarati, bahasa yang digunakan di Ahmedabad. Kemampuan itu membantunya dan sang saudara menghadapi kekacauan setelah tragedi yang mengubah hidup mereka.
“Saya bahkan tidak tahu apa arti kata repatriasi.”
Setahun lalu, pada 12 Juni, kedua orang tuanya sedang dalam perjalanan pulang ke London ketika pesawat Air India yang mereka tumpangi jatuh hanya 32 detik setelah lepas landas dari Ahmedabad.
Mereka termasuk di antara 260 korban jiwa, terdiri dari 241 orang di dalam pesawat dan 19 orang di darat, dalam salah satu kecelakaan penerbangan paling mematikan dalam sejarah India. Hanya satu penumpang yang secara ajaib selamat dari kecelakaan tersebut.
Butuh lebih dari sepekan sebelum jenazah pasangan Patel dipulangkan ke Inggris.
Empat hari kemudian, Miten menerima telepon pada pagi hari dari kepolisian London. Polisi meminta bertemu dengannya malam itu, tetapi menolak menjelaskan alasannya melalui telepon.
Pemindaian CT kemudian mengungkap bahwa peti jenazah ibunya juga berisi sisa jasad orang lain.
Miten diberi tahu terdapat bagian kerangka tambahan di dalam peti tersebut.
Polisi bahkan memintanya untuk tidak memberi tahu siapa pun, termasuk keluarganya sendiri, selama beberapa minggu.
Namun ia bersikeras untuk bertemu langsung dengan koroner.
“Saya mengatakan kepada mereka, saya sungguh memohon agar ibu saya dipisahkan dari siapa pun orang lain itu,” katanya.
Pengujian lanjutan menunjukkan bahwa jenazah ibunya tercampur dengan jasad seorang pria yang hingga kini belum berhasil diidentifikasi.
Keluarga Patel harus menunggu satu bulan lagi sebelum dapat mengkremasi jenazah Shobhana. Upacara terakhir untuk Ashok juga ditunda agar keduanya dapat dilakukan secara bersamaan.
Sebuah penyelidikan koroner di Inggris kini dibuka terkait kematian pria yang jasadnya ditemukan dalam peti jenazah Shobhana Patel. Hingga saat ini identitasnya masih belum diketahui.
Dalam sidang pekan ini, Koroner Inggris Fiona Wilcox mengatakan pihaknya telah “mengirim sidik telapak tangan dan sampel DNA ke India dalam upaya mengidentifikasi pria tersebut, tetapi hingga saat ini belum ada konfirmasi mengenai namanya”.
Ia menambahkan bahwa pembukaan penyelidikan hampir setahun setelah kematian merupakan hal yang “sangat tidak biasa”.
“Identitas jenazah pria yang belum diketahui itu masih menjadi persoalan. Saya berharap identifikasi dapat segera dilakukan,” ujar Wilcox.
Tantangan Besar di Lokasi Kecelakaan
Petugas darurat menghadapi tantangan luar biasa di lokasi kecelakaan, dengan ratusan korban dan banyak jasad yang hangus terbakar serta tercerai-berai.
Puing-puing pesawat tersebar di area seluas 37.000 meter persegi, setara dengan lima lapangan sepak bola. Pesawat menghantam kompleks asrama mahasiswa kedokteran sebelum hancur berkeping-keping.
Seorang warga setempat yang bergegas membantu mengaku kesulitan mengevakuasi korban dari reruntuhan karena sabuk pengaman yang menahan tubuh korban begitu panas hingga tidak dapat disentuh.
Pakar forensik independen yang terlibat dalam proses identifikasi korban, Dr. Deepak Venkatesh, mengatakan skala bencana membuat proses identifikasi menjadi jauh lebih rumit.
Menurut Otoritas Nasional Penanggulangan Bencana India (NDMA), sekitar 90 persen korban mengalami luka bakar sangat parah sehingga sidik jari, fitur wajah, dan penanda visual lainnya hancur akibat suhu ekstrem.
NDMA kemudian menjadikan tragedi Air India sebagai studi kasus dalam pedoman identifikasi korban bencana terbaru yang diterbitkan pada Januari.
“Ini adalah pelajaran yang kami ambil,” kata Dr. Venkatesh
menghubungi Kementerian Luar Negeri India, rumah sakit yang menangani proses identifikasi korban di Gujarat, serta Kementerian Luar Negeri Inggris, namun belum menerima tanggapan.
Pada Juli tahun lalu, sekitar sebulan setelah kecelakaan, Kementerian Luar Negeri India menyatakan bahwa pihaknya telah “bekerja sangat erat dengan pihak Inggris sejak kekhawatiran dan masalah ini pertama kali disampaikan”.
Pernyataan tersebut menambahkan:
“Setelah kecelakaan tragis itu, otoritas terkait melakukan identifikasi korban sesuai protokol dan persyaratan teknis yang berlaku.
“Seluruh jenazah ditangani dengan profesionalisme tertinggi serta tetap menjaga martabat para korban yang meninggal.”
