Salah satu asisten lama Jeffrey Epstein mengatakan kepada anggota Komite Pengawas DPR Amerika Serikat pada Selasa bahwa dirinya tidak mengetahui kejahatan yang dilakukan mendiang pelaku kejahatan seksual tersebut. Ia menggambarkan Epstein sebagai seorang manipulator ulung yang sengaja menyembunyikan kehidupan kriminalnya dari orang-orang terdekat, menurut dua sumber yang mengetahui isi kesaksiannya.
Lesley Groff, mantan asisten eksekutif Epstein, berupaya menunjukkan bahwa dirinya tidak mengetahui tindakan ilegal sang bos dengan menyatakan bahwa ia selalu menganggap janji pijat yang diaturnya untuk Epstein melibatkan terapis pijat profesional, bukan korban eksploitasi seksual.
“Saya ingin mengatakan tanpa keraguan bahwa kini saya percaya pria yang mempekerjakan saya dari Februari 2001 hingga Juli 2019 adalah seorang monster. Selama 18 tahun saya bekerja untuk Dr. Jekyll, tetapi tidak pernah diizinkan melihat sosok Mr. Hyde yang sebenarnya,” kata Groff dalam pernyataan pembukaannya yang kemudian diperoleh
“Jika dilihat sekarang, Epstein adalah seorang manipulator dan penipu ulung yang memisahkan kehidupan legalnya dari kehidupan rahasianya sebagai pelaku kekerasan seksual, serta memastikan bahwa sebagai sekretarisnya, kedua dunia itu tidak pernah bertemu.”
Groff merupakan salah satu tokoh paling penting dalam lingkaran dekat Epstein yang memberikan kesaksian kepada Kongres dalam penyelidikan terkait kasus tersebut. Selama bertahun-tahun ia membantu mengatur hampir seluruh aspek kehidupan Epstein, mulai dari jadwal pertemuan dengan perempuan hingga pertemuan dengan tokoh-tokoh berpengaruh, sebagaimana tercantum dalam jutaan dokumen yang dimiliki Departemen Kehakiman AS.
Klaim Tidak Pernah Bertemu Para Korban
Dalam pernyataan pembukaannya, Groff menjelaskan bagaimana janji pijat untuk Epstein diatur dan menegaskan bahwa ia tidak pernah bertemu dengan para perempuan yang datang.
“Panggilan-panggilan itu hanya berlangsung beberapa detik. ‘Halo, saya Lesley menelepon untuk Tuan Epstein. Apakah Anda tersedia untuk sesi pijat pukul 4 sore?'” ujarnya kepada para anggota parlemen.
“Tidak satu pun dari perempuan tersebut, atau siapa pun, pernah memberi tahu saya bahwa mereka masih di bawah umur atau telah mengalami pelecehan seksual. Tidak ada yang saya dengar atau lihat yang membuat saya berpikir sebaliknya.”
Groff menegaskan bahwa ia tidak akan pernah tinggal diam jika mengetahui kejahatan yang dilakukan Epstein.
Dalam wawancara tertutup yang berlangsung sekitar satu jam, Groff juga mengatakan bahwa dirinya tidak pernah menjadi korban pelecehan seksual Epstein.
Menurut salah satu sumber, ia menyatakan sebenarnya tidak bergantung pada pekerjaan tersebut untuk bertahan hidup. Ia juga mengungkapkan bahwa Epstein dan rekannya, Ghislaine Maxwell, pernah mengatakan kepadanya agar tidak bergaul dengan teman atau kolega mereka karena urusan bisnis mereka bukanlah urusannya.
Sejak penangkapan Epstein, Groff yang selama ini jarang tampil di hadapan publik mengaku dijauhi teman-temannya, menerima ancaman pembunuhan, dan keluarganya mengalami pelecehan.
Sampaikan Simpati kepada Para Penyintas
Dalam kesaksiannya, Groff juga menyampaikan simpati kepada para perempuan yang menjadi korban Epstein.
“Hati saya hancur untuk para perempuan ini,” katanya.
“Saya percaya kepada mereka. Kata-kata tidak dapat menggambarkan betapa buruk perasaan saya karena bekerja untuk Epstein selama periode ketika ia menyakiti para perempuan tersebut. Saya akan hidup dengan perasaan mengerikan ini selama sisa hidup saya.”
Namun, bantahan Groff bahwa dirinya tidak mengetahui kejahatan Epstein langsung menuai kritik dari sejumlah penyintas.
Sharlene Rochard, salah satu korban, meragukan bahwa Groff sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi.
“Salah satu hal tersulit bagi para penyintas adalah mendengar orang-orang yang paling dekat dengan Epstein mengklaim mereka tidak melihat apa pun,” kata Rochard
“Itu tidak sesuai dengan pengalaman saya. Para penyintas berhak mendapatkan jawaban, bukan klaim ketidaktahuan.”
