Seorang perempuan yang divonis hanya memiliki waktu enam bulan untuk hidup setelah leukemia yang dideritanya kambuh mengaku tidak sanggup membayangkan harus meninggalkan saudara kembar identiknya sendirian.
Caitlin Leggett, 24 tahun, asal Cardiff, didiagnosis menderita leukemia mieloid akut (acute myeloid leukaemia/AML), kanker agresif yang menyerang sel darah putih, pada April 2025. Saat itu, satu-satunya tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres hanyalah ruam yang terus muncul di kulitnya.
Setelah menjalani kemoterapi, Caitlin sempat memasuki masa remisi dan kemudian menjalani transplantasi sel punca. Namun pada Mei tahun ini, dokter memberitahunya bahwa kanker tersebut telah kembali dan pilihan pengobatan yang tersedia di Inggris kemungkinan tidak dapat memberikan kesembuhan.
Kini Caitlin berupaya mendapatkan terapi yang berpotensi menyembuhkan di luar negeri, kemungkinan besar di Amerika Serikat, dengan total biaya pengobatan dan perjalanan yang dapat mencapai 500.000 poundsterling.
“Kami baru berusia 24 tahun. Tidak ada yang mengira hal seperti ini akan terjadi,” kata saudara kembarnya, Grace.
“Sebagai saudara kembar, rasanya tidak seharusnya ada satu yang pergi lebih dulu.”
“Itu tidak bisa saya bayangkan,” tambah Caitlin.
“Kami menjalani hidup bersama sejak awal, dan saya tidak ingin kisah kami berakhir di sini.”
Baru Tahu Kembar Identik Setelah Diagnosis Kanker
Hubungan Caitlin dan Grace selama ini sangat dekat. Mereka bahkan tinggal bersama saat kuliah.
Menariknya, keduanya baru mengetahui bahwa mereka adalah kembar identik setelah Caitlin didiagnosis leukemia.
Sebelumnya, keluarga mengira mereka adalah kembar tidak identik karena berkembang dalam kantung ketuban yang berbeda saat dalam kandungan.
Namun ketika dokter memeriksa Grace sebagai calon donor sel punca, hasil pemeriksaan menunjukkan penanda genetik keduanya benar-benar sama.
Meski menjadi kejutan, fakta tersebut justru mempersulit pengobatan Caitlin. Karena DNA mereka hampir identik, Grace tidak memenuhi syarat untuk menjadi donor sel punca bagi saudara kembarnya.
Sebelum sakit, Caitlin berencana bergabung dengan Angkatan Darat Inggris dan mengikuti pelatihan sebagai perwira intelijen setelah lulus kuliah pada Juli 2024.
Ia bahkan telah menjadwalkan pemeriksaan medis untuk proses pendaftaran pada April 2025.
Namun pada Maret 2025, ia mengalami ruam kulit yang tidak kunjung membaik meski telah menggunakan krim dari apotek.
Setelah menjalani tes darah, Caitlin diminta datang ke unit Teenage Cancer Trust di University Hospital of Wales di Cardiff keesokan harinya.
Di situlah ia mulai menyadari bahwa kondisinya jauh lebih serius daripada yang dibayangkan.
Sempat Remisi Berkali-kali, Kanker Terus Kembali
Sambil menunggu donor yang cocok ditemukan melalui registrasi nasional, Caitlin berhasil mencapai remisi pada Mei 2025 setelah menjalani dua bulan kemoterapi.
Namun pada Agustus tahun yang sama, dokter menemukan bahwa kanker telah kembali dan muncul di kulitnya.
Ia kemudian mengikuti uji klinis di Manchester yang menggunakan obat golongan inhibitor menin. Terapi tersebut berhasil membawanya kembali ke kondisi remisi total menjelang transplantasi sel punca yang telah direncanakan.
Tetapi hanya seminggu sebelum jadwal transplantasi pada Desember 2025, kanker kembali muncul di kulitnya.
Meski demikian, Caitlin tetap dapat menjalani transplantasi setelah menerima radioterapi seluruh tubuh tambahan.
Pada Januari 2026, ia kembali dinyatakan dalam kondisi remisi.
Setelah itu, dokter menjadwalkan pemeriksaan sumsum tulang setiap bulan selama tiga bulan untuk memastikan kanker tidak kembali.
Frekuensi pemeriksaan rencananya akan dikurangi menjadi setiap tiga bulan mulai Maret 2026.
“Saya sebenarnya tidak terlalu nyaman dengan itu,” kata Caitlin.
“Saya merasa tidak aman jika langsung beralih ke pemeriksaan setiap tiga bulan, jadi saya membujuk dokter konsultan saya agar memberi satu pemeriksaan tambahan pada Mei.”
“Dari pemeriksaan tambahan itulah mereka menemukan bahwa leukemia saya kembali lagi.”
Hanya Ruam, Tanpa Gejala Khas Leukemia
Menurut Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS), gejala leukemia mieloid akut dapat meliputi kulit pucat, mudah lelah, lemah, sesak napas, memar atau perdarahan yang tidak biasa, serta penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Namun Caitlin mengatakan dirinya tidak mengalami satu pun gejala tersebut.
Satu-satunya tanda yang muncul hanyalah ruam kulit yang tidak biasa, yang ternyata juga dapat menjadi gejala kanker darah.
Ketika dokter menjelaskan bahwa pengobatannya memerlukan transplantasi sel punca, seluruh anggota keluarga menjalani pemeriksaan untuk melihat apakah ada yang cocok menjadi donor.
Menurut organisasi amal kanker darah dan gangguan darah DKMS, lebih dari 2.000 orang di Inggris membutuhkan transplantasi sel punca darah setiap tahun.
Namun hanya sekitar 7 persen dari populasi yang memenuhi syarat tercatat sebagai calon donor.
Berjuang Mencari Kesempatan Terakhir
Sejak Mei, Caitlin mengikuti uji coba obat lain bernama Bleximenib dan masih menunggu hasil apakah tubuhnya merespons terapi tersebut.
Dokternya mengatakan masih ada satu pilihan uji klinis lain jika pengobatan saat ini gagal.
Namun, ia telah diberi tahu bahwa terapi-terapi tersebut tidak bersifat kuratif atau tidak mampu menyembuhkan penyakit secara permanen.
Caitlin juga diberi tahu bahwa transplantasi sel punca kedua tidak dapat dilakukan di Inggris.
Dokter memperkirakan rencana pengobatan yang sedang dijalaninya saat ini hanya dapat memperpanjang hidupnya sekitar enam bulan.
Karena itu, ia kini mencari pengobatan di luar negeri yang berpotensi memberikan kesembuhan.
Pilihan yang sedang dipertimbangkan meliputi terapi leukemia khusus di Amerika Serikat atau terapi sel CAR-T, salah satu bentuk imunoterapi, di China maupun Singapura.
Kedua pilihan tersebut membutuhkan biaya hingga ratusan ribu poundsterling.
Caitlin dan Grace kemudian membuat halaman penggalangan dana bernama Saving Caitlin dengan target mengumpulkan 500.000 poundsterling untuk membiayai pengobatan dan perjalanan.
“Memikirkannya saja sudah sangat sulit,” kata Caitlin.
“Pada usia 24 tahun, saya selalu mengira masih memiliki seluruh hidup di depan saya.”
“Masih banyak hal yang ingin saya lakukan, banyak tempat yang ingin saya kunjungi, dan banyak kenangan yang ingin saya ciptakan bersama orang-orang yang saya cintai.”
“Saya tidak ingin kehilangan masa depan yang selama ini kami bayangkan akan kami jalani bersama.”