Keluarga Lain Juga Menerima Jenazah yang Salah
Kasus keluarga Patel bukan satu-satunya di Inggris.
Amanda Donaghey pulang ke Inggris dengan keyakinan bahwa ia membawa jenazah putranya, Fiongal Greenlaw-Meek, yang berusia 39 tahun.
Belakangan ia mengetahui bahwa jenazah yang diterimanya sebenarnya milik seorang perempuan India berusia 70 tahun bernama Vasuben Narendrasinh Raj.
Pekan ini, Koroner Fiona Wilcox mengatakan bahwa pihaknya “baru belakangan berhasil menghubungi putra dari Ny. Raj”.
Sementara itu, Donaghey masih berupaya menemukan keberadaan jenazah putranya.
James Healey-Pratt, pengacara yang mewakili Amanda Donaghey dan Miten Patel, mengatakan bahwa meskipun skala bencana memang menimbulkan tantangan besar dalam identifikasi korban, tetap harus ada transparansi dan pertanggungjawaban.
“Keluarga korban berhak mendapatkannya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa selama setahun terakhir, “tidak ada satu pun pihak berwenang di India yang secara terbuka menerima tanggung jawab”.
“Ini sangat memalukan dan membuat mereka terlihat tidak kompeten,” katanya.
Pencarian Berbulan-bulan di Tengah Panas dan Reruntuhan
Dr. Venkatesh, yang diterjunkan beberapa hari setelah kecelakaan, mengatakan pemandangan yang ia saksikan masih menghantuinya hingga kini.
Selama berbulan-bulan, tim pencari bekerja di antara puing-puing dan reruntuhan dengan suhu mencapai pertengahan 40 derajat Celsius, dikelilingi jenazah yang mulai membusuk.
Ia menjelaskan bahwa bagian-bagian tubuh korban diberi nomor sebelum dikirim ke laboratorium untuk diproses.
Keluarga korban juga ditanya apakah mereka ingin menerima seluruh bagian tubuh kerabat mereka. Proses tersebut dapat memakan waktu berbulan-bulan karena semua sisa jasad harus diuji dan dicocokkan terlebih dahulu.
Menurut Dr. Venkatesh, fokus utama NDMA saat itu adalah penyelamatan, bantuan darurat, dan pemulihan.
Pada fase awal pascakecelakaan, para petugas lebih memprioritaskan penyelamatan korban yang mungkin masih hidup daripada identifikasi jenazah.
“Lingkungan proses evakuasi menghadirkan tantangan dalam menjaga pemisahan jenazah, yang dapat menyebabkan pencampuran sisa jasad,” jelasnya.
Fenomena tersebut dikenal sebagai commingling, yaitu ketika sisa jasad beberapa individu bercampur menjadi satu.
Meski demikian, ia mengaku tidak mengetahui adanya kasus lain di mana keluarga secara resmi menggugat hasil identifikasi kerabat mereka.
Menurutnya, setelah fase darurat berakhir, pencarian dilakukan secara “teliti” dan “sistematis” dengan membagi lokasi kecelakaan ke dalam sejumlah zona pencarian.
Pedoman terbaru NDMA yang diterbitkan setelah tragedi itu juga mengakui bahwa sistem identifikasi dan pengelolaan korban bencana di India selama ini belum mendapat perhatian yang memadai dalam kerangka manajemen bencana nasional.
Perjuangan yang Belum Berakhir
Dr. Venkatesh menjelaskan bahwa rekam medis gigi sebenarnya diakui secara global sebagai metode cepat dan andal untuk mengidentifikasi korban. Namun, otoritas India saat itu lebih mengutamakan verifikasi DNA sesuai protokol yang berlaku.
Kebijakan tersebut menimbulkan hambatan besar di laboratorium forensik Gandhinagar, dekat Ahmedabad.
Dalam laporan NDMA disebutkan bahwa lonjakan mendadak sampel DNA yang kompleks telah membebani kapasitas laboratorium tersebut.
Laporan itu menyimpulkan bahwa India membutuhkan lebih banyak fasilitas pengujian DNA regional serta pemanfaatan metode identifikasi berbasis data gigi yang lebih luas.
“Bagi saya, perjuangan ini masih terus berlanjut,” kata Miten.
“Pada akhirnya, ibu saya pulang ke rumah bersama jasad orang lain.”
Sebagian besar waktu, Miten berusaha menekan kesedihannya. Namun setiap malam sekitar pukul 23.00, ia memilih menyendiri di sebuah ruangan dan menonton video-video kedua orang tuanya.
Ia percaya bahwa perjuangan yang sedang dijalaninya, baik untuk dirinya sendiri maupun keluarga korban lainnya, adalah bentuk penghormatan terakhir yang bisa ia berikan kepada mereka.
“Saya tidak ingin suatu hari meninggal dan bertemu orang tua saya di sana lalu…”
Miten berhenti sejenak.
“Saya ingin mereka berkata kepada saya, Beta, Nak, kami sangat bangga padamu. Kamu sudah melakukan semua yang kamu bisa setelah kami pergi.”