Anggota Kongres Pertanyakan Kesaksiannya
Anggota Komite Pengawas dari Partai Demokrat, Stephen Lynch, juga mempertanyakan upaya Groff untuk menjaga jarak dari kasus Epstein.
“Sangat tidak konsisten apa yang ia pertahankan, bahwa ia benar-benar tidak mengenal Jeffrey Epstein meskipun bekerja untuknya selama 18 tahun,” kata Lynch kepada wartawan.
Meski Groff menyatakan tidak melihat sesuatu yang salah dalam sesi pijat yang dijadwalkannya, Lynch mempertanyakan apakah klaim tersebut benar-benar dapat dipercaya.
“Saya mempertanyakan apakah ia dapat secara sah dan jujur mengatakan bahwa ia tidak melihat sesuatu yang tidak pantas dalam hal itu,” ujarnya.
Lynch juga menyoroti fakta bahwa Epstein merupakan pelaku kejahatan seksual terdaftar yang diwajibkan melapor kepada pihak berwenang.
Menjawab pertanyaan mengapa ia tidak meninggalkan pekerjaannya lebih cepat, terutama setelah Epstein resmi terdaftar sebagai pelaku kejahatan seksual, Groff mengatakan bahwa Epstein telah berbohong kepadanya dan meyakinkannya bahwa ia menjadi korban pemerasan dan dijebak.
Ketua Komite Sebut Groff Kooperatif
Komite membahas berbagai topik selama wawancara yang berlangsung hingga sore hari. Anggota Partai Republik dan Demokrat secara bergantian mengajukan pertanyaan.
Menurut sumber yang mengetahui proses tersebut, tidak ada batasan topik yang disepakati sebelumnya sehingga seluruh pertanyaan dapat diajukan.
“Saya ingin membantu Anda dengan cara apa pun yang saya bisa,” kata Groff di awal kesaksiannya.
Ketua Komite Pengawas DPR, James Comer, menggambarkan Groff sebagai saksi yang sangat terbuka dan meyakinkan dalam menjawab pertanyaan.
“Ada beberapa hal yang ia katakan yang mungkin tidak sejalan dengan apa yang disampaikan sebagian korban. Jadi kami harus meninjau hal itu,” ujar Comer.
Ia juga berharap komite dapat menggelar sidang terbuka dengan para korban pelecehan Epstein di masa mendatang.
Nama Donald Trump Kembali Muncul
Sejumlah anggota Demokrat berupaya mengaitkan Presiden AS, Donald Trump, dengan Epstein, meskipun Trump telah lama membantah melakukan kesalahan apa pun terkait Epstein maupun tuduhan pelanggaran seksual lainnya.
Lynch menyebut Groff pernah mengatur “beberapa panggilan telepon” antara Trump dan Epstein sebelum Trump menjadi presiden, meski tidak menjelaskan kapan komunikasi itu terjadi.
Menurut sumber yang mengetahui kesaksian tersebut, Groff juga mengatakan dirinya tidak mengetahui adanya karyawan resor Mar-a-Lago milik Trump yang pernah datang ke kediaman Epstein.
Groff mulai bekerja untuk Epstein pada 2001. Berdasarkan dokumen penggajian tahun 2010, tugasnya meliputi mengatur jadwal, perjalanan, janji pribadi, serta menjadi penghubung antara Epstein dan berbagai tokoh berpengaruh.
Namanya juga pernah tercantum sebagai calon rekan konspirator dalam perjanjian kontroversial non-penuntutan yang dicapai Epstein dengan jaksa federal di Florida pada 2008.
Sejumlah korban yang diwawancarai FBI mengidentifikasi Groff sebagai orang pertama yang mereka hubungi untuk menjadwalkan sesi pijat dengan Epstein. Menurut mereka, pelecehan seksual yang dilakukan Epstein sering terjadi selama sesi-sesi tersebut.
Dalam wawancara dengan FBI pada 2021, Groff mengatakan bahwa mengatur jadwal pijat hanyalah “salah satu janji temu lain” yang harus ia buat untuk Epstein.
Dokumen surat elektronik dalam arsip kasus Epstein juga menunjukkan bahwa sang miliarder sangat bergantung pada Groff untuk mengatur perjalanan domestik dan internasional, termasuk perjalanan yang melibatkan banyak perempuan.
Pada akhir 2021, pengacara Groff mengumumkan bahwa kliennya tidak akan didakwa oleh aparat penegak hukum. Mereka menegaskan bahwa Groff “tidak pernah menyaksikan sesuatu yang tidak pantas atau ilegal” dan tetap merasa “sangat terpukul” atas apa yang dialami para korban.
pengacaranya mengatakan Groff bekerja sebagai bagian dari staf profesional yang mencakup pengacara internal, akuntan, dan pegawai kantor lainnya. Tugasnya meliputi mengatur jadwal Epstein, menerima pesan, serta mengoordinasikan pertemuan dengan CEO, eksekutif bisnis, ilmuwan, politisi, selebritas, organisasi amal, dan universitas.
