Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menuduh pemimpin Reform UK, Nigel Farage, mengeksploitasi kematian Henry Nowak untuk menciptakan “keluhan dan perpecahan” di tengah masyarakat.
Pernyataan itu muncul setelah Farage menyarankan agar publik Inggris merespons tindakan polisi dengan “kemarahan yang dingin dan murni”, menyusul terungkapnya fakta bahwa remaja berusia 18 tahun tersebut sempat ditangkap saat sedang sekarat setelah pelakunya secara palsu menuduhnya melakukan tindakan rasis.
Perdebatan sengit mengenai kasus tersebut mewarnai sesi Prime Minister’s Questions (PMQs) di parlemen Inggris pada Rabu.
Pembunuhan yang Memicu Kontroversi Nasional
Vickrum Digwa, 23 tahun, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan masa minimum 21 tahun pada Senin atas pembunuhan Henry Nowak yang terjadi di Southampton pada Desember tahun lalu.
Digwa menikam Nowak menggunakan sebilah pisau besar yang menurutnya dibawa sebagai bagian dari keyakinan agama Sikh yang dianutnya.
Setelah penikaman itu, Digwa secara keliru mengklaim kepada polisi bahwa dirinya menjadi korban serangan rasis.
Tuduhan palsu tersebut membuat polisi pada awalnya justru menangkap Nowak, seorang remaja kulit putih, alih-alih pelaku sebenarnya.
Rekaman kamera tubuh polisi (bodycam) yang dirilis pekan ini memperlihatkan petugas memborgol Nowak ketika ia berulang kali mengatakan, “Saya tidak bisa bernapas.”
Kasus tersebut kini tengah diselidiki oleh Independent Office for Police Conduct (IOPC).
Farage: Ini Bukti “Polisi Dua Tingkat”
Dalam sebuah video yang diunggah setelah kasus tersebut menjadi sorotan publik, Farage menyebut respons polisi sebagai bukti adanya “Inggris dua tingkat” (two-tier Britain) dan menyerukan diakhirinya apa yang ia sebut sebagai “prasangka anti-kulit putih”.
Ia juga mengatakan:
“Keluarga Henry merespons semua ini dengan martabat yang luar biasa. Tetapi saya menyarankan agar kita semua meresponsnya dengan kemarahan yang dingin dan murni.”
Dalam sidang parlemen, Farage kembali menegaskan pandangannya bahwa kasus tersebut menunjukkan adanya praktik “kepolisian dua tingkat”.
Ia berargumen bahwa pedoman anti-rasisme yang diterbitkan oleh pimpinan kepolisian telah menyebabkan aparat memperlakukan kelompok etnis yang berbeda dengan cara yang berbeda pula.
Farage juga memperingatkan bahwa protes-protes keras terkait kasus tersebut dapat semakin memburuk apabila masyarakat kehilangan kepercayaan bahwa mereka akan diperlakukan secara adil oleh aparat penegak hukum.
Saat menyampaikan pernyataannya, ia beberapa kali mendapat interupsi dan kecaman dari anggota parlemen lain yang mendesaknya untuk mengutuk bentrokan dengan polisi yang terjadi pada Selasa malam.
Starmer: Keluarga Korban Meminta Jangan Menebar Kemarahan
Menanggapi Farage, Starmer mengatakan dirinya “terkejut” dengan cara pemimpin Reform UK tersebut merespons tragedi itu.
Ia menuduh Farage mengabaikan permintaan keluarga Henry Nowak yang secara terbuka meminta agar kematian putra mereka tidak dijadikan alat untuk memecah belah masyarakat.
“Sebuah keluarga yang sedang berduka telah meminta kita untuk tidak merespons dengan cara yang dilakukan pemimpin Reform,” kata Starmer di hadapan anggota parlemen.
“Respons saya—dan respons banyak pihak lainnya—berfokus pada pelajaran yang harus diambil agar keadilan bisa ditegakkan.”
“Responsnya justru menyerukan kemarahan. Kemarahan. Itulah jawabannya terhadap seorang ayah yang kehilangan anaknya dan secara jelas meminta agar hal itu tidak dilakukan.”
“Memanfaatkan tragedi ini untuk menciptakan rasa dendam dan perpecahan adalah sesuatu yang salah dalam keadaan apa pun. Tetapi melakukannya ketika keluarga korban secara tegas mengatakan ‘tolong jangan’, adalah hal yang tak termaafkan. Itu menunjukkan dengan jelas siapa dirinya.”
Keluarga Korban Tolak Tragedi Dijadikan Alat Politik
Dalam pernyataannya di luar pengadilan pada Senin, ayah Henry, Mark Nowak, mengatakan keluarganya ingin kisah tragis putranya menjadi pendorong perubahan positif.
“Kami tidak ingin kematiannya digunakan untuk menciptakan perpecahan, kebencian, atau ketegangan yang lebih besar,” katanya.
“Kami ingin kisah Henry membuat jalan-jalan kita menjadi lebih aman bagi semua orang.”
Kritik Datang dari Berbagai Partai
Pemimpin Partai Konservatif, Kemi Badenoch, juga mengkritik respons Farage.
Badenoch mengaku “sangat kecewa” dengan cara Farage terlibat dalam perdebatan tersebut.
Di parlemen, ia mengatakan kasus Nowak harus menjadi “peringatan bagi seluruh negara dan institusi bahwa setiap nyawa memiliki nilai yang sama”.
Menurutnya, tanggung jawab para anggota parlemen adalah “mempersatukan masyarakat, bukan memecah belah mereka”.
Sementara itu, pemimpin Partai Liberal Demokrat, Ed Davey, mengatakan seluruh kepolisian di Inggris dan Wales harus menerapkan rekomendasi yang nantinya dihasilkan dari investigasi IOPC.
Namun, ia menegaskan bahwa keluarga korban berhak mendapatkan respons politik yang tidak menjadikan tragedi tersebut sebagai “bola politik”.
Dokumen Anti-Rasisme Polisi Jadi Sorotan
Di tengah kontroversi yang berkembang, perhatian publik juga tertuju pada dokumen berjudul Police Anti-Racism Commitment yang diterbitkan tahun lalu oleh organisasi yang mewakili pimpinan kepolisian di Inggris dan Wales.
Dokumen tersebut menyatakan bahwa polisi tidak harus memperlakukan semua orang “dengan cara yang sama” apabila tujuannya adalah mencapai “kesetaraan hasil kepolisian” bagi kelompok etnis yang berbeda.
Setelah kasus Nowak mencuat, isi dokumen tersebut mendapat sorotan tajam.
Organisasi yang mewakili para kepala kepolisian kini menyatakan akan meninjau ulang bahasa yang digunakan dalam dokumen tersebut.
Sebelumnya, Menteri Kepolisian Inggris, Sarah Jones, mengatakan bahwa kalimat dalam dokumen tersebut “keliru” dan “memberikan kesan yang salah”.
Namun ia menegaskan bahwa dokumen tersebut hanyalah dokumen nilai dan prinsip, serta tidak digunakan sebagai dasar pelatihan maupun operasional kepolisian.
Kasus Henry Nowak kini tidak hanya memicu pertanyaan mengenai tindakan aparat saat kejadian berlangsung, tetapi juga memunculkan perdebatan nasional yang lebih luas mengenai keadilan, kepercayaan publik terhadap polisi, serta bagaimana tragedi semacam itu seharusnya dibahas dalam ruang politik.
